Mengenal Sustainable

Mengenal Sustainable

Mengenal Sustainable

Mengenal Sustainable

Makna Sustainable

Sustainable adalah satu kata yang kerap ditulis, dibicarakan khalayak, dewasa ini. Lebih terkenal dan kerap dipakai daripada kata terjemahannya, yakni: berkelanjutan. Kesannya, terdengar lebih keren dan atau lebih familiar saja  ditelinga.

Saya pribadi benar-benar menangkap kata tersebut saat menyaksikan Obrolan Dapur Ibu di IPedia TV, salah satu kanal favorit di You Tube. Saat itu awal pandemi, awal-awal episode program yang dipandu oleh Ibu Septi Peni Wulandani. Menarik sekali, selain judul yang belum familiar saya dengar, bintang tamu saat itu dihadirkan dari negeri Sakura. Seorang perempuan Indonesia yang sedang studi di negeri Jepang.

Bahasannya seputar environment dan sustainable yang diterapkan di Jepang dan di Indonesia. Dari sana saya menangkap bahwa sustainable erat kaitannya dengan lingkungan. Tak lama berselang, kenal juga dengan istilah sustainable living, dalam kelas berbenah berbayar yang saya ikuti. Menguatkan stigma sepihak bahwa sustainable seputar lingkungan dan keselarasan dengan alam.

Akhir-akhir ini, ditemukan lagi frase yang mengikuti kata sustainable, yakni development. Saya menemukannya dalam banyak notice dan show road to Konferensi Ibu Pembaharu. Makin bikin kepo, apa itu sustainable.

Menurut Kamus Bahasa Inggris Terjemahan Indonesia, arti kata sustainable adalah berkelanjutan. Sustainable Development artinya Pembangunan Berkelanjutan

Menurut Wikipedia, Sustainable Development atau Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan hidup masa sekarang dengan mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan hidup generasi mendatang. Prinsip utama dalam pembangunan berkelanjutan ialah pertahanan kualitas hidup bagi seluruh manusia di masa sekarang dan di masa depan secara berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan dilaksanakan dengan prinsip kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, dan pelestarian lingkungan

Makna Sustainable Development Goals (SDG)?

Sustainable Development Goals (SDG) atau tujuan pembangunan berkelanjutan merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan.

Rencana aksi ini kini gencar digaungkan dan diterapkan dalam setiap lini pembangunan bangsa. Tidak hanya bangsa Indonesia namun juga kurang lebih 193 bangsa lain di dunia.

SDG yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), . SDG berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDG.

Baca juga:

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Tomorrow is Today

Komunitas Ibu Profesional mendukung tercapainya SDG

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

 

Komunitas Ibu Profesional memasuki 1 Dekade di tahun ini. Memperingati momen tersebut maka diselenggarakan Konferensi Ibu Pembaharu. Konferensi yang menyoroti topik pemberdayaan perempuan #darirumahuntukdunia dalam mendukung tercapainya Sustainable Development Goal (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan no. 5. Yakni, mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan.

Topik tersebut akan terus dibahas dan dibicarakan bersama 6 isu utama yang related, dalam Konferensi Ibu Pembaharu. Meliputi webinar, talkshow, workshop dan ekshibisi serta diskusi di sela-sela sesi. Konferensi diselenggarakan pada tanggal 18-22 Desember 2021 dan terbuka untuk umum, untuk semua perempuan. Tertarik mengikutinya? Daftarkan diri anda dan dapatkan informasi lengkapnya di http://www.ibuprofesional.com dan media sosial Ibu Profesional.

 

 

#1dekadeIbuProfesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu

#ibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia

#challengeILUSTRA

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Cerita Emosional

Suatu ketika saya dibuat bingung oleh si bungsu yang tetiba raut wajahnya terlihat sedih dan berusaha menahan air mata saat menonton suatu tayangan. Langsung saja kuraih dan kugendong dia, sambil dielus-elus punggungnya. Air mata tak terbendung lagi, hingga menangis sesenggukan. Ku tunggu hingga isak tangisnya mereda, kemudian kuberi separuh gelas air putih untuk melonggarkan kerongkongannya yang mungkin merasa tercekat karena tangisan. Saat terlihat sudah tenang, barulah kucoba selidiki:

“Dedek… kenapa kok menangis, nak?” tanya Bunda

“Dedek sedih…Dedek ingat Boy yang hilang, Bun” ungkapnya. 

Boy adalah seekor kucing. Sebenarnya bukan kucing peliharaan kami, dia kucing liar yang datang dan pergi sesuka hati. namun karena tiap hari kami beri makanan dari sisa konsumsi kami berupa tulang dan kepala ikan/ ayam. Akhirnya Boy sering datang ke rumah kami, untuk makan, tidur atau sekadar bermain di teras rumah. 

Sepintas kulihat TV terpampang tayangan tentang seekor anjing

“Dedek merindukannya?” tebak Bunda

Dedek hanya mengangguk-angguk di gendonganku

“Kenapa dedek tiba-tiba ingat sama Boy?” selidik Bunda karena sudah sebulan lebih Boy tidak datang, dan tak lagi dicari oleh anak-anak.

“Dedek kasihan liat anjing itu di TV, mencari tuannya” jelas balitaku yang berusia 3 tahunan. 

“Ohh…dedek jadi kasihan sama Boy juga ya?” 

“Iyaa bun….pasti Boy juga bingung cari rumah kita” Dedek menduga kucing tersebut tidak pernah datang lagi ke rumah karena tersesat atau mainnnya terlalu jauh.

“Mungkin yaa dek… Boy itu kucing yang udah besar kok, jadi dia tau caranya cari makan sendiri, pulang ke rumahnya sendiri” Jelas Bunda

“Tapi kenapa dia tidak pulang lagi ke rumah dedek?” tak hentinya dedek penasaran.

“Mungkin Boy mainnya jauh-jauh dan punya rumah baru, dek…kucing senang kok main dan jalan-jalan jauh” jawab Bunda coba menenangkannya lagi.

Dedek masih terlihat sedih, menopang dagu di pundak Bunda.

“Kalo ada kucing lain yang datang kita kasih makan yaa, biar dia senang main ke rumah dedek dan main bareng dedek, oke?!”

Dedek hanya mengangguk-angguk dengan raut wajah yang masih sedih. Tak putus ku elus-elus punggung dan memeluknya.

 

Ekspresi Emosi

Emosi merupakan bentuk komunikasi anak dengan orang lain. Ekspresi emosi yang ditampilkan anak, memperlihatkan kebutuhannya, keinginannya, harapannya dan perasaannya kepada orang lain, khususnya kepada orang tua. 

Perilaku emosi anak dipengaruhi oleh penilaian lingkungan sosial mengenai dirinya dan penilaian diri anak terhadapa dirinya sendiri. Masih banyak orang tua yang mengaitkan perasaan tidak menyenangkan (marah, sedih, sensitif, iri, kesal) dengan watak anak yang buruk. Si adik yang mudah trenyuh dan menangis saat situasi haru, dilabeli cengeng. Atau si kakak yang suka isengin dan godain si adik, hingga adiknya jengkel disebut anak nakal. Hal ini tentu mempengaruhi konsep diri anak. Anak akan cenderung bertindak sesuai label yang disematkan pada dirinya. 

Emosi biasanya dikaitkan dengan perasaan marah. Padahal bukan hanya itu, emosi merupakan perasaan seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau sesuatu. Emosi bisa perasaan yang menyenangkan, bisa juga yang tidak menyenangkan. Seyogyanya orang tua menerima emosi tidak menyenangkan anak seperti halnya menerima emosi yang menyenangkan (bangga, bahagia, riang). Anak akan merasa diterima saat orang tua mau menerima emosinya, menghargai kondisinya dan memberikan respon yang tepat. Pada saat kita berusaha untuk menerima emosinya, mungkin tak lama anak belajar menenangkan perasaannya. Kemudian dia akan mampu berpikir untuk mengenali perasaannya, mengaturnya dan berusaha menyelesaikannya. 

Kenali dan Terima Emosi

Bantu anak mengenali dan memahami apa yang sedang dia rasakan. Latih dia untuk mengatur/mengelola perasaannya, mengekspresikannya dengan tepat dan menyelesaikan sendiri masalahnya. Kunci sukses untuk bisa melatih anak supaya mampu mengekspresikan. mengkomunikasikan perasaan/emosinya dengan tepat adalah mendengarkan anak. Belajar berempati mendengarkan anak. Terlihat mudah, mendengarkan. Namun pada kenyataanya banyak orang tua yang justru over reaktif merespon emosi anak, terutama saat anak mengekspresikan emosi tidak menyenangkan (marah, menangis, kesal). Alih-alih mendengarkan, orang tua justru ikutan emosi. 

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua agar mampu menjadi pendengar yang berempati terhadap anak-anak, yakni:

  1. Menggunakan panca indera kita untuk mengenali dan mengamati petunjuk serta isyarat fisik dari emosi anak (lihat raut muka, suaranya, desahan nafasnya, gerak tubuhnya)
  2. Menggunakan imajinasi kita melihat situasi dari sudut pandang anak (bayangkan kita berada di posisi anak)
  3. Menggunakan kata/ungkapan yang tepat untuk melabeli perasaan anak/memberi nama emosi  (contoh: Kakak kesal yaa harus remedi ulangan lagi?)
  4. Menggunakan hati untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak.

 

Baca juga:

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Selebrasi Gabungan HIMA Jakarta

 

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Modal Kesuksesan

Modal Kesuksesan

Pengulangan respon emosi anak yang terus berproses ini akan menjadi kebiasaan dan bisa menetap menjadi karakternya. Kemampuan mengelola emosi setiap anak tentu berbeda-beda. Tergantung dengan usia, pola asuh, bakat dan kondisi/situasi lingkungan. Karena itu pengelolaan emosi anak harus terus dilatih. Untuk melejitkan kecerdasan emosional  anak.

Bersama dengan kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional anak berperan besar menentukan kesuksesan anak kelak. Kecerdasan emosional membuat  anak mampu memahami kondisi dan perasaan dirinya sehingga bisa mengambil tindakan positif sebagai respon tersebut. Serta mampu merasakan perasaan orang lain (berempati) dan bisa meresponnya dengan tepat. Anak yang sulit diatur kebanyakan karena pengendalian dirinya lemah sebab kecerdasan emosionalnya tidak diasah.

Anak yang cerdas secara emosional anak mampu mengendalikan diri. mengatur diri, mengarahkan diri pada tujuan hidupnya. Sebuah modal besar menuju kesuksesannya. Kesuksesan seseorang ditentukan oleh 80% kecerdasan emosional, sosial dan spiritual,  sedang kecerdasan intelektual porsinya 20% saja (Golemen, 1995).

Berbagai aktivitas keseharian dan interaksi dengan orang tua dan lingkungan sekitar pastinya akan memunculkan beragam emosi pada anak. Pada masa inilah, kita asah kecerdasan emosionalnya dengan cara-cara yang tepat, seperti uraian diatas. Bukan hanya mengutamakan pembelajaran akademis, dengan menyuruh anak les ini itu, berharap anak dapat nilai akademis yang bagus, juara kelas dan berprestasi. Hendaknya orang tua juga banyak menstimulasi kecerdasan emosionalnya dengan sering bermain bersama anak, mengobrol, membersamai anak saat bermain bersama temannya, bersama anak mengeksplorasi lingkungan dan lain sebagainya. 

 

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

Banyak kisah emosional dan inspiratif yang dibagi oleh para ibu pembaharu dalam  Konferensi Ibu Pembaharu dalam mendidik dan mengasuh anak, bahkan mengelola perasaan dirinya sendiri, hingga menjadi sukses berdasar parameternya. Ini adalah isu keempat yang diangkat dalam Konferensi Ibu Pembaharu, tentang perempuan dan perannya dalam pendidikan/pengasuhan anak. 

Ibu Pembaharu adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidup, sehingga bisa menciptakan solusi untuk masalah tersebut. Solusi yang terbaik untuk dirinya dan lingkungannya. Setiap ibu punya cerita/tantangan yang unik, yang mungkin bisa kita jadikan contoh, referensi dan menambah sudut pandang. 

Tertarik menyimak tantangan-tantangan para ibu pembaharu? Mari temui, simak tantangan para ibu pembaharu beserta solusi terbaiknya dalam Konferensi Ibu Pembaharu pada tanggal 18-24 Desember 2021. Bukan hanya tantangan tentang pendidikan/pengasuhan anak, lho! Nantinya juga akan ada cerita tantangan isu-isu lain (5 isu) yang related dengan kehidupan perempuan dan ibu. Infomasi dan pendaftaran selengkapnya bisa kunjungi website www.ibuprofesional.com dan media sosial Ibu Profesional. 

 

Referensi: 

Komunitas Institut Ibu Profesional, 2013, Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak, Gazza Media

 

#1dekadeIbuProfesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu

#ibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia

 

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Menularkan Kegemaran Bersedekah

Ada satu cara sedekah yang suka saya kerjakan sejak dulu kala dan terus saya tularkan pada anak. Yakni, tidak mengambil uang kembalian saat membeli suatu produk/jasa. Misalnya saat membeli 3 bakpao seharga 9 ribu, uang kembalian seribu saya tolak saat dikembalikan. Atau saat membeli boneka si dedek di pasar seharga 45 ribu, saya beri 50 ribu tanpa mengambil uang kembaliannya. Terlihat ‘kecil’ memang sedekahnya, namun hal ini rutin saya kerjakan.

Pada pedagang yang sering lewat rumah, seperti pedagang bakpao, angsle, tahu, sayur, jamu, dan lain-lain. Namun untuk pedagang yang saya temui di luar kompleks rumah biasanya saya beri lebih banyak, melihat kondisi si pedagang juga, tentunya. Pernah suatu waktu, bertemu pedagang cobek batu yang berjalan. Terlihat berat membawa beberapa cobek batu tersebut karena terlihat si pedagang sudah lanjut usia, saya tanya, katanya berasal dari Kebumen, luar kota. Iba saya dibuatnya, jauh-jauh dari Jawa Tengah, membawa dagangan yang (mungkin) jarang dibeli orang. Tanpa mikir panjang, saya beli satu cobek (walau sebenarnya tidak butuh  cobek saat itu) dan saya beri uang lebih banyak dari harga jualnya. Anak saya bertanya, kenapa beli cobek itu padahal saya jarang banget masak dengan bumbu uleg, sebagian besar pakai bumbu jadi. Saya ceritakan bahwa saya tidak membeli barang, namun bersedekah. Jadi, pertimbangannya tidak lagi butuh/tidak butuh.

Dan satu lagi, saya bukan tim ibu-ibu yang suka nawar dagangan (apalagi dengan sadis)! Berapapun pedagang tawarkan saya deal saja bila bertransaksi. Niatkan bersedekah atau membantu orang. Saya jelaskan pada anak bahwa para pedagang kecil itu memperoleh untung yang tak seberapa, yang mungkin hanya cukup untuk makan, menyambung hidup. Makanya jangan ragu memberi uang lebih bila bertransaksi.

Anak-anak jarang jauh dari jangkauan saya, terlebih saat pandemi. Si mamas, sulung saya yang 12 tahun sudah setahun lebih ini belajar dari rumah. Lebih sering di rumah, membuatnya lebih sering jajan dan ikut saya berbelanja. Transaksi pembayaran sering saya serahkan padanya. Sehingga tahu betul kebiasaan ibunya. Terkadang juga saya sedikit berkelakar kenapa saya beli ini itu, walaupun sebenarnya kurang membutuhkan. Atau membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan, karena suatu alasan. Bukan mengajarinya untuk boros. Namun, ini salah satu cara membantu orang yang berusaha mendapat penghasilan. Saya sering tunjukkan pada anak, betapa mulianya pedagang-pedagang kecil itu, (ada) yang sudah lanjut usia, masih bersusah payah berdagang keliling, atau berpanas-panas di pasar untuk mendapat penghasilan, tidak meminta-minta di pinggir jalan. Ada ibu-ibu yang (terpaksa) harus membawa balitanya berdagang untuk mendapat penghasilan, karena tidak memungkinkan ditinggal di rumah. Maka, pada merekalah kita harus banyak memberi, bukan pada pengemis.

Semakin lama si mamas juga melakukan hal yang sama. Dia membayar 10 ribu untuk baksonya yang seharga 8 ribu, membayar 15 ribu untuk beli siomay yang harganya 12 ribu. Dan kini setiap transaksi pembelian yang ada uang kembalian ‘kecil’ selalu dia beri kembali ke pedagangnya. Ada satu waktu, dimana kami akan pergi ke Pasar Besar di tengah kota untuk suatu keperluan, dia menyiapkan beberapa uang baru (angpao lebaran tahun ini) untuk dibagi ke pedagang-pedagang kecil dan para tukang becak yang mangkal.

Saya hanya berpesan: “coba nak kau perhatikan ekspresi orang-orang yang kau beri sedekah itu”. Sebagian besar mereka sangat berterima kasih, ada juga yang sampai berkaca-kaca

“padahal cuma diberi 20 ribu ya Ma?” tukas si mamas.

“Iya nak, bagi mamas, bagi kita, 20 ribu itu sedikit yaa, namun bagi mereka serasa dapat rejeki besar. Karena hasil/untung dari berdagang mereka tidaklah besar, nak. Dari pagi sampai sore, kepanasan, kadang dingin kehujanan, hanya dapat untung yang mungkin hanya cukup untuk makan dan kebutuhan dasar saja” jelas saya

“Makanya mama ga nawar dagangannya dan ga ngambil kembaliannya” tambah saya

Bahagia Bersedekah

Berbagi sejatinya mengalirkan rejeki yang mampu meluaskan sumbernya. Bukan hanya itu, ada sensasi hangat dan bahagia yang menyeruak kalbu. Ajak anak mengenali dan merasakannya juga, dengan menatap binar mata mereka yang kita beri. Mengamati respon mereka, yang kadang luar biasa girang,  sontak berdiri dan membungkuk-bungkukkan punggung, ada yang tak henti merapalkan do’a-do’a kebaikan untuk kita dan beragam lainnya. Betapa uang yang ‘kecil’ bagi kita begitu membahagiakan mereka.

“lain kali kita beri lebih banyak yaa, Ma!” sambut si mamas

Cara bersedekah ini menjadi kegemaran saya dan anak-anak, karena begitu banyak hikmah yang bisa didulang, antar lain:

  • Memberi dengan cara halus
  • Menambah semangat pada orang lain untuk terus berusaha bukan meminta-minta/mengemis
  • Membuat ketagihan berbuat kebaikan
  • Menghadirkan kebahagiaan dan rasa ‘cukup’
  • Menambah rasa syukur dengan apa yang telah dimiliki

Banyak cara bersedekah dan berbagi. Temukan cara yang paling bisa ditiru dan mengena di hati anak-anak, hingga menjadi kegemaran dan kebiasaan.

Baca juga:

Selebrasi Gabungan HIMA Jakarta

Ketahanan Mental Ibu dan Anak di Era Pandemi COVID-19

Menularkan anak gemar bersedekah

Menularkan anak gemar bersedekah

Kecerdasan Spiritual

Meneladani dan membiasakan anak bersedekah dan berbagi adalah salah satu cara mengasah kecerdasan spiritualnya. Kecerdasan spiritual tidak selalu berkaitan dengan agama dan keyakinan yang dianut. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang memberi makna pada kehidupan (Komunitas Institut Ibu Profesional, 2013).

Ciri kecerdasan spiritual seseorang itu tinggi antara lain senang berbuat baik, suka menolong, memiliki empati yang besar, mudah memaafkan, mampu memilih kebahagiaan, berpikir secara luas dengan beragam sudut pandang, merasa perlu memberi kontribusi dalam kehidupan dan punya selera humor.

 

Mengapa anak harus cerdas spiritual?

Kenapa seorang anak harus memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi? UNTUK SUKSES!

Apakah kriteria sukses menurut anda?

Tentu kriteria sukses setiap orang memiliki parameter yang berbeda. Ada yang mengukur dari banyaknya kekayaan, tingginya jabatan, prestige karirnya, kesuksesan bisnisnya, kemapanan anak-anaknya dan lain sebagainya. Biasanya, parameter sukses orang tua berpengaruh terhadap parameter kesuksesan anak. Coba renungkan, parameter sukses apa yang selama ini kita tetapkan! Hanya sebatas indikator material saja kah?

Hasil penelitian dari Daniel Golemen (1995) menyebutkan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% kecerdasan intelektual dan 80% kecerdasan emosional, sosial dan spiritual. Maka tidaklah fair bila parameter kelulusan sekolah/ kenaikan kelas anak sekolah hanya berdasar nilai akademiknya. Tanpa mempertimbangkan akhlak dan karakter mulianya. Keliru, bila menilai anak hanya dari IQ, padahal nilai EQ anak berpengaruh besar pada kesuksesannya kelak. Yaitu, porsi 80% bersama dengan kecerdasan emosional dan sosial anak. Maka, penting sekali mengasah kecerdasan spiritual anak, disamping kecerdasan emosional dan sosial.

Seorang anak yang memiliki kecerdasan spiritual akan mampu mengenali diri sendiri, meliputi kesadaran diri, pengaturan diri dan motivasi diri. Sehingga anak memungkinkan hidupnya penuh arti, punya tujuan yang jelas, punya mimpi besar dan memegang teguh mimpinya serta berusaha mewujudkan mimpinya dengan segala daya yang dipunya hingga SUKSES!

 

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

Beragam cara meningkatkan kecerdasan spiritual, emosional dan sosial anak, tiap orang tua mempunyai cara unik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam  Konferensi Ibu Pembaharu nantinya kita bisa belajar dari para ibu pembaharu, mendengarkan pengalamannya, belanja jam terbangnya dalam mendidik dan mengasuh anak, hingga resep menjadi ibu yang bahagia dan anaknya juga turut berbahagia. Cara-cara ibu pembaharu dalam mengasah kecerdasan spritual, emosional dan sosial anak, menarik sekali kita simak sebagai pembelajaran hidup. Ini adalah isu keempat yang diangkat dalam Konferensi Ibu Pembaharu, tentang perempuan dan perannya dalam pendidikan/pengasuhan anak.

Ibu Pembaharu adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidup, sehingga bisa menciptakan solusi untuk masalah tersebut. Solusi yang terbaik untuk dirinya dan lingkungannya. Setiap ibu punya cerita/tantangan yang unik, yang mungkin bisa kita jadikan contoh, referensi dan menambah sudut pandang.

Tertarik menyimak tantangan-tantangan para ibu pembaharu? Mari temui, simak tantangan para ibu pembaharu beserta solusi terbaiknya dalam Konferensi Ibu Pembaharu pada tanggal 18-24 Desember 2021. Bukan hanya tantangan tentang pendidikan/pengasuhan anak, lho! Nantinya juga akan ada cerita tantangan isu-isu lain (5 isu) yang related dengan kehidupan perempuan dan ibu. Infomasi dan pendaftaran selengkapnya bisa kunjungi website www.ibuprofesional.com dan media sosial Ibu Profesional.

 

Referensi:

Komunitas Institut Ibu Profesional, 2013, Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak, Gazza Media

 

#1dekadeIbuProfesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu

#ibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia