Merubah Kebiasaan Lama ke Baru

Merubah Kebiasaan Lama ke Baru

oleh: Ikka Rizqie

Ibu Profesional Jember Raya

Hasil Karya Mahasiswi Bunda Cekatan#2

Merubah kebiasaan lama ke baru ini sebagai usaha menjadi ahli gizi keluarga secara holistik. Namun ahli gizi keluarga secara holistik versi saya ini mengarah ke “preventif maintenance”. Maksudnya adalah mencari solusi untuk keluhan ketidaknyamanan terkait pencernaan maupun mengobati penyakit yang dialami anggota keluarga kami. Sehingga keluhan yang dialami menjadi berkurang bahkan sampai sehat, lalu merawat terus kondisi sehat tersebut. Fokusnya melalui makanan dan juga melalui fikiran (holistic). Sebab kita tau, jika seseorang mengalami stress maka asam lambung akan naik. Hal itu akan berpengaruh ke sistem pencernaannya juga.

Untuk bisa menjadi ahli, menurut artikel Jamil Azzani manusia dalam membentuk dirinya menjadi seorang ahli/expert maka ia harus sering mengulang apa yang ia inginkan menjadi ahli. Pengulangan terbaik adalah pengulangan yang disertai pemaknaan dalam setiap gerakan anda.

Silahkan simak 5 tips bagaimana saya merubah habit kebiasaan lama ke kebiasaan baru :

  1. Selesaikan emosi : chunkdown limiting belief, misal: ubah mindset ‘saya harus masak tiap hari’ dengan ‘saya bisa kok masak tiap hari, dengan memulai hari sebelum subuh, food preparation dan meal plan’
  2. Fokus pada tujuan : definisikan dengan jelas dan lengkap, serta hasil yang diinginkan. Contoh: dengan masak sehat tiap hari, tubuhku jadi sehat, hormonal jadi stabil sehingga siklus menstruasiku jadi teratur
  3. Bangun kedekatan : bangun komunikasi produktif dengan banyak ngobrol bersama keluarga untuk menggali menu favorit masing-masing anggota keluarga
  4. Ketajaman indera : diharuskan peka dengan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar dan apa yang kita rasa. Contoh: kita pernah lihat ibu doyan makan suatu menu, maka kita bisa ulang di lain waktu masak menu tersebut
  5. Fleksibel dalam bertindak : contohnya ibu tingkat kolesterolnya tinggi, maka usahakan memasak yang digoreng-goreng, berkreasi makanan kukus tapi tak kalah enak

 

Simak tips Merubah Kebiasaan Lama ke Baru ala Ikka Rizqie melalui video (link) dibawah ini :

https://www.facebook.com/qieikka/posts/10219608941677567?__tn__=-UK*F

Pendidikan Pelita Pertiwi

Pendidikan Pelita Pertiwi

Bumi Hindia (Indonesia) pada awalnya serupa rimba belantara, yang pekat, gelap gulita. Diperlukan obor untuk menjelajahinya, obor pembawa terang. Kartini mengakui, bahwa obor-obor itu tak lain adalah intelektualitas Eropa, yang belum lagi dikuasai oleh Pribumi. Pada masa itu Eropa adalah benua yang pertama menguasai ilmu pengetahuan, mengendalikan seluruh dunia dan tidak ada kekuatan di luarnya yang tidak dapat dipatahkan olehnya. 

Dalam rimba belantara yang gelap gulita ini, di sana sini muncul lelatu-lelatu kecil yang berasal dari terang yang dibawa Eropa. Lelatu-lelatu kecil ini tidak lain daripada Pribumi yang telah maju. Sesuai dengan kelelatuannya, dia atau mereka ini baru dapat memberi terang pada kelilingnya yang kecil. Suatu kehormatan mengenal lelatu-lelatu permulaan dalam masyarakat Pribumi. Dan ditangan Kartini lelatu ini berubah menjadi obor besar yang berkobar-kobar yang menyinari kelilingnya dengan terang-benderang atau baru taram-temaram ke seluruh jagat Hindia  (Toer, Pramoedya Ananta. 2000)

Satu etape perjuangan rakyat Pribumi yang mencoba mengusir gelap (penjajahan) belantara Hindia/ Indonesia, dengan menyalakan obor, menyulut pendidikan, memperbesar dan memperluas. Agar seyogyanya setiap orang sedapat mungkin menjadi nyala itu sendiri. Perlawanan dengan angkat senjata terbukti tak ampuh mendobrak benteng musuh, maka masuk melalui celah kecil tempat terang mencuat, berusaha memperbesar lobang. Sedikit demi sedikit lobang dicungkil dan terang itu makin menerangi pribumi. Tak terhindarkan, makin banyak lelatu muncul, mampu membakar tabir pembatas intelektualitas, banjir ilmu pengetahuan sampai juga ke bumi Hindia. Menghempas gelap penjajahan, bahu membahu dengan angkat senjata.

Pendidikan laksana obor yang membawa api terang, yakni ilmu pengetahuan. Hangat dan sangat bermanfaat laksana matari. Sumber kehidupan, penghapus keterpurukan. Betapa penting arti pendidikan bagi nasib bangsa Indonesia, hingga rakyat mampu berpikir, bangkit, bersatu, berdiplomasi mengusir gelap penjajahan. Tak pelak dipungkiri, pendidikan ini harus tetap tegak dan mengakar di bumi pertiwi, demikian bangsa ini bisa kokoh berdiri dan mengusai separuh bumi. 

Terbukti bahwa pendidikan, ilmu pengetahuan, mampu mengubah kondisi negeri ini, dari hamba menjadi merdeka. Perubahan akbar dan digdaya. Betapa dahsyat dampaknya, hingga terus digaungkan, terus diperjuangkan, seluruh rakyat untuk mengecap dan melahap pendidikan. Fakta bahwa bangsa kini dibanjiri informasi dan ilmu pengetahuan, makna pendidikan jadi tergerus. Tak sedikit rakyat, banyak pengetahuan, berlimpah ilmu tapi kurang terdidik. Seyogyanya pendidikan inilah yang membuatnya lebih berbudi luhur. 

Pendidikan adalah wahana pembentukan budi pekerti agar peradaban tidak hancur. Karena kecerdasan otak saja tidak berarti segala-galanya. Harus ada kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang erat hubungannya dengan yang lain untuk mengantarkan ke arah yang ditujunya. Di samping otak, juga hati harus dibimbing, kalau tidak dimikian peradaban hanya tinggal permukaan. 

Kartini

Disini pentingnya menegakkan pendidikan sedari dini, karena sejatinya bukan hanya untuk mencerdaskan otak namun juga membentuk watak. Keluarga adalah tempat peletak pondasi pendidikan, khususnya ibu. Sebagai perempuan, apalagi setelah menyandang peran sebagai ibu haruslah terdidik, mempunyai ilmu untuk mengembangkan potensi diri menjadi mandiri, cekatan mengelola keluarga menjadi tangguh dan sehat, mendidik anak dan keturunannya menjadi generasi bangsa unggulan. 

Tak ada lagi penjajahan, rimba belantara Indonesia kini terang benderang. Pendidikan sudah tersebar luas, walau belum merata. Media belajar yang makin beragam, keterhubungan yang makin meluas dan simultan, pendidikan bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Pendidikan seyogyanya bisa dikecap oleh seluruh putra putri bangsa. Demikian, kebodohan, kemiskinan dan keterpurukan bisa ditepis dari bumi pertiwi. 

Seorang perempuan, seorang ibu, bagai lelatu yang memancarkan pelita bagi lingkaran terdekatnya, keluarga. Terang-terang kecil disana disini akan memancarkan banyak cahaya yang mampu menerangi lingkaran lain disekitarnya, hingga membesar, memukau kilaunya menerangi seluruh bangsa. 

 

Sumber pustaka:

Toer, Pramoedya Ananta. 2003. Panggil Aku Kartini Saja. Lentera Dipantara