“Empat hal yang tak akan ditolak oleh anak yakni bermain, kejutan, hadiah dan dongeng” Septi Peni Wulandani, founder komunitas Ibu Profesional. 

Empat amunisi ini bisa kita pakai untuk menyentuh hati anak dan memenangkannya. Adakah sebuah dongeng/cerita yang terus teringat dalam memori kita? bisa jadi karena sejak kecil kita sering mendengar cerita tersebut atau sangat mengena di hati, terngiang-ngiang hingga kini.

Mendongeng merupakan salah satu media komunikasi untuk menyampaikan sebuah cerita. Cerita fiktif/ imajinasi bisa juga cerita nyata atau pengalaman. Mendongeng adalah bertutur, dilakukan dengan suara berintonasi, ada ritme, dan melibatkan ekspresi wajah, gerak/bahasa tubuh serta alat bantu seperti buku, iringan musik, mainan, gambar dan benda-benda lain. 

Manfaat Mendongeng

Mendongeng sebagai media mendidik tanpa menggurui, menasehati tanpa menceramahi. Mentransfer nilai-nilai kehidupan dengan cara yang halus dan seru. Saat mendengarkan dongeng, anak menikmati sekaligus mengenal dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam cerita, tanpa perlu diberitahu secara eksplisit.

Dongeng bisa berupa cerita tentang sejarah masyarakat, asal usul keluarga atau cerita tentang salah satu anggota keluarga. Dapat berupa peristiwa, perjuangan, tradisi, kebudayaan dan warisan nilai. Dongeng semacam ini bisa membantu anak menempatkan diri sebagai individu yang menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat.

Mendongeng mampu mengembangkan kemampuan intelegensia anak. Suatu dongeng bisa menggugah daya pikirnya sebagai respon cerita yang didengarnya, kenapa begini, mengapa begitu, berbagai tanda tanya, rasa penasaran atas cerita yang didengarnya. Mungkin ada satu atau dua dongeng yang menjadi favorit anak, dan senang bila diceritakan berulang-ulang, repitisi ini melatih daya ingat anak. Mendongeng juga melatih konsentrasi anak, latih kemampuan mendengar/ menyimak. 

Kemampuan bahasa anak akan berkembang baik dengan teratur mendengarkan dongeng. Alunan/intonasi suara, kreasi bunyi yang ekspresif bisa menstimulasi bagian otak yang berperan mengatur bahasa. Anak kaya akan perbendaharaan kosa kata, tata bahasa dan pengejaan. Dongeng mampu merangsang dan membangkitkan kegemaran anak terhadap buku. Apabila dongeng dilakukan dengan media buku sebagai sarana dan sumber cerita. Mendongeng dengan menggunakan buku sebagai sumber cerita, membacakan isi cerita sesuai yang tertulis dibuku dengan menggunakan tata bahasa yang baik, sekaligus intonasi suara dan ekspresi wajah yang sesuai, dikenal dengan istilah read aloud. Bisa ditambah dengan menunjukkan bagian-bagian atau gambar ilustrasi yang sedang dibaca. Demikian terlihat bahwa membaca itu kegiatan menarik dan menyenangkan. 

Melalui dongeng anak dapat menemui dan (seolah) mengalami suatu pengalaman dan keadaan/ situasi yang sulit, yang membuat takut, marah, lelah, senang, puas dan beragam bentuk emosi lain. Mengenal bentuk-bentuk emosi, perasaan dan keadaan tersebut akan sangat berguna sampai dewasa kelak. Anak akan mampu mengidentifikasi dan mengelola emosi dan perasaannya dengan tepat. 

Dongeng identik dengan dunia imajinasi. Anak bisa berperan menjadi orang lain atau sesuatu di luar dirinya melalui proses imajinasi dan identifikasi, dari berbagai dongeng yang sering anak dengar. Hal ini merupakan sarana pemuasan akan ekspresi diri  anak.

Mendongeng yang kerap kali dilakukan bisa menciptakan kedekatan/ bonding antara pendongeng dengan anak, karena komunikasi aktif, anak mendapat waktu dan perhatian yang berkualitas, dan kadang tersentuh hatinya. Kedekatan ini membuat anak lancar berkomunikasi, nyaman membuka diri,  berbagi perasaan dan menyerap nilai-nilai kehidupan. 

Dongeng bisa juga hanya bertujuan menghibur anak-anak yang mendengarnya. Dongeng yang lucu, menghibur walau tanpa ada penekanan nilai moral yang terkandung didalamnya, tetap memberi manfaat bagi anak. Anak akan tumbuh dengan bahagia dan positif. 

Jadi, ayo mendongeng. Berikan cerita/ dongeng terbaik untuk anak, terus berlatih dan membaca agar bisa menyampaikan dengan cara terbaik dan menarik. Menurut Kak Dani, salah satu pendongeng asal Jogja, tantangan mendongeng masa pandemi antara lain adaptasi mendongeng dengan cara virtual. Tidak dapat bertatap muka langsung dengan pendengar tentu atmosfernya berbeda, tidak ada respon dan transfer emosi yang mampu menghidupkan suasana. 

Tantangan ini  bisa dilatih kok, caranya bisa dengan mengikuti kompetisi dongeng virtual. Dalam rangka memperingati Hari Dongeng Sedunia tanggal 20 Maret 2021, Institut Ibu Profesional mengadakan serangkaian acara. 

  1. Lomba Mendongeng 2021

https://www.instagram.com/p/CMaDFmtsA02/?igshid=pqay7ea6kcwh

  1. PIJAR talk “Mengembangkan Potensi Anak melalui Dongeng”

https://www.instagram.com/p/CMcc1n4sy5v/?utm_source=ig_web_copy_link