Bertemu akhir. Setiap hal pasti bertemu ending-nya. Happy atau sad ending semua bergantung pada sudut pandang masing-masing. Aku tentu tidak berhak mengusik yang lain dengan ending-nya. Aku hanya harus fokus pada diriku seperti apa aku bertemu akhir. Inikah ending yang aku harapkan?

Flashback ke tujuh bulan lalu, aku hampir saja gagal menjadi bagian dari pertualangan ini. Setelah sadar aku nyaris ketinggalan kapal, alih-alih menunggu kapal lain tiba, aku mencari tahu apa saja yang bisa kulakukan demi menyusul ketertinggalan. Aku hubungi HIMA Regional baruku, aku baru pindah regional kala itu makanya minim sekali informasi. Salahku juga karena sibuk pindahan membuatku tak memantau FBG transit. Dari informasi HIMA-lah, aku berupaya mengejar waktu keberangkatan kapal. Qodarullahu, ada info penangguhan keberangkatan. Jadi penumpang yang merasa harus naik ke kapal perlu menyiapkan beberapa persyaratan. Tidak mau kehilangan kesempatan kedua, segera kuselesaikan waktu itu juga dalam waktu yang singkat. Tekad kuat yang membawaku akhirnya ikut menumpangi kapal yang telah setahun lebih kunanti. Kapal itulah yang membawaku menjadi bagian dari Hutan Kupu Cekatan. Pertualangan dimulai, tahap demi tahap semakin menyadarkanku. Bahwa pertualangan paling rumit dan dilematis dalam hidup ini adalah pertualangan mencari jati diri.

Benar bahwa, banyak hal yang mendorong aku kebingungan sendiri dengan apa yang sebenarnya aku inginkan, harapkan dan butuhkan. Lalu pertualangan ini membuka tabirnya satu per satu. Dari tahap telur-telur, ulat-ulat, kepompong lalu menjelma menjadi kupu-kupu, semua bersinergi membawaku pada titik ini. Salah satunya, know me more, know me better. Siapa sih di dunia yang bisa mengenal diriku dengan lebih baik selain aku sendiri? Jadi, sebelum menuntut orang lain untuk memahamiku, aku perlu memahami diriku. Proses metamorfosis selama kurang lebih tujuh bulan ini, membuatku paham apa yang aku butuhkan untuk kukembangkan bukan sekadar yang aku inginkan. Tahap demi tahap yang dilalui itu seolah menjadi cahaya terang, jawaban dari semua pertanyaan, petunjuk tentang tujuan akhir pertualangan ini. Namun tentu saja, bukan hidup namanya jika tanpa disertai tantangan yang beraneka wujud rupanya. Aku juga mengalaminya hampir di penghujung tantangan.

Badai ujian yang berhembus di beberapa episode tahap Kupu-Kupu pernah membuatku tak sekali dua kali ingin menyerah mundur, ingin segera menyudahi pertualangan ini. Salah satunya adalah covid yang menerjang ke circle-ku paling intim. Menyusul aku yang terpapar setelahnya. Aku lelah secara fisik dan emosional kala itu. Tapi, aku akui yang membuatku mengurungkan niat adalah rasa tanggung jawab sebagai mentor dan mentee. Bagaimana caraku bertanggung jawab pada mereka yang mempercayakan aku sebagai teman terbang? Meski semua proses setelahnya seringkali terasa berat dan beberapa bahkan pernah tak lagi membahagiakan untuk dijalani, seolah menjadi beban baru tersendiri, namun setelah aku sedikit mendorong diriku untuk maju, again menginsafkan diri tentang strong why(s), deep talk to myself untuk tidak boleh semudah itu menyerah, ternyata oh ternyata setelah terlewati,  segalanya mudah, sejauh aku berpikir, bertindak dan berkata demikian. Words matter, right? So speak kind words, lebih-lebih untuk diri sendiri. Olehnya, di sepanjang proses ini, aku berterima kasih pada diriku sendiri, tak ada yang paling tahu betapa berat pekan-pekan itu belakangan kecuali diriku sendiri. Benar yang orang bilang bahwa what doesn’t kill you makes you stronger. Aku menepuk pundakku tiga kali sembari berkata, ‘Good job, Arri. You’re doing great’.

Your fighting field is yourself. If you win against it, you can win anything against you encounter, and if you lose, you won’t win any other – Ali bin Abi Thalib.

Alhamdulillah, tsumma alhamdulilah. Kepada Allah Yaa Hafiz, yang menjaga bara semangat ini menyala, yang memudahkan segala hal yang terasa sulit. Berapa bersyukurnya diri ini yang tak semudah itu menyerah setiap berpapasan dengan badai. Semoga, sepanjang hidup, aku memiliki keteguhan demikian baik : tak mudah menyerah terhadap apapun itu. Pada proses ini, aku juga berterima kasih kepada Magika dan para peri hutannya yang selalu sigap menemani dan menyertai perjalanan yang gelap penuh misteri menuju terang cahaya di Hutan Kupu Cekatan. Terima kasih, Mahira-ku untuk saling hadir dan menguatkan pada banyak keadaan. Aku menyaksikan satu per satu dari kita yang meskipun berat hati, namun di luar kontrol diri akhirnya memutuskan menyudahi pertualangannya. Sedih sekali beberapa dari kita memilih tak terbang bersamaan. Sungguh, di titik-titik kritis, genggaman-genggaman tangan lainnya sungguh menguatkan sayapku yang sering rapuh. Terima kasih rumahku HIMA regional Bogor, yang selalu hangat dan nyaman. Menjadi tempat terbaik untuk berkeluh kesah, berbagi gundah gulana tanpa takut terluka. Terima kasih Mentor dan Mentee-ku yang mengajarkanku tumbuh dan terbang dengan kedua sayapku sendiri. Hadirnya kalian memberiku kekuatan untuk menolak kalah dari pertarungan melawan diriku sendiri ini. Terima kasih untuk separuh sayapku terbang, suamiku tercinta, who deserves a better me. Dalam upaya belajar terbang yang tentu saja melelahkan ini, ia adalah pendukung terhebat. Pada akhirnya, kehadiran kalian, membuatku merasa paripurna. Terima kasih. Matur Suwun. Hatur Nuhun. Thank you. Jazaakumullahu ahsanul jazaa.

Aku seringkali dibuat bertanya pada diri sendiri, hendak bermetamorfosis menjadi kupu-kupu seperti apa. Lalu proses demi proses ini memberiku jawaban. Kupu-kupu yang melewati proses metamorfosis sempurna, berpetualang kemanapun sayapnya mengepak, bermanfaat bagi semua bunga yang ia hinggapi, yang mensyukuri, mencintai dan menerima dirinya sendiri lebih dulu. Meski banyak yang tak sempurna, selalu saja ada yang tak optimal, -bukan Hutan Kupu Cekatan dan segala cerita tentangnya, tapi – aku sebagai individu yang tak sempurna, tak apa. Aku percaya, in every imperfectness, ada beatifulness di sana. Lantas, apakah segala langkah baik berhenti di sini, ketika sayapku telah akhirnya berkembang dan terbang? Tentu tidak. Aku yakin bahwa,

There is always enough light for the one who wants to see.

Selama dan sejauh apapun rasa ingin tahuku untuk melihat cahaya berpendar itu ada, maka aku pasti bertemu pendaran cahaya warna warni kemanapun sayapku mengepak pergi.

Terima kasih Hutan Kupu Cekatan untuk pertualangan separuh tahun-nya. Izinkan aku, dengan kedua sayapku, berpetualang ke tempat-tempat indah lainnya bersama Institut Ibu Profesional. Salam cinta dariku, salah satu Kupu-Kupu yang bermetamorfosis bersama energi dan semangatmu. Terbangku untuk bermanfaat insyaaAllah.

Love, Arri.