Guruku, pahlawanku

Guruku, pahlawanku

Sebutan pahlawan bukan hanya untuk mereka yang ikut berperang melawan penjajah. Akan tetapi, juga bagi mereka yang sekuat tenaga ikut mencerdaskan penerus bangsa. Siapakah dia? Dia adalah guru. Sosok yang penuh inspiratif dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Seorang guru, selain menjadi pendidik murid di sekolah juga menjadi pendidik bagi anak-anaknya di rumah. 

Dalam rangka memeriahkan hari guru sedunia, yang jatuh pada tanggal 5 Oktober, HIMA Jakarta mempersembahkan kulgram COBEK (Cerita Orang Berbakat, Enerjik, dan keren) volume 1 yang berjudul “Guruku, Pahlawanku”. Bersama narasumber yang kece, Azizah Juniarti. Beliau aktif sebagai Manajer humas RCIP Ibu Profesional dan mahasiswa kelas bunda produktif batch 1.

Kesibukannya di komunitas, sekaligus menjadi menjadi guru di rumah maupun di ranah publik (guru tahfidz), bukanlah hal yang mudah. Kira-kira, bagaimanakah manajemen waktu yang dilakukan mbak Azizah dalam menjalankan semua perannya? 

“Mengatur waktu dengan baik dengan memprioritaskan keluarga di skala prioritas kerja, membuat to do list dengan kandang waktu kerja yang diterapkan secara disiplin setiap hari, merupakan manajemen waktu yang saya jalankan bersama suami dan anak-anak. Terlebih dari itu, keridaan suami adalah poin penting dalam setiap aktivitas yang saya kerjakan.” Azizah Juniarti

Azizah Juniarti memilih untuk menggeluti profesi sebagai guru. Menurutnya, hanya ada tiga amalan yang tidak akan pernah terputus oleh kematian.  Yakni, sedekah jariyah, doa anak yang saleh, dan ilmu yang bermanfaat. Dengan menjadi guru, ilmu itu dapat tersalurkan dan insyallah menjadi amal jariyah.

“Merancang visi dan misi keluarga sejak awal menikah itu perlu. Agar setiap kegiatan yang kita lakukan mendapatkan keridaan dari keluarga. Dan ketika rumah tangga sudah berjalan, visi misi tinggal dijalankan”. Azizah Juniarti.

Setelah membuat visi dan misi keluarga, lalu bagaimanakah tips mengelola waktu bagi seorang ibu yang berperan sebagai guru (baik yang memilih peran dalam ranah domestik maupun ranah publik)? Membuat skala prioritas dan dahulukan kegiatan yang suka dan bisa. 

Dengan melakukan kedua hal tersebut, kita dapat menghindari kegiatan yang rasanya “semuanya adalah penting”. Konsistensi mbak Azizah akan manajemen waktu pun diuji ketika berada di kelas bunda cekatan. 

Selain mengelola waktu, meng-upgrade ilmu bagi seorang ibu apalagi guru pun itu juga penting. Learning by teaching” atau belajar dengan mengajar adalah cara yang efektif ketika mengikat ilmu. Karena ilmu tidak akan bermanfaat kalau kita tidak mempraktekannya.

Perannya sebagai guru tahfidz di lingkungan rumah, mbak Azizah juga membagikan tips dalam mengajarkan makhraj kepada anak-anak.

1. Latih artikulasi makhraj.

Latihan artikulasi ini dengan mengajarkan satu per satu hurufnya. Tidak disarankan untuk pindah huruf sebelum makhrajnya benar. Mbak Azizah pun perlu waktu satu semester untuk mengajarkan semua hurufnya. 

2. Mengajar dengan ikhlas.

Mudah atau sulit sebuah materi ketika diajarkan ke anak, itu tergantung perasaan ibu saat mengajarkannya. 

3. Gunakan perbandingan suara

Mengajarkan makhraj ke anak-anak bisa menggunakan perbandingan suara. Misalnya, huruf ‘kho’ mirip dengan suara dengkuran, ‘ha’ seperti suara kepedasan, dan sebagainya.

Seorang guru pun secara kontinyu butuh meningkatkan ilmunya. Ada tahapan atau jenjang ketika belajar tahsin dan tahfiz untuk membimbing teman-teman guru di lingkungannya. Dengan menggunakan kurikulum yang sudah ada untuk belajarnya. Di akhir masa belajar pun ada ujian yang dilakukan. 

Dengan berbagai aktivitas yang dijalankan, tentu ada titik terendah seorang wanita dalam menjalankan perannya. Di sini, pentingnya support system untuk bisa menemani dan menggandeng kita untuk bangkit. Dukungan ini bisa dari keluarga atau lainnya. Mbak Azizah dan suami memiliki hobi yang sama untuk berpetualang. Jadi ketika sedang jenuh, pasangan suami istri bisa menjelajah naik gunung ataupun berkendara motor berdua. 

Diskusi ini memberikan kesimpulan bahwa teman-teman yang berprofesi menjadi guru, baik di ranah publik maupun di ranah domestik teruslah meng-upgrade diri dan kemampuan. Lalu tentukan skala prioritas dalam mengatur jadwal. 

“Teman-teman teruslah bersemangat mencari dan berbagi ilmu. Jangan menunggu ahli untuk bisa berbagi. Mulai dari apa yang kita miliki.” Azizah Juniarti.

Jadi, apakah perlu menjadi ahli untuk berbagi? Yuk jadi bagian dari kegiatan COBEK HIMA Jakarta untuk berbagi cerita, pengalaman, dan kisah inspiratif.

Salam Ima_Maria Fatimah tim medkom Jakarta

6 Pertanyaan di Botram Online, Jawaban Nomer 4 Bikin Pingin Berpelukan

6 Pertanyaan di Botram Online, Jawaban Nomer 4 Bikin Pingin Berpelukan

Demi meningkatkan kebahagiaan member HIMA Bunda Produktif Batch 1 Regional Bandung, maka pengurus mengadakan sebuah sesi botram online. Botram, dalam bahasa Sunda adalah acara makan bersama secara santai dengan tujuan mempererat silaturahmi. Karena situasi yang belum memungkinkan untuk mengemasnya secara offline, maka pilihan online inilah yang terbaik, tidak mengurangi esensi untuk menambah keakraban sesama member.

Setelah melalui voting tentang hari pelaksanaan dan intensitasnya, maka pada hari Kamis, 15 Oktober 2020 adalah botram online perdana kami di WAG. Pilihan platform ini karena lebih sederhana dan tidak membutuhkan persiapan dandan untuk tampil di depan kamera.

Setelah 15 menit pertama digunakan untuk bertegur sapa, Teh Puji, selaku Manajer Media dan Komunikasi HIMA Bandung, selaku penggagas dan pelaksana acara memberikan aturan main malam itu, yaitu Teh Puji memberikan pertanyaan random kepada member yang dipilih secara random juga, dan yang lain bebas bertanya kembali atau menanggapi.

Berikut keseruan yang berhasil kami rangkum.

1. Kalau kamu bisa memilih siapapun di dunia ini, siapa yang kamu inginkan jadi tamu makan malammu?

Teh Kiran sebagai penerima pertanyaan, menjawab tamu idamannya adalah Bu Septi. Alasannya ingin ngobrol langsung semenjak matrikulasi dulu, sempat kehilangan momen bertemu padahal peluangnya di depan mata. Karena saat perayaan kelulusan matrikulasi batch #4, saat Bu Septi hadir sebagai bintang tamu, Teh Kiran yang sebenarnya masuk daftar mahasiswa berprestasi berkesempatan diberi apresiasi oleh Bu Septi, namun Teh Kiran berhalangan hadir karena sedang menanti hari perkiraan lahir di Garut. Bu Septi, dengan program Institut Ibu Profesionalnya telah menemani Teh Kiran menjalani masa quarter life crisis pasca resign dari pekerjaannya.

2. Apakah kamu ingin jadi terkenal? Dalam hal apa?

‘Korban’ ke-dua adalah Teh Yuni dengan jawaban ingin terkenal dalam hal keabsurdan. Lebih detil lagi Teh Yuni menjelaskan bahwa dirinya minder tingkat dewi karena merasa tidak punya kemampuan apa-apa. Dari kecil dididik terlalu keras oleh bapak dan selalu tidak mendapat apresiasi dari beliau walau sudah melakukan hal yang menurutnya luar biasa. Jadi Teh Yuni bertingkah absurd untuk menghibur orang lain sekaligus menghibur diri sendiri. Setelah menikah baru menyadari didikan itulah membuatnya lebih mandiri dan tidak mudah senang dengan pujian. Selalu termotivasi saat direndahkan.

3. Kapan terakhir kali kamu bernyanyi untuk dirimu sendiri? Kapan terakhir kamu bernyanyi untuk orang lain?

‘Tembakan’ ketiga jatuh kepada Teh Erni. Bersenandung setelah live Bu Septi di Hexagon City sehari sebelumnya. Lagu saat penutupnya membuat semangat untuk menjawab tantangan dalam diri, bahwa insya Allah Teh Erni bisa bisa, karena setiap orang itu punya kemampuan tinggal mau mencoba dan melangkah atau tidak. Kalau untuk orang lain sesaat sebelum bergabung untuk ananda yang ketiduran.

4. Kalau kamu bangun pagi esok hari dan diperbolehkan menambah satu kualitas atau kemampuan khusus, kira-kira apa yang kamu mau?

Dengan sigap Teh Prima menjawab self care mental dan fisik. Namun jawaban itu mempunyai alasan yang membuat kami ingin memeluknya. Saat itu Teh Prima sedang gundah gulana. Suaminya sedang dirawat di rumah sakit di pulau seberang, sehingga Teh Prima tidak bisa menemaninya. Ya, Teh Prima dan suami adalah pejuang long distance marriage (LDM). Dengan kondisi ada empat orang anak di Bandung yang perlu dijaga juga, maka belum memungkinkan untuk mendampingi suaminya. Sehingga di tengah kekalutannya memikirkan suami, perlu tetap kuat, sehat dan bersemangat. Teh Prima mencoba untuk lebih peduli pada diri sendiri dulu. Menata hati dan olahraga lagi. Agar fresh, mengoptimalkan apa yang bisa dilakukan dari rumah, salah satunya dengab berusaha tetap bahagia.

5. Adakah sesuatu yang kamu impikan ingin kamu lakukan dalam waktu yang lama? Kenapa kamu belum melakukannya?

Teh Sugih menjawab tinggal bareng berkumpul dengan suami lagi hingga waktunya ‘pulang’ nanti. Saat ini belum bisa karena sedang LDM.

6. Apa pencapaian terbesar dalam hidupmu?

Pertanyaan pamungkas ditujukan kepada Teh Devi dengan jawaban bisa kuliah S2 sambil kerja, ngajar, dan mengurus anak usia 8 bulan awal kuliah, perjuangan berat.

Hampir dua jam durasi botram online ini tidak terasa, karena member saling bertanya, menanggapi, menyemangati, mendoakan, ada empati dan juga bercanda yang silih berganti.

Sederhana memang, tapi dari kesederhanaan itulah membuat member dapat mengalirkan rasa, menceritakan dirinya, keluarganya, pikirannya, berbagi kisah, dan kehangatan, sehingga ada makna yang bisa dipetik, bahwa ibu punya tantangannya masing-masing, saatnya mendukung, tanpa saling sikut dan sandung.

Tak Kenal Maka Tak Sayang – Dzikra I. Ulya

Tak Kenal Maka Tak Sayang – Dzikra I. Ulya

Bismillah,

Assalamualaikum wr wb,

Kami dari kaki gunung Merbabu mengucapkan selamat pagi…

Senang sekali hari ini kami bisa berkenalan dengan salah satu Pengurus IIP yang juga seorang Ibu Rumah Tangga, yaitu Mbak Dzikra I. Ulya. Teh Cika, panggilan sehari hari Mbak Dzikra adalah seorang Ibu dari empat anak yang lucu lucu dan kini tinggal di Salatiga.

Selain sebagai Ibu Rumah Tangga, beliau juga mengampu jabatan sebagai Rektor IIP. Hebat banget ya. Teh Chika juga mengaplikasikan homeschooling untuk anak anaknya.

Senang bisa berkenalan dan mendapatkan inspirasi dari Teh Chika kali ini,

Terimakasih Teh Chika,

Selamat beraktivitas teman teman,

Salam hangat dari kaki gunung Merbabu, Salatiga..

Jumat Berbagi Ilmu : Noor Widyaningsih : Jenis Kain yang Sering Digunakan untuk Pakaian

Jumat Berbagi Ilmu : Noor Widyaningsih : Jenis Kain yang Sering Digunakan untuk Pakaian

Bismillaah
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Kami dari kaki gunung Merbabu mengucapkan selamat pagi..

Jumat berbagi kali ini sangat spesial karena ada Mbak Noor; seorang guru kelas jahit POLJA yang membagikan informasi tentang deskripsi jenis jenis kain yang sering digunakan untuk pakaian.

Dalam pemaparannya, ada 20 jenis kain yang sering digunakan untuk bahan pakaian. Di antaranya adalah katun, linen, denim, drill, baby canvas, dan lain sebagainya. Beliau juga menjelaskan tentang kelebihan dan kekurangan dari masing masing kain serta jenis pakaian yang cocok yang bisa dibuat dari jenis kain tertentu.

Lebih lanjut, Mbak Noor juga menjelaskan secara detail tentang asal kain dan efek yang dihasilkan saat sudah menjadi baju, tas, atau sepatu. Kami juga bisa tanya jawab seputar kain yang sesuai untuk model baju tertentu. Senang sekali bisa mendapatkan informasi dan ilmu yang bermanfaat dari Mbak Noor.

Terimakasih Mbak Noor atas waktu dan ilmunya,

Selamat beraktivitas dan sampai jumpa lagi…

Terima kasih
Salam hangat dari kaki gunung Merbabu, Salatiga..

Wassalamu ‘alaikumillah

 

Tak Kenal Maka Tak Sayang – Noor Widyaningsih

Tak Kenal Maka Tak Sayang – Noor Widyaningsih

Bismillah,

Assalamualaikum wr wb,

Kami dari kaki gunung Merbabu mengucapkan selamat soreee..

Alhamdulillaaah, Tak Kenal Maka Tak Sayang kali ini kami berkenalan dengan Mbak Noor Widyaningsih. Seperti passionnya, yaitu menjahit, beliau adalah seorang Ibu rumah tangga dan juga guru kelas menjahit POLJA setelah menamatkan pendidikannya di Desain Fashion.

Nah, Jumat mendatang Mbak Rina akan membagikan informasi tentang jenis jenis kain yang sering digunakan untuk pakaian. Pasti berguna banget untuk para Moms, ya. Jadi nggak sabar menanti Jumat Berbagi bersama Mbak Noor.

Sampai jumpai Jumat mendatang ya,

Selamat beraktivitas teman teman,

Terima kasih
Salam hangat dari kaki gunung Merbabu, Salatiga..