by admin | Jan 13, 2026 | Artikel, Asik Nambah Ilmu, Tips

Hidup era AI terasa lebih mudah dan lebih cepat. Benar begitu, Bu? Sudah pernah mencicipi kecanggihan AI, Bu? Ada suatu teknologi yang terstigma ‘si paling tahu’, yang bisa menjawab segala pertanyaan kita, yang bisa membuat apa pun yang kita perintahkan dalam karya visual, hanya dalam hitungan detik! Si paling tahu ini dikenal dengan nama AI, kependekan dari Artificial Intelligence, yang artinya Kecerdasan Buatan dalam bahasa Indonesia. Mungkin, kamu pernah mengaksesnya dengan nama merk seperti: Chat GPT, Gemini atau DeepSeek. Nah, itulah AI dengan beragam ‘wajah’.
Menurut Google, salah satu situs mesin pencari paling aktif di dunia: Kecerdasan buatan (AI) adalah serangkaian teknologi yang memberdayakan komputer untuk belajar, bernalar, dan melakukan berbagai tugas tingkat lanjut dengan cara yang sebelumnya memerlukan kecerdasan manusia, seperti memahami bahasa, menganalisis data, dan bahkan memberikan saran yang bermanfaat.
Jadi, teknologi ini dibuat oleh manusia, menyerupai kecerdasan manusia, (yang katanya) untuk membantu manusia. Lantas, apakah kecerdasan manusia sudah tidak lagi diperlukan? Atau untuk sementara ‘dieman-eman’ (baca: disayang-sayang) biar diambil alih saja oleh si AI ini?
Mari kita cermati keynote speech Ibu Septi Peni dalam acara Selebrasi Akbar Institut Ibu Profesional 2025, secara daring, Sabtu, 13 Desember 2025.
Peluang dan Tantangan Hidup Era AI
Tak dipungkiri, hidup di era AI akses informasi sangat cepat, membantu merangkum berbagai materi belajar. Tanpa perlu bersusah-susah mencari literatur dari banyak buku atau jurnal. Namun, dibalik kemudahan tersebut, tantangan era AI ini membuat manusia lebih individual. Interaksi antar manusia berkurang, ruang-ruang diskusi semakin sepi. Bahkan bahayanya dengan munculnya AI, semakin banyak manusia yang kehilangan kemampuan bertanya, rasa ingin tahunya semakin sirna, mereka hanya sibuk mencari tahu ‘prompt’ yang tepat untuk memberi perintah pada si AI ini. Demikian proses berpikir manusia semakin tak terasah, tak lagi kritis dan pada akhirnya makin dangkal!
That’s why manusia tetap butuh ruang belajar yang manusiawi. Salah satu ruang belajar perempuan adalah Institut Ibu Profesional (IIP). Ruang belajar IIP merupakan tempat dialog dan refleksi, juga tempat bertumbuhnya para perempuan. Karena IIP bukanlah mesin jawaban seperti halnya AI, melainkan tempat dimana struktur berpikir itu dilatih dan diasah. IIP menyediakan kelas-kelas pembelajaran terstruktur sesuai kebutuhan perempuan.
Peran Ibu Era AI
Ibu merupakan penjaga dalam keluarga. Dalam konteks era AI, Ibu bisa menjadi penjaga kejernihan berpikir bagi diri sendiri dan anggota keluarganya. Aktivitas dan kegiatan dalam keluarga bisa diatur dan diciptakan seorang ibu bersama keluarga, demi tujuan berikut:
- Memelihara berpikir kritis; tidak mudah percaya jawaban-jawaban AI
- Bijak memilah informasi; paham bagaimana memilih sumber informasi yang valid dan terpercaya
- Menjaga literasi; mengedepankan literatur valid dan kebijakan dalam mencari referensi
- Menjaga kesehatan mental; membatasi akses informasi dunia digital yang kurang relevan dengan kebutuhan diri dan keluarga
AI Dipakai, Manusia Tetap Hadir
Kurang bijak bila kita anti AI, itu sama halnya menolak kemajuan teknologi. Tak ada salahnya bila kita juga in-touch pada kecerdasan buatan ini, sebagai penunjang aktivitas produktif kita. Namun tetap ada batasan dan kesadaran, bahwasanya:
- AI digunakan sebagai pemantik awal dan penunjang riset; jadi bukan pusat semua jawaban atas semua akar permasalahan. Kita tetap butuh riset mandiri dan nyata yang relevan.
- Diskusi antar manusia tetap hidup di-circle hubungan manusia; entah itu dalam keluarga, komunitas atau masyarakat.
- Pengalaman dan refleksi tetap penting; hati, empati dan pusat memori manusia sebaiknya terus diasah dengan membiasakan refleksi agar sisi human-nya tetap terjaga dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan. Itulah yang paling membedakan antara otak manusia dengan mesin AI.
Jangan Kalah oleh Zaman
Manusia adalah pusat peradaban, kitalah penggeraknya. Maka, jangan kalah ‘pintar’ dengan teknologi. Harus terbangun rambu-rambu dalam diri dalam ‘menikmati keunggulan teknologi AI’.
- Gunakan teknologi dengan sadar: jangan sering-sering pakai AI, jangan ketergantungan pada teknologi, hingga malas berpikir dengan otak sendiri.
- Rawat dialog dan relasi; komunikasi dan interaksi nyata antar sesama manusia akan menjaga kewarasan akal dan jiwa manusia. Dua perangkat canggih yang terinstall dalam manusia ini adalah keunggulan yang lebih daripada teknologi buatan manusia.
- Terus belajar dalam komunitas; ruang belajar seperti IIP ini sangat mendukung manusia, khususnya perempuan untuk tetap berinteraksi dan belajar bersama secara nyata dan sehat.

Ruh Institut Ibu Profesional
Teknologi boleh cepat, melesat perkembangannya, namun kebersamaan manusia adalah inti kehidupan. Tak ada manusia yang mampu hidup sendiri, bukan? Ruh IIP dalam semua ruang belajarnya yakni belajar, berkembang, berkarya, berbagi dan berdampak adalah jangkar manusia untuk tetap berpegang pada otak dan jiwanya, tak bergantung sepenuhnya pada sebuah teknologi kecerdasan buatan atau AI.
by Hesti Trisnawati | Jun 16, 2025 | Artikel, Asik Nambah Ilmu, Pengembangan Diri, Tips

Resume workshop Mindfulness for Mom. Pemateri: Itsnita Husnufardani. Ibu Profesional Surabaya Madura. Surabaya, 29 Mei 2025.
Apa itu Mindfulness?
Mindfulness for Mom merupakan seni menjaga ketenangan dan kedamaian dimulai dari dalam pikiran. Karena kebahagiaan perempuan itu berawal dari damainya pikiran. Tak ada menyangkal bahwa kesibukan seorang perempuan, terlebih ia sudah menjadi ibu, adalah sibuk yang tak berujung. Pekerjaan bejibun, tak kenal waktu. Menguras energi sekaligus menggerus fokus dan pikiran. Karena itulah, penting sekali seorang perempuan/ibu belajar hidup dengan mindful.

Ilustrasi diatas cukup jelas menggambarkan makna suatu mindful. Sebenarnya sederhana, sangat simpel. Fokus dan pikiran pada apa yang sedang dikerjakan saat ini, disini, pada detik ini. Sadar penuh pada apa yang sedang dikerjakan, berada dimana, atau dengan siapa. Menyadari, meresapi dan fokus melakukan suatu hal yang saat ini sedang dikerjakan.
Mengapa Ibu Perlu Mindful?
Pada jaman now, menjalani hidup dengan mindful itu tantangan besar, karena begitu banyak distraksi yang muncul dari layar ponsel cerdas dan interaksi di sekitar. Saat ini, sebuah ponsel cerdas adalah perangkat yang tak pernah jauh dari diri seorang perempuan/ibu, untuk keperluan komunikasi, informasi dan bahkan eksistensi, melalui media sosial yang dimiliki.
Maka, penting seorang perempuan/ibu belajar mindful agar atensi dan fokusnya tidak tersedot pada distraksi tersebut. Yang berdampak pada ketidakberesan pada banyak hal yang sedang dikerjakan.

Tantangan-tantangan berikut dibawah sering kali dialami oleh seorang perempuan/ibu. Merasa related dengan gambar ilustrasi yang mana Bu?
- Monkey Mind: fokus yang kurang runut/terarah, loncat-loncat
- Mental Load : banyak beban mental
- Multitasking VS Monotasking: mengerjakan banyak hal/aktivitas pada satu waktu
- Overthingking/ Overanalyzinga; pemikiran yang berlebih dari porsi normalnya
- Distrorsi Kognitif: banyak gangguan fokus
Praktik Latihan Ibu Bermindful
Tantangan-tantangan tersebut diatas bisa dienyahkan bila kita belajar dan praktik mindfulness dalam menjalani peran. Apabila dipraktikkan sungguh-sungguh, berangsur-angsur mindfulness akan terinstall secara sadar dalam nalar kita. Berikut praktik mindfulness yang sederhana dan sangat bisa kita kerjakan:
- Latihan sadar nafas 4-4-4-4 (box breathing)
- Latihan sadar nafas 4-7-8
- Latihan teknik grounding 54321
- Latihan tekinik pemindaian tubuh (body scan awareness)
- Latihan visual imagery
Kuncinya sadar nafas, merasakan setiap tarikan dan hembusan nafas, udara yang masuk dan keluar dari dan kedalam lubang hidung, rongga dada hingga ke rongga mulut. Merasakan nikmat dan syukur atas kesempatan hidup yang Dia berikan kembali mulai dari bangun tidur hingga 24 jam setiap hari dengan kemampuan menjalani berbagai aktivitas.

Mindfulness dalam Beberapa Aspek Kehidupan Perempuan/Ibu
Cara-cara berikut bisa dipraktikkan mindfulness dalam beberapa aspek kehidupan seorang perempuan/ibu:
Mindfulness konteks pengasuhan sehari-hari
Menyadari bahwa peran yang sedang disandang, menjadi seorang ibu adalah anugerah, bukan suatu hukuman atau beban yang memperberat langkah perempuan. Demikian, segala hal/aktivitas dan hiruk pikuk kehidupan pengasuhan akan dijalani dengan penuh kesyukuran dan kesungguhan.
Seorang ibu yang menjalani perannya dengan mindful akan lebih tenang tindakannya dan damai pikirannya, sehingga mampu menjalin koneksi yang baik dengan putra-putrinya. Tangki cinta anak lebih terisi dengan penuh kasih dan dan anak akan bergerak di orbit orang tua (mudah diarahkan). Anak-anak juga akan tumbuh dengan bahagia dan menjadi anak yang tenang dan menyenangkan.
Perlu juga kiranya seorang ibu mempraktikkan jurnal mindfulness. Jurnal mindfulness ini baik dikerjakan guna menghadapi saat situasi-situasi cepat/kacau. Perlu juga dilatihkan cara merespon situasi agar ibu bisa lebih tenang, kalem, rasional dan penuh welas asih.
Mindful dalam Konteks Penerimaan Diri dan Produktivitas
Demi terbentuknya mindulness dalam diri penting juga memiliki growth mindset. Menyadari peran diri sebagai individu, sebagai istri dan atau sebagai ibu. Sadar dan bertanggung jawab atas peran yang melekat dengan bahagia, bukan merasa beban yang harus diemban.
Memahami bahwa tugas pekerjaan rumah tangga itu nyumber, terus menerus muncul dan ada, menguras tenaga dan waktu yang seolah-olah tak ada habisnya. Namun, itu bukan tanggung jawab ibu semata. Seluruh keluarga perlu diberi pemahaman bahwa rumah adalah tanggung jawab bersama, perlu adanya pembagian tugas rumah tangga, agar semua punya andil dalam mengurus rumah. Demikian, ibu punya lebih banyak waktu untuk self care dan produktif, tidak terus menerus berkutat dengan pekerjaan rumah tangga.
Cara-Cara Menjalani Mindful dalam Diri
Langkah-langkah berikut bisa dilatihkan untuk mencapai mindful dalam produktivitas diri
- Tegas akan prioritas: mendahulukan task yang urgent dan prioritaskan tujuan terdekat dan terpenting.
- Teknik podomoro dalam pekerjaan: melatih fokus bekerja selama 20 menit, jeda 5 menit, lanjutkan fokus produktif 20 menit selanjutnya.
- Teknik Bullet Journaling (BuJo): Membiasakan diri disiplin membuat jadwal sesuai prioritas dan reflektif setiap pelaksanaannya.
- No multitasking, one bit a time: Mengerjakan satu atau dua pekerjaan sama dalam satu waktu membuat energi dan fokus ibu lebih terkendali, menikmati dan tidak kewalahan.
- Teknik jeda nafas: Pekerjaan yang beruntun dan tak berujung seolah tak menyediakan waktu untuk kita ‘bernafas/rehat’, maka penting sekali mengalokasikan jeda nafas setiap kurun waktu fokus/pekerjaan. Demikian, energi dan emosi terjaga stabil karena nafas yang cukup tenang dan berkadar.
Kedamaian pikiran adalah kunci kita bisa bertindak dengan tenang dan berpikir dengan logis, emosi lebih mudah dikenali dan dikelola. Kebahagiaan bukan terletak pada apa yang hal-hal yang mampu kita raih dan miliki. Melainkan pada kemampuan kita untuk menjalani hidup saat ini, disini, dengan kesadaran dan mampu merasakan.
by Hesti Trisnawati | Jan 20, 2025 | Asik Nambah Ilmu, Tips

Nilai Komunikasi
Komunikasi mungkin suatu hal yang biasa dilakukan dalam keseharian. Hingga banyak orang yang menilai komunikasi ini biasa-biasa saja. Luput dari perhatian, jarang dievaluasi, terlebih ditingkatkan ‘nilainya’. Padahal komunikasi adalah salah satu kunci penting dalam interaksi antar manusia dalam kehidupan, baik itu dalam lingkup keluarga maupun masyarakat. So IPers, tertarik kan meningkatkan ‘nilai’ komunikasinya dari biasa menjadi istimewa?
Komunikasi adalah suatu keterampilan yang akan makin mahir bila sering dipraktikkan. Tentunya perlu kiranya ilmu tentang komunikasi. Berbekal ilmu tersebut bisa kita praktikkan pada lingkup terkecil dulu, yakni keluarga. Tak jarang kita dengar, hubungan dalam keluarga menjadi tidak baik-baik saja karena komunikasi yang buruk. Jadi, Komunikasi yang bagaimanakah yang patut kita latih dan praktikkan?
Teknik Komunikasi
IPers mungkin mengetahui beberapa teknik komunikasi, seperti teknik komunikasi efektif, teknik komunikasi asertif dan lainnya. Teknik komunikasi berikut, yang dicontohkan oleh Ibu Najeela Shibah (2018) bisa disebut sebagai teknik komunikasi ekspresif.
Kemampuan mengekspresikan diri dengan baik adalah kunci dalam keluarga. Beberapa keterampilan dasar dan contoh komunikasi berikut ini perlu dilatih dan dipraktikkan saat berkomunikasi dalam keluarga:

Teknik Komunikasi Ekspresif
1.Mengungkapkan kebutuhan diri tanpa menyerang dengan i-massage
- Aku sedih saat kamu sering lupa waktu saat pegang gadget saat weekend, aku ingin kita lebih banyak berinteraksi, tidak sibuk sendiri dengan gadget agar anak-anak juga happy bermain tanpa gadget.
- Aku khawatir bila kamu tidak mengupdate posisi, kabari saja bila mau berangkat, agar aku tau kira-kira sudah sampai mana perjalanannya
2. Mengungkapkan maaf karena sadar bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hubungan adalah kontribusi banyak pihak.
- Aku minta maaf ya bila lost controll
- Maaf ya bila muncul lagi ngambeknya
- Kucoba untuk tidak diem-dieman lagi
3. Menyatakan persetujuan walaupun tidak harus sepenuhnya sependapat, pasti ada unsur yang kita bisa bersepakat
- Benar juga pendapatmu
- Iya benar seperti itu
- Aku setuju kalau begitu
- Yuk kita bahas kesepakatan
4. Mengungkapkan kebutuhan diri disaat sulit tanpa khawatir ditolak atau gengsi
- Aku butuh waktu untuk menenangkan diri
- Tolong dengar dan ingat kesepakatan kita
- Aku merasa geregetan kalo kamu tetap saja begitu
- Gimana caranya aku bisa mengingatkanmu?
5. Menyatakan apresiasi/penghargaan dengan rutin, bahkan terhadap hal kecil
- Aku paham maksudmu
- Ide bagus, yuk pikirkan, what next?
- Ini masalah kita bersama, gimana baiknya?
- Aku merasa kesal kalau kamu tetap seperti itu
Intinya mengekspresikan perasaan yang muncul kemudian ungkapkan apa harapannya. Demikian, para anggota keluarga mengenali perasaan kita, tahu apa harapan kita dan bagaimana respon yang tepat. Apabila belum sesuai dengan harapan, perlu kiranya belajar bersama bagaimana merespon dengan tepat. Sudah siap berlatih dan praktik teknik komunikasi ekspresif ini IPers?
Referensi:
Shihab, Najeela. 2018. Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik. Buah Hati. Tangerang Selatan
by Hesti Trisnawati | Oct 23, 2024 | Tips

Masihkah kau peduli? Ini pertanyaan hakiki, bukan hanya milik dua sejoli. Masihkah kau peduli pada orang lain? Peduli pada tanah air dan bumi? Pada jaman yang semakin individualis, pertanyaan tersebut cukup penting! You know why IPers? Karena dunia akan menjadi tempat yang lebih baik bila kita saling peduli. Setuju gak?
Arti Peduli
IPers tentu menginginkan dunia menjadi tempat yang lebih baik dan lebih nyaman, kan? Yuk kita kenali dulu apa itu peduli. Peduli adalah satu kata yang akrab kita ditelinga kita. Namun apakah kita sudah paham benar akan makna peduli?
Peduli adalah pemahaman dan penghargaan atas latar belakang, kondisi dan kebutuhan orang lain yang mendorong individu untuk membantu orang lain. Memberi kesempatan kepada orang lain untuk menjadi lebih baik dalam banyak aspek kehidupan.
Coba IPers ingat kapan terakhir kali seseorang pedui padamu? Bagaimana perasaanmu saat itu? Merasa nyaman atau merasa lebih baik? Begitu pun orang lain yang kita pedulikan, akan merasa lebih baik.
Dampak Baik Sikap Peduli
Apakah penting memiliki rasa saling peduli? Memiliki sikap peduli sangat penting karena membawa dampak positif, bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Peduli bukan semata untuk orang lain, sejatinya juga ‘memberi’ untuk diri sendiri.

Sikap peduli merupakan salah perbuatan mulia. Banyak dampak baik yang ditimbulkan dan dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain, diantaranya:
1.Membantu orang lain
Peduli tidak hanya berkaitan dengan perasaan atau hati, dengan bersimpati atau berempati. Yang terpenting adalah action dari sikap kepedulian itu. Bisa dengan membantu orang lain, mengurangi kesusahan orang lain, atau meringankan beban orang lain. Berbagi apapun yang mungkin dibutuhkan oleh orang lain. Tak melulu tentang barang, berbagi juga bisa berupa jasa atau tenaga.
2. Menciptakan lingkungan yang lebih baik
Bila lebih banyak orang peduli, akan lebih banyak juga orang yang terbantu. Kesusahan akan banyak berkurang, banyak masalah mampu tertangani. Lingkungan menjadi lebih nyaman dan lebih baik.
3. Meningkatkan solidaritas
Sikap peduli menunjukkan rasa kasih sayang antar sesama manusia. Tindakan kepedulian kita sangat berarti bagi orang lain, meski itu dirasa ‘hanya’ tindakan kecil. Orang lain bisa jadi merasa diperhatikan, terhibur atau terbantu. Hati mampu tersentuh oleh kepedulian yang tulus.
4. Membuat diri sendiri merasa lebih baik
Sikap peduli bukan berarti selalu berfokus pada orang lain. Walau memang peduli itu tentang give, give and give. Sejatinya tidak ada yang berkurang pada diri kita. Justru sikap peduli membawa efek ‘bertambah’ bagi diri sendiri. Dalam artian bertambah baik, bertambah bahagia, bertambah berkah. Kamu, pernah merasa ‘bertambah’ apa IPers?
5. Menjadi contoh/inspirasi bagi orang lain
Kebaikan, kepedulian hendaknya disebarkan ke banyak orang agar dunia ini menjadi tertular virus kepedulian. Harapannya banyak orang yang terpengaruh dan berminat melakukan kepedulian yang serupa.
Spirit peduli ini harus ditebarkan agar benih-benih baik ini tumbuh dibanyak hati manusia, Tumbuh dan berkembang hingga berbunga tindakan kebaikan. Bunga-bunga kebaikan yang bermekaran di hati banyak orang bisa menebarkan keharuman di atmosfer dunia dan rumah yang indah bagi semua orang di dunia.
Bentuk Kepedulian
Sikap dan tindakan peduli bisa diterapkan di banyak aspek kehidupan. Dan bisa jadi IPers sudah terbiasa mengerjakan hal-hal tersebut dibawah ini. Coba pindai secara mandiri ya IPers!
1.Peduli pada diri sendiri
Diri sendiri seyogyanya juga perlu dipedulikan. Jangan terus dikesampingkan kebutuhan lahir dan batin diri sendiri. Peduli akan kesehatan diri, seperti memperhatikan asupan makan, menjaga kesehatan, tidur yang cukup. Kesehatan mental juga penting untuk dijaga IPers agar terhindar dari penyakit-penyakit hati, seperti prasangka buruk, overthingking, iri dengki. Caranya IPers bisa lakukan related dengan kebiasaan sehari-hari, yakni bisa dengan membatasi akses media sosial, membaca buku, self improvement dan lain sebagainya.
2. Peduli pada orang lain
Beragam masalah tentu dialami oleh banyak orang, yang belum tentu kita alami. Bisa jadi masalahnya berbeda atau kita lebih beruntung, atau garis hidup kita lebih baik dari orang lain. Makanya, ada orang-orang yang perlu kita pedulikan. Contohnya dengan cara menghibur teman yang sedih, membantu teman yang kesulitan, berbagi makanan dengan yang sedang kekurangan, membantu kesusahan keluarga dan banyak tindakan kepedulian lainnya.
Mendukung gerakan inklusif juga bentuk kepedulian pada orang lain. Terutama bagi teman-teman inklusif. Dengan cara memberi ruang yang nyaman dan aman bagi mereka. Menghormati, menghargai dan memperlakukan teman-teman inklusif dengan empatik adalah salah satu bentuk peduli yang sangat mereka perlukan.
3. Peduli pada lingkungan Sekitar
Bumi-tempat kita berpijak, hidup dan tinggal perlu dijaga. Agar terus nyaman dan berkelanjutan. Bumi kita sudah tidak lagi muda, perlu terus dirawat dan dilestarikan. Dengan cara menjaga kebersihan dan peduli pada sampah. Caranya bisa dengan pisah, olah dan kurangi sampah, mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Menanam banyak tanaman, Menggunakan pupuk alami dan lain-lain. Sering-sering memberi makan kucing liar juga termasuk kepedulian pada lingkungan lho IPers!
Tidaklah sulit untuk bersikap dan bertindak peduli kan ya?! So, IPers mari lakukan dari hal kecil dan dari detik ini!
by Hesti Trisnawati | Sep 8, 2024 | Artikel, Asik Nambah Ilmu, Tips

Semangat pagi IPers,
Catat mencatat bukan hanya berlaku pada jaman sekolah ya! Perempuan sebagai pibadi, atau pekerja dan atau sebagai ibu juga perlu lho punya kebiasaan mencatat. Bagaimana bisa dan buat apa sih? 3 Manfaat ini bisa buat kamu suka mencatat!
Yakin deh, IPers adalah sosok perempuan pembelajar. Tak kenal usia untuk terus menimba ilmu pengetahuan. Mengupgrade dirinya untuk bertumbuh, berkembang, menjadi sosok yang lebih baik, lebih maju. Benar begitu? Jaman sekarang, kanal belajar sangat banyak, metodenya beragam, medianya juga bermacam-macam. IPers tinggal pilih dan akses sesuai dengan gaya belajar, kebutuhan dan kemampuan diri.
Komunitas Ibu Profesional sangat concern dalam pemberdayaan perempuan, terutama bagi perempuan yang terus bersemangat belajar. Kayak kita kan IPers:) Belajar, kuliah, berkembang, berproduktif, berdampak difasilitasi oleh komponen Institut Ibu Profesional yang dikemas dalam bentuk perkuliahan yang update dan sesuai kebutuhan para perempuan.
Boleh tahu ya, selama belajar, apa yang IPers biasanya lakukan? Boleh dijawab di kolom komentar ya! Mungkin ada yang biasa mencatat di buku, mencatat di media digital, merekam, membuat konten di media sosial, membuat artikel ulasan dan lain sebagainya. IPers tim yang mana nih?
Manfaat Mencatat
Kalau writer sih tim mencatat di buku, karena ada sensasi asyik saat menggoreskan tinta ke lembaran kertas. Selain feel sensasi ternyata mencatat juga punya banyak manfaat lho! Apa saja ya, yuk simak dan bila perlu dicatat:)

1. Mencatat adalah salah satu cara mengikat ilmu
Ilmu yang kita peroleh dari guru, buku, kelas, seminar dan lain-lain hendaknya kita catat atau tuliskan. Agar ilmu tersebut terikat dalam catatan pena dan makin membekas dalam ingatan. Dengan mencatat juga mengikat ilmu-ilmu yang berserakan saat kita berkelana menimba ilmu.
2. Mencatat sebagai release feeling
Terkadang dari ilmu yang sudah diserap, mampu kita tuang kembali dengan bahasa dan output yang berbeda. Tak jarang, hal tersebut menggugah kesadaran kita, memantik rasa penasaran akan hal lainnya atau jadi mengungkit pengalaman kita yang lama. Maka, respon atas ilmu yang kita serap, bisa diurai dan diungkap di catatan. Rasa lebih lapang biasanya akan menyertainya.
3. Mencatat bisa memantik gagasan
Menuang pikiran, perasaan, apapun yang kita tangkap menjadi tulisan itu berbeda dari menggambar dalam ruang pikiran.Lebih jelas ‘bentuk’nya. Sering kali aliran kata-kata itu mengalir pelan, bisa juga lancar, bahkan deras. Aliran itu sering kali membawa ‘muatan’ lain yang tak disangka-sangka. Seperti gagasan, perasaan lapang, pencerahan, bisa juga solusi/penyelesaian. Coba deh IPers!
Tips Memulai Kebiasaan Mencatat
Sepenting itu manfaat dari mencatat, maka mari bulatkan tekad untuk mencatat! Bagaimana cara memulai kebiasaan mencatat? Gampang IPers, yuk ikuti tips-tips simpel berikut ini:

1.Jadikan catatan itu mudah
Catat apa saja yang terlintas dipikiran, terlihat oleh pengamatan, di notes kecil. Lebih baik gunakan notes yang IPers gemari dari segi tampilan dan bentuknya. Tulis singkat, dengan simbol atau gambar yang mewakili. Yang terasa mudah IPers kerjakan saja!
2. Jadikan catatan itu terlihat
Itu sebabnya IPers perlu memilih notes/catatan yang menarik dan ditempatkan di tempat/posisi yang mudah terjangkau atau terlihat. Dengan demikian selalu teringat untuk rajin mencatat. Lebih mudah lagi bila notes ditemani terus oleh alat tulis bolpoin/pensil ya IPers!
3. Buka mata, buka hati
Belajar lebih peka pada sekeliling, dari apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasa. Inspirasi itu berserakan di sekitar kita, semakin peka, akan semakin banyak inspirasi yang bisa kita tangkap. Jangan lupa untuk segera mencatatnya yah! Biar tidak terbang, hilang begitu saja.
Nah IPers, tidaklah susah membiasakan mencatat kan, apalagi kita sadar dan tahu benar manfaat mencatat. Sekarang, masih bingung memulai darimana? Coba tulis pengeluaran satu hari ini. Selanjutknya di akhir hari, tulis perasaanmu sebelum tidur, Besok bisa ditingkatkan hasil pengamatan anak di pagi hari. Dan seterusnya ditingkatkan hari per hari! Selamat mencatat!
by Hesti Trisnawati | Jun 4, 2024 | Asik Nambah Ilmu, Pengembangan Diri, Tips

Mengobati Dalih
Suatu alasan yang (dicari-cari) untuk membenarkan suatu perbuatan, itulah dalih. Mengkambinghitamkan alasan tertentu kerap digunakan sebagai ‘penyebab’ kegagalan. Orang-orang yang tidak sukses sering kali berdalih, meracuni pikirannya sendiri, menjadi lebih parah hingga menjadi penyakit. Merasa pernah terjangkiti penyakit ini?
Setiap kali orang ini berdalih, dalih tersebut tertanam kian dalam di alam bawah sadarnya. Pikiran kita, baik positif maupun negatif akan bertambah kuat ketika dipupuk dengan pengulangan, terus menerus. Dalihnya mungkin kebohongan belaka. Namun kian sering ia mengulanginya, dirinya kian yakin bahwa dalih itu benar. Iya yakin dalihnya adalah alasan utama kegagalannya.
Berbagai macam alasan digunakan orang sebagai dalih membenarkan sikapnya yang enggan bertindak, dan atau sebab kegagalannya. Berikut ini beberapa bentuk dalih yang kerap dibuat jurus/alasan orang tidak sukses:
- Dalih Kesehatan
Dalih kesehatan beragam, dari “Saya merasa kurang sehat” hingga “Itu karena saya sering sakit”. Pastinya, tidak ada orang yang memiliki kesehatan sempurna, atau fisik yang tanpa cela. Banyak orang yang menyerah seluruhnya atau sebagian kepada dalih kesehatan. Tetapi orang yang berpikir sukses tidaklah demikian. Cara-cara ini bisa dipakai untuk mengobati penyakit dalih kesehatan:
- Jangan berbicara tentang kesehatan Anda
- Jangan mengkhawatirkan kesehatan Anda
- Bersyukurlah Anda dianugerahi kesehatan yang baik
Kian sering membicarakan tentang penyakit Anda, biasanya kondisinya kian memburuk. Karena mengeluh, akan memperburuk. Sebaliknya, pikiran yang terus positif dan optimis serta banyak bersyukur akan banyak usaha dan kemajuan yang dibuat untuk mengisi waktu yang masih ada.

4 bentuk dalih yang kerap dibuat alasan orang tidak sukses:
2. Dalih Kecerdasan
Merasa kurang cerdas, kerap mengkerdilkan usaha orang untuk sukses. Sebagian besar dari kita membuat dua kesalahan mendasar mengenai kecerdasan, yakni:
- Meremehkan kecerdasan kita sendiri
- Menganggap kecerdasan orang lain terlalu tinggi
Orang-orang yang tidak sukses, sering kali tidak menerima tantangan, sebab merasa kurang cerdas atau kurang cakap. Gagal sebelum berlaga! Padahal yang paling menentukan adalah pola pikir yang membimbing kecerdasan Anda jauh lebih penting daripada besarnya kecerdasan yang Anda miliki. Juga, minat dan antusiasme yang mampu menjadi bahan bakar super besar dibanding kecerdasan itu sendiri. Ketekunan juga yang menentukan kesuksesan orang dalam pekerjaan atau meraih cita-citanya. Cara-cara ini mampu untuk menangkal dalih kecerdasan:
- Jangan meremehkan kecerdasan diri sendiri dan menganggap kecerdasan orang lain terlalu tinggi
- Setiap hari, ingatkan diri sendiri bahwa sikap dan pola pikir itu lebih penting dari kecerdasan itu sendiri
- Ingatlah, kemampuan berpikir jauh lebih bernilai daripada kemampuan mengingat fakta
3. Dalih Usia
Dalih usia adalah penyakit kegagalan di mana seseorang merasa terlalu tua atau terlalu muda. Dalih ini sering kali menutup peluang. Mereka merasa usialah yang menjadi kendala sehingga tak mau mencoba hal baru. Usia tidak terkait langsung dengan kemampuan, kecuali Anda meyakinkan diri sendiri bahwa pertambahan usia akan menyebabkan semakin matang.
Bila Anda merasa terlalu tua untuk meraih profesi dambaan. Yakinlah, masih ada dua puluh tahun produktif yang terbentang dihadapan. Maka kejar dan rengkuhlah dengan optimis dan semangat! Camkan ‘Lebih baik bekerja sampai tua daripada menganggur karena Anda tua’. Kapan seseorang dikatakan terlalu muda? Syarat terpenting adalah seberapa baik pengetahuan Anda terhadap pekerjaan dan memahami orang lain, maka cukup matang untuk menjalankannya.
Ketika Anda mengalahkan ketakutan terhadap batasan usia, Anda akan hidup lebih lama dan makin sukses. Cara menghilangkan dalih usia, antara lain:
- Pandang usia saat ini dengan positif
- Hitung saja sisa waktu produktif
- Investasikan masa depan untuk mewujudkan cita-cita, jangan berpikir sudah terlambat
4. Dalih sebagai ‘pembawa sial’
Kerap kali kita mendengar seseorang menyalahkan nasib sial saat tertimpa masalah. Pun, sering menganggap kesuksesan orang lain sebagai nasib mujur. Tentu semua orang percaya bahwa kesuksesan direngkuh dengan kerja keras, ketekunan dan perencanaan matang, bukan keberuntungan semata.
Taklukkan dalih keberuntungan dengan cara berikut:
Yakin ada hukum sebab akibat. Kesuksesan diraih karena kerja, usaha dan pola pikir yang besar, bukan nasib semata. Saat kegagalan menimpa, orang sukses akan belajar dan kembali merebut kembali kesuksesan itu. Tidak melulu menyalahkan nasib yang sial. Jangan menjadi penghayal. Jangan bertopang dagu dengan bermimpi merengkuh kesuksesan tanpa berusaha, dan hanya mengandalkan keberuntungan.
Dalam program individual berpikir besar, berpikir sukses, prosedur pertama yang harus dijalani adalah memvaksinasi diri Anda untuk melawan dalih penyakit kegagalan. Yakni penyakit dalih seperti dalih-dalih diatas!
Sumber referensi:
Schawartz, David J. 2023. The Magic of Thinking Big. MIC Publishing. Surabaya
Celoteh Mahasiswi