Memahami Sustainable Development Goals (SDG)

Memahami Sustainable Development Goals (SDG)

Memahami Sustainable Development Goals (SDG)
Memahami Sustainable Development Goals (SDG)

Apa itu SDG?

Apakah anda termasuk warga negara yang rutin menyoroti program pembangunan pemerintah?

Bila iya, tentu sudah tak asing dengan singkatan SDG

Secara garis besar, SDG merupakan satu panduan progam bersama yang dihasilkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Panduan ini ditujukan bagi negara-negara anggotanya dalam satu kesatuan langkah untuk mencapai pembangunan yang mensejahterakan, berkeadilan dalam konsep kesetaraan bedasarkan hak asasi manusia.

25 September 2015 bertempat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), para pemimpin dunia secara resmi mengesahkan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) sebagai kesepakatan pembangunan global. Kurang lebih 193 kepala negara hadir, termasuk Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla turut mengesahkan Agenda SDG.

Dengan mengusung tema “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”, SDG yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDG berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDG.

Prinsip SDG

Tidak Meninggalkan Satu Orangpun (Leave No One Behind)

Tidak Meninggalkan Satu Orangpun merupakan Prinsip utama SDG. Melibatkan semua warga negara, semua pihak dalam program pembangunan berkelanjutan. Harapannya semua warga bangsa memiliki kewajiban moral berperan aktif mensukseskan pembangunan dengan peran dan potensi masing-masing.

Keadilan Prosedural yaitu sejauh mana seluruh pihak terutama yang selama ini tertinggal dapat terlibat dalam keseluruhan proses pembangunan. Keadilan Subtansial yaitu sejauh mana kebijakan dan program pembangunan dapat atau mampu menjawab persoalan-persoalan warga terutama kelompok tertinggal.

Memahami Sustainable Development Goals (SDG)
Tujuan Sustainable Development Goals (SDG)

Tujuan SDG

Terdapat 17 tujuan Pembangunan Berkelanjutan

  1. Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dimanapun
  2. Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian berkelanjutan
  3. Memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia
  4. Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua
  5. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan
  6. Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua
  7. Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua
  8. Mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, tenaga kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua
  9. Membangun infrastruktur yang tangguh, mendukung industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan dan membantu perkembangan inovasi
  10. Mengurangi ketimpangan didalam dan antar negara
  11. Membangun kota dan pemukiman yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan
  12. Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan
  13. Mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya*
  14. Mengkonservasi dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya laut, samudra dan maritim untuk pembangunan yang berkelanjutan
  15. Melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi desertifikasi (penggurunan), dan menghambat dan membalikkan degradasi tanah dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati
  16. Mendukung masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun institusi-institusi yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua level
  17. Menguatkan ukuran implementasi dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan

Baca juga:

Mengenal Sustainable

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Konferensi Ibu Pembaharu mendukung SDG

Konferensi Ibu Pembaharu
Konferensi Ibu Pembaharu

 

Komunitas Ibu Profesional memasuki 1 Dekade di tahun ini. Memperingati momen tersebut maka diselenggarakan Konferensi Ibu Pembaharu. Konferensi yang menyoroti topik pemberdayaan perempuan #darirumahuntukdunia dalam mendukung tercapainya Sustainable Development Goal (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan no. 5.

Sustainable Development Goal (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan no. 5 yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan. Bentuk dukungan dan kontribusi kita, sebagai perempuan, terhadap tujuan SDGs no. 5 ini tentunya beragam sesuai kapasitas masing-masing. Mengarah pada capaian target yang telah ditetapkan seperti yang dituliskan oleh https://www.sdg2030indonesia.org/.

Bentuk-bentuk dukungan di bawah ini bisa kita jalani sesuai peran kita sebagai perempuan, istri dan atau ibu, antara lain:

  1. Mengenal diri sendiri, agar paham cara mengembangkan kapasitas diri sehingga menjadi individu yang berdaya dan bahagia
  2. Mendukung gerakan ibu inklusif. Bersama-sama menciptakan ruang yang aman dan nyaman untuk semua perempuan dengan berbagai latar belakang untuk berdaya dan berkarya.
  3. Menghormati dan menghargai semua perempuan, apapun perannya. Baik itu yang bekerja di ranah domestik (ibu rumah tangga)  maupun yang bekerja di ranah publik. Karena semua ibu itu bekerja. Tidak memandang satu peran lebih tinggi dibanding lainnya
  4. Menguasai teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana meningkatkan pemberdayaan perempuan.
  5. Peduli dan dukung pemberdayaan disabilitas
  6. Menguasai ilmu-imu dasar mendidik anak dan mengelola keluarga sehingga mampu membangun keluarga yang unggul dan luhur
  7. Berpartisipasi aktif dalam penegakan norma-norma hukum dan sosial yang berlaku dalam bermasyarakat dan berbangsa.
  8. Berkontribusi aktif sesuai potensi diri dalam lini pemerintahan dan penegakan hukum.

Atau anda mempunyai bentuk dukungan lain yang lebih sesuai dengan kapasitas diri?

Mari berbagi dan bersinergi dengan para perempuan, para ibu pembaharu yang memiliki cara unik berkontribusi bagi negeri. Bersama-sama membangun ekosistem para pembaharu yang beraksi memberi solusi dan kontribusi terbaik bagi negeri. Tertarik mengikutinya? Daftarkan diri anda dan dapatkan informasi lengkapnya di https://www.ibuprofesional.com/ dan media sosial Ibu Profesional. Konferensi Ibu Pembaharu diselenggarakan pada tanggal 18-22 Desember 2021 dan terbuka untuk umum, untuk semua perempuan. Konferensi meliputi webinar, talkshow, workshop dan ekshibisi serta diskusi di sela-sela sesi. Konferensi.

Yuk, jangan ragu mendaftar dan mengikutinya guna memahami makna SDG dan menentukan kontribusi yang tepat untuk berkolaborasi di dalamnya!

 

#1dekadeIbuProfesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu

#ibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia

#challengeILUSTRA

 

 

Mengenal Sustainable

Mengenal Sustainable

Mengenal Sustainable

Mengenal Sustainable

Makna Sustainable

Sustainable adalah satu kata yang kerap ditulis, dibicarakan khalayak, dewasa ini. Lebih terkenal dan kerap dipakai daripada kata terjemahannya, yakni: berkelanjutan. Kesannya, terdengar lebih keren dan atau lebih familiar saja  ditelinga.

Saya pribadi benar-benar menangkap kata tersebut saat menyaksikan Obrolan Dapur Ibu di IPedia TV, salah satu kanal favorit di You Tube. Saat itu awal pandemi, awal-awal episode program yang dipandu oleh Ibu Septi Peni Wulandani. Menarik sekali, selain judul yang belum familiar saya dengar, bintang tamu saat itu dihadirkan dari negeri Sakura. Seorang perempuan Indonesia yang sedang studi di negeri Jepang.

Bahasannya seputar environment dan sustainable yang diterapkan di Jepang dan di Indonesia. Dari sana saya menangkap bahwa sustainable erat kaitannya dengan lingkungan. Tak lama berselang, kenal juga dengan istilah sustainable living, dalam kelas berbenah berbayar yang saya ikuti. Menguatkan stigma sepihak bahwa sustainable seputar lingkungan dan keselarasan dengan alam.

Akhir-akhir ini, ditemukan lagi frase yang mengikuti kata sustainable, yakni development. Saya menemukannya dalam banyak notice dan show road to Konferensi Ibu Pembaharu. Makin bikin kepo, apa itu sustainable.

Menurut Kamus Bahasa Inggris Terjemahan Indonesia, arti kata sustainable adalah berkelanjutan. Sustainable Development artinya Pembangunan Berkelanjutan

Menurut Wikipedia, Sustainable Development atau Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan hidup masa sekarang dengan mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan hidup generasi mendatang. Prinsip utama dalam pembangunan berkelanjutan ialah pertahanan kualitas hidup bagi seluruh manusia di masa sekarang dan di masa depan secara berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan dilaksanakan dengan prinsip kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, dan pelestarian lingkungan

Makna Sustainable Development Goals (SDG)?

Sustainable Development Goals (SDG) atau tujuan pembangunan berkelanjutan merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan.

Rencana aksi ini kini gencar digaungkan dan diterapkan dalam setiap lini pembangunan bangsa. Tidak hanya bangsa Indonesia namun juga kurang lebih 193 bangsa lain di dunia.

SDG yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), . SDG berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDG.

Baca juga:

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Tomorrow is Today

Komunitas Ibu Profesional mendukung tercapainya SDG

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

 

Komunitas Ibu Profesional memasuki 1 Dekade di tahun ini. Memperingati momen tersebut maka diselenggarakan Konferensi Ibu Pembaharu. Konferensi yang menyoroti topik pemberdayaan perempuan #darirumahuntukdunia dalam mendukung tercapainya Sustainable Development Goal (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan no. 5. Yakni, mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan.

Topik tersebut akan terus dibahas dan dibicarakan bersama 6 isu utama yang related, dalam Konferensi Ibu Pembaharu. Meliputi webinar, talkshow, workshop dan ekshibisi serta diskusi di sela-sela sesi. Konferensi diselenggarakan pada tanggal 18-22 Desember 2021 dan terbuka untuk umum, untuk semua perempuan. Tertarik mengikutinya? Daftarkan diri anda dan dapatkan informasi lengkapnya di http://www.ibuprofesional.com dan media sosial Ibu Profesional.

 

 

#1dekadeIbuProfesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu

#ibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia

#challengeILUSTRA

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Cerita Emosional

Suatu ketika saya dibuat bingung oleh si bungsu yang tetiba raut wajahnya terlihat sedih dan berusaha menahan air mata saat menonton suatu tayangan. Langsung saja kuraih dan kugendong dia, sambil dielus-elus punggungnya. Air mata tak terbendung lagi, hingga menangis sesenggukan. Ku tunggu hingga isak tangisnya mereda, kemudian kuberi separuh gelas air putih untuk melonggarkan kerongkongannya yang mungkin merasa tercekat karena tangisan. Saat terlihat sudah tenang, barulah kucoba selidiki:

“Dedek… kenapa kok menangis, nak?” tanya Bunda

“Dedek sedih…Dedek ingat Boy yang hilang, Bun” ungkapnya. 

Boy adalah seekor kucing. Sebenarnya bukan kucing peliharaan kami, dia kucing liar yang datang dan pergi sesuka hati. namun karena tiap hari kami beri makanan dari sisa konsumsi kami berupa tulang dan kepala ikan/ ayam. Akhirnya Boy sering datang ke rumah kami, untuk makan, tidur atau sekadar bermain di teras rumah. 

Sepintas kulihat TV terpampang tayangan tentang seekor anjing

“Dedek merindukannya?” tebak Bunda

Dedek hanya mengangguk-angguk di gendonganku

“Kenapa dedek tiba-tiba ingat sama Boy?” selidik Bunda karena sudah sebulan lebih Boy tidak datang, dan tak lagi dicari oleh anak-anak.

“Dedek kasihan liat anjing itu di TV, mencari tuannya” jelas balitaku yang berusia 3 tahunan. 

“Ohh…dedek jadi kasihan sama Boy juga ya?” 

“Iyaa bun….pasti Boy juga bingung cari rumah kita” Dedek menduga kucing tersebut tidak pernah datang lagi ke rumah karena tersesat atau mainnnya terlalu jauh.

“Mungkin yaa dek… Boy itu kucing yang udah besar kok, jadi dia tau caranya cari makan sendiri, pulang ke rumahnya sendiri” Jelas Bunda

“Tapi kenapa dia tidak pulang lagi ke rumah dedek?” tak hentinya dedek penasaran.

“Mungkin Boy mainnya jauh-jauh dan punya rumah baru, dek…kucing senang kok main dan jalan-jalan jauh” jawab Bunda coba menenangkannya lagi.

Dedek masih terlihat sedih, menopang dagu di pundak Bunda.

“Kalo ada kucing lain yang datang kita kasih makan yaa, biar dia senang main ke rumah dedek dan main bareng dedek, oke?!”

Dedek hanya mengangguk-angguk dengan raut wajah yang masih sedih. Tak putus ku elus-elus punggung dan memeluknya.

 

Ekspresi Emosi

Emosi merupakan bentuk komunikasi anak dengan orang lain. Ekspresi emosi yang ditampilkan anak, memperlihatkan kebutuhannya, keinginannya, harapannya dan perasaannya kepada orang lain, khususnya kepada orang tua. 

Perilaku emosi anak dipengaruhi oleh penilaian lingkungan sosial mengenai dirinya dan penilaian diri anak terhadapa dirinya sendiri. Masih banyak orang tua yang mengaitkan perasaan tidak menyenangkan (marah, sedih, sensitif, iri, kesal) dengan watak anak yang buruk. Si adik yang mudah trenyuh dan menangis saat situasi haru, dilabeli cengeng. Atau si kakak yang suka isengin dan godain si adik, hingga adiknya jengkel disebut anak nakal. Hal ini tentu mempengaruhi konsep diri anak. Anak akan cenderung bertindak sesuai label yang disematkan pada dirinya. 

Emosi biasanya dikaitkan dengan perasaan marah. Padahal bukan hanya itu, emosi merupakan perasaan seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau sesuatu. Emosi bisa perasaan yang menyenangkan, bisa juga yang tidak menyenangkan. Seyogyanya orang tua menerima emosi tidak menyenangkan anak seperti halnya menerima emosi yang menyenangkan (bangga, bahagia, riang). Anak akan merasa diterima saat orang tua mau menerima emosinya, menghargai kondisinya dan memberikan respon yang tepat. Pada saat kita berusaha untuk menerima emosinya, mungkin tak lama anak belajar menenangkan perasaannya. Kemudian dia akan mampu berpikir untuk mengenali perasaannya, mengaturnya dan berusaha menyelesaikannya. 

Kenali dan Terima Emosi

Bantu anak mengenali dan memahami apa yang sedang dia rasakan. Latih dia untuk mengatur/mengelola perasaannya, mengekspresikannya dengan tepat dan menyelesaikan sendiri masalahnya. Kunci sukses untuk bisa melatih anak supaya mampu mengekspresikan. mengkomunikasikan perasaan/emosinya dengan tepat adalah mendengarkan anak. Belajar berempati mendengarkan anak. Terlihat mudah, mendengarkan. Namun pada kenyataanya banyak orang tua yang justru over reaktif merespon emosi anak, terutama saat anak mengekspresikan emosi tidak menyenangkan (marah, menangis, kesal). Alih-alih mendengarkan, orang tua justru ikutan emosi. 

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua agar mampu menjadi pendengar yang berempati terhadap anak-anak, yakni:

  1. Menggunakan panca indera kita untuk mengenali dan mengamati petunjuk serta isyarat fisik dari emosi anak (lihat raut muka, suaranya, desahan nafasnya, gerak tubuhnya)
  2. Menggunakan imajinasi kita melihat situasi dari sudut pandang anak (bayangkan kita berada di posisi anak)
  3. Menggunakan kata/ungkapan yang tepat untuk melabeli perasaan anak/memberi nama emosi  (contoh: Kakak kesal yaa harus remedi ulangan lagi?)
  4. Menggunakan hati untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak.

 

Baca juga:

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Selebrasi Gabungan HIMA Jakarta

 

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Modal Kesuksesan

Modal Kesuksesan

Pengulangan respon emosi anak yang terus berproses ini akan menjadi kebiasaan dan bisa menetap menjadi karakternya. Kemampuan mengelola emosi setiap anak tentu berbeda-beda. Tergantung dengan usia, pola asuh, bakat dan kondisi/situasi lingkungan. Karena itu pengelolaan emosi anak harus terus dilatih. Untuk melejitkan kecerdasan emosional  anak.

Bersama dengan kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional anak berperan besar menentukan kesuksesan anak kelak. Kecerdasan emosional membuat  anak mampu memahami kondisi dan perasaan dirinya sehingga bisa mengambil tindakan positif sebagai respon tersebut. Serta mampu merasakan perasaan orang lain (berempati) dan bisa meresponnya dengan tepat. Anak yang sulit diatur kebanyakan karena pengendalian dirinya lemah sebab kecerdasan emosionalnya tidak diasah.

Anak yang cerdas secara emosional anak mampu mengendalikan diri. mengatur diri, mengarahkan diri pada tujuan hidupnya. Sebuah modal besar menuju kesuksesannya. Kesuksesan seseorang ditentukan oleh 80% kecerdasan emosional, sosial dan spiritual,  sedang kecerdasan intelektual porsinya 20% saja (Golemen, 1995).

Berbagai aktivitas keseharian dan interaksi dengan orang tua dan lingkungan sekitar pastinya akan memunculkan beragam emosi pada anak. Pada masa inilah, kita asah kecerdasan emosionalnya dengan cara-cara yang tepat, seperti uraian diatas. Bukan hanya mengutamakan pembelajaran akademis, dengan menyuruh anak les ini itu, berharap anak dapat nilai akademis yang bagus, juara kelas dan berprestasi. Hendaknya orang tua juga banyak menstimulasi kecerdasan emosionalnya dengan sering bermain bersama anak, mengobrol, membersamai anak saat bermain bersama temannya, bersama anak mengeksplorasi lingkungan dan lain sebagainya. 

 

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

Banyak kisah emosional dan inspiratif yang dibagi oleh para ibu pembaharu dalam  Konferensi Ibu Pembaharu dalam mendidik dan mengasuh anak, bahkan mengelola perasaan dirinya sendiri, hingga menjadi sukses berdasar parameternya. Ini adalah isu keempat yang diangkat dalam Konferensi Ibu Pembaharu, tentang perempuan dan perannya dalam pendidikan/pengasuhan anak. 

Ibu Pembaharu adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidup, sehingga bisa menciptakan solusi untuk masalah tersebut. Solusi yang terbaik untuk dirinya dan lingkungannya. Setiap ibu punya cerita/tantangan yang unik, yang mungkin bisa kita jadikan contoh, referensi dan menambah sudut pandang. 

Tertarik menyimak tantangan-tantangan para ibu pembaharu? Mari temui, simak tantangan para ibu pembaharu beserta solusi terbaiknya dalam Konferensi Ibu Pembaharu pada tanggal 18-24 Desember 2021. Bukan hanya tantangan tentang pendidikan/pengasuhan anak, lho! Nantinya juga akan ada cerita tantangan isu-isu lain (5 isu) yang related dengan kehidupan perempuan dan ibu. Infomasi dan pendaftaran selengkapnya bisa kunjungi website www.ibuprofesional.com dan media sosial Ibu Profesional. 

 

Referensi: 

Komunitas Institut Ibu Profesional, 2013, Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak, Gazza Media

 

#1dekadeIbuProfesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu

#ibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia

 

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Menularkan Kegemaran Bersedekah

Ada satu cara sedekah yang suka saya kerjakan sejak dulu kala dan terus saya tularkan pada anak. Yakni, tidak mengambil uang kembalian saat membeli suatu produk/jasa. Misalnya saat membeli 3 bakpao seharga 9 ribu, uang kembalian seribu saya tolak saat dikembalikan. Atau saat membeli boneka si dedek di pasar seharga 45 ribu, saya beri 50 ribu tanpa mengambil uang kembaliannya. Terlihat ‘kecil’ memang sedekahnya, namun hal ini rutin saya kerjakan.

Pada pedagang yang sering lewat rumah, seperti pedagang bakpao, angsle, tahu, sayur, jamu, dan lain-lain. Namun untuk pedagang yang saya temui di luar kompleks rumah biasanya saya beri lebih banyak, melihat kondisi si pedagang juga, tentunya. Pernah suatu waktu, bertemu pedagang cobek batu yang berjalan. Terlihat berat membawa beberapa cobek batu tersebut karena terlihat si pedagang sudah lanjut usia, saya tanya, katanya berasal dari Kebumen, luar kota. Iba saya dibuatnya, jauh-jauh dari Jawa Tengah, membawa dagangan yang (mungkin) jarang dibeli orang. Tanpa mikir panjang, saya beli satu cobek (walau sebenarnya tidak butuh  cobek saat itu) dan saya beri uang lebih banyak dari harga jualnya. Anak saya bertanya, kenapa beli cobek itu padahal saya jarang banget masak dengan bumbu uleg, sebagian besar pakai bumbu jadi. Saya ceritakan bahwa saya tidak membeli barang, namun bersedekah. Jadi, pertimbangannya tidak lagi butuh/tidak butuh.

Dan satu lagi, saya bukan tim ibu-ibu yang suka nawar dagangan (apalagi dengan sadis)! Berapapun pedagang tawarkan saya deal saja bila bertransaksi. Niatkan bersedekah atau membantu orang. Saya jelaskan pada anak bahwa para pedagang kecil itu memperoleh untung yang tak seberapa, yang mungkin hanya cukup untuk makan, menyambung hidup. Makanya jangan ragu memberi uang lebih bila bertransaksi.

Anak-anak jarang jauh dari jangkauan saya, terlebih saat pandemi. Si mamas, sulung saya yang 12 tahun sudah setahun lebih ini belajar dari rumah. Lebih sering di rumah, membuatnya lebih sering jajan dan ikut saya berbelanja. Transaksi pembayaran sering saya serahkan padanya. Sehingga tahu betul kebiasaan ibunya. Terkadang juga saya sedikit berkelakar kenapa saya beli ini itu, walaupun sebenarnya kurang membutuhkan. Atau membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan, karena suatu alasan. Bukan mengajarinya untuk boros. Namun, ini salah satu cara membantu orang yang berusaha mendapat penghasilan. Saya sering tunjukkan pada anak, betapa mulianya pedagang-pedagang kecil itu, (ada) yang sudah lanjut usia, masih bersusah payah berdagang keliling, atau berpanas-panas di pasar untuk mendapat penghasilan, tidak meminta-minta di pinggir jalan. Ada ibu-ibu yang (terpaksa) harus membawa balitanya berdagang untuk mendapat penghasilan, karena tidak memungkinkan ditinggal di rumah. Maka, pada merekalah kita harus banyak memberi, bukan pada pengemis.

Semakin lama si mamas juga melakukan hal yang sama. Dia membayar 10 ribu untuk baksonya yang seharga 8 ribu, membayar 15 ribu untuk beli siomay yang harganya 12 ribu. Dan kini setiap transaksi pembelian yang ada uang kembalian ‘kecil’ selalu dia beri kembali ke pedagangnya. Ada satu waktu, dimana kami akan pergi ke Pasar Besar di tengah kota untuk suatu keperluan, dia menyiapkan beberapa uang baru (angpao lebaran tahun ini) untuk dibagi ke pedagang-pedagang kecil dan para tukang becak yang mangkal.

Saya hanya berpesan: “coba nak kau perhatikan ekspresi orang-orang yang kau beri sedekah itu”. Sebagian besar mereka sangat berterima kasih, ada juga yang sampai berkaca-kaca

“padahal cuma diberi 20 ribu ya Ma?” tukas si mamas.

“Iya nak, bagi mamas, bagi kita, 20 ribu itu sedikit yaa, namun bagi mereka serasa dapat rejeki besar. Karena hasil/untung dari berdagang mereka tidaklah besar, nak. Dari pagi sampai sore, kepanasan, kadang dingin kehujanan, hanya dapat untung yang mungkin hanya cukup untuk makan dan kebutuhan dasar saja” jelas saya

“Makanya mama ga nawar dagangannya dan ga ngambil kembaliannya” tambah saya

Bahagia Bersedekah

Berbagi sejatinya mengalirkan rejeki yang mampu meluaskan sumbernya. Bukan hanya itu, ada sensasi hangat dan bahagia yang menyeruak kalbu. Ajak anak mengenali dan merasakannya juga, dengan menatap binar mata mereka yang kita beri. Mengamati respon mereka, yang kadang luar biasa girang,  sontak berdiri dan membungkuk-bungkukkan punggung, ada yang tak henti merapalkan do’a-do’a kebaikan untuk kita dan beragam lainnya. Betapa uang yang ‘kecil’ bagi kita begitu membahagiakan mereka.

“lain kali kita beri lebih banyak yaa, Ma!” sambut si mamas

Cara bersedekah ini menjadi kegemaran saya dan anak-anak, karena begitu banyak hikmah yang bisa didulang, antar lain:

  • Memberi dengan cara halus
  • Menambah semangat pada orang lain untuk terus berusaha bukan meminta-minta/mengemis
  • Membuat ketagihan berbuat kebaikan
  • Menghadirkan kebahagiaan dan rasa ‘cukup’
  • Menambah rasa syukur dengan apa yang telah dimiliki

Banyak cara bersedekah dan berbagi. Temukan cara yang paling bisa ditiru dan mengena di hati anak-anak, hingga menjadi kegemaran dan kebiasaan.

Baca juga:

Selebrasi Gabungan HIMA Jakarta

Ketahanan Mental Ibu dan Anak di Era Pandemi COVID-19

Menularkan anak gemar bersedekah

Menularkan anak gemar bersedekah

Kecerdasan Spiritual

Meneladani dan membiasakan anak bersedekah dan berbagi adalah salah satu cara mengasah kecerdasan spiritualnya. Kecerdasan spiritual tidak selalu berkaitan dengan agama dan keyakinan yang dianut. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang memberi makna pada kehidupan (Komunitas Institut Ibu Profesional, 2013).

Ciri kecerdasan spiritual seseorang itu tinggi antara lain senang berbuat baik, suka menolong, memiliki empati yang besar, mudah memaafkan, mampu memilih kebahagiaan, berpikir secara luas dengan beragam sudut pandang, merasa perlu memberi kontribusi dalam kehidupan dan punya selera humor.

 

Mengapa anak harus cerdas spiritual?

Kenapa seorang anak harus memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi? UNTUK SUKSES!

Apakah kriteria sukses menurut anda?

Tentu kriteria sukses setiap orang memiliki parameter yang berbeda. Ada yang mengukur dari banyaknya kekayaan, tingginya jabatan, prestige karirnya, kesuksesan bisnisnya, kemapanan anak-anaknya dan lain sebagainya. Biasanya, parameter sukses orang tua berpengaruh terhadap parameter kesuksesan anak. Coba renungkan, parameter sukses apa yang selama ini kita tetapkan! Hanya sebatas indikator material saja kah?

Hasil penelitian dari Daniel Golemen (1995) menyebutkan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% kecerdasan intelektual dan 80% kecerdasan emosional, sosial dan spiritual. Maka tidaklah fair bila parameter kelulusan sekolah/ kenaikan kelas anak sekolah hanya berdasar nilai akademiknya. Tanpa mempertimbangkan akhlak dan karakter mulianya. Keliru, bila menilai anak hanya dari IQ, padahal nilai EQ anak berpengaruh besar pada kesuksesannya kelak. Yaitu, porsi 80% bersama dengan kecerdasan emosional dan sosial anak. Maka, penting sekali mengasah kecerdasan spiritual anak, disamping kecerdasan emosional dan sosial.

Seorang anak yang memiliki kecerdasan spiritual akan mampu mengenali diri sendiri, meliputi kesadaran diri, pengaturan diri dan motivasi diri. Sehingga anak memungkinkan hidupnya penuh arti, punya tujuan yang jelas, punya mimpi besar dan memegang teguh mimpinya serta berusaha mewujudkan mimpinya dengan segala daya yang dipunya hingga SUKSES!

 

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

Beragam cara meningkatkan kecerdasan spiritual, emosional dan sosial anak, tiap orang tua mempunyai cara unik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam  Konferensi Ibu Pembaharu nantinya kita bisa belajar dari para ibu pembaharu, mendengarkan pengalamannya, belanja jam terbangnya dalam mendidik dan mengasuh anak, hingga resep menjadi ibu yang bahagia dan anaknya juga turut berbahagia. Cara-cara ibu pembaharu dalam mengasah kecerdasan spritual, emosional dan sosial anak, menarik sekali kita simak sebagai pembelajaran hidup. Ini adalah isu keempat yang diangkat dalam Konferensi Ibu Pembaharu, tentang perempuan dan perannya dalam pendidikan/pengasuhan anak.

Ibu Pembaharu adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidup, sehingga bisa menciptakan solusi untuk masalah tersebut. Solusi yang terbaik untuk dirinya dan lingkungannya. Setiap ibu punya cerita/tantangan yang unik, yang mungkin bisa kita jadikan contoh, referensi dan menambah sudut pandang.

Tertarik menyimak tantangan-tantangan para ibu pembaharu? Mari temui, simak tantangan para ibu pembaharu beserta solusi terbaiknya dalam Konferensi Ibu Pembaharu pada tanggal 18-24 Desember 2021. Bukan hanya tantangan tentang pendidikan/pengasuhan anak, lho! Nantinya juga akan ada cerita tantangan isu-isu lain (5 isu) yang related dengan kehidupan perempuan dan ibu. Infomasi dan pendaftaran selengkapnya bisa kunjungi website www.ibuprofesional.com dan media sosial Ibu Profesional.

 

Referensi:

Komunitas Institut Ibu Profesional, 2013, Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak, Gazza Media

 

#1dekadeIbuProfesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu

#ibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia

 

Selebrasi Gabungan HIMA Jakarta

Selebrasi Gabungan HIMA Jakarta

Halo IP-ers,

Sudah tahu belum acara rutin yang digelar dari tahun ke tahun oleh Institut Ibu Profesional (IIP) Jakarta? Ya, selebrasi kelulusan para wisudawan di kelas-kelas IIP secara daring. Meskipun masih dalam suasana pandemi, HIMA Jakarta bersyukur tetap dapat mengadakan acara ini. Bahkan dengan kemeriahan yang berbeda dari sebelumnya.

Apakah yang berbeda dari selebrasi ini?

Tiga jenjang kelas di IIP Jakarta mengadakan selebrasi bersama atas kelulusan mereka, yang disebut Selebrasi Akbar. Selebrasi ini terdiri dari para mahasiswi kelas Matrikulasi Batch 9, Bunda Sayang Batch 6, dan Bunda Produktif Batch 1. Panitianya pun merupakan gabungan dari kelas-kelas tersebut. Wah, terbayang kan serunya?

Selebrasi gabungan yang diselenggarakan secara daring ini mengangkat tema “Berani Bertransformasi Menjadi Ibu versi Terbaikmu”. Tema ini diangkat untuk mengajak para wisudawan dalam melakukan napak tilas ke masa perjuangan selama di kelas perkuliahan, Di samping itu, juga mengingatkan tentang perannya sebagai Ibu agar menunjukkan versi terbaik dirinya.

Tidak hanya para wisudawan yang hadir, peserta dari umum juga ikut memeriahkan acara ini. Agar lebih menarik, kegiatan ini dikemas dalam bentuk selebrasi dan talkshow.

Selebrasi sekaligus talkshow ini diadakan Sabtu, 30 Juli 2021 yang berlangsung pada pukul 12.15–15.15 WIB. Dihadiri hampir 100 peserta secara daring melalui platform Zoom. Sebagai pembuka, Mbak Ailyxandria selaku MC dan tim Doorprize membawakan beberapa permainan untuk mencairkan suasana. Dilanjutkan dengan kata sambutan dari ketua pelaksana-Mbak Regina, Ketua HIMA IIP Jakarta-Mbak Aini, dan Sekretaris Regional IP Jakarta-Mbak Tutik. Berikutnya, ada rangkaian kata penyemangat dari Mbak Dzikra I Ulya selaku Rektor IIP dan Ibu Septi Wulandani sebagai Founding Mother Ibu Profesional melengkapi kebahagiaan hari ini.

Mengiringi acara selebrasi, sebuah talkshow bersama narasumber yang keren, Kiki Barkiah. Nama yang sudah sering terdengar ini merupakan praktisi parenting dan penulis buku. Teh Kiki, sapaan akrabnya, membawakan materi yang kaya manfaat yang berjudul “Menjadi Ibu Bahagia Apa Adanya, Bukan Seadanya”.

Dari pemaparannya, Teh Kiki mengingatkan agar senantiasa memahami apa kebahagiaan hakiki  serta bagaimana cara memulai dan meraihnya. Beberapa peserta pun diberi kesempatan untuk berinteraksi bersamanya agar dapat lebih menyelami ilmu yang disampaikan.

Selepas Talkshow, selebrasi dimulai. Diselingi beberapa games kecil kepada para peserta. Untuk menambah keceriaan, para wisudawan diberikan kesempatan untuk mengenakan beragam atribut perayaan yang sudah disiapkan di rumah. Ada yang melengkapi dirinya dengan mahkota, toga, bahkan piala. Para wisudawan ini menunjukkan senyum di bibirnya dan aura kebahagiaan di wajahnya. Selanjutnya, MC menyebutkan satu per satu nama wisudawan. Dimulai wisudawan dari kelas Matrikulasi, kelas Bunda Sayang, lalu diakhiri dengan wisudawan kelas Bunda Produktif.

Lebih lanjut, acara ditutup dengan sesi foto bersama para wisudawan dan pembagian hadiah kepada pemenang challenge dan games. Berbagai macam hadiah yang disponsori oleh Kauniyah Oil, Educourse, Kayva, Mommies Daily, dan KIPMA Jakarta melengkapi akhir dari kemeriahan acara hari ini.

Penulis: Siti Salikah

Editor: Maria Fatimah

HIMA Jakarta

Keren dengan Internet: Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

Keren dengan Internet: Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

Ringkasan kuliah zoom dengan Rita Nurlita, program Zumba 4 Ibu Profesional Depok, 26 Mei 2021

 

Internet pada masa pandemi

Internet mulai digunakan secara meluas sejak tahun 1990-an. Arus informasi dan jejaring mulai masuk dan menyebar dengan mudahnya ke seluruh penjuru dunia tanpa ada sekat dan batas. Berawal dari kalangan tertentu, seperti pemerintahan dan badan pertahanan negara. Sekarang, internet bisa diakses dan dinikmati oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Meski banyak aturan tentang batasan usia terkait penggunaan internet, yang tidak mengijinkan anak-anak mengakses internet sendiri tanpa pengawasan orang tua. Terlebih di masa pandemi, anak-anak makin intensif menggunakan internet untuk kegiatan belajar secara dalam jaringan (daring). Kita ketahui bersama sejak virus Covid-19 masuk ke Indonesia, pemerintah menginstruksikan sekolah tatap muka dialihkan menjadi sekolah daring atau sekolah dari rumah, untuk menekan laju penyebaran penyakit yang disebabkan virus tersebut.

Internet bisa dimanfaatkan untuk sekolah daring, atau belajar dari rumah. Siswa/anak bisa berinteraksi dengan guru sekolah dan teman sekelasnya melaksanakan kegiatan belajar mengajar bersama dari rumah dengan menggunakan internet. Memanfaatkan aplikasi pendukung seperti Google Classroom, Google Meet, Whatsapp dan lain-lain untuk kegiatan belajar mengajar. Lantas, apa manfaat lain dari internet? tentu banyak! membantu dan mendukung berbagai aspek kehidupan manusia, antara lain:

  • Sumber informasi
  • Komunikasi
  • Hiburan
  • Memperluas jejaring pertemanan
  • Promosi kegiatan sekolah
  • Kompetisi

 

Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

 

Tapi, internet bisa diibaratkan pedang bermata dua, yang mempunyai sisi negatif bila digunakan dengan berlebihan, tanpa filter/saringan. Terlebih, dampaknya pada anak-anak yang kini makin intensif menggunakan internet. Penting sekali mengedukasi anak-anak dan juga orang tua tentang perlunya kesadaran, kecerdasan dan kebijakan dalam penggunaan internet. Salah satunya dengan memberikan pemahaman beberapa dampak buruk dari penggunaan internet yang berlebihan, tidak bijak dan tidak cerdas. Berikut beberapa dampak negatif internet:

  • Gangguan kesehatan fisik, seperti pada penglihatan, struktur tulang belakang akibat duduk yang terlalu lama menatap layar
  • Menciptakan jarak antara anak dan keluarga, bila masing-masing selalu sibuk dengan perangkat selulernya. Di rumah jarang tercipta komunikasi dan interaksi yang intensif dan harmonis, jarang mengobrol dan bermain bareng.
  • Kecanduan media sosial dan game online. Tidak tertarik lagi bermain fisik, menarik diri dari pergaulan di kehidupan nyata, cenderung lebih suka bersosialisasi di dunia maya.
  • Masalah mental. Menjadi FOMO (Fear of Missing Out) yakni cenderung ingin tahu semua hal lebih dulu, takut ketinggalan informasi, mudah membagikan/share informasi tanpa menyaring dulu. Gelisah, minder, kurang percaya diri akibat sering stalking hidup orang lain yang (seolah-olah) selalu indah, nyaman dan mudah.
  • Menjadi korban kejahatan. Beragam kejahatan online yang muncul dewasa ini, seperti: pornografi, predator online, kekerasan, cyberbullying, pencurian identitas, penipuan, eksploitasi seksual dan lain-lain.

 

Nah, begitu meresahkan dan menakutkan dampak negatif internet, utamanya untuk anak-anak. Tantangan kita, sebagai orang dewasa, orang tua yang punya anak, berkewajiban mendidik diri sendiri dan anak-anak untuk sadar, cerdas dan bijak berinternet. Begitu banyak informasi hingga bisa dibilang tsunami informasi yang membanjiri internet dan meluber ke user atau penggunanya. Hendaknya paham cara menyaring informasi, mana yang valid dan mana yang hoax. Berikut cara mengenali hoax dirangkum dari www.liputan6.com dan Mafindo:

  • Jangan langsung percaya dengan judul
  • Cermati tautannya
  • Selidiki sumbernya
  • Amati jika ada format beritanya tidak wajar
  • Cek fotonya
  • Periksa tanggalnya
  • Periksa buktinya
  • Bandingkan dengan laporan lain
  • Apakah berita tersebut hanya lelucon?
  • Beberapa berita memang sengaja dipalsukan

 

Baca juga:

 

Etika di Dunia Maya

Prinsip etika di dunia maya sama dengan dunia nyata. Etika saat berkomunikasi, adab dalam bersosialisasi harus selalu diterapkan dalam berinteraksi dan bermedia sosial. Saling menghargai dan menghormati antar manusia juga harus dijunjung tinggi. Pada dasarnya kita bebas memposting apa saja di media sosial asalkan tidak bertentangan dengan hukum, etika dan adab. Seperti posting kegiatan, hobi, karya, petikan buku, dan lain-lain, pastikan itu hal yang baik, benar dan bermanfaat. Nah, beberapa hal seperti di bawah ini sebaiknya jangan diposting ya! (www.kalbaronline.com)

  • Alamat rumah atau sekolah
  • Nomor telepon
  • Geolokasi Anda saat ini
  • Foto dan video pribadi
  • Mengompromikan foto orang lain
  • Foto bayi dari anak remaja
  • Foto barang-barang mewah
  • Informasi tentang kehidupan pribadi
  • Pernyataan kritis tentang topik sensitif

 

Bila rambu-rambu berinternet sudah dipahami, kita bisa memanfaatkannya untuk hal dan kegiatan yang positif dan bermanfaat untuk kita dan atau orang lain. Beberapa akun media sosial influencer sangat keren, menginspirasi dengan karya dan prestasinya. Kita bisa mengikuti jejak mereka, berkarya dengan kemampuan, menginspirasi hal positif dan kebaikan. Bahwa berinternet dengan sadar, cerdas dan bijak bisa meraup banyak ilmu pengetahuan, inspirasi dan kemajuan.