KUNJUNGAN PENGURUS IP PUSAT KE HIMA IP REGIONAL SAMKABAR

KUNJUNGAN PENGURUS IP PUSAT KE HIMA IP REGIONAL SAMKABAR

Rabu, 18 Agustus 2021 Dapur Hima Samkabar mendapat kunjungan tamu special dari Institut Ibu Profesional. Teh Chika dan Mba Renny Kusuma berkunjung di WAG (Whatsapp Grup ) Pengurus Hima Samkabar. Kunjungan berlangsung selama 60 menit dari pukul 10 – 11 WIB .

Temen-temen di kepengurusan Hima Samkabar tentunya sangat antusias menerima kunjungan ini. Walaupun di tengah kesibukan dan aktivitas online alhamdulillah sebagian besar temen-temen menyempatkan untuk hadir dan menyapa tamu special kami .

Bagi temen-temen yang belum bisa ikut hadir in sya Allah di siapkan resume untuk bisa menikmati dan mendapatkan insight juga dari kunjungan ini. Walaupun kunjungan virtual di whatsapp group tetapi kami merasakan keakraban dari Teh Chika , mba Reni dan in sya Allah merekapun merasakan sambutan yang sama dari temen-temen di Hima Samkabar.

Teh Chika dan mba Reni yang membawa misi silaturahim untuk mendengarkan cerita apa saja yang ada di regional Samkabar. Project-project apa yang sudah di buat dan tantangan yang hadir, bagaimana menghadapi tantangan tersebut dan unek-unek lain yang hadir selama bermain peran di dapur Hima Samkabar.

Cerita pertama mengalir dari Aisyah Fitriana selaku Manop Hima yang secara fisik sudah migrasi ke regional timur Indonesia tetapi karena penerus Amanah belum ada beliau masih bermain di regional Samkabar .

Ada cerita juga yang dari Man Humas Era Industriani yang mana setelah tim Humas mengikuti training humas memunculkan playground bermain baru program Live streaming baru HPC (Hima Punya Cerita ) menemani program Biru (Bincang Seru ) .

Tantangan yang hadir diungkapkan beliau juga sekaligus kahima Samkabar tentang keterlibatan member dalam mengisi agenda online yang membutuhkan pendekatan personal lebih dahulu dan juga tentang keaktifan member di wadah silaturahim member Hima di Telegram Hima Samkabar . Tantangan lainnya terkait regenerasi dalam kepengurusan.

Insight yang disampaikan oleh Teh Chika dan mba Reni adalah beliau merasa senang akan kekeluargaan yang terasa di dapur Hima Samkabar . Menyarankan kepada teman-teman pengurus untuk duduk bersama dan merundingkan kembali tentang versi aktif yang bisa membahagiakan member dan pengurus , karena untuk bisa terlibat aktif di semua grup adalah tantangan berat bagi member pastinya .

Terkait kepengurusan dan regenerasinya Teh Chika menyampaikan beberapa saran yang bisa dilakukan dan bagi member yang mutase regional boleh menjalin silaturahim lebih dulu juga dengan regional barunya agar bisa berbagi dan menjalin bonding dengan regional barunya . Di akhir kunjungan The Chika membagikan ebook keren Demi Masa bagi kami di regional Samkabar .

Terimakasih The Chika dan Mba Reni untuk kunjungan dan apresiasinya ke regional kami. Semoga di lain waktu bisa berkunjung kembali.

 

  1. Aliran Rasa oleh Era Industriani
    Saya merasa senang dengan adanya kegiatan yang digawangi Rektor beserta Man Humas Institut yakni berkunjung secara virtual ke tiap regional kami yaitu Hima Samkabar.
    Selain menjadi ajang silahturahmi, juga menjadi wadah untuk bercerita apa saja, pengalaman apa saja di kepengurusan Hima. Sehingga kami saling terbuka dan mengetahui program apa yang sedang berjalam,tantangan apa yang dihadapi, dan sama-sama mencari solusi yang tepat.
    InsyaAllah dari apa yang menjadi kendala, akan kami diskusikan kembali agar bisa menjadi langkah yang tepat, membahagiakan para pengurus dan para member.
    Kami ucapkan terima kasih kepada Teh Chika dan Mba Reni yang bersedia mengunjungi, mendengarkan cerita, mengapresiasi dan memberikan semangat kepada kami semua.
Bunda Cekatan : Proses Menjemput Metamorfosis Sempurna

Bunda Cekatan : Proses Menjemput Metamorfosis Sempurna

Bertemu akhir. Setiap hal pasti bertemu ending-nya. Happy atau sad ending semua bergantung pada sudut pandang masing-masing. Aku tentu tidak berhak mengusik yang lain dengan ending-nya. Aku hanya harus fokus pada diriku seperti apa aku bertemu akhir. Inikah ending yang aku harapkan?

Flashback ke tujuh bulan lalu, aku hampir saja gagal menjadi bagian dari pertualangan ini. Setelah sadar aku nyaris ketinggalan kapal, alih-alih menunggu kapal lain tiba, aku mencari tahu apa saja yang bisa kulakukan demi menyusul ketertinggalan. Aku hubungi HIMA Regional baruku, aku baru pindah regional kala itu makanya minim sekali informasi. Salahku juga karena sibuk pindahan membuatku tak memantau FBG transit. Dari informasi HIMA-lah, aku berupaya mengejar waktu keberangkatan kapal. Qodarullahu, ada info penangguhan keberangkatan. Jadi penumpang yang merasa harus naik ke kapal perlu menyiapkan beberapa persyaratan. Tidak mau kehilangan kesempatan kedua, segera kuselesaikan waktu itu juga dalam waktu yang singkat. Tekad kuat yang membawaku akhirnya ikut menumpangi kapal yang telah setahun lebih kunanti. Kapal itulah yang membawaku menjadi bagian dari Hutan Kupu Cekatan. Pertualangan dimulai, tahap demi tahap semakin menyadarkanku. Bahwa pertualangan paling rumit dan dilematis dalam hidup ini adalah pertualangan mencari jati diri.

Benar bahwa, banyak hal yang mendorong aku kebingungan sendiri dengan apa yang sebenarnya aku inginkan, harapkan dan butuhkan. Lalu pertualangan ini membuka tabirnya satu per satu. Dari tahap telur-telur, ulat-ulat, kepompong lalu menjelma menjadi kupu-kupu, semua bersinergi membawaku pada titik ini. Salah satunya, know me more, know me better. Siapa sih di dunia yang bisa mengenal diriku dengan lebih baik selain aku sendiri? Jadi, sebelum menuntut orang lain untuk memahamiku, aku perlu memahami diriku. Proses metamorfosis selama kurang lebih tujuh bulan ini, membuatku paham apa yang aku butuhkan untuk kukembangkan bukan sekadar yang aku inginkan. Tahap demi tahap yang dilalui itu seolah menjadi cahaya terang, jawaban dari semua pertanyaan, petunjuk tentang tujuan akhir pertualangan ini. Namun tentu saja, bukan hidup namanya jika tanpa disertai tantangan yang beraneka wujud rupanya. Aku juga mengalaminya hampir di penghujung tantangan.

Badai ujian yang berhembus di beberapa episode tahap Kupu-Kupu pernah membuatku tak sekali dua kali ingin menyerah mundur, ingin segera menyudahi pertualangan ini. Salah satunya adalah covid yang menerjang ke circle-ku paling intim. Menyusul aku yang terpapar setelahnya. Aku lelah secara fisik dan emosional kala itu. Tapi, aku akui yang membuatku mengurungkan niat adalah rasa tanggung jawab sebagai mentor dan mentee. Bagaimana caraku bertanggung jawab pada mereka yang mempercayakan aku sebagai teman terbang? Meski semua proses setelahnya seringkali terasa berat dan beberapa bahkan pernah tak lagi membahagiakan untuk dijalani, seolah menjadi beban baru tersendiri, namun setelah aku sedikit mendorong diriku untuk maju, again menginsafkan diri tentang strong why(s), deep talk to myself untuk tidak boleh semudah itu menyerah, ternyata oh ternyata setelah terlewati,  segalanya mudah, sejauh aku berpikir, bertindak dan berkata demikian. Words matter, right? So speak kind words, lebih-lebih untuk diri sendiri. Olehnya, di sepanjang proses ini, aku berterima kasih pada diriku sendiri, tak ada yang paling tahu betapa berat pekan-pekan itu belakangan kecuali diriku sendiri. Benar yang orang bilang bahwa what doesn’t kill you makes you stronger. Aku menepuk pundakku tiga kali sembari berkata, ‘Good job, Arri. You’re doing great’.

Your fighting field is yourself. If you win against it, you can win anything against you encounter, and if you lose, you won’t win any other – Ali bin Abi Thalib.

Alhamdulillah, tsumma alhamdulilah. Kepada Allah Yaa Hafiz, yang menjaga bara semangat ini menyala, yang memudahkan segala hal yang terasa sulit. Berapa bersyukurnya diri ini yang tak semudah itu menyerah setiap berpapasan dengan badai. Semoga, sepanjang hidup, aku memiliki keteguhan demikian baik : tak mudah menyerah terhadap apapun itu. Pada proses ini, aku juga berterima kasih kepada Magika dan para peri hutannya yang selalu sigap menemani dan menyertai perjalanan yang gelap penuh misteri menuju terang cahaya di Hutan Kupu Cekatan. Terima kasih, Mahira-ku untuk saling hadir dan menguatkan pada banyak keadaan. Aku menyaksikan satu per satu dari kita yang meskipun berat hati, namun di luar kontrol diri akhirnya memutuskan menyudahi pertualangannya. Sedih sekali beberapa dari kita memilih tak terbang bersamaan. Sungguh, di titik-titik kritis, genggaman-genggaman tangan lainnya sungguh menguatkan sayapku yang sering rapuh. Terima kasih rumahku HIMA regional Bogor, yang selalu hangat dan nyaman. Menjadi tempat terbaik untuk berkeluh kesah, berbagi gundah gulana tanpa takut terluka. Terima kasih Mentor dan Mentee-ku yang mengajarkanku tumbuh dan terbang dengan kedua sayapku sendiri. Hadirnya kalian memberiku kekuatan untuk menolak kalah dari pertarungan melawan diriku sendiri ini. Terima kasih untuk separuh sayapku terbang, suamiku tercinta, who deserves a better me. Dalam upaya belajar terbang yang tentu saja melelahkan ini, ia adalah pendukung terhebat. Pada akhirnya, kehadiran kalian, membuatku merasa paripurna. Terima kasih. Matur Suwun. Hatur Nuhun. Thank you. Jazaakumullahu ahsanul jazaa.

Aku seringkali dibuat bertanya pada diri sendiri, hendak bermetamorfosis menjadi kupu-kupu seperti apa. Lalu proses demi proses ini memberiku jawaban. Kupu-kupu yang melewati proses metamorfosis sempurna, berpetualang kemanapun sayapnya mengepak, bermanfaat bagi semua bunga yang ia hinggapi, yang mensyukuri, mencintai dan menerima dirinya sendiri lebih dulu. Meski banyak yang tak sempurna, selalu saja ada yang tak optimal, -bukan Hutan Kupu Cekatan dan segala cerita tentangnya, tapi – aku sebagai individu yang tak sempurna, tak apa. Aku percaya, in every imperfectness, ada beatifulness di sana. Lantas, apakah segala langkah baik berhenti di sini, ketika sayapku telah akhirnya berkembang dan terbang? Tentu tidak. Aku yakin bahwa,

There is always enough light for the one who wants to see.

Selama dan sejauh apapun rasa ingin tahuku untuk melihat cahaya berpendar itu ada, maka aku pasti bertemu pendaran cahaya warna warni kemanapun sayapku mengepak pergi.

Terima kasih Hutan Kupu Cekatan untuk pertualangan separuh tahun-nya. Izinkan aku, dengan kedua sayapku, berpetualang ke tempat-tempat indah lainnya bersama Institut Ibu Profesional. Salam cinta dariku, salah satu Kupu-Kupu yang bermetamorfosis bersama energi dan semangatmu. Terbangku untuk bermanfaat insyaaAllah.

Love, Arri. 

Ketahanan Mental Ibu dan Anak di Era Pandemi COVID-19

Ketahanan Mental Ibu dan Anak di Era Pandemi COVID-19

Narasumber: Nugraheni Ariati M.Psi
Psikolog, Mahasiswi IIP

PIJAR Talk 23 Juli 2021

Memperingati Hari Anak Nasional

 

 

Pandemi menuntut kita untuk selalu menjaga protokol kesehatan demi terhindar dari tertularnya virus Covid-19. Mobilitas terbatas, dianjurkan untuk di rumah saja, membuat hidup banyak orang terasa ‘berbeda’. Semua aspek kehidupan terdampak, antara lain ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial budaya. Perubahan yang sangat besar, ibarat dunia ini sedang bertubulensi. Kita terombang-ambing di dalamnya. Nah, disinilah resiliensi diri sangat diuji.

Kemampuan daya pantul (bounch back) atau daya lenting ini sangat penting untuk dilatih dalam diri dan anak-anak. Resiliensi merupakan bentuk ketahanan mental, yakni keterampilan mengolah pikiran, perasaan, perilaku sedemikian rupa untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah atau krisis. Memperkuat ketahanan mental ini bukan perkara sering atau tidaknya kita menghadapi masalah. Memperkuatnya dengan belajar dari pengalaman dan modal positif. Bila diibaratkan seperti jungkat jungkit, satu sisi adalah masalah/krisis, hidup akan seimbang bila kita memperkuat mental di sisi lainnya. Yakni, dengan belajar dari pengalaman dan memperbanyak modal positif.

Apa itu modal positif? yakni, sumber daya atau resource yang mampu menambah input-input positif dalam diri seseorang. Menambah modal positif bisa dengan beberapa cara:

1.Penuhi kebutuhan fisik

Kebutuhan makan, kebutuhan gerak perlu dipenuhi agar hormon-hormon bahagia seperti endorfin dan oksitosin aktif. Tubuh jadi sehat, bugar dan bahagia.

2. Penuhi kebutuhan psikologis

Mengenal apa yang kita rasakan, tau apa yang kita butuhkan untuk bisa bahagia. Mengalokasikan waktu untuk me time, spiritual time, menjalani hobi

3.Kelola ekspektasi

Tidak berlebihan dalam membayangkan keadaan yang diharapkan. Sadar bahwa banyak campur tangan Tuhan atas apapun yang telah kita usahakan. Ikhlas menerima atas segala ketetapan-Nya.

4. Latihan untuk anak-anak struggling akan krisis

Ciptakan memori indah dalam ingatan anak-anak, eratkan intimacy dan trust antar anggota keluarga. Hubungan yang harmonis dan responsif dalam keluarga mengisi tangki emosi dan cinta dalam hati mereka. Mengingat nilai-nilai yang dianut keluarga, dan mereka akan merekam bagaimana orang tuanya menyikapi atau merespon masalah/tantangan yang datang pada keluarga.

Baca juga:

Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh

Keren dengan Internet: Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

Temu Online Pengurus HIMA IIP Payakumbuh-LK dengan Tim IIP Pusat : Ada Pengawet Cinta!

Ada kalanya manusia merasa down atas masalah yang berat atau datang bertubi-tubi. Limbung dan drop mental. Perhatikan alarm tubuh, Jangan menyangkal bila kita memang sedang butuh pertolongan. Berikut tanda-tanda kita tidak kuat mental dan butuh bantuan profesional:

    1. Tanda fisik: cemas, pusing, jantung sering berdebar-debar, keringat dingin, tegang
    2. Tanda psikologis : sulit tidur, sulit berkonsentrasi sering terbangun malam, menahan marah
    3. Emosi : gampang marah, sering menangis, sensitif
    4. Perilaku : jadi lebih pendiam, murung, tidak mau lagi bersosialisasi

Ketahanan mental seyogyanya kita tempa dan latih terus agar kuat. Hidup ini penuh tantangan yang harus kita taklukkan. Kenali dan penuhi segala hal yang membuat kita mawas dan waras diri. Perbarui terus modal-modal positif agar kita mampu selalu merespon yang terjadi dihidup ini dengan baik.

 

 

Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh

Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh

Bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-76 pada tahun 2021 ini. Masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Kondisi yang masih belum nampak ujungnya, bahkan dihantam oleh gelombang kedua, oleh adanya varian baru Covid-19 yang masuk ke Indonesia. Lonjakan korban meningkat tajam. Pertumbuhan bangsa yang mulai menggeliat di masa normal baru (new normal) kembali menurun oleh karena kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) darurat, guna menekan laju penularan Covid-19.

Lantas sampai kapan pandemi ini melanda Indonesia? Tak ada yang bisa memprediksi pasti. Tak hanya dari kebijakan pemerintah, tapi tergantung juga dari kedisiplinan masyarakat Indonesia. Khususnya dalam menerapkan protokol kesehatan pada kehidupan sehari-hari. Kedisplinan dan kepedulian masyarakat di masa pandemi diwujudkan dengan menerapkan 5M.

  1. Memakai masker
  2. Mencuci tangan dengan sabun di air mengalir
  3. Menjaga jarak
  4. Menjauhi kerumunan
  5. Mengurangi mobilitas

Kedisiplinan memastikan protokol kesehatan senantiasa ditegakkan dalam kegiatan sehari-hari sehingga laju penularan bisa ditekan maksimal. Kepedulian masyarakat membuahkan kesadaran menjalankan protokol kesehatan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain, meringankan beban derita orang lain, membantu sesama sesuai kemampuan, membuat aksi bersama yang menunjukkan kepedulian sosial. Sehingga tercipta suasana bermasyarakat yang setia kawan dan saling mengasihi, ketimpangan status ekonomi tidak menganga lebar. Saling mengingatkan dan menguatkan antar masyarakat mampu menjadikan Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh.

Baca juga:

Impact Report Film Ibu Bumi

di IP Kalsel “Ada Cinta Step by Step”

Ada pengawet cinta di Hima IP Payakumbuh-LK

Apakah semudah itu? Tentu tidak, tidak semudah membalikkan telapak tangan atau memimpikannya. Masyarakat Indonesia yang majemuk adalah tantangan besar mewujudkan Indonesia tangguh. Majemuk dari segi horisontal, seperti perbedaan etnis, bahasa daerah, agama dan geografis. Maupun majemuk dari segi vertikal, seperti perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi dan sosial budaya (Usman Pelly & Asih Menanti, 1994:13 dalam Muchtarom, 2015). Membangun Indonesia tangguh, artinya juga membangun manusia Indonesia jadi tangguh. Sejatinya kemajemukan ini adalah kekayaan bangsa yang sangat bernilai. Namun disisi lain, keragaman ini seringkali dijadikan alat untuk memicu munculnya konflik suku bangsa agama, ras dan antar golongan (SARA). Padahal sebenarnya lebih banyak dipicu oleh persoalan politik dan kekuasaan, ketidakadilan sosial dan ketimpangan ekonomi.

Tangguh bisa diartikan sukar dikalahkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sukar dikalahkan oleh kondisi yang menantang dan penuh masalah. Karena mempunyai watak yang tidak mudah menyerah, kuat, tabah dan handal.

Apakah manusia-manusia Indonesia sudah memiliki watak tangguh itu? Beberapa ilmuwan dan budayawan Indonesia mengenali sisi-sisi negatif manusia Indonesia. Diantaranya disampaikan oleh Mochtar Lubis pada tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yakni ada 6 ciri dominan dari manusia Indonesia:

  1. Hipokrit atau munafik
  2. Enggan bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya
  3. Berjiwa feodal
  4. Percaya takhayul
  5. Artistik
  6. Berwatak lemah

Ketika tahun 1982, Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali “Manusia Indonesia”, dengan tegas beliau mengatakan: tidak ada perubahan, semakin parah. Pun saat tahun 1992, beliau menegaskan manusia Indonesia semakin parah salah satunya disebabkan oleh struktur yang mencekam, yaitu karena adanya pemerintahan orde baru yang represif dan otoriter.

Lantas, di jaman orde reformasi ini apakah ciri-ciri manusia Indonesia tersebut telah memudar? sayangnya tidak, justru makin banyak degradasi mental (anarkis, antisosial, korupsi,dll), melemahnya nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme, merosotnya nilai-nilai luhur agama dan budaya dan lain sebagainya di segala aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Ini menjadi PR bersama, pemerintah bersama rakyat, untuk mengubah, dan harus berubah, demi terwujudnya Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh. Beberapa kajian sosial budaya tentu telah menelaah bagaimana cara agar manusia-manusia Indonesia mampu berubah. Salah satu kunci keberhasilannya adalah pada pembangunan karakter mulia pada setiap keluarga. Bahwa membangun karakter itu dikerjakan sejak dini dan tidak bisa instan, harus dipupuk terus menerus. Melalui teladan, latihan dan tempaan dalam kesehariaan. Contohnya: membiasakan berkata dan berlaku jujur, bertanggung jawab atas perkataan dan perbuatannya, meningkatkan iman dan takwa, menerapkan nilai-nilai agama dalam keseharian, disiplin, bangga akan budaya bangsa, tidak mudah terpengaruh budaya bangsa lain, cinta tanah air dengan memberikan kontribusi terbaik, saling menghormati, peduli esama dan semesta, menggunakan kekuasaan dan amanah untuk kemaslahatan dan lain sebagainya. Beragam cara bisa diterapkan di setiap keluarga dalam berbagai aktivitas keseharian. Bernilai luhur dan mulia sesuai dengan keyakinan dan budayanya, yang esensinya mampu membangun setiap anggotanya memiliki jati diri, berdaulat dan bermartabat.

Pandemi ini bisa digunakan sebagai moment yang mampu melecut untuk memunculkan dan menguatkan kembali nilai-nilai luhur bangsa. Yang makin lama makin tergerus budaya bangsa lain, tuntutan ekonomi dan carut marut politik. Dimana kita dihimbau untuk kembali  “di rumah saja”. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah. Maka kita “aktifkan dan hidupkan” esensi rumah, sebagai tempat yang nyaman, aman dan terbaik untuk seluruh anggota keluarga saling Asah, Asih dan Asuh. Keluarga unggul mampu membangun pondasi rumah yang tangguh untuk sumbangsih besar terwujudnya Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh.

 

Referensi:

Obrolan Dapur Ibu. Eps 140. Ciri Sikap dan Perilaku Orang Merdeka. tahun 2021

Muchtarom. 2015. Manusia Indonesia dalam Dimensi Sosiologi Budaya. https://www.researchgate.net/publication/315781845_MANUSIA_INDONESIA_DALAM_DIMENSI_SOSIOLOGI_BUDAYA_1_Oleh