Apresiasi Bunsay #5 Level 8: Mempersiapkan Anak Mandiri dan Cerdas Finansial

Apresiasi Bunsay #5 Level 8: Mempersiapkan Anak Mandiri dan Cerdas Finansial

Mendidik anak sejatinya adalah mempersiapkannya untuk memasuki usia Aqil Baligh dengan kesiapan. Dalam hal finansial, tugas orang tua ialah mempersiapkan anak untuk bisa mandiri saat Ia mencapai usia baligh. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita untuk mengajarkan kemandirian finansial ini.

Mengajarkan kemandirian finansial tidak selalu berarti mengajarkan transaksi finansial. Jauh sebelum itu, orang tua harus mengajarkan mentalitas yang menjadi penunjang utama kemandirian. Menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak, berarti merujuk pada sebuah proses panjang yang dilakukan saat anak masih kecil.

Tips Mempersiapkan Anak Mandiri dan Cerdas Finansial

Ada beberapa hal yang penting dalam menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak, diantaranya:

tips level 8 - cerdas finansial

1. Penanaman Aqidah

Bahwasannya rezeki adalah pemberian Allah dan bersyukur atas segala rezeki yang diperoleh. Perlunya melatih kecerdasan finansial sejak dini adalah, agar  anak bisa memahami tentang konsep rezeki. Rejeki itu apa,  datangnya dari mana, cara memperolehnya seperti apa,  cara mengelolanya bagaimana dan untuk apa.

Itu semua butuh ilmu dan landasan yang kuat, agar anak tidak salah menafsirkan tentang rezeki. Finansial kaitannya dengan uang dan finansial adalah hanya bagian dari makna rezeki yang diberikan oleh Sang Pemberi Rezeki. Maka, hal mendasar yang perlu diingat, jangan sampai anak-anak menjadikan uang hal utama yang dicari tanpa memperdulikan kebenaran dan keridhoan Sang Pemberi Rezeki. Sedang rezeki sendiri memiliki makna lebih holistik dalam kebutuhan kehidupan kita. Dengan demikian, finansial perlu dipahami sebagai bentuk rezeki yang menjadikannya salah satu tanggung jawab seseorang untuk dikelola, direncanakan,  dan disalurkan dengan sebaik-baiknya.

2. Mindset

Anak harus dipahamkan tentang konsep kebutuhan dan keinginan sehingga kedepannya dapat mengelola keuangannya secara pribadi dengan cerdas dan bertanggung jawab.

3. Kepekaan sosial

Selain harta yang kita miliki dan manfaatkan, ada pula jenis harta yang dititipkan pada kita untuk orang lain yang termasuk dalam hak Allah maupun hak orang lain. Tumbuhkan kepekaan sosialnya agar anak dapat membagi hartanya untuk memenuhi kedua hak tersebut.

4. Latih Kemandirian

Melatih kemandirian erat kaitannya dengan menumbuhkan kecerdasan finansial. Melatih kemandirian membuat anak akan terbiasa berupaya untuk mencapai tujuannya.

5. Beri Kesempatan Anak untuk Mengelola Uangnya

Ijinkan anak untuk mengelola uang sakunya sendiri. Sebelumnya, buatlah aturan dan komitmen agar anak dapat mengelola uang tersebut dengan baik. Namun orang tua harus tega, tegas dan komitmen dengan perjanjian awal karena terkadang anak menghabiskan uang sakunya dengan lebih cepat.

6. Ajak Anak untuk Berwirausaha

Ajarkan anak untuk berwirausaha agar Ia belajar mengembangkan aset miliknya. Selain itu Ia juga akan belajar bagaimana cara bekerjasama dengan tim dan bermuamalah. Hal ini penting bagi anak untuk menumbuhkan kemandiriannya dalam hal finansial.

7. Tumbuhkan Mentalnya

Beberapa sifat penting yang wajib dimiliki diantaranya adalah kejujuran, amanah, inovatif dan kreatif, disiplin, tanggung jawab, berani dan optimis.

8. Jangan Lupa, Teladan

Berbagai upaya menumbuhkan kecerdasan finansial tidak akan maksimal jika tidak ada keteladanan dari lingkungan, terutama dari orangtua. Maka menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak sejatinya adalah meluruskan konsep kecerdasan finansial pada diri orangtua.

Mahasiswi dan Fasilitator Terinspiratif

Beruntung sekali di kelas Bunda Sayang Batch #5 level 8, para mahasiswi belajar dan praktek langsung dalam tantangan 10 hari. Melakukan kegiatan agar bisa berlatih untuk meningkatkan kecerdasan finansial bagi bunda dan khususnya pada ananda.

Selamat, kepada  dua mahasiswi yang terpilih sebagai  mahasiswi terinspiratif yang bersemangat dan Terkreatif yang  unik dalam mengerjakan tantangannya. Juga satu fasilitator yang tulisan jurnalnya  sangat menginspirasi.

Berikut ini mahasiswi dan fasilitator terpilih:

1. Mahasiswi Ter-Inspiratif Bersemangat

Gina Agus Tinova – Kelas Kerawang Bekasi

mahasiswi inspiratif bunsay 5 level 8

 

2. Mahasiswi Ter-Kreatif Unik

Vita Zakiyya. – Kelas Depok

mahasiswi kreatif bunsay 5 level 8

 

3. Fasilitator Terinspiratif

Alienda Sophia – Kelas Pra-Nikah

fasil inspiratif bunsay 5 level 8

Berikut ini link tulisan dari mbak Alienda dapam jurnal Fasilitator level 8:

Rasa Syukur Melatih Kecerdasan Finansialmu

Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat dan hikmah dari proses belajar para mahasiswi dan fasilitator teladan terkait menumbuhkan anak mandiri dan cerdas finansial ya. Sampai jumpa di catatan berikutnya!

***

 

Referensi:

● Keluarga Muslim Cerdas Finansial, Yuria Pratiwhi Cleopatra, S.T., M.S

Apresiasi Bunsay #5 Level 7: Semua Anak adalah Bintang

Apresiasi Bunsay #5 Level 7: Semua Anak adalah Bintang

Yakinlah Bunda…

Bahwa Semua Anak Adalah Bintang

Anak-anak yang terlahir ke dunia merupakan anak-anak pilihan, para juara yang membawa bintangnya masing-masing sejak lahir. Namun setelah mereka lahir, kita, orang dewasa yang diamanahi menjaganya, justru lebih sering “membanding-bandingkan” pribadi anak ini dengan pribadi anak yang lain.

Kita, orang dewasa yang dipercaya untuk melejitkan “mental jawara” anak, justru lebih sering memperlakukan mereka menjadi anak rata-rata, yang harus sama dengan yang lainnya.

karena semua anak adalah bintang

“Susah sekali mengajari dia, sampai berbusa mulut guru mengajarinya, tetap saja dia tak paham.”

“Anak itu tidak pernah menghiraukan gurunya mengajar atau ketika orangtuanya berbicara. Bisanya loncat sana, loncat sini, lari sana lari sini.”

Apakah mereka tidak cerdas?

Lalu, bagaimana dengan anak yang mengalami cedera otak atau menyandang autisme? Apakah cerdas itu berarti bisa menjadi nomine Grammy Award sejak cilik? Tentu tidak.

Discovering Ability

Discovering ability adalah menemukan kemampuan seseorang.  Dua kata dalam bahasa inggris di atas, apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi panjang yaitu, kemampuan daya jelajah para orangtua dan guru selaku pendidik anak-anak untuk menemukan harta karun potensi-potensi yang ada dalam diri anak-anak.

multiple inteligences

Kita sebagai orangtua harus sering melakukan “discovering ability” agar anak menemukan dirinya, dengan cara mengajak anak kaya akan wawasan, kaya akan gagasan, dan kaya akan aktivitas.

Jangan terburu-buru mengatakan seorang anak itu lemah, bodoh, dan tidak mampu. Ternyata, setiap manusia memiliki banyak kecenderungan kecerdasan, tak hanya satu atau dua. Setiap anak berpotensi untuk cerdas bahasa, cerdas angka, cerdas gambar, cerdas gerak, cerdas bergaul, cerdas diri, cerdas musik, dan cerdas alam.

Kecerdasan tidak dapat dinilai dari alat tes apa pun. Tapi, dapat diketahui dari kebiasaan sang anak yang bersumber pada dua hal:

  • Bagaimana sang anak terbiasa kreatif, dan
  • Bagaimana anak tersebut terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri.

“Kembangkanlah kemampuan anak kita, lalu kuburlah kelemahannya.” (Munif Chatip)

Berikut ini  kiat dan cara orangtua untuk mengasah kebiasaan agar bisa meningkatkan potensi anak-anaknya:

discovering ability

  1. Mengetahui gaya belajar yang sesuai dengan kecenderungan kecerdasannya.
  2. Mengetahui potensi kecerdasan dan bakat-bakat terpendam anak yang bisa dikembangkan.
  3. Memilih metode mengajar yang sesuai dengan gaya belajar anak
  4. Tidak melabeli anak
  5. Mengetahui cara dan pola pendekatan komunikasi kepada anak-anaknya.
  6. Bisa dilakukan di mana saja: rumah, sekolah, kelas dan lingkungan yang lebih luas.

 

Tips Jitu Menyelami Kemampuan Anak

Sebagai penunjang keberhasilan dilaksanakannya kiat dan cara di atas, berikut ini tips jitu menjadi orang tua penyelam discovery ability anaknya:

tips semua anak adalah bintang

1. Kepekaan.

Harus punya kepekaan yang tinggi dalam melihat kemampuan anak. Daya pandang yang luas dalam melihat sikap-sikap anak sebagai kemampuan.

Misalnya dalam hal berinteraksi dengan orang lain, yang menggambarkan kemampuan interpersonalnya. Lalu cara dia melakukan ibadah dan ketekunannya, sebagai kemampuan di ranah spiritualnya.

2. Konsistensi

Konsisten atau dibiasakan mempertahankan paradigma baik dalam memandang sikap anak  sebagai potensinya.

Misalnya, jika anak keras kepala maka dipandang sebagai anak yang ulet maka label anak ulet itu yang harus dipertahankan dalam cara pandang kita sebagai orang tua.

3. Memberi Apresiasi

Jika orang tua terbiasa melakukan discovery ability, selalu memberikan apresiasi terhadap anaknya meskipun kecil, maka dalam diri anak  akan terbentuk konsep diri yang positif. Dengan demikian anak akan mampu mengatasi kelemahannya.

 

Mahasiswi dan Fasilitator Terinspiratif

Beruntung sekali di kelas Bunda Sayang Batch #5 level 7, para mahasiswi belajar dan praktek tentang ilmu ini. Mereka harus bisa menaklukan tantangan 10 hari, mengamati dan menemukan kemampuan anak-anaknya dalam banyak hal.

Dari ratusan mahasiswi, berikut dua mahasiswi yang terpilih sebagai  mahasiswi terinspiratif yang bersemangat dan terunik dalam mengerjakan tantangannya. Juga satu fasilitator yang tulisan jurnalnya  sangat menginspirasi.

Berikut ini mahasiswi dan fasilitator terpilih:

1. Mahasiswi Ter-Inspiratif Bersemangat Level 7

Annisa Dian Safitri – Kelas Jateng

mahasiswi terinspiratif bunsay 5 level 7

 

2. Mahasiswi Ter-Kreatif Unik Level 7

Nur Maulidiah  Wardani – Kelas Surabaya 1

mahasiswi terkreatif unik bunsay 5 level 7

3. Fasilitator Terinspiratif Level 7

Ika Pratidina dari kelas Banten

fasilitator inspiratif bunsay 5 level 7

Penasaran seperti apa tulisan mba Ika? Silakan langsung saja meluncur ke jurnal mbak Ika Pratidina yang bercerita tentang 7 stiker seru. Wah, ada apa ya dibalik stiker seru itu? SIlakan temukan jawabannya di sana.

Semoga tips dari kami bisa bermanfaat. Dan semoga  semakin bersemangat dengan inspirasi dari mahasiswi juga fasilitator terpilih dalam sesi 7 kuliah Bunda Sayang #5 ini.

Yakinlah bunda, bahwa anak-anak kita adalah bintang.

“ANAK-ANAK TERLAHIR HEBAT, KITALAH YANG HARUS SELALU MEMANTASKAN DIRI AGAR SELALU LAYAK DI MATA ALLAH, MEMEGANG AMANAH ANAK-ANAK YANG LUAR BIASA

***

Referensi:

  • Chatip, Munif. 2017. Semua Anak Bintang (Menggali Kecerdasan dan Bakat Terpendam Dengan MIR/Multiple Intellegences Research). Penerbit Kaifa. Bandung.
  • Buku Seri Ibu Profesional #1, Bunda Sayang – 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak

 

Apresiasi Bunsay #5 Level 6: Tips Menstimulasi Matematika Logis

Apresiasi Bunsay #5 Level 6: Tips Menstimulasi Matematika Logis

Tips Menstimulasi Matematika Logis – Banyak di antara kita yang mungkin bergidik ngeri ketika mendengar matematika diucapkan. Memang semengerikan apa sih matematika hingga membuat banyak orang, termasuk para mahasiswi Bunda Sayang pun mengkerut di awal sebelum materi disajikan.

Ya, sepertinya di otak sudah terdoktrin bahwa matematika itu susah, sulit, tidak asyik dan beragam kata negatif lainnya yang cocok untuk menggambarkan tentang pelajaran berhitung ini. Padahal bukan salah matematikanya lo, bisa jadi kita mengenal matematika sedemikian rupa karena masih terekam dengan jelas guru di depan kelas bersuara menggelegar menerangkan rumus demi rumus sambil mengetukkan penggaris panjang di papan tulis, sesekali menghela nafas panjang karena mulai kehilangan kesabaran melihat murid-muridnya tak juga paham.

Cara Menstimulasi Matematika Logis pada Anak

Jika kita mau menggali lebih dalam, ternyata ada banyak kegiatan menarik untuk mengajarkan matematika kepada anak dengan lebih menyenangkan.  Tentunya kita tidak mau diingat anak sebagai guru dengan suara menggelegar tersebut kan? Yuk, kita bermetamorfosa menjadi guru-guru matematika yang asyik dan menyenangkan. Caranya bagaimana?

tips matematika logis

1. Rubah Mindset

Sebelum menemukan ide-ide kegiatan untuk menstimulasi matematika logis, hal pertama yang harus dilakukan adalah merubah mindset. Banyak mahasiswi gagal di level ini dikarenakan sejak awal sudah apatis lebih dulu terhadap matematika. Maka sebelum masuk ke tips-tips berikutnya, move on dulu, dan tanamkan di dalam diri kita bahwa matematika itu asyik.

Akan sulit ke depannya membersamai anak-anak dan menyakinkan mereka bahwa matematika itu menyenangkan ketika mindset diri kita tentang matematika belum berubah. Yuk, katakan dengan keras di dalam hati; math is fun, math is easy, math is exciting!

2. Kenali Manfaatnya

Matematika bukan sekedar mata pelajaran yang punya nilai ketuntasan minimal, manfaat matematika lebih dari itu. Dengan memahami matematika, kita dan anak-anak bisa lebih memahami alam semesta dan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya. Matematika juga bisa membantu melakukan perencanaan dan evaluasi dengan baik.

Pemahaman yang baik terhadap matematika juga bisa membantu kita untuk membuat rancangan dan konstruksi yang benar. Dalam urusan keseharian, matematika melatih kita untuk berbuat lebih adil, berbelanja dengan benar, tidak mudah ditipu dan tentunya masih banyak lagi manfaat penting lainnya.

3. Kenali Prosesnya

Manfaat matematika yang beragam telah disadari, namun jangan sampai setelah mengetahui manfaat tersebut, kita menjadi gegabah dalam mengajarkan matematika kepada anak. Apalagi ketika melihat anak tetangga yang seumuran sudah jago berhitung, hidup bukan kompetisi lo. Jangan bandingkan anak yang satu dengan lainnya. Setiap anak memiliki bintangnya masing-masing, kan?

Setelah mengenali manfaat dari matematika, hal yang perlu kita perhatikan adalah sebagaimana keterampilan lainnya, keterampilan berhitung pun memiliki proses. Sebelum anak-anak kita ajarkan beragam rumus ini dan itu, pastikan bahwa kita telah mengajarkan anak untuk memahami bilangan dan proses membilang, kenalkan pada anak tentang lambang-lambang bilangan, ajarkan konsep berhitung dan kemudian dikenalkan dengan aneka cara dan metode melakukan penghitungan.

4. Kenali Tahapan Perkembangan Kognitif

Sebelum kita menggegas anak-anak untuk bisa cepat berhitung, sebaiknya kita kenali dulu tahapan perkembangan kognitif dan hubungannya dengan perkembangan matematika logis.

tahap kognitif anak

Tahap Sensori – Motor (0-2 Tahun)

Di usia 0 -1 tahun anak sedang senang mengamati apa saja yang ada di sekitarnya, terutama benda-benda yang dapat dijangkau dan mudah. Sedangkan di usia 1.5 – 2.5 tahun, anak-anak memiliki kemampuan object permanence sehingga mulai bisa mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, bentuk dan fungsi.

Di usia-usia ini, kita sudah bisa lo menstimulasi matematika logis dengan mengenalkan nama-nama benda yang ada di sekitar anak. Lalu mengajarkan konsep besar dan kecil kepada anak-anak. Misal ada dua bola di rumah, ajak anak untuk tahu mana bola yang lebih besar dan lebih kecil. Kita juga bisa mengajak anak bermain menyortir warna dan jenis benda.

Tahap Pra Operasional (2 – 7 Tahun)

Di usia yang semakin besar ini, anak-anak sudah tidak lagi di tahapan mengenal benda-benda di sekitar, namun juga mulai bisa menyimpulkan keberadaan sebuah benda atau kejadian tertentu. Anak juga mulai mampu melihat situasi, berpikir bahwa situasi tersebut mengandung masalah dan tantangan hingga kemudian muncul reaksi ‘aha’ yang berujung pada penemuan solusi.

Maka di usia-usia ini, kita bisa mulai mengenalkan anak tentang konsep persamaan dan perbedaan (siang malam, laki-laki dan perempuan), mengenalkan anak tentang posisi (atas bawah, kiri kanan, depan belakang, dsb), mengurutkan benda berdasarkan ukuran, mengamati perubahan benda dan masih banyak hal lainnya.

Tahap Konkret Operasional (7 – 11 Tahun)

Masuk di usia sekolah, anak-anak sudah memulai kemampuan satuan langkah berpikir. Kemampuan ini berfungsi untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya sendiri dengan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi.

Sistem operasi kognitif meliputi konservasi/ pengekalan. Yaitu kemampuan untuk memahami hal-hal terkait volume dan jumlah. Kita bisa melatihnya dengan mengajak anak menuangkan sejumlah air ke beberapa bentuk wadah. Jumlah air tidak berkurang namun bentuknya bisa berubah menyesuaikan wadah yang ditempatinya.

Lalu ada kemampuan penambahan golongan benda, yaitu kemampuan anak untuk menyimpulkan klasifikasi umum dan khusus sebuah benda. Misalnya benda-benda yang masuk kategori bunga di antara lain mawar, melati, anggrek, dan sebagainya. Sebaliknya anak-anak pun mampu menyimpulkan bahwa mawar, melati, anggrek, dsb bisa dikategorikan dalam klasifikasi umum yang disebut bunga.

Selanjutnya ada kemampuan pelipatgandaan golongan benda. Anak bisa kita latih untuk mampu melibatkan pengetahuan yang ia miliki untuk menggabungkan dan memisahkan golongan benda. Jenis kegiatan yang bisa kita lakukan dengan mudah, misal untuk anak lelaki yang suka sekali alat transportasi, kita bisa ajak mereka untuk menggabungkan tipe truk yang dimilikinya; truk cargo, truk pasir, truk tangki, dsb. Lalu ajak anak untuk memisahkan tipe truk tersebut sesuai dengan ukuran yang dimilikinya. Kita juga bisa mengajak anak mengumpulkan jenis-jenis daun dari beragam pohon/ tanaman, lalu ajak anak-anak mengklasifikasi warna dan jenisnya.

Tahap Formal Operasional (11 – 15 Tahun)

Di usia baligh, diharapkan anak-anak sudah mulai mampu menggunakan hipotesis dan prinsip-prinsip abstrak. Pada masa ini, anak-anak telah dianggap mulai dewasa dan memiliki kedewasaan berpikir. Maka anak bisa mulai diberi amanah mengelola uang saku bulanan, menata interior rumah, berkebun, diberi kepercayaan belanja bulanan, diberi amanah untuk mengajar adik-adiknya, dan sebagainya.

5. Pahami Posisi

Kesabaran sangat diperlukan dalam menstimulasi matematika logis kepada anak. Seringkali orangtua dan guru kehilangan kesabaran karena kita tidak menempatkan posisi sebagai anak. Kemampuan berpikir kita sebagai orang dewasa tentu berbeda dengan kemampuan berpikir anak. Maka, tempatkan posisi kita dengan tepat. Sebagai fasilitator belajar, kita harus bisa lebih dari sekedar instruktur, namun juga bisa berperan sebagai teman berdiskusi bagi anak-anak kita.

6. Ide Sederhana, Hasil Luar Biasa

Kita seringkali terpusat pada tujuan, hingga seringkali lupa menikmati proses yang menyenangkan. Matematika sejatinya sangat dekat dengan kehidupan kita, sehingga kita tidak perlu banyak-banyak mencari alat bantu. Cukup maksimalkan dan optimalkan apa yang kita punya, lejitkan kreativitas dan niatkan untuk merekatkan kebersamaan.

menstimulasi matematika logis dengan asyik

Melatih matematika logis bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana, misalnya mengenalkan anak-anak berbagai jenis benda, ajak anak untuk memegang apa saja yang ada di dekatnya, biarkan anak tahu mana itu kursi, meja, dinding, bola, air, dan sebagainya. Lalu kumpulkan benda-benda yang sama dengan ukuran berbeda, ajak anak untuk mengenali konsep besar dan kecil.

Kemudian kumpulkan benda-benda berbeda dengan warna yang sama, ajak anak mengenal tentang konsep warna sekaligus persamaan dan perbedaan. Ajak anak bermain air atau pasir, dan lihat bagaimana air dan pasir bisa berubah bentuk ketika ditempatkan di wadah-wadah berbeda. Di sini kita juga bisa mengenalkannya tentang konsep banyak dan sedikit.

Bahkan di saat anak-anak sedang menemani kita memasak, kita bisa mengajaknya bereksplorasi tentang menakar bumbu, mengenal perbedaan rasa dan memotong dengan ukuran yang sama. Ketika bahan-bahan makanan sudah diolah menjadi masakan, ajak anak untuk membaginya ke dalam beberapa piring. Ajak anak berlatih untuk membagi secara adil.

Terbukti kan dari 6 tips di atas, matematika tidak semengerikan yang kita tahu selama ini? Semoga dengan 6 tips di atas, teman-teman mahasiswi Bunda Sayang bisa semakin percaya diri dalam membersamai anak untuk menstimulasi matematika logis ya.

Mahasiswi dan Fasilitator Terinspiratif Level 6

Dari ratusan mahasiswi Bunda Sayang #5 yang telah menyetorkan tantangan 10 harinya dengan konsisten, ada beberapa nama yang tercatat sebagai mahasiswi terinspiratif karena ide-ide kegiatannya yang luar biasa. Ada pula seorang fasilitator terinspiratif yang jurnalnya untuk level 6 ini tersusun sangat rapi dan bisa di – ATM.

Siapa saja mereka?

1. Mahasiswi Ter-Inspiratif Bersemangat

Ayu Nursepti  dari kelas Tangsel Offline

mahasiswi terinspiratif bersemangat bunsay 5 level 6

2. Mahasiswi Ter-Kreatif Unik

Asrining Tyas Handayani  dari kelas Tangkot Offline

mahasiswi terinspiratif terunik bunsay 5 level 6

3. Fasilitator Terinspiratif

Marita Ningtyas dari kelas Jawa Tengah

fasilitator inspiratif bunsay 5 level 6

SIlakan bagi yang ingin mampir untuk membaca jurnal Mbak Marita untuk mendapatkan inspirasi bagaimana menstimulasi matematika logis kepada anak dengan aktivitas harian yang biasa dilakukan sehari-hari.

Semoga tips yang telah disusun oleh Tim Fasilitator Nasional Bunsay #5 mampu membantu teman-teman mahasiswi Bunda Sayang yang mungkin masih kebingungan mencari ide kegiatan. Boleh juga lo mengamati, meniru dan memodifikasi kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan para mahasiswi dan fasilitator terinspiratif.

Tetap semangat membersamai keluarga dan sampai jumpa di catatan berikutnya!

***

 

Sumber:

● Buku Seri Ibu Profesional #1, Bunda Sayang – 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak

● Jurnal Institut Ibu Profesional – Jejak Langkah Bunda Sayang