Apresiasi Bunsay #5 Level 5 – Menstimulasi Anak Suka Membaca

Apresiasi Bunsay #5 Level 5 – Menstimulasi Anak Suka Membaca

Kita semua yakin bahwa membaca punya banyak manfaat. Membaca adalah jendela dunia. Dengan membaca, kita akan mendapatkan wawasan luas dan menambah ilmu. Membaca juga melatih kita untuk berempati dengan sesama. Hal terpenting adalah,  dengan membaca akan membuat kita lebih mengenal diri dan Sang Pencipta.

Tahukah bunda, bahwa literasi masyarakat kita masih rendah? Seperti yang diberitakan CNN Indonesia, tahun 2017 data statistik dari UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah dari total 61 negara. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca. Fakta ini begitu memprihatinkan bukan? Setidaknya dari sini juga mengingatkan bahwa salah satu tugas yang masih perlu dilakukan orang tua adalah membuat anak senang membaca.

Sumber foto: Playbuzz-by Tessa Beth

Tips Agar Anak Suka Membaca

Masih kesulitan melatih anak agar suka membaca? Yuk kita simak tips yang telah disusun oleh Tim Fasilitator Nasional Bunsay #5 berikut ini:

  1. Kenalkan dengan beragam buku sejak usia dini.

Tidak ada istilah terlalu cepat untuk mengenalkan buku pada anak. Dari bayi usia di bawah 1 tahun, sudah bisa dikenalkan dengan buku. Saat ini sudah banyak yang memproduksi buku untuk bayi (baby book).

  1. Membacakan buku dengan keras (Read aloud), dengan beragam intonasi suara.

Read Aloud adalah metode mengajarkan membaca yang paling efektif untuk anak-anak karena dengan metode ini kita bisa mengkondisikan otak anak untuk mengasosiasikan membaca sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan.

Biasakan untuk membacakan cerita untuk si kecil setiap hari, meskipun hanya selama 10 menit saja. Buatlah ritual membacakan buku cerita sebelum anak tidur. Membacakan buku sebagai pengantar tidur ini biasanya berhasil membawanya lebih santai untuk membuatnya tidur bahkan membawanya ke dunia imajinasi.

Salah satu hal yang bisa diperhatikan adalah, penting bagi Anda untuk membacakan buku dengan suara keras dengan intonasi berbeda. Ubah suara Anda saat menjadi harimau yang mengaum, atau saat sedang berpura-pura sebagai burung dengan suara melengking bernada tinggi. Nikmatilah momen saat membacakan buku ini bersama kecil.

  1. Beri contoh (teladan)

Jadilah contoh, salah satu cara membuat anak senang membaca, Anda juga perlu sering membaca. Tidak masalah jika Anda membaca majalah, novel, koran dan buku-buku lainnya. Di saat si kecil melihat orang tuanya sering membaca, hal baik tersebut akan mereka tiru. Dari sini, si kecil bisa terdorong untuk ikut membaca bersama Anda.

  1. Beri motivasi.

Bangunlah motivasi agar anak mau membaca. Cara menumbuhkannya; dorong anak untuk membaca apa yang mereka lihat. Juga memberikan pujian atau apresiasi karena telah membaca buku.

Buatlah membaca bagian penting dari kehidupan anak-anak Anda. Biarkan mereka membaca menu, nama film, tanda pinggir jalan, panduan permainan, laporan cuaca, dan informasi sederhana lainnya yang Anda temukan sehari-hari. Selalu pastikan anak-anak Anda memiliki sesuatu untuk dibaca di waktu senggang mereka.

  1. Ajak ke perpustakaan dan toko buku.

Jika di kota Anda ada perpustakaan umum, jadikan kegiatan rutin bulanan untuk berkunjung ke sana. Biasanya perpustakaan umum daerah mempunyai koleksi buku yang cukup lengkap. Ayah dan bunda bisa sekalian ikut meminjam buku di sana.

Nah, agendakan juga kegiatan menabung untuk membeli buku di toko buku. Berkunjung ke toko buku dan membeli buku bersama-sama, bisa menjadi quality time yang sangat berkesan.

  1. Membuat perpustakaan mini di rumah.

Rumah yang tidak terlalu luas,dan koleksi buku sedikit,  bukan alasan untuk tidak punya perpustakaan mini. Ini seperti tempat untuk menyimpan buku, yang mudah dijangkau oleh anak-anak. Disusun rapi di tempat yang disepakati bersama keluarga. Sekaligus melatih anak-anak untuk menghargai buku sebagai sumber ilmu. Setelah membaca, kembalikan ke tempat semula dengan baik. Kerabat, teman atau tetangga, perbolehkan untuk meminjam buku jika mereka tertarik membaca saat bertamu ke rumah.

  1. Beri hadiah buku.

Memberi kejutan dan hadiah-hadiah, adalah hal yang sangat disukai oleh siapapun. Baik anak-anak, maupun orang dewasa. Nah saat momen spesial, berikan hadiah atau kado pada anak berupa buku. Cari buku yang menarik dan sesuai usianya. Ini juga akan membuat anak-anak cinta buku dan membaca.

Selamat mencoba tips-tips di atas, semoga bermanfaat.

Mahasiswi dan Fasilitator Terinspiratif

Di Kelas Bunsay 5, pada level 5 dengan tema “Menstimulasi Anak Suka Membaca”, berikut dua mahasiswi yang terpilih dalam sesi Apresiasi T10 Level 5.

Selamat untuk bunda Karina Nur Pradani, dari Kelas  Banyumas Offline. Telah terpilih sebagai Mahasiswi “Terinspiratif yang Bersemangat”.

 

Dan Bunda Isti Khairani dari Kelas Remedial A, sebagai Mahasiswi “Terkreatif yang Unik”.

 

Terpilih juga satu orang Fasilitator sebagai “Fasilitator Terinspiratif Level 5”, yaitu bunda Adhiyati Marwa.

Perjalanannya sebagai Fasilitator  Kelas Tangsel Offline, dituliskan dengan rapi dan apik dalam jurnal Fasilitator. Mau tahu serapi apa jurnal beliau, yuk tengok di And The Time Goes By.

Tetap semangat para Mahasiswi Bunda Sayang semuanya, semoga terus menginspirasi dan sukses membersamai Ananda, menjadi anak yang cinta buku, berilmu dan berakhlak mulia.

Aamiin….

Apresiasi Bunsay #5  Level 4 – Mengenali Gaya Belajar Anak

Apresiasi Bunsay #5 Level 4 – Mengenali Gaya Belajar Anak

Mungkin banyak di antara kita yang dicurhati oleh tetangga atau kerabat mengenai anak-anaknya, ada yang katanya susah kalau disuruh belajar, tidak bisa duduk tenang di kelas, tidak bisa fokus ketika ibu gurunya sedang menerangkan dan berbagai macam permasalahan lainnya.

Semua permasalahan di atas tentunya sudah tidak lagi menjadi kebingungan bagi para mahasiswi Bunda Sayang ya? Karena di level 4 kelas Bunda Sayang, para mahasiswi diajak untuk lebih mengenali dan memahami gaya belajar anak. Secara garis besar, sebenarnya gaya belajar anak memiliki  tiga modalitas, yaitu;

💥Auditory : modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.

💥 Visual : modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.

💥 Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktivitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.

Nah, sekarang coba perhatikan anak-anak kita, manakah gaya belajar mereka? Anak yang satu dan lainnya pasti memiliki gaya belajar yang berbeda. Jadi jangan disama-samakan dan dibanding-bandingkan. Ada anak yang lebih bisa memahami sebuah materi pelajaran hanya dengan mendengar gurunya bercerita, ada anak yang lebih bisa memahami pelajaran dengan membaca. Semua normal adanya. Yang tidak normal, jika kita sebagai orangtua tidak mau mencari tahu, mengenali dan memahami gaya belajar mereka.

Nah, biar teman-teman lebih sip dalam memahami gaya belajar anak, yuk ditengok tips yang disusun oleh tim fasilitator nasional Bunsay #5 berikut ini.

Di level 4 Bunday #5 terpilih juga beberapa nama sebagai mahasiswi dan fasilitator teladan, siapa saja ya mereka?

Intip catatan lebih lengkapnya hanya di Tips Memahami Gaya Belajar Anak! Sampai jumpa.

Apresiasi Bunsay #5 Level 3 – Family Project

Apresiasi Bunsay #5 Level 3 – Family Project

Di level 3 Bunda Sayang, para mahasiswi ditantang untuk menyusun sebuah proyek bersama keluarga. Seru dan menantang! Di akhir level, sebagian besar mahasiswi merasakan manfaat yang sangat luar biasa dari proyek keluarga tersebut. Bukan hanya menemukan AHA moments bersama anak-anak dan pasangan, namun secara tidak langsung juga melatih kecerdasan anak-anak. Bahkan sepertinya bukan kecerdasan anak-anak saja yang meningkat, kecerdasan kedua orangtuanya pun ikut meningkat seiring proses pelaksanaan proyek tersebut.

Karena sejatinya mendidik anak adalah mendidik diri sendiri.

Family project selalu bisa menjadi pengalaman luar biasa. Yang dulunya tidak terbiasa menyusun program bermain dan belajar bersama anak, di level ini para mahasiswi dituntut untuk mempersiapkannya. Dari memilih tema proyek hingga memilih jenis-jenis kegiatan yang akan dilakukan. Terlihat susah di awal, namun ketika sudah dilaksanakan, family project justru menjadi magnet yang membuat anak-anak tak bisa berhenti. Mau lagi dan lagi.

Melihat anak-anak bahagia dan excited, tentu sebagai orangtua meski lelah dan terkadang bingung mencari ide kegiatan, akan semakin semangat untuk mempersiapkan kegiatan-kegiatan baru lainnya.

Selain mampu meningkatkan kecerdasan, family project juga sangat bisa membantu merekatkan bonding antara orangtua dan anak. Saat melaksanakan family project, biasanya akan diawali dengan family forum, mengajak seluruh anggota keluarga berdiskusi menentukan tema dan jenis kegiatan.  Melibatkan anak-anak dalam proses persiapan secara tidak langsung akan membuat mereka merasa dipercaya dan dianggap keberadaannya.

Dalam prosesnya, baik orangtua dan anak tentu saja tidak akan punya kesempatan melirik, menengok apalagi melihat handphone. Kecuali untuk urusan dokumentasi. Semua terpusat dan terkonsentrasi pada kegiatan bersama. Kebersamaan inilah yang sejatinya sangat dirindukan setiap anggota keluarga. Jadi, sudah menyiapkan family project apa di rumah?

Di level 3 ini, ada beberapa mahasiswi teladan dan fasilitator teladan yang bisa kita ATM cara keren mereka:

Jika butuh ide-ide segar yang lebih lengkap, silakan meluncur ke Inspirasi Meningkatkan Kecerdasan Anak.

Apresiasi Bunsay #5 Level 2 – Melatih Kemandirian

Apresiasi Bunsay #5 Level 2 – Melatih Kemandirian

Didiklah anak-anak kita untuk siap berpisah dengan kedua orangtuanya.

Membayangkan berpisah dengan anak-anak memang terasa mengerikan. Namun perpisahan adalah hal yang pasti di dunia ini. Mau tidak mau, akan tiba masanya kita akan merelakan anak-anak pergi bersekolah ke tingkat yang lebih tinggi dan harus tinggal di kota berbeda. Mau tidak mau, akan tiba masanya kita akan merelakan anak-anak belajar dalam ruang luas bernama kehidupan. Mau tidak mau, akan tiba masanya kita akan melepas anak-anak untuk membangun keluarga baru.

Apa jadinya jika kita tak melatih kemandiriannya? Sementara di rumah mereka terbiasa dimanjakan oleh fasilitas yang kita berikan?

Didiklah anak-anak untuk merasakan susah.

Kesulitan adalah hal yang sangat mungkin dihadapi dalam hidup, karena dengan kesulitan tersebut kita akan merasakan perjuangan. Anak-anak yang terlalu sering dimanjakan dengan kemudahan-kemudahan tidak akan tahu maknanya berjuang. Sementara hidup butuh para pejuang untuk menyelesaikan tantangan-tantangan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Maka jangan takut membesarkan anak-anak dengan memberikan mereka kesulitan-kesulitan. Misal, setelah selesai makan cuci piringnya sendiri. Terlihat mudah buat kita, namun ini hal sulit untuk anak jika tak kita latih sejak awal.

Berikut ini beberapa tips melatih kemandirian bagi anak yang telah disusun oleh tim fasilitator nasional Bunsay:

Untuk artikel yang lebih lengkap, teman-teman bisa menengok ke artikel Inspirasi Melatih Kemandirian.

Apresiasi Bunsay #5 Level 1 – Komunikasi Produktif

Apresiasi Bunsay #5 Level 1 – Komunikasi Produktif

Segala hal masalah di muka bumi bisa selesai jika perihal komunikasi beres. Sayangnya masalah biasanya justru semakin runyam karena sebagian besar dari kita seringkali menyepelekan segala hal terkait komunikasi. Padahal komunikasi yang buntu di dalam keluarga bisa melahirkan masalah-masalah lainnya.

Suami dan istri yang tak terbiasa berkomunikasi akan lebih sering muncul prasangka dan curiga. Belum lagi hubungan suami istri bisa semakin hambar dan renggang. Yang kemudian melahirkan masalah-masalah besar lainnya. Begitu juga hubungan anak dan orangtua yang komunikasinya terhambat, juga akan melahirkan keluarga yang tak harmonis. Anak merasa tak dipahami oleh orangtuanya, orangtua merasa anak tak hormat dan acuh.

Namun tentu saja hal tersebut tidak akan berlaku dalam keluarganya para mahasiswi Institut Ibu Profesional dong ya? Apalagi bagi mereka yang sudah masuk ke kelas Bunda Sayang dan belajar mengenai komunikasi produktif. Level 1 di kelas Bunda Sayang sengaja mengangkat tema komunikasi produktif tentu dengan alasan yang sangat kuat. Ketika masalah komunikasi dalam keluarga teratasi, insya Allah masalah lainnya akan bisa dihadapi dengan lebih mudah.

Makanya sebelum masuk ke level-level lainnya di Bunda Sayang, diharapkan para mahasiswi sudah piawai berkomunikasi produktif. Jadinya ke depan nanti tidak akan canggung bermain dan belajar bersama anak serta pasangan. Pada Bunda Sayang batch #5 yang kini sudah memasuki level 8, telah terpilih beberapa mahasiswi yang inspiratif dan bisa dijadikan teladan bagi teman-teman lainnya. Selain mahasiswi, ada juga fasil terinspiratif.. siapa ya?

Simak catatan lengkapnya di Inspirasi Komunikasi Produktif.