Aliran Rasa : Motivasi Sang Bunda Cekatan HIMA IIP Suramadu [Part 3]

Aliran Rasa : Motivasi Sang Bunda Cekatan HIMA IIP Suramadu [Part 3]

Pemenang Challenge :

Anittaqwa Isti Maghfirah

Mahasiswi Bunda Cekatan Batch # 1 HIMA IIP Suramadu

 

Aliran Rasa

Kisah metamorfosis ku di kelas BunCek
Senyum mengembang disertai rasa lega membuncah kala submit pendaftaran kelas BunCek.  Kelas yang sudah ratusan purnama dinanti, akhirnya dibuka perdana oleh Sang Founder Bunda Septi.  Saya nyaris mundur setelah dijabarkan peraturan dan tahapan yang harus dilalui. Mampukah saya bermetamorfosis dalam kondisi yang sulit seperti ini.  Secara bersamaan saya harus mendampingi kakak berjuang melawan kanker.  Setiap hari kami harus ke RS untuk menjalani radioterapi atau sewaktu-waktu harus ke IGD kala kondisi kritis mendera.

Namun, justru kakak terus mendorong dan menyemangati saya.  Berdoa, beriktiar, jalani prosesnya apapun hasil akhirnya tidak masalah begitu ujarnya, membuat saya mantap untuk tetap bertahan di kelas Buncek dan memasuki tahap telur.  Tahapan awal yang banyak mengajari saya tentang memilah aktivitas-aktivitas yang membuat bahagia sesuai dengan hastag nya #janganlupabahagia.  Tentu saja saya merasa bahagia, memang setiap belajar hal baru selalu membuat saya tertantang dan berbinar.  Dan saya harus mengakui jika tugas-tugas saya merupakan hasil diskusi dengan kakak.  Kebetulan kami sama-sama suka bercocok tanam.  Itu pula yang menjadi pilihan saya sebagai aktivitas bahagia dan masuk ranah penting.

Tahap awal terlampaui walau pernah mengerjakan tugas di RS sambil menemani kakak terapi.  Ehm.. banyak pengalaman di RS yang justru membuat saya semakin semangat.  Pasien kanker yang sedang menjalani radioterapi sangat inspiratif.  Dari mereka saya belajar arti sabar yang sesungguhnya serta dari mereka pula saya belajar artinya kesungguhan ikhtiar untuk menjemput Rahmat Ilahi berupa kesembuhan. Tak pernah ada keluhan yang terlontar walau beban mereka sangat berat.  Terima kasih mba-mba yang sudah menyemangati saya untuk hidup lebih baik.

Terima kasih juga buat Kakakku tercinta darimu saya belajar menghargai hidup dan keluarga.  Selalu berupaya untuk memberikan cinta dengan tulus, memberikan perhatian yang tidak pernah putus buat keluarga, terus belajar menjadi lebih baik karena hidup hanya sebentar saja.  Usai sudah perjuanganmu kini tinggal saya yang harus berjuang dan belajar menyelesaikan misi kita, belajar tentang hal yang kita suka yaitu berkebun.  Semoga doamu agar saya lulus dan mendapat ilmu yang berkah diijabah oleh Allah SWt.  Kembalilah wahai jiwa yang tenang semoga kelak kita bertemu kembali di jannah-Nya.  Aamin

🌸Anittaqwa Isti Maghfiroh🌸

Salam,

Adinda Rahmadina

ManMedKom HIMA IIP Suramadu

Aliran Rasa : Motivasi Sang Bunda Cekatan HIMA IIP Suramadu [Part 2]

Aliran Rasa : Motivasi Sang Bunda Cekatan HIMA IIP Suramadu [Part 2]

Kontributor Challenge :

Uswatun Khasanah

Mahasiswi Bunda Cekatan HIMA IIP Suramadu

Aliran Rasa

Seandainya aku mati
Kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku, ibuku
Menggerus sebagian jiwaku
Kerap muncul angan
Ya Allah kenapa tak kau ambil juga nyawaku

Setelahnya aku seperti berkubang dengan nestapa, lelah mencari cinta
Cinta pengganti yang berarti

Bertahun lamanya aku sendiri, seperti tak ada yang peduli
Meski kutahu mereka sangat mencintaiku
Cinta yang tak terucap dengan kata
Depresi itu terus menghantuiku, aku lelah
Tapi Allah tak juga mengambil nyawa di raga

Kuputuskan mungkin aku harus menikah
Mungkin cinta itu akan kudapat disana
Ya aku merasa dicintai
Namun Allah terus menguji cinta dua insan ini
Sepanjang tahun ujian demi ujian kami lalui
Rumah tangga yang baru seumur jagung terus diterpa badai
Saling erat mengeratkan pegangan
Dan aku kembali terhempas lagi
Depresi yang belum pulih
Disusul trauma yang mendera
Karena kehilangan calon anak yang kudamba
Ya Allah, ambil saja nyawaku
Jika tak lagi aku berharga di dunia…

Sempat senyumku terukir
Kala bayi mungil yang sekian lama kunanti itu lahir
Namun setiap malam menjelang
air mata ini tak berhenti mengalir
Entah apa sebabnya
Orang bilang Babyblues, benarkah?
Aku tak mau menduga-duga
Biarlah…

Di tengah menikmati peran baru menjadi ibu
Kabar duka melanda, bapak mertua tercinta dipanggil PemilikNya
Aku relakan suamiku menambah bakti
Membersamai ibu sepanjang hari

Belum usai duka lara sebelumnya
Suami tercinta jatuh sakit dan harus mengurung diri
Sakit yang melanda membuatnya frustasi
Obat yang diminum membuat labilnya emosi
Kami tidur terpisah agar tak menyulitkan sakitnya
Menghadapi ini aku tahu bahwa aku mampu
Tapi aku hanya hamba yang lemah
Sering merasa tak berdaya
Jika bukan karenaMu, Ya Allah
Sudah kuakhiri hidupku ini

Menghadapi suami tak bisa kerja
Aku berfikir mungkin harus belajar jadi tulang punggung keluarga
Ternyata aku salah,
Bukan itu yang aku mau
Dan bukan itu kemauan RabbKu

Kutelusuri kenapa hidupku seperti ini
Sungguh aku lelah ya Rabbi…
Kupanjatkan do’a, mohon petunjuk padaNya
Jika hidupku masihlah berharga
Beriku alasan kenapa harus bertahan
Dan…
Saat itulah aku baru menyadari kenapa aku ditempa seperti ini…
Ternyata untuk menjadi mulia di mata Rabbku itu tidaklah mudah
Untuk menapaki jejak cintaNya sungguh berliku jalannya
Kenapa aku bertahan, karena Allah mencintaiku…
CintaNya padaKu mungkin tak terlukis dalam kesenangan
Mungkin Allah cinta jika aku berurai air mata dan tak lepas menyebut namanya
Hingga suatu hari…
Aku baru menyadari ada misi yang harus aku kerjakan
Misi yang sudah lama aku impikan namun baru bisa aku lakukan sekarang
Suamiku berpesan cari alasan yang membuat diriku tak berhenti bergerak
Meski harus tertatih dan merangkak
Bukan berupa materi dan pujian
Yang umurnya harian
Bukan kedudukan yang bisa jatuh kapan saja
Bukan pula kemuliaan dimata manusia
Karena semua itu kesemuan semata
Akhirnya Dialah alasanku, kenapa masih ada di dunia ini
Allahu rabbii

Sebenarnya Dia hanya ingin aku mengumpulkan bekal
Jikapun sudah cukup bekalku, pasti Dia sudah memanggilku, hanya itu

Seandainya aku mati saat itu
mungkin belum cukup bekalku
Seandainya aku mati saat itu
mungkin belum banyak tabungan amalku
Seandainya aku mati saat itu
mungkin belum terampunilah dosa-dosaku
Seandainya aku mati saat itu
mungkin cintaNya belum besar padaku
Tiada yang lebih aku ingini dari berjumpaNya
Mengusung kerinduan, dengan lebih banyak mengumpulkan bekal amal

*Air mata ataupun tawa adalah tanda cintaNya pada mereka, hambaNya*
*Basuhlah dengan kesabaran dan kesyukuran*
*Guyurlah dengan ribuan istighfar*
*Semoga lambang cinta itu berbuah ampunan*

(Ikhtiar membasuh luka dengan menulis hikmah)

Puisi saya tadi adalah refleksi perjalanan emosi saya, terluka selama 16 tahun dan berjuang bangkit selama 10 tahun.

Dan game kemarin saya seperti diingatkan oleh Allah atas apa yang saya harapkan. Kemarin saat menyiapkan hadiah buat teman camping. Pikiran saya tertuju pada sebuah buku “Menjadi Wanita Paling Bahagia” karya Dr. Aidh Al-Qarni.

Buku ini sebenarnya ada rangkaian dari mahar yang saya minta pada suami saat akad nikah. Ada 2 buku lain yang menyertainya. Buku-buku itu melambangkan harapan saya dalam pernikahan.

*Menjadi wanita paling bahagia*

Awal mulai kelas bunda cekatan. Saat itu kondisi saya masih di Mekkah-Madinah, jadi tidak bisa menyimak ilmu dengan baik. Sampai di tanah air, qadarullah saya sakit. Kesehatan naik turun sampai pertengahan februari kemarin. Saya belum fit, mertua operasi hernia. Alhamdulillah, saya punya dua bidadari mungil yang setia merawat saya selama sakit dan selalu mengingatkan saya untuk mengerjakan tugas Bunda Cekatan setiap hari Selasa. Jika dulu kelas Bunda Sayang, suami adalah pengingatnya, sekarang di Bunda Cekatan anak-anak penggantinya. Saya ajak mereka terlibat dalam menyimak materi dan mengerjakan tugas.
Bahwa belajar tidak harus usia remaja, tidak harus duduk dalam kelas, belajar bisa dimana saja dan untuk segala usia.

Sekarang saya tahu maunya Allah apa, karena di kelas Bunda Cekatan ini membantu saya membuka lembaran baru “Menjadi Wanita paling bahagia.”

Setelah kutinggalkan lembar luka di depan Ka’bah.

Allah telah menyiapkan semuanya, bahwa menyusuri jalan bahagia ini, saya tidak sendiri. Ada teman di WAG ini dan seluruh mahasiswi Bunda Cekatan yang sedang sama-sama bermetamorfosis bersama saya. Dari telur sampai nanti jadi kupu-kupu. Menikmati tiap tahapan tantangan penuh suka cita. Merasakan pengalaman baru dan seru. Bertemu teman dan ilmu baru. Ayo mari kita sama-sama beriringan dan bergandengan. Bersama *menjadi wanita paling bahagia.*
🌸Uswatun Khasanah🌸

Salam,

Adinda Rahmadina

ManMedkom HIMA IIP Suramadu

Aliran Rasa : Motivasi Sang Bunda Cekatan HIMA IIP Suramadu [Part 1]

Aliran Rasa : Motivasi Sang Bunda Cekatan HIMA IIP Suramadu [Part 1]

Kontributor Challenge :

Arifatul Aghnia

Mahasiswi Bunda Cekatan HIMA IIP Suramadu

 

 

Aliran Rasa

Assalamualaikum,

Bismillah mau cerita sedikit tentang perjalanan menjadi telur-ulat di kelas bunda cekatan.

Ketika mengikuti kelas buncek, saya menyadari ada sesuatu yang harus saya selesaikan dengan diri saya untuk menjadi ibu yang bahagia, yaitu emosi. Semenjak hamil, saya mengalami mood swing yang lumayan parah. walaupun sudah melakukan aktivitas telur hijau, ketika ada sedikit pemantik untuk marah, meledaklah emosi saya.

Puncaknya di awal-awal kelas ulat, ketika mencari makanan tentang manajemen emosi, malah saya semakin sulit mengendalikan emosi. Ambyar semua teori yang saya pelajari. Saya berada di titik terendah. saya sering mengurung diri di kamar agar tidak melampiaskan emosi kepada anak-anak. suami pun akhirnya ikut turun tangan. Saya pengen berhenti berjuang karena semakin belajar kok saya tidak semakin baik malah semakin turun ke titik terendah saya, namun kalau saya berhenti sekarang saya tidak mendapatkan apa-apa. saya tidak menjadi lebih baik, saya tidak bisa menjadi ibu yang bahagia dan membahagiakan.

Pada suatu kesempatan dongeng Ibu Septi, saya sempat bertanya. Ibu, saya saat ini fokus mempelajari manajemen emosi, namun mengapa ujiannya di area tersebut semakin berat. Ibu Septi menguatkan saya dengan kata-kata “itu berarti kita sedang bersungguh-sungguh mempelajari suatu hal. Malah ketika kita tidak diuji dengan hal yang kita pelajari justru kita yang harus cek dan ricek apakah kita sudah bersungguh-sungguh mempelajarinya”

Dari jawaban tersebut, saya terus maju apapun halangannya, saat ini pun ketika saya sedang riweuh pindahan, gak ada wi-fi, dan hp sudah mulai mati sendiri, bisa buka hp jam 8-9 malam saja sudah alhamdulillah. Bisa untuk menulis NHW, dengan bekal sinyal minta tethering hp suami. wkwkwk…

Besok insyaaAllah saya mendapat kesempatan melakukan salah satu aktivitas telur hijau saya mengisi demo baking pizza di salah satu RS negeri di Surabaya. Tadi siang alhamdulillah menyempatkan menyimak go live public speaking buat bekal esok hari. hihi.

Doakan saya ya teman-teman semoga besok acaranya lancar dan dimudahkan…

🌸 Arifatul Aghnia🌸

Salam,

Adinda Rahmadina

Manmedkom HiMa IIP Suramadu

 

Memecah Telur : Managemen Gadget bersama Teh Mesa

Memecah Telur : Managemen Gadget bersama Teh Mesa

judul

Assalualaikum..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Alhamdulillah Memecah Telur sesi kedua berjalan dengan lancar. Dan pengisinya yang luar biasa ini adalah IIP Non-Asia. Beliau adalah Teh Mesa.. Teh Mesa berasal dari IP Bandung, dan sekarang ada di Wina Austria dengan seabreg kegiatan. Dan materi kedua tersebut berlangsung pada tanggal 3 Maret 2020 kemarin dengan tema Management Gadget.

Untuk Management Gadget atau gawai ini sendiri menurut teh Mesa dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :

  • Management Waktu
    • Pertama-tama kita tentukan kebutuhan kita apa saja untuk penggunaan gadget tersebut, misal:
    • Kemudian kita membuat jadwal penggunaan gadget dalam 24 jam,misal:
  • Management Ruang Penyimpanan

Sebaiknya penyimpanan data ditata dengan tujuan agar kita dapat mengakses file yang kita inginkan dengan mudah, tanp harus kebingungan.

  • Management Pemikiran

Pelaksanaan jadwal yang telah dibuat dengan sebaik-baiknya.

Sekian sharing dari HIMA Salatiga.

Terima kasih.

Warm Regards,

Rina Mutarasari

Memulai Homeschool Usia Dini

Memulai Homeschool Usia Dini

Mahasiswa Buncek #1 Samkabar Sharing Session-8

HIMA SAMKABAR, Merdeka Belajar Membentuk Generasi Ibu Pembelajar

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh

Masya Allah, ditengah isu corona, memang kegiatan online adalah solusi terbaik agar ibu tetap mengupdate ilmunya

Sharing session kali ini yang berjudul Memulai Homeschool Usia Dini dibawakan oleh Mba Adistiyar yang membagikan pengalamannya ber-homeschooling di rumah bersama 3 anaknya, pada tanggal 13 Maret 2020

Dalam sharingnya, Mba Adis menceritakan bahwa Ketika berbicara tentang homeschooling, secara umum kita membicarakan pendidikan untuk anak usia sekolah. Tetapi karena kecenderungan di masyarakat untuk mengirimkan anak-anaknya ke lembaga eksternal (sekolah) sejak usia sangat dini, pembahasan tentang homeschooling atau home-education kemudian meluas pula untuk anak usia dini.

Homeschooling Usia Dini adalah proses pendidikan yangdiselenggarakan oleh keluarga untuk anak-anaknya sendiri yang berusia 0 tahun (bayi) hingga 6 tahun (pra-sekolah). Orangtua tak mengirimkan anaknya ke sekolah bayi, penitipan anak, lembaga PAUD atau Taman Kanak-kanak, tetapi mendidik sendiri anak anaknya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di keluarga, rumah, dan lingkungan sekitarnya.

Mba Adis menyebutkan keuntungan dari homeschooling usia dini yaitu:

a. Orangtua terlibat penuh dalam perkembangan anak

b. Ikatan kuat antara anak dan orangtua

c. Pondasi jangka panjang untuk anak

d. Menguji komitmen dan praktek homeschooling

e. Meminimalkan resiko homeschooling

Baca materi lengkapnya disini ya: Materi Mba Adistiyar

Dalam penutupnya, mba Adis menyampaikan

Jika Anda berminat menjalani homeschooling, pastikan Anda memiliki alasan yang kuat dan bukan hanya sekedar mengikuti tren. Pelajari dan pahami tentang konsep homeschooling. Jika Anda mempunyai pertanyaan atau keraguan, temukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pribadi Anda dengan membaca, mengikuti grup-grup homeschool, bertemu praktisi, atau mengikuti seminar/pelatihan yang ada.

Dalam diskusi kami malam itu, mba Adis menceritakan kenapa akhirnya menempuh HS yang juga membuatnya trauma dengan sekolah formal, mau baca diskusi kami yuk intip:  http://bit.ly/resumeaHs

Barakallahu fiikum, Semoga Hima Samkabar semakin memberikan manfaat.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Febry di Sanga-sanga Kaltim

ManMedkom HIMA IP Samkabar