Hidroponik Asyik dengan Sistem Wick

Hidroponik Asyik dengan Sistem Wick

Oleh: Steffi Dwithasari

Praktisi Hidroponik, Urban Farming

Ibu 2 anak yang berdomisili di Bogor, makin intensif berkebun hidroponik sejak resign dari karirnya sebagai Engineer di perusahaan migas. Pernah menjadi supplier kale dan pokcoy dari hidroponik, juga memproduksi susu almond.

Mahasiswi Bunda Produktif batch#1

CH Sustainable Living

Bayangkan jika kita bisa memetik sayuran sendiri tiap kali mau masak, mudah mencucinya, bersih dan bebas pestisida, masih segar teksturnya, dan minim bahan kimia. Kita bisa lho memanen sendiri sayuran dari rumah, dengan mulai menanam benihnya. Mau tau cara asik berkebun hidroponik dengan sistem Wick?

Apa itu Hidroponik?

Metode budidaya tanaman tanpa media tanah , tetapi memanfaatkan air/larutan mineral yang diperlukan oleh tanaman. Terbukti lebih hemat air daripada menanam secara konvensional. Baik/cocok untuk perkotaan atau yang berlahan sempit.

Jenis Hidroponik
  1. Air menggenang/statis : sistem Wick, air statis dalam wadah, tidak mengalir, tidak membutuhkan alat khusus
  2. Air mengalir : aeeoponic, drip, sistem pasang surut, deep water culture

Sistem Wick

Berasal dari kata sumbu, nutrisi yang diterima akar dialirkan melalui sumbu. Sistem wick menggunakan wadah untuk menampung air nutrisi dan tanaman. Ukuran wadah tergantung dari kebutuhan. Bisa juga memanfaatkan bahan bekas sebagai wadah

Kelebihan Sistem Wick
  • Mudah dan murah dalam mendapatkan bahan
  • Instalasi paling sederhana
  • Tanpa pasokan listrik
  • Bisa ditanam indoor maupun outdoor
Kekurangan Sistem Wick
  • Keterbatasa jumlah tanaman yang dibudidayakan
  • Sulit mengontrol keasaman media jika terlalu banyak tanaman
  • Keterbatasan penyaluran nutrisi oleh sumbu, sehingga hanya cocok untuk tanaman yang tidak doyan air
Bahan dan Alat
  1. Wadah : untuk menampung air nutrisi dan tanaman. Bisa berupa ember, baki, syrofoam, botol dll
  2. Media tanam : untuk menopang tanaman mulai dari pembenihan hingga tumbuh. Bisa berupa rockwool, kapas, dll
  3. Sumbu: untuk mengalirkan nutrisi ke tanaman. Bisa berupa kain flanel, sumbu kompor, kain bekas, dll
  4. Nutrisi : air yang telah diberikan pupuk tanaman khusus untuk tanaman hidroponik. Bisa menggunakan nutrisi yang dijual bebas atau membuat sendiri dari MOL
  5. Perkakas lain: seperti benih, cutter, spidol, gelas, netpot, dll
Cara membuat modul hidroponik sistem wick DIY (do it yourself)
  1. Ukur diamenter gelas plastik atau netpot yang akan digunakan
  2. Lubangi bagian permukaan bahan seukuran dengan gelas plastik / netpot
  3. Lubangi bagian bawah gelas plastik agar sumbu bisa masuk ke dalamnya
  4. Masukkan sumbu ke dalam gelas plastik/ netpot
  5. Letakkan bagian yang berlubang di atas wadah
  6. Masukkan netpot ke dalam bagian yang berlubang
  7. Modul siap digunakan

Air Nutrisi

Nutrisi hidroponik adalah pupuk hidroponik lengkap yang mengandung semua unsur hara makro dan mikro yang diperlukan tanaman hidroponik. Pupuk tersebut dikenal dengan nama ABmix. ABmix terdiri dari pupuk A dan pupuk B yang kemudian dicampurkan sebagai nutrisi tanaman. Nutrisi ABmix bermacam-macam, tergantung jenis tanaman yang ditanam. Pupuk tersebut dijual dalam bentuk bubuk maupun cair di toko maupun online shop.

Cara penanaman dan perawatan
  1. Benih disemai
  2. Siapkan larutan nutrisi dan isi di wadah hidroponik
  3. Setelah keluar daun sejati, pindahkan ke dalam netpot/gelas plastik
  4. Masukkan netpot/gelas plastik ke dalam modul hidroponik yang sudah dibuat sebelumnya
  5. Aduk nutrisi minimal 1x sehari
  6. Ganti air nutrisi bila berbusa, berlumut atau tanaman menguning

Tutorial lengkap bisa simak ke https://fb.watch/69jleC6VUf

 

Pengasuhan Positif untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Pengasuhan Positif untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

HIMA Jakarta kembali mengadakan acara COBEK#5 (Curhat Orang Berbakat, Enerjik, dan Keren) pada hari Sabtu, 13 Maret 2021. Tema yang diangkat pada COBEK#5 adalah mengenai pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dalam rangka Hari Down Syndrome yang diperingati pada 21 Maret.

HIMA Jakarta mengundang dua orang narasumber: Dewi Andriyani, S.Psi., guru ABK dan Finalita Sufianti, orang tua dengan anak disleksia. Mereka berdua merupakan mahasiswi bunda produktif#1. Acara ini diadakan melalui platform Zoom dan dipandu oleh Talitha Rahma, mahasiswi bunda sayang#6. Mau tahu bagaimana keseruan acara ini? Yuk langsung saja kita intip isinya.

Sebelum acara berlangsung, panitia membagikan ringkasan materi ke grup WhatsApp COBEK#5. Para peserta sangat antusias memberikan pertanyaan untuk narasumber di ruang obrolan WhatsApp. Ruang Zoom dibuka oleh host pada pukul 09.45 WIB dan acara dimulai tepat pada pukul 10.00 WIB.

Di awal acara, Dewi Andriyani menjelaskan bahwa pada umumnya setiap individu memiliki 6 kemampuan: 1). sikap dan perilaku; 2). keterampilan bergerak; 3). bahasa dan bicara; 4). sosial dan emosional; 5). kemandirian; dan 6). kecerdasan. Semua kemampuan tersebut harus diamati bersamaan dengan tumbuh kembang anak (deteksi sejak dini). Apakah ini akan berkembang sesuai tahapan atau terdapat penyimpangan. Jika mengalami penyimpangan atau hambatan, maka bisa terjadi dua kemungkinan:

  1. Anak lambat berkembang (ALB), ketika terhambat 1 atau 2 aspek perkembangan dari tingkat umur dan perkembangan anak pada umumnya.
  2. Anak berkebutuhan khusus (ABK), ketika terhambat >2 aspek perkembangan dan lebih dari 1 tingkat umur.

Anak berkebutuhan khusus (ABK) biasanya mengalami beberapa hambatan perkembangan, salah satunya gangguan belajar yang terbagi menjadi 2 jenis:

  1. Bersifat developmental, berhubungan dengan perkembangan (gangguan motorik, persepsi, komunikasi, dan penyesuaian perilaku sosial).
  2. Bersifat akademik (khusus), menunjuk pada adanya kegagalan pencapaian prestasi akademik sesuai dengan kapasitas yang diharapkan (penguasaan keterampilan bahasa, membaca, mengeja, menulis, dan matematika). Selanjutnya, gangguan belajar bersifat akademis memiliki beberapa klasifikasi:
  1. Disphasia, adalah anak yang mengalami kesulitan berbahasa verbal, berbicara, dan berbagai kekurangan bahasa
  2. Disleksia, adalah anak yang mengalami kesulitan membaca termasuk tidak mampu mengeja
  3. Disgraphia, adalah anak yang mengalami kesulitan menulis (penyimpangan kelancaran verbal dan menyatakan pikiran dalam bentuk tulisan)
  4. Diskalkulia, adalah anak yang mengalami ketakmampuan untuk berfikir kuantitatif/berhitung

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah seseorang termasuk berkebutuhan khusus atau tidak? Berikut ini terdapat beberapa gejala yang bisa diamati pada anak balita, anak yang lebih dewasa, ataupun remaja dan dewasa.

A. Gejala pada balita.

  1. Lambat bicara dan perkembangan kosakata yang sedikit dibandingkan dengan anak seumurannya;
  2. Bermasalah dalam pengucapan;
  3. Kesulitan belajar alfabet, angka, bentuk, dan warna;
  4. Kesulitan mengikuti petunjuk atau instruksi;
  5. Kesulitan kemampuan motorik;
  6. Mudah terganggu;
  7. Masalah dengan interaksi sosial.

B. Gejala pada anak yang lebih dewasa.

  1. Lambat untuk mempelajari suara-suara asosiasi;
  2. Konstan melakukan kesalahan ketika membaca, menulis, atau mengeja;
  3. Kesulitan dan kebingungan dalam tanda aritmatika matematika (seperti tanda x dan +);
  4. Lambat untuk belajar keterampilan baru;
  5. Tidak menyadari akan bahaya (resiko);
  6. Miskin konsentrasi;
  7. Membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan teman sebaya nya untuk pelajaran sekolah atau pekerjaan rumah;
  8. Terbalik atau susah untuk memahami huruf seperti p dengan q, b dengan d, s dengan z;
  9. Menghindari membaca dengan suara keras;
  10. Tulisan tangan yang jelek;
  11. Kesulitan untuk berteman;
  12. Nilai akademik jelek.

C. Gejala yang ditampilkan remaja dan dewasa.

  1. Menghindari membaca dan menulis tugas;
  2. Salah membaca sesuatu, salah mengeja;
  3. Bekerja secara perlahan;
  4. Bermasalah dengan konsep-konsep abstrak;
  5. Bermasalah pada ingatan, misalnya mudah lupa.

Pemaparan yang disampaikan dua orang narasumber ini tidak hanya berhenti di ruang Zoom. Karena keterbatasan waktu, maka diskusi ini masih berlanjut di dalam grup Whatsapp. Berikut ini ada beberapa tanya jawab di dalam grup COBEK#5.

Selanjutnya, apakah ABK bisa disembuhkan?

Finalita Sufianti mengatakan bahwa disleksia bukanlah suatu penyakit. ABK bukan penyakit, melainkan kelainan fungsi neurologis yang akan disandang oleh seseorang seumur hidup. Mungkin beberapa dokter memberikan terapi farmakologis seperti obat dari golongan metilfenidat untuk anak attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) supaya mudah konsentrasi.

Lalu, apa pertolongan yang bisa diberikan pada ABK?

Finalita Sufianti menjelaskan beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menolong ABK berdasarkan pengalaman pribadinya. Pertama, ABK harus segera dibantu tenaga ahli untuk menjalankan terapi. Kedua, Orang tua perlu bertemu dengan ahlinya untuk membantu mengintervensi kondisi anak. Ketiga, ABK membutuhkan metode pengajaran yang berbeda dibandingkan anak lainnya, misalkan dengan mengatur jenis font atau memodifikasi kegiatan. Keempat, Orang tua perlu melakukan koping strategi untuk mengelola stres yang dialaminya, yaitu dengan melakukan self management, menemui ahli, dan mencari support system yang baik. Kelima, Jangan selalu membantu ABK, biarkan anak belajar mandiri. Insya Allah dengan begitu, ABK akan bisa mandiri dan bersosialisasi dalam kehidupan biasa.

Apabila anak sering tidak mendengar instruksi yang diberikan dan terkadang seperti tidak mendengar jika dipanggil, apa yang harus dilakukan?

Menurut Dewi Andriyani, hal yang dapat dilakukan adalah cek masalah pendengaran anak dengan tes Brain Evoked Response Auditory (BERA). Selanjutnya, konsultasi ke terapis tumbuh kembang untuk terapi wicara. Jika sudah mengalami kesulitan bicara, maka bisa dilakukan terapi speech delay.

Bagaimana cara menstimulasi anak 4 SD (10 tahun) yang sangat kesulitan belajar matematika, terutama soal cerita dan perhitungan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari?

Coba amati permainan yang disukai anak, misalnya lego atau mobil-mobilan. Lalu, amati seperti apa gaya belajar anak. Untuk anak visual kinestetik dapat menggunakan media. Kemudian menentukan kata kunci pada soal, misalnya “dibagi rata” untuk pembagian, “total jumlah “untuk penjumlahan, dan “selisih” untuk pengurangan. Dari kata kunci tersebut anak bisa menentukan koping strategi untuk sebuah soal. Intinya, kita sebagai pendamping harus menggali dulu metode belajarnya seperti apa, mencari kata kunci pada soal cerita, dan mendampingi terus ketika belajar. Jangan sampai membuat anak stress. Setiap mau belajar, anak ditanya dan dibuat target mau menyelesaikan berapa lembar soal. Jika anak sudah tidak mau mengerjakan, maka disudahi saja. Jangan sampai anak merasa jenuh karena setiap anak ada kapasitasnya. Utamakan kewarasan dan kebahagiaan anak. Begitulah tips yang dibagikan oleh Finalita Sufianti.

Apa yang bisa dilakukan ketika anak 7 tahun masih sering terbalik menulis angka 2,3,5,6,7,9 dan huruf b & d sesekali? Kondisinya anak membaca cukup lancar, tulisannya sesuai mood bagus tidaknya, sedikit kurang fokus, hafalannya lumayan kuat.

Bisa dilatih menggunakan pendekatan multisensori seperti mengenalkan angka-angka dengan lilin plastisin, pasir, sand paper, atau media lainnya. Bisa juga menggunakan metode Montessori.

Di Montessori, huruf yang memiliki bentuk dan suara yang mirip diajarkan secara terpisah. Jika kondisinya sudah lancar membaca, bisa diajarkan berulang untuk fokus ke kata yang memiliki huruf “b” tanpa adanya huruf “d”. Jika sudah lancar tanpa salah, bisa dilanjutkan ke kata yang memiliki huruf “d”. Selanjutnya, bisa juga diulang-ulang untuk bunyi fonetik dari hurufnya.

Pendamping juga bisa melakukan observasi, dimanakah posisi pendamping setiap mencontohkan angka kepada anak? Di samping atau di depan? Sebaiknya pendamping berada di sebelah tangan dominan anak ketika mengajarkan angka. Apabila berada di depan anak, mereka akan melihat gerakan tangan ketika menuliskan angka secara terbalik.

Jika anak tidak melalui fase merangkak ketika bayi, apakah bisa menjadi penyebab disleksia?

Finalita Sufianti mengatakan bahwa hal tersebut merupakan salah satu rumor yang beredar di masyarakat Indonesia. Berikut ini merupakan beberapa rumor mengenai disleksia menurut Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI):

  1. Disleksia disebabkan karena tidak merangkak;
  2. Diagnosis disleksia itu hanya ‘mengada-ngada’;
  3. Disleksia itu hanya perkara sulit membaca, menulis, dan berhitung (calistung) saja;
  4. Disleksia itu karena anaknya bodoh, malas, dan tidak ada motivasi;
  5. Disleksia menular;
  6. Disleksia bisa minum obat tertentu supaya sembuh.

“Setiap anak itu unik. Allah tidak menciptakan produk gagal. Fitrahnya manusia yaitu saling menyayangi dan melengkapi, tidak membedakan normal atau tidak normal. Kurva itu seimbang jika ada plus dan minus.” Dewi Andriyani.

Disusun oleh Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta
Penulis: Faizah Khoirunnisaa
Editor: Maria Fatimah
Desain: Winda

5 Langkah Minim Sampah Mulai Dari Rumah

5 Langkah Minim Sampah Mulai Dari Rumah

Oleh: Annisa Ramadhani

IP Kalimantan Selatan

Haskar Mahasiswi Bunda Cekatan#2

5 Langkah Minim Sampah Mulai Dari Rumah

Mengapa kita harus mulai care dan mengurangi  sampah yang dikeluarkan dari rumah? Karena banyak sekali dampak lingkungan yang sudah terjadi dan makin lama makin buruk. Maka segera saja kita mulai :

  1. Mengurangi sampah di TPA yang sudah menggunung
  2. Menjaga kelestarian lingkungan
  3. Mengurangi resiko bencana alam
  4. Mendapat pupuk alami dari pengolahan sampah dapur

Sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan sebagai bentuk peduli lingkungan dan mengurangi sampah. Berikut 5 Langkah Minim Sampah dari Rumah yang bisa diterapkan:

  1. Mengganti sedotan plastik sekali pakai dengan bahan stainless steel yang bisa dipakai ulang
  2. Memanfaatkan kemasan plastik untuk polibag berkebun
  3. Mendaur ulang minyak jelantah jadi sabun
  4. Memanfaatkan sisa kemasan plastik untuk mainan anak
  5. Memanfaatkan sisa sampah dapur untuk dibuat kompos

 

Bincang Tantangan Stimulasi Kecerdasan Matematika dan Finansial

Bincang Tantangan Stimulasi Kecerdasan Matematika dan Finansial

Bagaimana petualangan para mahasiswi pada zona Stimulasi Kecerdasan Matematika dan Finansial? Mau tahu bagaimana keseruan para mahasiswi melewati zona ini? Yuk, kita simak BinTang atau Bincang Tantangan di kelas bunda sayang IP Jakarta. Bincang seru tantangan dan proses belajar selama menjalankan misi. Karena butuh teman yang saling bergandengan tangan dan saling mengingatkan untuk berubah menjadi lebih baik.

Jika mendengar kata ‘matematika’, apa yang terlintas di benak teman-teman? Rumit dan sulit, atau sederhana dan mudah?

Rasanya belajar matematika menjadi hal yang menakutkan dan dianggap sulit oleh pelbagai kalangan, termasuk anak-anak. Sebenarnya belajar matematika bisa menjadi hal yang menyenangkan dan mengasyikkan bagi anak jika menggunakan alat peraga dan ilustrasi sederhana. Stimulasi kecerdasan matematika untuk anak menjadi hal yang sangat penting karena matematika hampir digunakan di setiap aspek kegiatan sehari-hari.

Selain stimulasi kecerdasan matematika, orangtua perlu menstimulasi kecerdasan finansial anak. Karena kedua hal tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Contoh sederhananya adalah ketika anak ingin membeli donat di warung. Mereka harus mengetahui berapa donat yang akan dibeli, berapa harganya, dan berapa lembar uang yang harus mereka berikan kepada penjual.

Definisi kecerdasan finansial, adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan. Sesuai dengan konsep di Ibu Profesional, uang adalah bagian kecil dari rejeki, sehingga dengan belajar mengelola uang artinya kita belajar bertanggung jawab terhadap bagian rejeki yang kita dapatkan di dalam kehidupan ini.

Prinsip dasar dalam hal rejeki yang harus dipahami di dalam Ibu Profesional adalah “Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari.” Dengan begitu, ketika anak sudah paham konsep dirinya, maka kita sebagai orangtua perlu menstimulus kecerdasan finansialnya.

Para mahasiswi bunda sayang di kelas ini saling berbagi cerita dan keseruan ketika menjalankan misi. Ada cerita menarik dari Mbak Qitbiyah yang mencoba menggabungkan stimulasi kecerdasan matematika dan finansial untuk anaknya. Ia mengenalkan kepada anaknya untuk melakukan sedekah subuh, memberikan jatah uang jajan, dan menabung. Ternyata anak-anaknya sangat senang dengan sedekah subuh dan antusias ketika mendengar penjelasan Ibunya mengenai jatah uang jajan yang bisa dihabiskan, sebagian ditabung, atau disedekahkan.

Ada pengalaman yang tidak kalah menarik dari Mbak Cahya. Qadarullah keluarga Mbak Cahya terkena banjir, tetapi hal tersebut malah dijadikan inspirasi untuk mengenalkan konsep matematika kepada anaknya. Mbak Cahya bertanya kepada anaknya, apakah air banjirnya semakin naik (meninggi) atau turun. Wah keren banget ya, Mbak Cahya bisa mengambil hikmah dari musibah yang menimpanya.

Apakah semua mahasiswi berhasil menjalankan misinya? Mbak Ellyza menceritakan bahwa zona ini paling menantang untuk dirinya karena anaknya sadar kalau disisipkan materi matematika, sehingga anaknya langsung mengajak untuk bermain hal lain. Anaknya juga merasa sedang dites ketika Mbak Ellyza sedang me-review kegiatan yang sudah dilakukan. Meskipun begitu, Mbak Ellyza tidak patah semangat dan terus mencoba untuk menyisipkan materi matematika dalam permainan secara pelan-pelan.

Cerita yang tidak jauh berbeda datang dari Mbak Lufki. Ketika hari terakhir tantangan, Mbak Lufki meminta anaknya untuk mengalirkan rasa. Ternyata anaknya tidak menikmati proses belajar tersebut, meskipun menurut Mbak Lufki terlihat enjoy dan menikmati aktivitas stimulasi. ”Nggak suka main uang gitu, Rumi sukanya main ke warung, beli susu dan jajan.” Duh, lucu banget ya Rumi!

Selain untuk anak-anak, tantangan zona ini juga bisa diterapkan untuk para Bunda lho! Ingat prinsip di Ibu Profesional, “For things to change, I must change first.” Apabila kita menginginkan perubahan, maka mulailah dari diri kita terlebih dahulu. Maka sejatinya stimulasi kecerdasan finansial adalah proses kita sebagai orangtua agar cerdas finansial dengan cara learning by teaching, belajar mengajar bersama anak-anak. Jadi yang utama harus belajar tentang stimulasi kecerdasan finansial adalah orangtuanya, baru memandu kecerdasan finansial anak-anak sesuai tahapan umurnya.

Berikut ini tips dari para mahasiswi bunda sayang IP Jakarta yang bisa dilakukan ketika belajar mengelola uang:

  1. Melakukan pencatatan keuangan dengan detail.
  2. Membuat skala prioritas kebutuhan hidup dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
  3. Menentukan pos-pos pengeluaran.
  4. Mengevaluasi apakah terdapat kebocoran pengeluaran.

Sangat menarik bukan, cerita pengalaman mahasiswi bunda sayang IP Jakarta melewati tantangan zona 6 ini? Nantikan cerita yang ngga kalah seru di bincang tantangan berikutnya yaa 😊

Disusun oleh Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta
Penulis: Faizah Khoirunnisaa
Editor: Maria Fatimah
Desain: Winda

Pancasila dalam Tindakan

Pancasila dalam Tindakan

Bersatu untuk Indonesia Tangguh

Demikian tema yang diangkat oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021. Hari Lahir Pancasila selayaknya selalu diperingati untuk mematri kembali makna suci dalam hati dan laku hidup sehari-hari. Pancasila ibarat mantra digdaya yang harus senantiasa kita rapalkan dan terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Tahukah Anda seperti apa cerita kelahiran Pancasila? baiknya kita refresh kembali ingatan kita tentang pelajaran PPKn saat dibangku sekolah dulu tentang Pancasila, bisa saja ada bagian yang ‘baru’ kita ketahui. 

Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) atau BPUPK, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan “Indonesia”).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 mei  (yang nantinya selesai tanggal 1 Juni 1945). 

Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota BPUPKI.

Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir.Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abieskosno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945.

Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato-pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1947, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”.

”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.” (hs://id.wikipedia.org/, 2021) 

Lahir dari buah pemikiran brilliant sang negarawan yang kemudian dirumuskan dan digodog sebagai dasar mendirikan negara. Pancasila lahir sebelum hari kemerdekaan Indonesia, merupakan pondasi atau dasar negara Indonesia. Dasar pertama dan utama dalam menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelima silanya juga dijadikan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, dan juga sebagai ideologi dan falsafah bangsa. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sangatlah luhur dan mencakup segala lini kehidupan, maka seyogyanya kita terapkan dalam keseharian.

Azaz-azaz mulia Pancasila ada 5 yakni:

(1) Ketuhanan yang Maha Esa

(2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 

(3) Persatuan Indonesia

(4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

(5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Makna dan nilai yang terkandung kelima azaz tersebut sangat dalam dan mulia, hendaknya diinternalisasi dalam jiwa seluruh rakyat Indonesia dan diimplementasikan dalam hidup keseharian.  Proses transfer ilmu pengetahuan, keterampilan dan pendidikan nilai-nilai Pancasila kepada generasi penerus bangsa adalah tugas dan tanggung jawab bersama, bukan sebatas lembaga pendidikan. Utamanya pendidikan keluarga, yang pertama dan utama didapatkan oleh anak-anak bangsa. Keluarga adalah media efektif pendidikan, panutan dan pembiasaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Demikian, sejak dini, generasi terdidik nilai-nilai luhur, menerapkan hingga melarutkan dalam keseharian. Menjadi kebiasaan mulia, menularkannya pada lingkaran sekitarnya hingga menjadi budaya bangsa. Selanjutnya, bergotong royong dengan guru dan lembaga pendidikan lainnya bekerja sama membumikan nilai-nilai Pancasila di segala lini kehidupan. Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Dr. Lia Kian mengimbau internalisasi nilai Pancasila terhadap anak didik tidak harus secara formal melainkan secara informal.

Peringatan Hari Lahir Pancasila

 

“Membumikan Pancasila dalam segala perspektif ilmu, tidak harus formal tetapi informal bagaimana mengkombinasikan Pancasila baik secara teori dan praktek”, ujarnya.

Membumikan nilai-nilai Pancasila di era modernisasi menjadi tantangan tersendiri. Masa dimana digitalisasi dan individualistik mendominasi, arus globalisasi membanjir. Budaya bangsa lain dengan mudahnya mempengaruhi generasi. Sedikit demi sedikit nilai-nilai luhur Pancasila terkikis dari jiwa dan kelakuan generasi bangsa. Tanggung jawab bersama, seluruh bangsa, untuk terus menanamkan dan memupuk jiwa Pancasia dalam sanubari anak-anak bangsa. Agar bangsa Indonesia tetap merdeka, beradab, berjaya dan tangguh!

 

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Lahirnya_Pancasila, 2021

https://www.bpip.go.id/bpip/slider/622/bpip-dan-guru-komitmen-gotong-royong-kuatkan-pancasila, 2021