Setelah berhasil menempuh zona Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas di zona 4, para mahasiswi melanjutkan perjalanannya ke zona 5, yaitu Membentuk Karakter dengan Stimulasi Baca Tulis dan Literasi Digital. Para mahasiswi di kelas ini saling berbagi cerita dan keseruan ketika menjalankan tantangan tersebut. Mau tahu bagaimana keseruan para mahasiswi melewati zona ini? Yuk kita simak BinTang atau Bincang Tantangan di kelas bunda sayang IP Jakarta 😊

Mbak Enggusti menyampaikan bahwa zona ini membuat anak-anaknya menjadi rajin membaca buku, padahal awalnya malas dan tidak begitu tertarik. Bahkan, kebiasaan membaca buku ini terus berlanjut setelah tantangan zona 5 selesai.
Ada cerita yang tak kalah seru dari Mbak Basitoh. Ia mencoba meng-upgrade tantangan untuk anaknya yang sudah terbiasa membaca menjadi bercerita. “Alhamdulillah, abang jadi suka menceritakan isi bukunya dengan mengalir begitu saja dan bahasanya mulai runut.”, begitu tutur Mbak Basitoh.
Selanjutnya, ada Mbak Nurindah dan Mbak Afifah yang menceritakan pengalaman yang sama. Anak-anaknya jadi suka mengulangi buku bacaan yang sama hingga hafal isi bukunya, padahal belum bisa membaca.
Tak hanya buku fisik, buku digital pun bisa dijadikan pilihan untuk meningkatkan literasi baca tulis bagi anak. Seperti halnya Mbak Ailyxandria yang membiarkan anaknya memilih sendiri buku bacaan digital yang ia inginkan. Namun, kegiatan ini tetap berada dalam pengawasan orang tua untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti anak browsing sesuatu yang kurang sesuai.

Kalau hanya membaca buku setiap hari, lama-lama kita dan anak akan merasa bosan nggak sih, teman-teman? Nah, ada cerita menarik dari Mbak Vika yang menempuh cara berbeda untuk memotivasi dan membangkitkan semangat membaca. Mbak Vika membuat pohon literasi dengan cara menggambar pohon, kemudian menyiapkan kertas sebanyak mungkin untuk dijadikan bagian daun. Setiap kali selesai membacakan buku untuk anaknya yang belum bisa membaca, Mbak Vika menempelkan daun di pohon tersebut. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin rimbun daunnya, semakin senang pula anaknya ketika melihat pohon tersebut.

Stimulasi ini tidak hanya untuk anak literasi anak, loh. Ada Mbak Rezky Ayu yang berhasil menyelesaikan 2 buku bacaan dan Mbak Ima yang berhasil menyelesaikan 1 buku bacaan selama 15 hari. Tantangan yang dihadapi adalah konsisten membaca walaupun hanya beberapa halaman dan mencari waktu yang pas untuk menyempatkan membaca buku di sela aktivitas yang padat. Mbak Ima juga belajar untuk tidak hanya sekedar membaca, tetapi juga mengikat ilmu melalui tulisan. Membuat poin-poin penting lalu coba merefleksikannya dengan kehidupan sehari-hari.

Dari diskusi ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk meningkatkan literasi baca tulis dan digital pada anak ataupun diri sendiri, bukanlah suatu hal yang instan. Diperlukan konsistensi, bahkan kreativitas supaya kegiatan literasi baca tulis tidak menjadi hal yang membosankan. Selain itu, kita sebagai orang tua juga perlu memberikan contoh nyata bagi anak yang merupakan peniru ulung. Selamat membaca, salam literasi!

Disusun oleh Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta
Penulis: Faizah Khoirunnisaa
Editor: Maria Fatimah
Desain: Winda