Bagaimana petualangan para mahasiswi pada zona Stimulasi Kecerdasan Matematika dan Finansial? Mau tahu bagaimana keseruan para mahasiswi melewati zona ini? Yuk, kita simak BinTang atau Bincang Tantangan di kelas bunda sayang IP Jakarta. Bincang seru tantangan dan proses belajar selama menjalankan misi. Karena butuh teman yang saling bergandengan tangan dan saling mengingatkan untuk berubah menjadi lebih baik.

Jika mendengar kata ‘matematika’, apa yang terlintas di benak teman-teman? Rumit dan sulit, atau sederhana dan mudah?

Rasanya belajar matematika menjadi hal yang menakutkan dan dianggap sulit oleh pelbagai kalangan, termasuk anak-anak. Sebenarnya belajar matematika bisa menjadi hal yang menyenangkan dan mengasyikkan bagi anak jika menggunakan alat peraga dan ilustrasi sederhana. Stimulasi kecerdasan matematika untuk anak menjadi hal yang sangat penting karena matematika hampir digunakan di setiap aspek kegiatan sehari-hari.

Selain stimulasi kecerdasan matematika, orangtua perlu menstimulasi kecerdasan finansial anak. Karena kedua hal tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Contoh sederhananya adalah ketika anak ingin membeli donat di warung. Mereka harus mengetahui berapa donat yang akan dibeli, berapa harganya, dan berapa lembar uang yang harus mereka berikan kepada penjual.

Definisi kecerdasan finansial, adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan. Sesuai dengan konsep di Ibu Profesional, uang adalah bagian kecil dari rejeki, sehingga dengan belajar mengelola uang artinya kita belajar bertanggung jawab terhadap bagian rejeki yang kita dapatkan di dalam kehidupan ini.

Prinsip dasar dalam hal rejeki yang harus dipahami di dalam Ibu Profesional adalah “Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari.” Dengan begitu, ketika anak sudah paham konsep dirinya, maka kita sebagai orangtua perlu menstimulus kecerdasan finansialnya.

Para mahasiswi bunda sayang di kelas ini saling berbagi cerita dan keseruan ketika menjalankan misi. Ada cerita menarik dari Mbak Qitbiyah yang mencoba menggabungkan stimulasi kecerdasan matematika dan finansial untuk anaknya. Ia mengenalkan kepada anaknya untuk melakukan sedekah subuh, memberikan jatah uang jajan, dan menabung. Ternyata anak-anaknya sangat senang dengan sedekah subuh dan antusias ketika mendengar penjelasan Ibunya mengenai jatah uang jajan yang bisa dihabiskan, sebagian ditabung, atau disedekahkan.

Ada pengalaman yang tidak kalah menarik dari Mbak Cahya. Qadarullah keluarga Mbak Cahya terkena banjir, tetapi hal tersebut malah dijadikan inspirasi untuk mengenalkan konsep matematika kepada anaknya. Mbak Cahya bertanya kepada anaknya, apakah air banjirnya semakin naik (meninggi) atau turun. Wah keren banget ya, Mbak Cahya bisa mengambil hikmah dari musibah yang menimpanya.

Apakah semua mahasiswi berhasil menjalankan misinya? Mbak Ellyza menceritakan bahwa zona ini paling menantang untuk dirinya karena anaknya sadar kalau disisipkan materi matematika, sehingga anaknya langsung mengajak untuk bermain hal lain. Anaknya juga merasa sedang dites ketika Mbak Ellyza sedang me-review kegiatan yang sudah dilakukan. Meskipun begitu, Mbak Ellyza tidak patah semangat dan terus mencoba untuk menyisipkan materi matematika dalam permainan secara pelan-pelan.

Cerita yang tidak jauh berbeda datang dari Mbak Lufki. Ketika hari terakhir tantangan, Mbak Lufki meminta anaknya untuk mengalirkan rasa. Ternyata anaknya tidak menikmati proses belajar tersebut, meskipun menurut Mbak Lufki terlihat enjoy dan menikmati aktivitas stimulasi. ”Nggak suka main uang gitu, Rumi sukanya main ke warung, beli susu dan jajan.” Duh, lucu banget ya Rumi!

Selain untuk anak-anak, tantangan zona ini juga bisa diterapkan untuk para Bunda lho! Ingat prinsip di Ibu Profesional, “For things to change, I must change first.” Apabila kita menginginkan perubahan, maka mulailah dari diri kita terlebih dahulu. Maka sejatinya stimulasi kecerdasan finansial adalah proses kita sebagai orangtua agar cerdas finansial dengan cara learning by teaching, belajar mengajar bersama anak-anak. Jadi yang utama harus belajar tentang stimulasi kecerdasan finansial adalah orangtuanya, baru memandu kecerdasan finansial anak-anak sesuai tahapan umurnya.

Berikut ini tips dari para mahasiswi bunda sayang IP Jakarta yang bisa dilakukan ketika belajar mengelola uang:

  1. Melakukan pencatatan keuangan dengan detail.
  2. Membuat skala prioritas kebutuhan hidup dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
  3. Menentukan pos-pos pengeluaran.
  4. Mengevaluasi apakah terdapat kebocoran pengeluaran.

Sangat menarik bukan, cerita pengalaman mahasiswi bunda sayang IP Jakarta melewati tantangan zona 6 ini? Nantikan cerita yang ngga kalah seru di bincang tantangan berikutnya yaa 😊

Disusun oleh Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta
Penulis: Faizah Khoirunnisaa
Editor: Maria Fatimah
Desain: Winda