Bincang Tantangan Membentuk Karakter dengan Stimulasi Baca Tulis dan Literasi Digital

Bincang Tantangan Membentuk Karakter dengan Stimulasi Baca Tulis dan Literasi Digital

Setelah berhasil menempuh zona Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas di zona 4, para mahasiswi melanjutkan perjalanannya ke zona 5, yaitu Membentuk Karakter dengan Stimulasi Baca Tulis dan Literasi Digital. Para mahasiswi di kelas ini saling berbagi cerita dan keseruan ketika menjalankan tantangan tersebut. Mau tahu bagaimana keseruan para mahasiswi melewati zona ini? Yuk kita simak BinTang atau Bincang Tantangan di kelas bunda sayang IP Jakarta 😊

Mbak Enggusti menyampaikan bahwa zona ini membuat anak-anaknya menjadi rajin membaca buku, padahal awalnya malas dan tidak begitu tertarik. Bahkan, kebiasaan membaca buku ini terus berlanjut setelah tantangan zona 5 selesai.
Ada cerita yang tak kalah seru dari Mbak Basitoh. Ia mencoba meng-upgrade tantangan untuk anaknya yang sudah terbiasa membaca menjadi bercerita. “Alhamdulillah, abang jadi suka menceritakan isi bukunya dengan mengalir begitu saja dan bahasanya mulai runut.”, begitu tutur Mbak Basitoh.
Selanjutnya, ada Mbak Nurindah dan Mbak Afifah yang menceritakan pengalaman yang sama. Anak-anaknya jadi suka mengulangi buku bacaan yang sama hingga hafal isi bukunya, padahal belum bisa membaca.
Tak hanya buku fisik, buku digital pun bisa dijadikan pilihan untuk meningkatkan literasi baca tulis bagi anak. Seperti halnya Mbak Ailyxandria yang membiarkan anaknya memilih sendiri buku bacaan digital yang ia inginkan. Namun, kegiatan ini tetap berada dalam pengawasan orang tua untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti anak browsing sesuatu yang kurang sesuai.

Kalau hanya membaca buku setiap hari, lama-lama kita dan anak akan merasa bosan nggak sih, teman-teman? Nah, ada cerita menarik dari Mbak Vika yang menempuh cara berbeda untuk memotivasi dan membangkitkan semangat membaca. Mbak Vika membuat pohon literasi dengan cara menggambar pohon, kemudian menyiapkan kertas sebanyak mungkin untuk dijadikan bagian daun. Setiap kali selesai membacakan buku untuk anaknya yang belum bisa membaca, Mbak Vika menempelkan daun di pohon tersebut. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin rimbun daunnya, semakin senang pula anaknya ketika melihat pohon tersebut.

Stimulasi ini tidak hanya untuk anak literasi anak, loh. Ada Mbak Rezky Ayu yang berhasil menyelesaikan 2 buku bacaan dan Mbak Ima yang berhasil menyelesaikan 1 buku bacaan selama 15 hari. Tantangan yang dihadapi adalah konsisten membaca walaupun hanya beberapa halaman dan mencari waktu yang pas untuk menyempatkan membaca buku di sela aktivitas yang padat. Mbak Ima juga belajar untuk tidak hanya sekedar membaca, tetapi juga mengikat ilmu melalui tulisan. Membuat poin-poin penting lalu coba merefleksikannya dengan kehidupan sehari-hari.

Dari diskusi ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk meningkatkan literasi baca tulis dan digital pada anak ataupun diri sendiri, bukanlah suatu hal yang instan. Diperlukan konsistensi, bahkan kreativitas supaya kegiatan literasi baca tulis tidak menjadi hal yang membosankan. Selain itu, kita sebagai orang tua juga perlu memberikan contoh nyata bagi anak yang merupakan peniru ulung. Selamat membaca, salam literasi!

Disusun oleh Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta
Penulis: Faizah Khoirunnisaa
Editor: Maria Fatimah
Desain: Winda

Bincang Tantangan Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas

Bincang Tantangan Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas

Bagaimana petualangan para mahasiswi pada zona Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas? Mau tahu bagaimana keseruan para Bunda melewati zona ini? Yuk, kita simak BinTang atau Bincang Tantangan di kelas bunda sayang IP Jakarta. Bincang seru tantangan dan proses belajar selama menjalankan misi. Karena butuh teman yang saling bergandengan tangan dan saling mengingatkan untuk berubah menjadi lebih baik.

Apa saja kegiatan yang bisa menstimulus kreativitas? Apakah harus kegiatan yang unik dan out of the box? Ternyata, tidak perlu bingung mencari aktivitas untuk menstimulasi kreativitas anak. Para Bunda menjadikan aktivitas sehari-hari sebagai stimulus kreativitas, misalnya kegiatan memasak atau menemani anak mengerjakan PR. Selain itu, muncul ide dan inisiatif dari anak, yang membuat para Bunda semakin semangat untuk menjalankan tantangan ini.

Di samping mengidentifikasi tipe belajar anak, di zona ini para Bunda juga belajar bahwa hal sekecil apa pun bisa dijadikan proses untuk menstimulasi kreativitas anak jika direncanakan dengan baik dan dijalankan dengan sadar.

Para mahasiswi kelas Bunda Sayang pun berbagi pengalamannya di acara BinTang ini. Bunda Nita menceritakan anaknya yang memiliki tipe belajar visual dan fokusnya mudah teralihkan ketika melakukan suatu kegiatan. Setelah melewati zona ini, bunda Nita menemukan penyebabnya karena aktivitas tersebut tidak membuat anaknya berbinar, sehingga ia tidak fokus dan tidak bersemangat.

Selain itu, cerita yang tidak kalah menarik dari bunda Ismi. Beliau membuat mesin ATM dari kardus bersama anaknya untuk mengenal uang kertas dan logam. Setelah menjalankan kegiatan ini, Bunda Ismi menyadari bahwa kinestetik bisa menjadi penguat auditori dan visual. Ibaratnya seperti praktikum di laboratorium; setelah membaca materi dan mendengarkan penjelasan, butuh praktek secara langsung supaya ilmunya lebih melekat.

Pada awalnya, di tantangan ini para mahasiswi Bunda Sayang bingung menafsirkan dan mengidentifikasi ICAN (Intellectual Curiosity, Creative Imagination, Art of Discovery & Invention, Noble Attitude) dari aktivitas yang dijalankan karena selama ini mereka memiliki mindset bahwa tujuan belajar untuk mendapatkan nilai bagus di sekolah. Setelah menjalankan tantangan selama 15 hari, para bunda bisa memperbaiki niat dan tujuan belajar.

Dari diskusi ini, kita bisa mengambil banyak hikmah. Adapun cara belajar setiap anak itu berbeda-beda dan tujuan belajar bukanlah sekedar mencari nilai bagus di sekolah. Walau bagaimanapun, ada empat hal tujuan belajar ini, antara lain:

  1. Intellectual Curiosity (meningkatkan rasa ingin tahu)
  2. Creative Imagination (meningkatkan daya kreasi dan imajinasi)
  3. Art of Discovery & Invention (mengasah seni atau cara anak agar selalu bergairah dalam menemukan sesuatu)
  4. Noble Attitude (meningkatkan akhlak mulia)

Disusun oleh Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta
Penulis: Faizah Khoirunnisaa
Editor: Maria Fatimah
Desain: Winda

Bincang Tantangan Cerdas Emosi dan Spiritual

Bincang Tantangan Cerdas Emosi dan Spiritual

Kali ini para mahasiswi memasuki zona cerdas emosi dan spiritual dan ditantang untuk membuat Family Project selama 15 hari. Mau tahu bagaimana petualangan mahasiswi melewati zona ini? Yuk kita simak BinTang  atau Bincang Tantangan di kelas bunda sayang IP Jakarta. Bincang seru tantangan dan proses belajar selama menjalankan misi. Karena butuh teman yang saling bergandengan tangan dan saling mengingatkan untuk berubah menjadi lebih baik.

Apakah hubungan antara family project dengan kecerdasan emosional dan spiritual?

Untuk mencapai sukses dan bahagia dalam hidup, seseorang perlu melatih tiga kecerdasan: kecerdasan intelektual atau Intelligence Quotient (IQ), kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ), dan kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ). IQ membuat seseorang menjadi pandai, EQ membuat seseorang bisa mengendalikan diri, dan SQ memungkinkan hidup seseorang menjadi penuh arti dan memahami posisinya sebagai hamba Tuhan.

Oleh karena itu, pada zona ini mahasiswi ditantang untuk membuat aktivitas bersama anggota keluarga supaya mencapai tujuan yang di tetapkan bersama, sehingga pada akhirnya bisa meningkatkan EQ dan SQ. Para mahasiswi pun memilih satu sahabat terbaik di dalam keluarga untuk sama-sama menjalankan family project ini.

Bagaimana kesan para mahasiswi selama menjalankan family project ini? Apakah berjalan dengan lancar dengan ide project yang ada? Bagaimana menyiasati tantangannya?

Banyak mahasiswi yang menjadikan anak sebagai sahabat terbaiknya di zona ini. Pada awalnya, mereka kebingungan mau mengajak main apa sampai memikirkan konsep yang terlalu ruwet. Eh, ternyata anak sudah punya konsep mainan sendiri, jadi orang tua cukup menyesuaikannya.

Tips yang bisa diterapkan ketika menjadikan anak sebagai sahabat orang tua adalah miliki cinta dan kepercayaannya. Ketika hal tersebut sudah didapatkan, orangtua menjadi lebih mudah untuk mengarahkan anak dan mengimplementasikan nilai-nilai yang sudah dirancang.

Tak hanya bermain, kegiatan sederhana yang dilakukan sehari-hari pun bisa dijadikan family project. Misalnya belajar atau muroja’ah harian, memasak, dan merapikan barang ala konmari yang melibatkan anak. Hal penting yang harus diperhatikan adalah konsistensi dan intonasi ketika berinteraksi dengan anak. Sebagai orangtua, jangan memberikan kesan menyuruh anak, tetapi ajaklah anak untuk mengerjakan bersama. Dengan begitu, kegiatan sederhana pun bisa membuat tangki cinta anak menjadi penuh.

Selain anak, ada beberapa mahasiswi yang menjadikan suami, teman, ibu, dan anggota keluarga lain sebagai sahabat. Family project yang dilakukan pun beragam, mulai dari bermain bersama keponakan, quality time dengan suami, hingga mengajarkan hafalan dan doa sehari-hari kepada anak-anak di lingkungan sekitar.

Pelajaran apa saja yang berkesan di hati para mahasiswi setelah melewati zona ini?

Hikmah dan pelajaran yang didapatkan para mahasiswi setelah menjalankan family project selama 15 hari, antara lain:

  1. Family project bersama sahabat terbaik bisa dimulai dari kegiatan yang sederhana. Kuncinya adalah menjalankan aktivitas dengan mindfulness yang secara tidak langsung mengandung EQ dan SQ di dalamnya.”
  2. Sifat tauhid dapat diterapkan pada anak melalui kegiatan sehari-hari yang sederhana.
  3. Manajemen emosi adalah hal penting yang tidak boleh disepelekan. Karena project ini melibatkan orang lain sebagai sahabat, kita perlu mengelola emosi diri sendiri dan sahabat agar project berjalan dengan baik. Di sini, komunikasi produktif memegang peran yang sangat penting. Karena ketika kita menghadapi segala sesuatu dengan sabar dan emosi yang terkendali, insya Allah kondisi apa pun bisa dihadapi dengan baik, termasuk ketika emosi sahabat sedang meninggi.
  4. Manusia hanya bisa membuat rencana. Pada akhirnya, Allah yang menentukan proses keberjalanan dan hasilnya.

Kesimpulannya, keberhasilan seseorang tidak hanya terletak pada kecerdasan intelektual belaka, tetapi juga kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Family project ini adalah salah satu ikhtiar beraktivitas dengan anak-anak untuk meningkatkan EQ dan SQ mereka. Pada dasarnya semua anak terlahir cerdas, namun kecerdasan perlu dimaknai agar bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Disusun oleh Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta
Penulis: Faizah Khoirunnisaa
Editor: Maria Fatimah
Desain: Winda

 

Bincang Tantangan Kemandirian

Bincang Tantangan Kemandirian

Bagaimana petualangan di zona melatih kemandirian? Capek? Seru? Tetapi juga menyenangkan ya. BinTang  atau Bincang Tantangan di kelas bunda sayang IP Jakarta. Bincang seru tantangan dan proses belajar selama menjalankan misi. Karena butuh teman yang saling bergandengan tangan dan saling mengingatkan untuk berubah menjadi lebih baik.

Para mahasiswa di kelas ini saling berbagi cerita dan keseruan ketika menjalankan misi tersebut. Mbak Lia Yulia menyampaikan, “Seru, deg-degan, karena bisa melatih kesabaran orang tua. Lain cerita dengan mbak Enggusti yang katanya seru dan kadang-kadang membuat kepala orang tuanya nyut-nyutan. Mbak Rezky pun memaparkan bahwa dari kegiatan ini ia belajar sabar dan meminimalisir membantu anak serta menjadi teladan adalah cara yang terbaik untuknya.

Kemandirian anak yang ingin dilatih orang tua pun berbeda setiap usianya. Ada yang masih berjuang dengan toilet training, makan sendiri, merapikan baju, serta membangun kebiasaan akan kemandirian terhadap jadwal belajar maupun jadwal harian lainnya. Mbak Elvira pun bercerita bahwa kini mereka sudah mulai terpikat untuk mencuci piring. Walaupun setelah itu, ada banjir lokal di rumah, hehe. Anak-anak juga ketagihan untuk diberikan kepercayaan dan kesempatan oleh orang tuanya. Loh, bagaimana bisa?

Ada pengalaman menggelikan dari mbak Lia Yulia. Ketika bundanya sedang melatih kesabarannya, anak yang umur 4 tahun saat ini setiap selesai mandi bisa menjemur handuk sendiri. Bagaimana kalau anak berkeinginan menjemur handuk harus simetris. Kiri dan kanan itu sama panjangnya. Tidak boleh ada yang satu panjang dan satunya pendek. Dari proses menjemur handuk aja bisa lama banget. Seru ya!

Pengalaman yang tidak kalah seru juga diceritakan oleh mbak Ima Umaimah. Ia berencana ingin mengasah bakat kemandirian finansial anak sulungnya dengan mengajarkan berdagang di depan rumah. Ternyata, anaknya pun antusias banget dari pagi sampai sore. Sampai-sampai, Ananda tidak mau beranjak dari dagangannya. Apa saja barang yang dijualnya? Cukup dagang makanan kecil. Alhamdulillah hasilnya pun lumayan.

Kemandirian ini tidak hanya untuk anak-anak, loh. Kemandirian juga bisa sebagai sarana latihan bagi orang dewasa. Bagaimana caranya? Mbak Azhimah berbagi tips dengan bersikap lebih tegas kepada diri sendiri. Berani untuk berkata “tidak” kepada orang lain. Dan jangan lupa untuk mengucapkan rasa terima kasih sama ke diri sendiri karena sudah berjuang sejauh ini.

Apakah semuanya berhasil menjalankan tantangan di misi ini? Pernah merasa lelah ketika menjalankannya? Mbak Kie turut berbagi pengalamannya. Pernah merasa terbiasa dengan keadaan dan lelah melakukan pengulangan kemandirian. Idealnya, orang tua jangan bosan untuk melatih anak. Karena semakin sering latihan, mereka akan semakin mahir melakukannya. Walapun begitu, tetap bahagia karena melihat perkembangan anak-anak yang luar biasa tiap harinya. Semoga ibu-ibu di sini selalu semangat menemani anak-anak. Walaupun dalam masa pandemi, sehat selalu semua, peluk.

Berikut ini tips dari para mahasiswi bunda sayang ini ketika melatih kemandirian anak ini, yaitu:

  1. Kita tidak memaksa anak agar seperti yang diinginkan orang tua. Karena semua butuh proses dan tidak ada yang instan.
  2. Orang tua belajar memposisikan diri sebagai anak agar mampu melihat bahwa mereka sedang di dalam proses belajar.
  3. Memohon kemudahan dan kebaikan kepada Allah SWT dalam menjalankannya.
  4. Tetap bahagia dan semangat menemani perkembangan anak. Karena anak-anak mengalami perkembangan yang luar biasa setiap harinya.

Dari diskusi ini, kita dapat mengambil sebuah kebaikan di dalamnya. Setiap orang tua maupun anak-anak punya keunikan masing-masing. Tantangan yang dihadapi pun berbeda-beda setiap keluarga. Selalu ada cerita dalam setiap prosesnya yang bisa diambil hikmahnya. Tantangan kemandirian ini dimulai saat orang tua berkomunikasi positif ke diri sendiri. Untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bekerja dengan cara mereka.

“Sebagaimana orang dewasa yang butuh 10.000 jam terbang untuk menjadi ahli, anak-anak pun butuh waktu untuk meningkatkan jam terbangnya untuk mejadi seorang yang ahli. Baik itu ahli untuk makan sendiri, ahli membersihkan dirinya, ahli beberes rumah, dan ahli lainnya. Bersemangat menemani anak-anak memulai 0 km untuk merawat dan memenuhi kebutuhan mereka sendiri hingga mampu mendelegasikan ke pekerjaan rumah. Benar kata kakawi untuk terima dan hargai prosesnya. Kelak mereka akan semakin terampil dengan kemampuannya.”, Ismi.

Salam Ima_Maria Fatimah dari HIMA Jakarta

Bincang Tantangan Komunikasi Produktif

Bincang Tantangan Komunikasi Produktif

Apa itu BinTang? Apakah Bintang yang jatuh dari langit?

BinTang memiliki kepanjangan Bincang Tantangan. Bincang seru tantangan dan proses belajar selama menjalankan misi di kelas bunda sayang. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan lingkungan yang positif ketika sama-sama berjuang. Karena butuh teman yang saling bergandengan tangan dan saling mengingatkan untuk berubah menjadi lebih baik.

Bagaimana rasanya telah melalui 15 hari tantangan di level 1? Melakukan komunikasi produktif secara konsisten setiap hari. Dengan melakukan komunikasi produktif ke anak, pasangan, atau orang dewasa lainnya. Para mahasiswa kelas bunda sayang batch 6 Jakarta, berbagi cerita dan pengalamannya melalui BinTang.

Apa kata mereka selama 15 hari menjalankan komunikasi produktif? Apakah bisa secara konsisten melakukannya? Bagaimana menyiasati tantangan yang ada?

Melakukan komunikasi produktif dengan anak itu sungguh luar biasa. Tantangan yang muncul terkadang ada pada orang tua. Padahal ketika melakukan komunikasi produktif, mereka hanya butuh didengar dan diajak berkomunikasi. Memilih kata-kata yang baik lalu memperhatikan intonasi suara pun juga memiliki peran dalam berkomunikasi dengan anak.

Adakah tips bagi orang tua agar dapat menjalankannya? Ada dong. Kuncinya adalah bersikap tenang dan berpikir waras. Kalau orang tuanya tenang, masalah apa pun akan beres. Tentunya ini juga mendukung untuk bisa berpikir dengan jernih. Biasanya kalau orang tua lapar, itu mudah tersulut emosi. Untuk itu, wajib hukumnya untuk makan, agar hati senang.

Proses belajar selanjutnya dari para mahasiswa ini adalah mengetahui karakter anak yang berbeda usia. Misalkan si kakak usia 7 tahun sedangkan adik berusia 2 tahun. Karakter dan cara menghadapinya pun berbeda. Juga pentingnya Anda untuk mengubah pola pikir ke sudut pandang anak. Anak-anak senang bermain. Karena itu apa yang mereka lakukan sehari-hari merupakan proses belajar dengan cara bermain.

Hal yang tak kalah penting ketika berkomunikasi dengan anak adalah melakukan manajemen waktu dengan baik. Ketika orang tua tanpa sadar melanggar jadwal yang sudah dibuat, bisa jadi pekerjaan menjadi bertumpuk. Emosi pun muncul ketika Anda bingung dengan apa yang harus dikerjakan lebih dulu. Karena menganggap semuanya itu penting untuk dikerjakan. Dengan demikian, manajemen waktu adalah kunci. Lalu secara sadar melakukan gas dan rem pada tempatnya.

Apakah diskusi ini selalu tentang komunikasi produktif dengan anak? Bagaimana jika yang menjadi lawan bicara adalah orang dewasa? Adakah tips yang bisa dilakukan?

Berkomunikasi produktif dengan orang dewasa juga tak kalah penting. Ngobrol sambil melihat hp, tidak melihat situasi, sampai pada ngobrol tanpa ada tujuan alias basa-basi itu bisa jadi tantangan loh. Kelihatannya sederhana namun bisa menjadi masalah.

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa perlu mendahulukan empati dan perhatikan diksi. Butuh fokus dengan melakukan eye contact. Kenali lawan bicaramu, apakah ia orang yang lebih tua, teman sebaya, pasangan, atau adik yang lebih muda. Tata bahasa yang digunakan pun berbeda-beda ya. Kata-kata yang positif akan membawa energi yang positif.

”Communication is the key”.

Dengan melatih diri untuk melakukan komunikasi produktif, Anda pun berlatih mengontrol emosi ketika berbicara. Kita pun bertanggung jawab dengan pesan yang kita sampaikan. Kalau bukan kita, siapa lagi?

COUPLEPRENEUR: Ketika Suami Istri Memutuskan untuk Berbisnis Bersama

COUPLEPRENEUR: Ketika Suami Istri Memutuskan untuk Berbisnis Bersama

Ada yang sedang menjalankan bisnis dengan suami? Atau ada yang sedang berproses menuju ke sana? Kalau ya, selamat karena Anda akan tergabung menjadi couplepreneur club. Ya, itu adalah istilah kekinian bagi suami istri yang memutuskan untuk menjalankan bisnis bersama.

Mungkin akan timbul banyak pertanyaan soal couplepreneur ini. Bagaimana sih rasanya menjalankan bisnis dengan suami? Enak nggak? Susah apa mudah? Lalu apa yang harus dipersiapkan supaya bisa berjalan lancar? Bagaimana juga caranya supaya bisnis bisa berjalan baik tanpa menganggu kehidupan rumah tangga dan waktu bersama anak-anak?

Semua pertanyaan itu terjawab dari sesi ngobrol santai yang diadakan dalam WAG kelas Bunda Sayang #6 IIP Bekasi dalam program bernama “Pajamas Party” belum lama ini.

Selama dua kali pertemuan, kami melalukan diskusi yang cukup seru dengan mengundang dua mahasiswi Bunda Sayang yang sudah menjalankan bisnis bersama suami untuk membagi kisahnya. Mereka adalah mbak Ariny dan mbak Nada. Keduanya sekarang sudah sukses menjalankan bisnis pakaian muslim anak dengan memiliki merk sendiri. Masya Allah, keren ya?

Bagaimana mereka bisa sesukes itu? Ternyata kedua perempuan hebat itu sama-sama memulai bisnis dengan menjual produk orang lain dahulu. Dropship atau reseller istilahnya. Setelah berjalan baik, mempunyai pangsa pasar yang bagus, bisa mengumpulkan modal banyak, mereka akhirnya memutuskan untuk membuat produk sendiri. Alhamdulillah mereka bertemu konveksi yang baik untuk bekerja sama hingga bisa berjualan dengan merk pakaian muslim anak milik sendiri.

Apakah untuk bisa sampai ke titik sekarang, semuanya berjalan mudah? Tentu tidak. Baik mbak Arini atau mbak Nada sama-sama mengatakan bahwa proses ini tidak mudah. Mereka perlu menjalani beragam proses yang menguji ketangguhan mereka dalam berbisnis. Mbak Arini pun memberikan nasihat, jika merasa lelah dalam berdagang, ingat kembali tujuan awalmu untuk berdagang itu apa. Wah, betul sekali ya?

Dalam berbisnis keduanya juga sepakat bahwa suami dan anak-anak tetap lah prioritas utama dalam berbisnis bersama di rumah. Meski istri memiliki banyak ide dan kemampuan soal bisnisnya, tetapi kendali utama tetap berada di suami dan anak tetap menjadi fokus perhatian.

Bukankah berbisnis dengan suami biasanya akan mudah menimbulkan konflik dalam rumah tangga? Tidak jika semuanya sepakat untuk mau meluangkan waktu bersama, berbicara. Mbak Nada dan Mbak Arini selalu menyempatkan waktu untuk berbicara berdua dengan suami. Biasanya setelah anak-anak tidur malam. Di waktu itulah mereka menggunakan kebersamaan dengan suami untuk membicarakan banyak hal. Mulai dari diskusi produk, rencana bisnis kedepan, melakukan evaluasi atas apa yang sudah dilakukan, atau bahkan menyiapkan segala urusan produksi dan packing secara gotong royong. Ini kerja tim yang sekaligus sebagai pengisi waktu yang berkualitas bersama suami kan?

Lalu jika kita bisnis, bagaimana soal pekerjaan domestik? Apa kita bisa tetap melakukannya dengan baik? Untuk hal ini mbak Ariny memutuskan untuk dibantu oleh ART. Beliau memilih menggunakan waktunya untuk fokus berbisnis dan membersamai anak. Hal ini kiranya juga perlu diperhatikan bagi pasangan sebelum memulai bisnisnya agar tidak terjadi konflik. Entah menggunakan pihak kedua, dikerjakan gotong royong dengan suami, semuanya harus dibicarakan juga.

Lalu apa bisnis yang kiranya cocok dikerjakan dengan bersama suami istri? Mbak Nada memilih berjualan pakaian muslim karena berkaitan dengan pekerjaan suaminya sebagai pengajar di pensantren. Sedangkan menurut mbak Ariny, jika tak bisa membuat produk maka berjualanlah dulu dengan produk orang lain. Bisa beragam merk juga, yang penting fokus dan konsisten untuk berjualan. Karena itu faktor yang utama dalam berbisnis.

Nah, kalau kamu berminat berbisnis dengan suami juga kah, Mom? Jika ya, mau berjualan apa? Apapun itu, yang terpenting dicoba dulu. Kita tak pernah tahu akan bisa sukses atau tidak jika tak mencoba kan? Lalu pilih lah yang kiranya sanggup dijalani dengan fokus dan kosisten. Karena tugas utama kita tetap sebagai istri dan ibu. Betul?

Salam,
Putri dari Bekasi 😊