Therapeutic Art (Private Session) di HIMA IIP Bandung

Therapeutic Art (Private Session) di HIMA IIP Bandung

Beberapa waktu lalu, saya mengajukan diri untuk berbagi pengalaman aplikasi therapeutic art di HIMA IIP Bandung. Alhamdulillah, teman-teman Pengurus HIMA IIP memyambutnya dengan baik.

Kali pertama, saya berbagi di acara kopdar kelas Bunda Cekatan. Kesempatan kedua dilakukan secara online.

Therapeutic Art

Private session ini hanya dibuka untuk 10 peserta saja. Alhamdulillah, terpenuhi dalam waktu singkat.

Manajer Humas HIMA, mba Sugiharti Imas memfasilitasi teknis kegiatan, dengan membuatkan WAG. Kemudian ditentukan jadwal online coaching masing-masing peserta.

Jadwal online coaching dimulai tanggal 24 Maret dan selesai pada tanggal 24 April 2020.

Dari 10 peserta ini, ada yang terbuka menceritakan latar belakang dan tantangan yang dihadapi, ada juga yang tidak. Keduanya dibolehkan, karena memang fokusnya pada proses mengenali perasaan dan pikiran masing-masing melalui kegiatan seni.

Ada yang dengan cepat menuangkan imajinasi dan perasaannya, ada juga yang tidak dapat menangkap koneksi antara perasaan dan warna-warna.

Look for the response, alhamdulillah setelah berjalan dengan 3 peserta, prosesnya semakin lancar dan mudah terkoneksi.

Dari sesi ini, peserta merasakan manfaat dalam menyalurkan emosi negatif, dan mengubah frekuensi diri menjadi lebih positif.

Peserta juga jadi lebih fokus pada langkah-langkah atas solusi yang telah ditetapkannya sendiri.

Karena ini sesi private, maka nama peserta dan hasilnya tidak bisa dipublikasikan.

Semoga bermanfaat, dan bisa berbagi lagi di lain kesempatan. ❤️

Apresiasi Bunsay #5 Level 12: Menggunakan Gadget dengan Sehat dan Bijak

Apresiasi Bunsay #5 Level 12: Menggunakan Gadget dengan Sehat dan Bijak

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kehidupan kita tidak lepas dari penggunaan teknologi. Dari mulai anak-anak hingga orang tua, semua membutuhkan perangkat teknologi. Yang paling umum dan sering digunakan adalah gadget dan sejenisnya. Dari mulai smartphone, ipad, tablet dan laptop yang disambungkan dengan internet.

Seluruh keluarga memanfaatkan teknologi ini dengan berbagai tujuan. Untuk belajar, bekerja, mencari informasi, bersosial media atau  hanya untuk hiburan saja. Dari berbagai cara dan tujuan kita menggunakan  teknologi khususnya multimedia, itu bisa menjadi sangat bermanfaat dan juga sangat merugikan jika kita tidak bijak dalam penggunaannya.

Terlebih lagi pada anak-anak. Apakah para orang tua sudah tepat cara memberikan anak-anak fasilitas teknologi berupa gadget tersebut?

Ayo coba dibuka-buka kembali aplikasi di handphone-nya masing-masing:

  • Apakah ada yang tidak terpakai dan hanya memenuhi memori?
  • Apakah sudah dioptimalkan penggunaannya?
  • Apakah masih butuh aplikasi lain sebagai penunjang aktivitas sehari-hari?

Baik kegiatan pribadi atau kemudahan dalam membersamai anak-anak belajar di rumah?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, membuat kita bisa memahami pentingnya bijak berteknologi. Tidak hanya asal menggunakan namun tahu mengapa itu harus digunakan?

Mayoritas saat ini banyak menggunakan gadget dalam keseharian. Semua ada di genggaman. Nah, kita yang mengendalikan atau kita yang diperbudak olehnya?

Sehingga lupa waktu, lupa kegiatan yang menjadi prioritas dan tidak produktif jadinya. Biasanya hal ini yang membuat banyak orang menjadi lebih stres. Oleh karena itu, penting juga memperhatikan sisi kesehatan dari penggunaan gadget yang berlebihan.

Dengan adanya kemajuan teknologi saat ini, membuat dunia sekarang tak berbatas. Maka kita sebagai manusia pada umumnya dan sebagai ibu pada khususnya harus bisa lebih mawas diri.

Menurut KBBI, mawas diri adalah sebuah sikap melihat, yaitu dalam arti memeriksa, mengintrospeksi dan mengoreksi kesalahan diri sendiri secara terbuka dan jujur agar di kemudian hari tidak melakukan kesalahan yang sama.

Tips Menggunakan Gadget secara Sehat

Berikut tips untuk menggunakan gadget secara sehat dan bijak untuk keluarga:

tips level 12

1. Tentukan tujuan

Ini penting agar kita fokus pada tujuan, mengapa harus menggunakan gadget. Dari sini akan diketahui manfaat apa yang akan diperoleh, juga sebagai petunjuk agar kita tetap on the track.

Misalnya dalam hal sosial media, harus melatih diri untuk menggunakan dalam hal positif.

Sosial media merupakan sarana untuk saling berbagi informasi bagi setiap orang. Meskipun begitu, masih ada orang yang belum bisa memanfaatkan sosial media dengan baik yaitu dengan menyebar hoax, kebencian, dan SARA.

Anda bisa menggunakan media sosial untuk memposting artikel yang bermanfaat dan kutipan motivasi. Manfaatkan grup-grup di Facebook untuk berdiskusi sesuai topik atau bidang pekerjaan yang diinginkan. Mempromosikan produk/jasa juga bukan hal yang dapat dihindarkan.

2. Tentukan gadget time

Ini hubungannya dengan efektivitas dan kesehatan kita. Jika tidak dibuat jadwal, maka berpeluang untuk kegiatan online yang tidak perlu. Bisa juga mengurangi waktu untuk kebersamaan dengan keluarga. Banyak duduk di depan layar gadget dan jarang bergerak ini tidak sehat untuk tubuh dan mata kita. Cukup jelas bukan, sesuatu yang berlebihan dan tidak disiplin akan membawa dampak buruk bagi diri sendiri juga orang lain.

3. Buat kesepakatan dengan anggota keluarga.

Mendiskusikan dengan keluarga tentang penggunaan gadget ini sangat penting. Antara Ayah dan Bunda, lalu anak-anak. Pastikan punya family time dimana ada jadwal tanpa gadget. Sehingga bisa digunakan untuk ngobrol bareng keluarga.

4. Install aplikasi sesuai kebutuhan.

Cari dan pasang aplikasi yang memang dibutuhkan. Baik untuk penunjang kemudahan belajar anak-anak, atau untuk produktivitas kita.  Selain manfaatnya lebih bisa dirasakan, kita bisa memantau dengan baik kondisi gadget kita agar awet dan tidak sering full memori. Jadi perlu juga untuk menghapus aplikasi yang tidak perlu.

5. Lakukan pendampingan pada anak-anak.

Ini sangat penting dan wajib dilakukan. Mengingat dengan internet, dan meng-klik saja bisa masuk ke fitur dan yang mungkin tidak layak digunakan anak-anak. Khususnya anak usia dini.

6. Rapikan file dalam soft copy

Data atau file yang tersimpan rapi, akan memudahkan kita dalam mencari dan menyimpannya. Penyimpanan dengan soft copy akan menghemat tempat dan biaya. Juga ramah lingkungan karena tidak perlu di print dan sebagainya.

7. Sharing Is Caring

Jika ada teknologi dan aplikasi yang kita gunakan sangat bermanfaat, jangan ragu untuk berbagi informasi kepada orang lain. Karena ini sama artinya kita menebarkan manfaat pada orang banyak. Berbagi  ini salah satu bentuk karena kita peduli.

Mahasiswi dan Fasilitator Terinspiratif

Pada perkuliahan Bunda Sayang Batch 5 di level 12, mahasiswi diberi tantangan 10 hari untuk mempelajari satu teknologi atau aplikasi setiap harinya.  Apalagi saat ini bertepatan dengan kondisi wabah virus corona. Setiap keluarga sangat membutuhkan teknologi untuk menunjang kelancaran kegiatannya. Anak-anak belajar dari rumah, para Ayah juga banyak yang bekerja dari rumah.

Tiap mahasiswi punya kebutuhan yang berbeda, pun sama dengan tiap keluarga dimanapun berada. Namun tantangan yang dituliskan dan dibaca oleh rekan lainnya, akan bisa memberi informasi serta inspirasi. Apakah aplikasi tersebut bisa dibutuhkan atau tidak.

Dari seribu lebih mahasiswi, ada  dua mahasiswi yang terpilih sebagai  mahasiswi terinspiratif yang bersemangat dan Terkreatif yang  unik dalam mengerjakan tantangannya. Juga satu fasilitator yang tulisan jurnalnya  sangat menginspirasi. Selamat ya….

Berikut ini mahasiswi dan fasilitator terpilih:

1. Mahasiswi Ter-Inspiratif Bersemangat

Nurjannah – Kelas Tangkot Offline

mahasiswi inspiratif bersemangat level 12

 

2. Mahasiswi Ter-Kreatif yang Unik

Ika Suartika – Kelas Karawang Bekasi

mahasiswi terkreatif unik level 12

 

3. Fasilitator Terinspiratif

Marita Ningtyas – Kelas Bandung

fasil inspiratif level 12

Pengen baca tulisan mbak Marita dalam jurnalnya di level 12? Yuk temukan inspirasi dalam artikel berjudul “Belajar Sehat Berinternet dengan 3M dan BAIK.”

Tetap semangat semuanya, semoga tips kali ini bermanfaat. Jangan lupa untuk tetap bahagia.

Apresiasi Bunsay #5 Level 11: Mendidik Fitrah Seksualitas

Apresiasi Bunsay #5 Level 11: Mendidik Fitrah Seksualitas

Di kamus KBBI dikatakan, fitrah adalah sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan.

Wikipedia menuliskan, fitrah berasal dari akar kata f-t-r dalam bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak. Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal. Dari segi bahasa, kata fitrah terambil dari akar kata al-fathr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna lain, seperti “penciptaan” dan “kejadian”.[1]

Lalu apa sih seksualitas? Dalam KBBI fitrah diartikan sebagai 1 ciri, sifat, atau peranan seks; 2 dorongan seks; 3 kehidupan seks

Sedangkan pengertian fitrah seksualitas dalam buku Fitrah Based Education (FBE),  adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati.

Mendidik Fitrah Seksualitas adalah merawat, membangkitkan dan menumbuhkan fitrah sesuai gendernya.

Fitrah seksualitas keperempuanan adalah bagaimana seseorang perempuan itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang perempuan. Fitrah seksualitas kelelakian adalah bagaimana seseorang lelaki itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang lelaki.

arti fitrah seksualitas

Secara fitrah seksualitas seseorang hanya dilahirkan sebagai lelaki atau sebagai perempuan, tidak ada jenis kelamin lainnya. Jika ada orang yang mengatakan bahwa homo atau lesbian atau lainnya adalah bawaan lahir, itu sesungguhnya ia telah menyimpang fitrahnya.

Penyimpangan fitrah seksualitas sangat beragam, kasusnya tidak hanya terjadi di kalangan manusia liberal namun juga manusia relijius, karena setiap aspek fitrah adalah keniscyaan bagi manusia yang perlu mendapat saluran dan mendapat perhatian untuk dididik.

Mereka yang berlebihan dalam menyalurkan dorongan seksualitasnya dengan mengumbar syahwatnya maupun berkekurangan atau berlebihan dalam membatasi dorongan seksualitasnya dengan pola hidup tidak menikah seperti menjadi rahib atau pendeta juga mengalami penyimpangan fitrah seksualitasnya.

Begitupula anak lelaki yang suplai “feminitas” dari ibu berlebihan sementara suplai maskulinitas dari ayah berkurangan, akan mengalami penyimpangan fitrah seksualitasnya yaitu menjadi “melambai” atau cenderung “homo” atau setidakmya kurang kejantanannya

Anak perempuan yang berkekurangan suplai “feminitas”dari ibu, sementara berkelebihan dalam suplai “maskulinitas” dari ayah, akan mengalami penyimpangan fitrah seksualitas yaitu menjadi tomboy atau cenderung lesbi atau setidaknya kurang kelembutan seorang perempuan.

Setidaknya, kurangnya suplai ayah dan suplai ibu secara seimbang sesuai gendernya di masa anak sejak usia 0-14 tahun, akan berdampak buruk pada fitrah seksualitasnya ketika dewasa.

Dalam penelusuran Siroh Nabi SAW, ternyata memang sosok ayah dan ibu tidak boleh hilang sepanjang masa anak, sejak lahir sampai aqil baligh di usia 15 tahun.

Lalu bagaimana mendidik fitrah seksualitas?

Berikut tips untuk mendidik fitrah seksualitas:

tips level 11

  1. Membangun attachment (kelekatan) serta suplai keAYAHan dan suplai keIBUan.
  2. Merawat fitrah sesuai tahapan  usia tumbuh kembang anak.

Di bawah ini penjelasan tentang seperti apa cara membangun kelekatan dan suplai keayahbundaan sesuai tahapan usia.

Usia 0-2 tahun – merawat kelekatan (attachment) awal

Anak lelaki atau anak perempuan didekatkan kepada ibunya karena ada masa menyusui. Ini tahap membangun kelekatan dan cinta.

Usia 3-6 tahun – menguatkan konsep diri berupa identitas gender

Anak lelaki dan anak perempuan di dekatkan kepada ayah dan ibunya secara bersama. Usia 3 tahun, anak harus dengan jelas mengatakan identitas gendernya. Misnya anak perempuan harus berkata “bunda, aku perempuan”, sebaliknya juga anak lelaki.

Jika sampai usia 3 tahun masih “bingung” identitas gendernya, ada kemungkinan sosok ayah atau sosok ibu tidak hadir. Inilah tahap penguatan konsep identitas gender pada diri anak

Pada tahap ini praktek “toileting”, dapat dijadikan juga sarana menumbuhkan fitrah seksualitas berupa penguatan konsep diri atau identitas gendernya

Usia 7-10 tahun – menumbuhkan dan menyadarkan potensi gendernya

Ini tahap menumbuhkan identitas menjadi potensi. Dari konsepsi identitas gender menjadi potensi gender. Dari keyakinan konsep diri sebagai lelaki dan sebagai perempuan, menjadi aktualisasi potensi diri sebagai lelaki atau potensi diri sebagai perempuan pada sosialnya.

Karenanya di tahap ini, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, agar mendapat suplai “kelelakian” atau maskulintas, melalui interaksi aktifitas dengan peran peran sosial kelelakian, misalnya diajak ke masjid, diajak naik gunung, diajak olahraga yang macho, dll.

Para ayah sebaiknya mulai berusaha menjadi idola anak lelakinya, dengan beragam kegiatan maskulin bersama, sampai anak lelakinya berkata aku ingin menjadi seperti “ayah”.

Lisan dan telinga ayah harus nampak sakti bagi anak lelakinya. Ayah harus menjadi penutur hebat bagi anak lelakinya dengan narasi narasi besar sejarah dan peradaban serta peran keluarganya dalam menyelesaikan masalah ummat atau menghidupkan potensi ummat dalam pentas peradaban.

Ayah juga yang harus menjelaskan tentang “mimpi basah” dan fiqh kelelakian, seperti mandi wajib, peran lelaki dalam masyarakat, konsep tanggung jawab aqil baligh, pokok aqidah,  ketika anak lelakinya menjelang usia 10 tahun.

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ayahnya atau kekurangan suplai maskulinitas akan mengalami permasalah peran kelelakian ketika dewasa.

Sejalan dengan di atas, pada tahap ini, anak perempuan lebih didekatkan kepada ibunya, agar mendapat suplai “keibuan” atau suplai feminitas, melalui interaksi aktivitas dengan peran peran sejati sosial keperempuanan, misalnya merawat keluarga, memasak, menjahit, menata rumah, menata keuangan dstnya.

Para Bunda, disarankan berhenti “catering” dan “menjahit sendiri”, tunjukan pada anak perempuan bahwa tangan dan kaki bunda “sakti”. Jadikan “mukena” pertamanya adalah jahitan tangan ibunya sendiri.

Sederhana bukan?

Para Bunda sebaiknya mulai berusaha menjadi idola bagi anak perempuannya, sampai ia berkata. “Aku ingin seperti bunda, keren banget”.

Bunda juga yang harus menjelaskan tentang “haidh” dan fiqh perempuan, seperti mandi wajib, peran wanita dalam masyarakat, konsep tanggung jawab aqil baligh, pokok aqidah,  ketika anak perempuannya menjelang usia 10 tahun.

Anak perempuan yang tidak dekat dengan Ibunya atau kekurangan suplai “feminitas” pada tahap ini, diragukan akan menjadi perempuan sejati atau ibu yang baik kelak.

tahapan perkembangan fitrah seksualitas

Usia 11-14 Tahun – Mengokohkan Fitrah Seksualitas

Setelah fitrah seksualitas kelelakian dari anak lelaki dianggap tuntas bersama ayahnya, kini saatnya anak lelaki lebih didekatkan kepada ibunya, agar dapat memahami perempuan dari cara pandang seorang perempuan atau ibunya.

Anak lelaki harus memahami “bahasa cinta” perempuan lebih dalam, karena kelak dia akan menjadi suami dari seorang perempuan yang juga menjadi ibu bagi anak anaknya.

Anak lelaki yang tidak lekat dengan ibunya pada tahap ini, berpotensi untuk menjadi “playboy”, dan kelak menjadi suami yang berpotensi kasar dan kurang empati.

Begitu pula sebaliknya, setelah fitrah seksualitas keperempuanan dari anak perempuan dianggap tuntas bersama ibunya, kini saatnya anak perempuan lebih di dekatkan kepada ayahnya, agar dapat memahami lelaki dari cara pandang seorang lelaki.

Anak perempuan harus memahami “bahasa seorang lelaki” secara mendalam, karena kelak dia akan menjadi istri dari seorang lelaki yang juga menjadi ayah dan imam bagi keluarganya.

Anak perempuan yang dekat dengan ayahnya, secara alamiah memiliki mekanisme bertahan untuk mampu membedakan mata lelaki baik dan mana lelaki buruk dalam kehidupan sosialnya.

Catatan: Kasus anak yang dipisahkan dari ayah Ibunya terlalu cepat sebelum aqilbaligh (usia 15 tahun), baik karena peperangan, bencana, perceraian maupun karena dikirim ke boarding school, menurut banyak riset akan mengalami penyimpangan seksualitas. Kasus LGBT juga banyak terjadi di Pondok Pesantren dengan korban anak anak yang belum aqilbaligh.

Usia > 15 tahun

Ini masa dimana fitrah seksualitas kelelakian matang menjadi fitrah peran keayahan sejati, dan fitrah seksualitas keperempuanan matang menjadi peran keibuan sejati.

Wujudnya adalah kesiapan untuk memikul beban rumah tangga melalui pernikahan, membangun keluarga, menjalani peran dalam keluarga yang beradab pada pasangan dan keturunannya.

Pengertian di atas, bisa dilihat juga pada gambar di bawah ini.

framework fitrah seksualitas level 111

Prinsip Mendidik Fitrah Seksualitas

Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa prinsip mendidik fitrah seksualitas adalah:

Prinsip 1: Fitrah Seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqil-baligh (15 tahun).

Prinsip 2: Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%.

Prinsip 3: Mendidik Fitrah seksualitas sehingga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya Peran Keayahan Sejati bagi anak lelaki dan Peran Keibuan sejati bagi anak perempuan. Buahnya berupa adab mulia kepada pasangan dan anak keturunan.

Secara umum, anak-anak akan mengalami fase-fase seksualitas berikut :

  • fase oral : 0-2 tahun, anak akan merasakan nikmat saat menghisap puting susu ibu
  • fase anal : 2-4 tahun, anak akan merasakan nikmat saat mengeluarkan faeces dari anus
  • fase phallic : 4-7 tahun, anak akan mulai penasaran untuk memegang alat kelamin
  • fase genital : 8-12 tahun, anak akan mulai tertarik pada lawan jenis.

Berdasarkan fase-fase tersebut, maka pendidikan seks dapat dilakukan secara bertahap sesuai usianya.

  • Usia 1-5 tahun : mengenalkan anggota tubuh anakn secara detail
  • Usia 5-10 tahun : menjawab pertanyaan anak-anak secara benar
  • Usia 10-12 tahun : mulai mengenalkan tentang haid, mimpi basah dan perubahan fisik.

Mahasiswi dan Fasilitator Terinspiratif

Pada perkuliahan Bunda Sayang Batch 5 di level 11, dilakukan dengan metode yang berbeda dari level-level sebelumnya, yaitu learning by teaching.

Mahasiswi di kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi kesempatan untuk melakukan presentasi satu atau dua teman dari 10 tema yang disediakan. Selanjutnya tantangannya adalah, setiap mahasiswi membuat review dari materi yang dipresentasikan.

Dari seribu lebih mahasiswi, ada  dua mahasiswi yang terpilih sebagai  mahasiswi terinspiratif yang bersemangat dan Terkreatif yang  unik dalam mengerjakan tantangannya. Juga satu fasilitator yang tulisan jurnalnya  sangat menginspirasi. Selamat ya….

Berikut ini mahasiswi dan fasilitator terpilih:

1. Mahasiswi Ter-Inspiratif Bersemangat

Ria Andini – Kelas Tangkot Offline

mahasiswi terinspiratif bersemangat level 11

 

2. Mahasiswi Ter-kreatif Yang Unik

Irnova Suryani – Kelas Depok

mahasiswi terkreatif unik level 11

 

3. Fasilitator Terinspiratif

Ahdiyati Marwa – Kelas Jawa Tengah

fasil inspiratif level 11

Ingin tahu bagaimana tulisan jurnal mbak Ahdiyati Marwa, yang menceritakan keseruan proses belajar teman-teman mahasiswi di kelas Jawa Tengah? Langsung saja baca artikel lengkapnya: Belajar dengan Mengajar – Kunci Pengalaman Belajar yang Lebih Dalam.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan bisa memberi inspirasi. Membuat kita lebih memahami pentingnya merawat  fitrah seksualitas, tetap semangat dan optimis mendampingi tumbuh kembang ananda di rumah,

***

Sumber:

  • Buku Fitrah Based Education (FBE) Ver 3.0, Harry Santosa
  • Buku Bunda Sayang : 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak, Komunitas Institut Ibu Profesional

 

Apresiasi Bunsay #5 Level 10: Dongeng Pembentuk Karakter Anak

Apresiasi Bunsay #5 Level 10: Dongeng Pembentuk Karakter Anak

Salah satu faktor yang dapat membentuk karakter anak adalah melalui dongeng. Dongeng merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup, dan cara berinteraksi dengan makhluk hidup lainnya.

Pembentukan karakter dalam keluarga dapat dilakukan dengan cara:

  • Orang tua membacakan dongeng sebelum tidur, menyediakan bacaan-bacaan dongeng di rumah untuk menarik minat baca.
  • Orangtua mengajukan pertanyaan kepada anak untuk melihat pemahaman dan ingatan anak tentang isi dongeng.

dongeng dan anak-anak

Melalui dongeng anak bisa belajar kosakata baru. Belajar untuk mengekspresikan perasaan senang, sedih, marah, serta menyerap nilai-nilai kebaikannya. Dengan mendengarkan dongeng anak-anak bisa memperkaya imajinasinya.

Menurut para psikolog masa kanak-kanak adalah masa yang penuh dengan imajinasi.  Terlebih dari ketika anak-anak memerankan tokoh dari sebuah cerita maka imajinasinya akan menghidupkan daya fantasinya sehingga ia seolah-olah menjadi sosok yang diperankan.

Manfaat Dongeng

Dongeng mempunyai  manfaat luar biasa, diantaranya adalah:

manfaat dongeng

● Mengajarkan budi pekerti pada anak.

Banyak cerita yang dapat memberikan teladan bagi anak dan mengandung budi pekerti.  Misalnya perlombaan siput dan kelinci, dalam cerita itu bisa diberikan contoh teladan yang bisa diikuti.

● Membiasakan budaya membaca.

Salah satu cara mengenalkan budaya membaca adalah dengan membaca banyak cerita,  sehingga anak akan menjadi gemar membaca.

● Mengembangkan imajinasi.

Dongeng bertujuan untuk meningkatkan daya imajinasi. Anak yang memiliki imajinasi yang tinggi memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga akan lebih cepat berkembang.

● Meningkatkan  bonding antara anak dan Ayah atau Bundanya.

Ini sudah pasti terjadi, dimana kelekatan anak dan orang tuanya akan lebih terjalin. Anak-anak akan menjadikan kebersamaan tersebut sebagai momen spesial.  Ayah atau Bundanya hadir sepenuhnya baik pikiran dan fisiknya untuk menceritakan kisah-kisah sumber imajinasinya.

Dalam proses tumbuh kembangnya, seorang anak sangatlah membutuhkan ikatan emosional dengan kedua orang tuanya. Ikatan emosi yang dijalin antara orang tua dan anak sejak dini ini akan berguna dalam pembentukan karakter anak nanti. Tak hanya itu, kedekatan orang tua dan anak juga akan mempengaruhi kecerdasan anak. Seiring dengan pertumbuhan anak, ikatan emosional ini dapat berkembang melalui beberapa hal yang dilakukan orang tua sehari-hari, yang salah satunya dengan mendongeng atau bercerita. Sehingga, sangat wajar jika dikatakan bahwa orang tua merupakan pendongeng terbaik bagi anak-anaknya.

Namun dalam kenyataannya, saat ini  orang tua banyak yang mulai meninggalkan kebiasaan baik mendongeng ini. Tentu dengan berbagai alasan, diantaranya karena kesibukan, tidak tahu cara mendongeng, juga mungkin kurang paham tentang begitu besarnya manfaat mendongeng bagi pembentukan karakter anak.

Tips Mendongeng

Berikut tips yang perlu dipersiapkan  agar Ayah atau Bunda bisa mendongeng dengan baik untuk ananda di rumah:

tips mendongeng

1. Percaya diri dan mau belajar untuk mendongeng.

Meskipun belum pandai dalam mendongeng, rasa percaya diri adalah modal utama untuk melakukan kegiatan ini. Ini bisa menumbuhkan motivasi, kreativitas dan bisa meyakinkan saat mulai mendongeng di depan anak-anak.

2. Punya referensi cerita.

Orang tua yang peduli akan tumbuh kembang anak-anaknya dan mau mendongeng sebaiknya punya koleksi cerita yang cukup banyak, baik cerita atau dongeng yang memiliki konten pembangunan karakter, wawasan atau pengetahuan, hingga cerita yang hanya sebagai media menghibur saja.

3. Tontonlah aksi-aksi pendongeng profesional di atas panggung.

Dengan melihat aksi para pendongeng profesional atau pun guru-guru di kelas ketika membacakan , orang tua bisa belajar sekaligus melakukan observasi, sehingga menjadi lebih percaya diri.

Bisa juga dengan melihat contoh pendongeng di youtube, podcast atau di televisi sebagai contoh.

4. Jadikan Kebiasaan

Bisa mendongeng itu biasa, tetapi bila Anda biasa mendongeng, itu baru luar biasa.

5. Perhatikan aspek utama dalam mendongeng, yaitu suara.

Sesungguhnya, mendongeng adalah metode penyampaian cerita dengan cara bertutur kata. Itu sebabnya, suara merupakan aspek utama yang harus dikuatkan, baik suara narasi maupun suara penokohan.

Media peraga adalah aspek pendukung saja. sehingga bila ingin menggunakan alat peraga, haruslah dipikirkan apakah alat peraga tersebut benar-benar bisa mendukung atau tidak. Jangan sampai, ketika menggunakan alat peraga, justru akan membingungkan anak-anak. Jika ingin menggunakan alat peraga, sebaiknya gunakan gambar atau boneka yang menyerupai bentuk aslinya sehingga akan benar-benar merangsang imajinasi anak-anak.

6. Masukkan unsur khayalan atau imajinasi.

Anak-anak sering berkhayal, terutama setelah ia menonton film. Dongeng khayalan dari orang tua bisa jadi penyeimbang tayangan-tayangan khayalan tersebut. Tentu saja, sisipi juga dengan penjelasan-penjelasan yang mudah dicerna oleh anak, ya. Kadangkala, cerita khayalan ini juga bisa membangkitkan daya imajinasi anak untuk mencipta. Misalnya, ketika anak memegang mobil, ia bisa saja berkhayal dan menggerakkan mobil dengan tangannya untuk terbang. Nah, siapa tahu suatu hari nanti ia akan terpikir menciptakan mobil terbang, kan?

7. Lakukan di mana saja dan kapan saja.

Mendongeng adalah aktivitas berkomunikasi antara orang tua dengan anak, atau guru dengan muridnya. Jadi, mendongeng tak dibatasi ruang dan waktu. Kapan saja bisa Anda lakukan, asalkan disesuaikan materinya. Misal, saat berada di bandara melihat pesawat, Anda bisa mendongeng tentang dunia penerbangan. Jadi, jangan asyik dengan gadget. Simpan gadget rapat-rapat saat bersama anak, hanya pegang gadget saat berdering tanda telepon masuk. Notifikasi media sosial untuk sementara diabaikan dahulu.

8. Gestur dan intonasi penting.

Bila mendongeng dilakukan datar-datar saja, maka itu tak ubahnya seperti Anda sedang berbicara kepada anak. Hal inilah yang akan membuat anak-anak akan cepat merasa bosan. Gerak tubuh, mimik, dan perubahan suara untuk menggambarkan penokohan sangat dinanti-nanti oleh anak-anak usia dini saat mendengarkan cerita. Inilah bagian paling mengasyikkan dari mendengarkan dongeng.

9. Pastikan ceritanya punya pesan moral yang baik.

Dongeng tidak hanya menyenangkan, tetapi juga harus memiliki kekuatan pesan. Ibarat makanan, tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga harus menyehatkan.

Orang tua yang baik akan menyempatkan waktu untuk mendongeng untuk anak-anaknya. Pendidikan moral yang terkandung dalam dongeng begitu lengkap (Seto Mulyadi)

Mahasiswi dan Fasilitator Terinspiratif

Pada perkuliahan Bunda Sayang Batch 5 di level 10, para mahasiswi diberi tantangan 10 hari untuk praktik kebiasaan baik, yaitu mendongeng. Dan masing-masing  punya cerita seru tentang pengalaman mereka mendongeng untuk anak-anaknya. Dan di akhir  masa tantangan, banyak yang merasakan perubahan positif pada anak dan hubungan antara Bunda dan Ananda.

Dari seribu lebih mahasiswi ada   dua mahasiswi yang terpilih sebagai  mahasiswi terinspiratif yang bersemangat dan Terkreatif yang  unik dalam mengerjakan tantangannya. Juga satu fasilitator yang tulisan jurnalnya  sangat menginspirasi. Selamat ya….

Berikut ini mahasiswi dan fasilitator terpilih:

1. Mahasiswi Ter-Inspiratif Bersemangat

Hijriyani Saraswati – Kelas Jawa Tengah

mahasiswi inspiratif bunsay 5 level 10

 

2. Mahasiswi Ter-kreatif Yang Unik

Putri A – Kelas Banyumas

mahasiswi kreatif bunsay 5 level 10

 

3. Fasilitator Terinspiratif

Adhiyati Marwa – Jawa Tengah

fasilitator inspiratif bunsay 5 level 10

Kalau teman-teman ingin membaca jurnal mba Dhiya Marwa yang inspiratif, sekaligus menceritakan keseruan kegiatan di kelas di perkuliahan  level 10, bisa langsung meluncur ke link berikut ini ya.

Semoga tips seputar mendongeng dan semangat para mahasiswi di kelas Bunda Sayang 5,  menginspirasi para bunda di manapun berada. Tetap semangat dan selamat mendongeng untuk buah hati tercinta di rumah.

***

Sumber:

  • Zakia Habsari,  jurnal kajian perpustakaan & Informasi
  • Buku Bunda Sayang, 12 Dasar Ilmu Mendidik Anak.
  • http://sayangianak.com

 

Apresiasi Bunsay #5 Level 9:  Cara Asyik Membangun Kreativitas Anak

Apresiasi Bunsay #5 Level 9: Cara Asyik Membangun Kreativitas Anak

Kreativitas adalah bagian penting penting dalam proses pendidikan seorang anak. Terkadang kita harus rela rumah berantakan demi perkembangan kreativitas anak.

Kreativitas Anak, Bekal Si Kecil di Kemudian Hari

Kreativitas merupakan sebuah bagian penting dan tak terpisahkan dalam proses pendidikan seorang anak. Terutama pada masa sekarang, keberhasilan seseorang tidak lagi ditentukan pada niali-nilai akademis semata, melainkan pada kemampuan dalam mengambil keputusan, kreativitas dalam berkarya, moralitas, dan lainnya.

Kita semua mendambakan anak yang kreatif, bahkan mungkin menuntut anak untuk kreatif. Berbagai cara sudah kita lakukan untuk menstimulasi anak supaya kreatif. Namun tanpa kita sadari, terkadang cara kita sendirilah yang malah menjadi penghalang kreativitas anak.

anak pembelajar

Kebanyakan kita menganalogikan kreatif sebagai banyak ide, banyak bergerak, coba ini-itu, banyak bertanya, dll. Tapi coba kita lihat, ketika anak banyak bertanya, apa yang kita bilang?

  • Ketika anak banyak bergerak kesana kemari, apa yang kita bilang?
  • Ketika anak mencoba belajar ini itu, apa yang kita bilang?
  • Apakah kita banyak melarangnya, atau justru mengizinkan dan mendampinginya?

Kebanyakan mindset kita dalam memandang tingkah laku anak yang “ingin tahu” seringkali diartikan sebagai “anak pengganggu” dan menjadi penghalang bagi kita untuk menstimulasi kreativitas anak. Akhirnya kita banyak melarang, lebih senang anak bermain dengan tenang, menstimulasi kreatifitasnya dengan memberikan banyak buku, gadget, dan hal-hal lain yang bisa dilakukan sambil duduk tenang.

Padahal, sejatinya manusia adalah makhluk pembelajar. Hal ini sudah tersirat dalam Al-Qur’an ketika Nabi Adam AS diajarkan nama-nama benda (taxonomy). Inilah potensi Fitrah Belajar dan Bernalar yang Allah berikan kepada manusia. Itulah mengapa manusia adalah pembelajar tangguh, bahkan sejak bayi. Tidak ada bayi yang memutuskan untuk merangkak seumur hidupnya. Walau belajar berjalan itu harus jatuh berkali-kali, nyatanya tidak menghalangi semangat bayi untuk terus belajar. Seiring dengan bertambahnya usia, semangat eksplorasi bayi juga semakin tinggi. Hampir seluruh bagian rumah, bahkan ke bagian tersempit dari rumah pun pernah dieksplorasi olehnya. Imajinasi pun muncul ketika dia menggunakan barang apa saja yang ada di rumah sebagai mainannya, dari piring hingga pintu lemari. Tugas kita hanyalah memberi kesempatan, ruang yang aman, dan semangat belajar.

Fitrah Belajar dan Bernalar meliputi (tapi tidak terbatas pada) kreasi, penciptaan, inovasi, dan eksplorasi.  Fitrah belajar ini mengalami Golden Age pada usia sekitar 7 – 12 Tahun dimana otak kanan dan otak kirinya sudah seimbang, egosentris sudah mulai bergeser ke sosiosentris sehingga mulai terbuka pada eksplorasi di dunia luar, indra sensomotorisnya sudah tumbuh sempurna, sudah bisa berpikir sebab-akibat, dan sudah mulai masuk fase pengenalan sholat di mana membutuhkan gairah belajar yang besar.

Fitrah belajar dan gairahnya untuk belajar bisa hancur karena 4 hal, yaitu:

penghancur fitrah belajar

  1. Orang tua atau pendidik terlalu menyetir proses belajar anak, sehingga kesempatan anak belajar sesuatu yang baru semakin kecil.
  2. Orang tua atau pendidik terlalu banyak memberikan materi, sehingga anak tidak sempat memaknai dan menemukan asosiasi dari setiap kejadian, daya pikirnya tidak terlatih.
  3. Buku teks terlalu kering (sekedar menyajikan data) dan tidak menggugah rasa ingin tahu anak.
  4. Dipakainya kompetisi dan rasa takut sebagai pelecut belajar, sehingga anak belajar di bawah tekanan untuk tidak dimarahi atau takut dicap gagal dan bukan belajar karena rasa ingin tahunya.

Coba kita cek kembali bagaimana kita memfasilitasi kebutuhan anak untuk belajar?

Anak-anak hanya memerlukan kesempatan belajar dan keterbukaan hati orang tua bagi imajinasi kreatifnya, bagi intelectual curiousity-nya, bagi eksplorasi belajarnya, bagi kesempatan untuk semakin menjadi dirinya sendiri.

Tidak perlu ruangan atau bangunan khusus, seluruh sudut muka bumi adalah taman belajar yang indah. Alam dan budaya masyarakat Indonesia sangatlah kaya, banyak hal yang bisa menjadi tempat belajarnya. Tidak perlu waktu khusus, karena setiap kejadian yang berseliweran setiap hari bisa dimaknai sebagai pembelajaran. Tidak perlu guru formal khusus karena setiap makhluk adalah guru bagi anak-anak kita.

Setiap anak terlahir kreatif. Kreatif bisa diartikan mempunyai kemampuan berpikir yang baik. Tak jarang anak yang kreatif dianggap sebagai anak nakal karena sikap dan perilakunya yang banyak gerak, banyak akal, banyak bicara dan aktif. Kreatifitas yang terjaga hingga dewasa akan memberinya kemampuan menemukan solusi dari setiap permasalahan hidup. Walaupun kreativitas adalah potensi bawaan lahir, namun kreativitas perlu dirangsang agar terus tumbuh dan terjaga.

Ada beberapa cara dan contoh kegiatan untuk merangsang kreativitas pada anak:

kegiatan perangsang kreativitas anak

  1. Biarkan anak memilih dan membuat keputusan sendiri untuk hal- hal yang sederhana misal memilih baju yang akan dipakai, makanan, mainan dll. hai ini akan melatih anak untuk berpikir secara mandiri.
  2. Fasilitasi anak dengan hal- hal yang mendukung daya imajinasinya seperti permainan bongkar pasang, buku- buku, alat lukis dan lain lain
  3. Ajak anak berpikir tentang kegunaan lain dari suatu barang. Misal kaleng bekas susu bisa dibuat jadi apa? dan sebagainya. Dan hargai setiap ide- idenya.
  4. Bertanya pada anak dengan kalimat pertanyaan terbuka dan membutuhkan jawaban lebih lanjut. Hal ini akan merangsang daya pikir anak, menambah pemahaman anak tentang suatu hal dan memunculkan ide baru.
  5. Ajak anak untuk memikirkan suatu perbaikan atas sesuatu hal. Misalnya: bagaimana caranya membersihkan ruangan dengan cepat, bagaimana caranya agar mainan tidak mudah hilang dan lain- lain.
  6. Bermain peran. Bermain peran akan membuat anak mencoba dan merasakan kehidupan dari perspektif yang berbeda.
  7. Mendongeng bersama. Buatlah suatu dongeng bersama anak. Mulai dari satu kalimat dan minta anak untuk meneruskannya secara bergantian sehingga terciptalah sebuah dongeng atau cerita.

Sudah selayaknya kita memberikan perhatian pada upaya menumbuhkembangkan kreativitas anak sedini mungkin. Bagaimana cara membangunkan kreativitas anak sejak dini?

Tips Membangun Kreativitas Anak

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membangun kreativitas anaK:

tips membangun kreativitas

1. Ciptakan ruang yang kondusif

Bunda, untuk merangsang imajinasi dan kreativitas anak, kita bisa menyesuaikan ruangan dan pilihan-pilihan furnitur yang tidak membahayakan bagi Si Kecil. Misalkan dengan menghindari meja-meja bersudut tajam, atau sofa kain yang sulit dibersihkan.

Di samping itu kita bisa menyediakan lemari mungil dengan laci-laci yang aman, kursi-kursi kecil dan peralatan yang disesuaikan dengan usia Si Kecil. Hal ini akan memudahkan proses kreativitas anak.

2. Bebaskan anak bereksplorasi.

Beri kesempatan bagi anak untuk bermain dan mengeksplorasi benda-benda dalam rumah.

Rumah adalah ruang bermain yang mengasyikan bagi Si Kecil, tentu bila kita membiarkan Si Kecil bereksplorasi dan berpetualang di setiap bagian rumah.

Percayalah, Si Kecil tidak hanya jago mengacak-acak rumah, dengan bimbingan Anda, Si Kecil pun akan menyukai permainan membersihkan debu, merapikan mainan atau membuang sampah pada keranjang sampah yang sudah anda sediakan.

3. Kurangi Larangan.

Beri dorongan sebanyak mungkin dan hindari larangan sebisa mungkin.

Bijaklah dalam melarang, karena seringkali larangan akan menumpulkan proses kreativitas. Misalnya, daripada Anda melarang anak menggunakan gunting, jauh lebih mendukung kreativitas anak, bila Anda memberikan gunting kecil dan mengajari Si Kecil cara memegang gunting serta menyediakan objek untuk digunting.

4. Lihat  Minat & Bakat

Coba mulai memperhatikan apa yang disukai oleh balita.

Apakah ia senang menggambar, menumpuk barang, berolahraga, menari atau hal lainnya.  Setelah mengetahui, kegemarannya, mulailahlah Anda mengasahnya sejak dini. Misalnya dengan menyediakan crayon dan kertas gambar bagi anak yang senang menggambar, melatihnya berolahraga bagi anak yang senang olahraga dan memasukkannya ke sanggar seni jika anak menyukai seni. Dengan demikian, kemampuan anak akan terasah dengan baik.

5. Jangan Dipaksa

Jika anak Anda tidak menunjukkan bakat atau kreativitas, Anda tidak perlu terlalu memaksa.

Misalnya, dengan hanya fokus mengembangkannya di situ. Semua butuh proses dan waktu. Yang bisa Anda lakukan adalah memberikan stimulus  untuk memancing kreativitasnya keluar, seperti kegiatan bermain. Perlahan-lahan pasti akan terlihat. Paling penting adalah ia harus melakukannya dengan enjoy dan antusias.

6. Jangan pelit dalam mengapresiasi anak.

Pujian seringkali membuat anak termotivasi untuk terus berkarya.

Sekalipun karya ataupun tindakan yang dilakukannya masih jauh dari sempurna, namun dengan pujian yang kita berikan akan membuat anak melakukan lagi pekerjaan tersebut dengan semangat baru dan tentunya akan lebih baik dari sebelumnya

7.Berikan banyak informasi dan pengalaman baru.

Untuk memberikan informasi, kita bisa menyesuaikannya dengan usia anak.

Kita bisa melakukannya dengan cara mendongeng, membacakan buku cerita, atau mengajak anak mengunjungi museum atau tempat-tempat bermain yang mampu menumbuhkan kreativitas anak.

Menumbuhkan kreativitas pada balita bukanlah hal yang terlalu sulit, sebab balita memiliki semangat eksplorasi dan kemauan belajar yang tinggi. Kita bahkan bisa melakukannya di rumah dalam bentuk kegiatan sederhana dan menyenangkan bagi Si Kecil.

Mahasiswi dan Fasilitator Terinspiratif

Di perkuliahan bunda sayang batch #5, mahasiswi mendapat tantangan untuk membuat kegiatan yang bisa menumbuh kembangakan kreativitas anak-anaknya. Ini juga sekaligus mengasah kembali kreativitas para bundanya. Karena ibu yang kreatif akan meningkatkan kreativitas anak dalam banyak hal.

Selamat, kepada  dua mahasiswi yang terpilih sebagai  mahasiswi Terinspiratif yang bersemangat dan Terkreatif yang  unik dalam mengerjakan tantangannya. Juga satu fasilitator yang tulisan jurnalnya  sangat menginspirasi.

Berikut ini mahasiswi dan fasilitator terpilih:

1. Mahasiswi Ter-Inspiratif Bersemangat

Puspaning Dyah FC – Kelas Merger Remedial

mahasiswi inspiratif bunsay 5 level 9

 

2. Mahasiswi Ter-Kreatif Unik

Ariane Viky Sudrajat – Kelas Gabungan

mahasiswi kreatif bunsay 5 level 9

 

3. Fasilitator Terinspiratif

Marita Surya Ningtyas – Kelas Bandung

fasilitator inspiratif bunsay 5 level 9

Silakan main-main ke jurnal mbak Marita tentang rahasia menjadi fasilitator yang kreatif. Kira-kira apa ya rahasianya?

Semoga tips singkat dari kami   ini bermanfaat. Tetap semangat dan selamat membersamai anak kreatif …..�

***

Sumber :

  • Buku ” Ma aku bisa: panduan praktis untuk menghidupkan dan melejitkan potensi kreatif anak” oleh Wahyudi
  • Buku “ Bakat bukan Takdir” oleh Bukik Setiawan dan Andrie Firdaus
  • Harry Santosa. Fitrah Based Education. Yayasan Cahaya Mutiara Timur. 2015.