Mengenali Bakat Si Kecil Menggunakan Talents Mapping

Mengenali Bakat Si Kecil Menggunakan Talents Mapping

Pada bulan November 2020 yang lalu, HIMA Jakarta kedatangan tamu spesial, yaitu Mbak Idanayu untuk mengisi sharing session COBEK#2 (Cerita Orang Berbakat, Enerjik, dan Keren). Tema diskusi COBEK#2 yang diadakan di Telegram HIMA Jakarta kali ini adalah mengenali bakat anak. Acara ini dipandu oleh Mbak Ailyxandria dan dihadiri oleh 23 partisipan. Teman-teman disini penasaran kan dengan diskusi nya? Yuk, langsung aja diintip isinya.

Sebelum memulai diskusi, narasumber mengajak satu orang member untuk dibacakan hasil ST30. Kegiatan ini semakin seru ketika pemateri menganalisis kekuatan dan kelemahan yang bisa menjadi turunan bakat. Para member yang hadir pun ikut bersemangat untuk menganalisis hasil ST 30 masing-masing.

Nah, sebenarnya apa itu bakat? Mbak Ida menjelaskan bahwa bakat merupakan sifat atau personaliti manusia yang bermanfaat atau produktif. Setiap manusia diberikan bakat atau fitur unik yang berbeda-beda oleh Allah SWT supaya bisa menjalankan tugas spesifik di muka bumi ini. Perlu diingat juga, bakat adalah sifat yang akan mempengaruhi pola pikir, perilaku, dan tindakan kita. Bakat-bakat kuat yang dominan dalam diri kita disebut sebagai kekuatan yang selanjutnya membentuk passion. Nah, teman-teman bisa tes menggunakan ST30 dan talents mapping untuk mengetahui bakat masing-masing. Selain kekuatan, tentu saja kita sebagai manusia yang tidak sempurna juga memiliki keterbatasan. Hal yang perlu dilakukan adalah fokus pada kekuatan dan siasati keterbatasan.

Lalu, apakah kita bisa melihat bakat untuk anak yang masih kecil? Sebutan bakat untuk anak-anak yang belum aqil baligh (kurang dari 15 tahun) adalah ekspresi bakat, biasanya akan tampak pada aktivitas sehari-hari. Jadi, yang diamati adalah ekspresi bakat.

Selanjutnya, bagaimana cara mengenali ekspresi bakat dalam diri anak? Pembicara mengajak orang tua untuk melakukan aktivitas 3B (Beragam, Berulang, dan Bertemu banyak orang), sehingga dapat mengenali minat anak lalu akan muncul apa yang menjadi bakatnya. Bakat akan membuat suatu aktivitas terasa lebih mudah, menyenangkan, berkualitas, dan menghasilkan yang selanjutnya kita kenal sebagai 4E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn). Singkatnya, orang tua bisa mencatat dan mengamati aktivitas 3B anak

Pemateri menjelaskan ada dua cara untuk mengetahui bakat, yaitu ST30 dan TMA. ST30 adalah tes berupa pernyataan untuk menggambarkan peran apa yang kita bisa. Hasilnya pun bisa berubah sesuai perkembangan diri kita. Berbeda dengan urutan bakat dalam hasil tes TMA yang hasilnya cenderung tetap untuk orang dewasa. Karena urutan bakat ini menggambarkan sifat seseorang. Membaca hasil tes talents mapping itu akan membawa kita semakin mengenali diri kita. Insya Allah setelah kita makin mengenali diri kita, maka kita akan makin percaya diri.

Hal lain yang menjadi catatan penting yang disampaikan narasumber untuk orang tua adalah hadirlah seutuhnya ketika membersamai anak. Seperti pesan Ibu Septi, “Semua anak adalah bintang, kitalah yang harus lebih memantaskan diri kita.”

“Tidak perlu terburu-buru dalam melabeli bakat anak karena malah akan mempersempit pandangan kita terhadap bakat anak. Teruslah fokus mengamati ekspresi anak dan catatlah dengan baik. Ekspresi bakat anak akan muncul saat ia merasa aman, dicintai, dan mampu menuntaskan fase egosentrisnya dengan baik.” Idanayu.

Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta

Dongeng Kaka HIMA

Dongeng Kaka HIMA

Assalamualaikum.wr.wb..

Hallo IP’er apakabar semua ? Semoga dalam keadaan sehat semuanya.. aamiin yaa rabballalamin..

Di awal tahun ini kaka HIMA bekasi punya program streaming yang diadakan di hari Jum’at, tanggal 22 januari 2021  lalu live di Fanpage Regional Bekasi. Dan menjadi pembuka program HIMA regional diawal tahun ini. Keseruan live streaming yang diadakan kaka HIMA dengan tema ” Dongeng Kaka HIMA” yang kali ini bercerita tentang asiknya “Playground di IIP”.

Live streaming ini bertujuan untuk memperkenalkan apa saja Playground yang ada di IIP. Menjelaskan bagaimana serunya bermain di Playground IIP,  Dongeng Kaka HIMA ini dibawakan oleh kak Fitria Ramadiani sebagai host dan kak Rahmawati Lestari sebagai narasumber.

Live streaming berdurasi kurang lebih 40 menitan. Keseruan dongeng Kaka HIMA ini menjelaskan betapa asik nya bermain dan belajar di playground IIP. Dimana sebelum memasuki playground kita dibawa untuk menelusuri peta bermain disana.. Menjelajahi playground IIP mulai dari samudera matrikulasi, pulau bunda cahaya sayang ( bunda sayang),  hutan kupu-kupu cekatan (bunda cekatan), kota produktif pulau cahaya (bunda profesional), dan kepulauan rahayu istana bunda shale (bunda shaleh). Udah kebayangkan gimana serunya di tiap tahapan kelas nya. Kita bukan hanya belajar tapi bermain juga dengan program-program yang diberikan untuk mahasiswa IIP

Selain menjelaskan tentang playground kaka HIMA pun  membuka QnA untuk penonton yang masih penasaran dengan playground yang ada. Bagaimana seru kan live streaming Dongeng Kaka HIMA. Nantikan keseruan selanjutnya di Dongeng kaka HIMA dengan tema yang berbeda..

Terimakasih..

Sampai berjumpa lagi di program regional bekasi selanjutnya..

Salam hangat dari medkom bekasi

Ayu inggar 🤗

 

 

Guruku, pahlawanku

Guruku, pahlawanku

Sebutan pahlawan bukan hanya untuk mereka yang ikut berperang melawan penjajah. Akan tetapi, juga bagi mereka yang sekuat tenaga ikut mencerdaskan penerus bangsa. Siapakah dia? Dia adalah guru. Sosok yang penuh inspiratif dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Seorang guru, selain menjadi pendidik murid di sekolah juga menjadi pendidik bagi anak-anaknya di rumah. 

Dalam rangka memeriahkan hari guru sedunia, yang jatuh pada tanggal 5 Oktober, HIMA Jakarta mempersembahkan kulgram COBEK (Cerita Orang Berbakat, Enerjik, dan keren) volume 1 yang berjudul “Guruku, Pahlawanku”. Bersama narasumber yang kece, Azizah Juniarti. Beliau aktif sebagai Manajer humas RCIP Ibu Profesional dan mahasiswa kelas bunda produktif batch 1.

Kesibukannya di komunitas, sekaligus menjadi menjadi guru di rumah maupun di ranah publik (guru tahfidz), bukanlah hal yang mudah. Kira-kira, bagaimanakah manajemen waktu yang dilakukan mbak Azizah dalam menjalankan semua perannya? 

“Mengatur waktu dengan baik dengan memprioritaskan keluarga di skala prioritas kerja, membuat to do list dengan kandang waktu kerja yang diterapkan secara disiplin setiap hari, merupakan manajemen waktu yang saya jalankan bersama suami dan anak-anak. Terlebih dari itu, keridaan suami adalah poin penting dalam setiap aktivitas yang saya kerjakan.” Azizah Juniarti

Azizah Juniarti memilih untuk menggeluti profesi sebagai guru. Menurutnya, hanya ada tiga amalan yang tidak akan pernah terputus oleh kematian.  Yakni, sedekah jariyah, doa anak yang saleh, dan ilmu yang bermanfaat. Dengan menjadi guru, ilmu itu dapat tersalurkan dan insyallah menjadi amal jariyah.

“Merancang visi dan misi keluarga sejak awal menikah itu perlu. Agar setiap kegiatan yang kita lakukan mendapatkan keridaan dari keluarga. Dan ketika rumah tangga sudah berjalan, visi misi tinggal dijalankan”. Azizah Juniarti.

Setelah membuat visi dan misi keluarga, lalu bagaimanakah tips mengelola waktu bagi seorang ibu yang berperan sebagai guru (baik yang memilih peran dalam ranah domestik maupun ranah publik)? Membuat skala prioritas dan dahulukan kegiatan yang suka dan bisa. 

Dengan melakukan kedua hal tersebut, kita dapat menghindari kegiatan yang rasanya “semuanya adalah penting”. Konsistensi mbak Azizah akan manajemen waktu pun diuji ketika berada di kelas bunda cekatan. 

Selain mengelola waktu, meng-upgrade ilmu bagi seorang ibu apalagi guru pun itu juga penting. Learning by teaching” atau belajar dengan mengajar adalah cara yang efektif ketika mengikat ilmu. Karena ilmu tidak akan bermanfaat kalau kita tidak mempraktekannya.

Perannya sebagai guru tahfidz di lingkungan rumah, mbak Azizah juga membagikan tips dalam mengajarkan makhraj kepada anak-anak.

1. Latih artikulasi makhraj.

Latihan artikulasi ini dengan mengajarkan satu per satu hurufnya. Tidak disarankan untuk pindah huruf sebelum makhrajnya benar. Mbak Azizah pun perlu waktu satu semester untuk mengajarkan semua hurufnya. 

2. Mengajar dengan ikhlas.

Mudah atau sulit sebuah materi ketika diajarkan ke anak, itu tergantung perasaan ibu saat mengajarkannya. 

3. Gunakan perbandingan suara

Mengajarkan makhraj ke anak-anak bisa menggunakan perbandingan suara. Misalnya, huruf ‘kho’ mirip dengan suara dengkuran, ‘ha’ seperti suara kepedasan, dan sebagainya.

Seorang guru pun secara kontinyu butuh meningkatkan ilmunya. Ada tahapan atau jenjang ketika belajar tahsin dan tahfiz untuk membimbing teman-teman guru di lingkungannya. Dengan menggunakan kurikulum yang sudah ada untuk belajarnya. Di akhir masa belajar pun ada ujian yang dilakukan. 

Dengan berbagai aktivitas yang dijalankan, tentu ada titik terendah seorang wanita dalam menjalankan perannya. Di sini, pentingnya support system untuk bisa menemani dan menggandeng kita untuk bangkit. Dukungan ini bisa dari keluarga atau lainnya. Mbak Azizah dan suami memiliki hobi yang sama untuk berpetualang. Jadi ketika sedang jenuh, pasangan suami istri bisa menjelajah naik gunung ataupun berkendara motor berdua. 

Diskusi ini memberikan kesimpulan bahwa teman-teman yang berprofesi menjadi guru, baik di ranah publik maupun di ranah domestik teruslah meng-upgrade diri dan kemampuan. Lalu tentukan skala prioritas dalam mengatur jadwal. 

“Teman-teman teruslah bersemangat mencari dan berbagi ilmu. Jangan menunggu ahli untuk bisa berbagi. Mulai dari apa yang kita miliki.” Azizah Juniarti.

Jadi, apakah perlu menjadi ahli untuk berbagi? Yuk jadi bagian dari kegiatan COBEK HIMA Jakarta untuk berbagi cerita, pengalaman, dan kisah inspiratif.

Salam Ima_Maria Fatimah tim medkom Jakarta

Selebrasi Matrikulasi Batch 8 IIP Jakarta

Selebrasi Matrikulasi Batch 8 IIP Jakarta

Sudah lebih dari sebulan sejak tantangan terakhir Matrikulasi Batch 8 IIP tahun 2020 ini berakhir. Tanpa terasa tiga bulan perjalanan dalam mengenali kembali diri untuk mempersiapkan bekal menjadi seorang ibu profesional telah berakhir. Saatnya para matrikan mengakhiri petualangannya di samudera penjelajah. Namun, sebelum memasuki jenjang perkuliahan ibu profesional selanjutnya, tentu tidaklah lengkap apabila tidak ada perayaan sebagai tanda syukur selesainya kelas ini.

Setelah persiapan yang hanya berlangsung tidak sampai satu bulan, Selebrasi Matrikulasi Batch 8 IIP Jakarta pun terselenggara. Berlangsung secara daring di tengah pandemi Covid-19 ini, ternyata tidak mengurangi semarak acara yang dipersiapkan oleh panitia yang dipimpin oleh Triyunita S, salah satu matrikan batch 8 yang baru saja menjabat Manajer Humas HIMA Jakarta.

Mengambil tajuk “Merdeka Belajar: Memulai Homeschooling Menjadi Alternatif Pendidikan,” acara Selebrasi Matrikulasi Batch 8 IIP Jakarta ini berlangsung hari Jumat, 28 Agustus 2020 pukul 19.30 melalui aplikasi Zoom Meeting. Acara ini tidak hanya menyajikan selebrasi atas kelulusan para matrikan yang telah menyelesaikan kelas matrikulasi, tetapi juga bincang santai yang mendukung tema tersebut.

Tema ini diangkat sesuai dengan kondisi pembelajaran saat ini yang harus banyak menyesuaikan diri dengan munculnya pandemi. Harapannya, dengan menghadirkan pembicara yang merupakan praktisi homeschooling, dapat menjadi angin segar para ibu yang sedang mendampingi putra-putrinya menghadapi pembelajaran jarak jauh (PJJ) di rumahnya.

Acara dimulai sekitar pukul 19.20 dengan menyajikan pemutaran video tentang HIMA Jakarta, pembacaan tata tertib dan rundown acara. Tepat pukul 19.30 acara dibuka oleh pembawa acara yang juga seorang matrikan, Ailyxandria Praditya. Setelah acara dibuka, dilanjutkan oleh sambutan-sambutan dari ketua panitia penyelenggara, Triyunita Safitri; Ketua HIMA Regional Jakarta, Mba Syarifah Aini; dan Sekretaris Regional Jakarta, Oma Tutik Rahayu.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan inti dari selebrasi ini, yaitu pemutaran video persembahan para matrikan batch 8, video di balik persiapan panitia penyelenggara, dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang telah membantu selama proses pembelajaran di matrikulasi batch 8 ini. Rasa mengharu biru dari para matrikan yang telah menonton video ini membuat suasana selebrasi cukup syahdu.

Tak ketinggalan pula ada pembagian sertifikat elektronik kepada para matrikan yang telah menjadi perangkat kelas, manajer Star of the Day (SotD), dan yang telah memenuhi tantangan Sharing is Caring. Dilanjutkan pula dengan aliran rasa dari seorang matrikan yang merangkap pengurus kelas, Ummul Qhair yang semakin menambah haru saat didengarkan.

Terakhir, barulah masuk ke acara Bincang Santai dipandu oleh seorang matrikan yaitu Nurindah Fitria tentang “Merdeka Belajar: Memulai Homeschooling Menjadi Alternatif Pendidikan” dibawakan oleh seorang matrikan, Detik Rena K.N.S. dan suaminya, Syaiful Anwar, yang merupakan praktisi homeschooling untuk kedua anaknya. Meskipun ada sedikit kendala teknis yang hadir, acara bincang santai ini pun diakhiri oleh tiga pertanyaan dari peserta yang hadir.

Selebrasi ini memang berbeda rasanya karena disiapkan oleh matrikan untuk para matrikan sendiri. Baik acara, video, bahkan pengisi acara semua dilakukan oleh para matrikan batch 8 yang lulus. Jargon “Dari kita, oleh kita, untuk kita,” benar-benar diterapkan di selebrasi ini.

Selebrasi Matrikulasi Batch 8 IIP Jakarta ini bisa menjadi penanda bahwa telah tiba waktunya bagi para matrikan untuk melanjutkan Pendidikan ke Kelas Bunda Sayang. Semua bekal yang sudah didapat dalam kelas matrikulasi ini adalah bekal yang sangat berharga saat nanti menjalani Pendidikan selanjutnya.

Walaupun ada matrikan yang belum berkesempatan melanjutkan, tetapi tidak mengurangi arti dari kebersamaan yang telah dijalani selama lebih dari tiga bulan ini. Keseruan dari acara ini adalah buktinya, silaturahmi tidak mengenal batas dan jarak. Bahwa selebrasi yang dilakukan daring pun tak kalah saat bertatap muka langsung. Karena tetap jaga diri dan jarak, merupakan kunci pandemi ini segera berakhir.

Selamat atas kelulusannya para matrikan batch 8 IIP Jakarta. Selamat menempuh petualangan selanjutnya di Pulau Cahaya.

#Tim Medkom HIMA IIP Jakarta#

Manajemen Waktu ala IRT

Manajemen Waktu ala IRT

Alhamdulillah, tanggal 13 September lalu akhirnya HIMASiMo mengadakan Tasyakuran Naik Jenjang Belajar MaBunBun untuk pertama kali di era New Chapter Ibu Profesional. Sempat deg-deg ser soal jumlah peserta yang hadir. Karena acaranya Minggu pagi yang mana jam segitu rangorang masih pada aktivitas. E tapi alhamdulillah yang hadir lumayan banyak sekitar 50an orang. Bagi saya itu lumayan banget.

Mungkin beberapa yang membaca artikel ini akan bertanya-tanya, MaBunBun apaan sih?

Bhaique, MaBunBun adalah singkatan dari Matrikulasi dan kelas Bunda-Bunda. Soalnya kelas setelah Matrikulasi ada 4 tuh yang diawali dengan kata Bunda. Maka jadilah MaBunBun. Karena kalau MaBunBunBunBun jadi kepanjangan yes pemirsa budiman. Jadi kami persingkat saja. Wkwkwk.

Sedangkan HIMASiMo itu apa sih? Ya kali-kali ada yang tanya. Sesekali kepedean nggak apa-apa kali yeu. Heuheu. HIMASiMo sendiri adalah singkatan dari HIMA Sidoarjo-Mojokerto. HIMASiMo ini usianya belum setahun nih temans. Karena HIMASiMo ini adalah hasil pemekaran dari regional Surabaya Raya yang resmi mekar pada awal 2020 kemarin.

Kami menamakannya tasyakuran karena sebagai bentuk rasa syukur kami atas naik kelasnya para peserta belajar di kelas Matrikulasi 8, Bunda Sayang 5 dan Bunda Cekatan 1. Nah, saat tasyakuran kemarin kami mengundang Teh Euis Kurniawati dari regio Surabaya-Madura untuk berbagi pengalamannya soal Manajemen Waktu ala Ibu Rumah Tangga. Karena jika kita melihat Teh Euis ini sibuk banget, anaknya juga homeschooling semua, pasti manajemen waktunya OK banget nih.

Eh ya benar dwong. Saat sesi sharing pemaparan beliau keren banget. Bahkan fun fact nya nih ketika membahas manajemen waktu bisa dikorelasikan dengan talent mapping dan juga neurosains.

Penasaran dong seperti apa sharingnya? Hayuk simak hasil diskusi kami saat acara Tasyakuran Naik Jenjang MaBunBun 😍.

Jadi Teh Euis memberikan 4 tips sederhana untuk manajemen waktu ala IRT yang produktif. Apa sajakah itu?

#1 Strong Why

Strong why ini menjadi amat sangat penting dalam menentukan manajemen waktu. Dengan adanya strong why ini akan membuat kita bertanya, “kenapa sih saya harus membuat manajemen waktu?”, “apa akibatnya jika saya tidak membuat manajemen waktu ala saya?”.

Karena dengan adanya strong why, kita bisa lebih on track dalam menjalankan manajemen waktu yang sudah kita buat. Misalkan kita merasa gagal di tengah perjalanan, tidak masalah. Kita perlu kembali ke strong why nya kita. Kemudian melakukan evaluasi, siapa tahu ternyata metode manajemen waktu yang kita pilih belum sesuai dengan karakter diri kita.

Mengenali karakter diri dalam pembuatan manajemen waktu menjadi amat penting juga. Misalnya ada orang yang disiplin banget sehingga semua kegiatan sudah ada jam nya sendiri-sendiri. Ataupun ada juga yang fleksibel saja, pokoknya dari jam sekian sampai jam sekian pekerjaan bla bla bla dikerjakan diantara jam itu.

Seperti kata Teh Euis, kita tidak bisa memaksakan ukuran sepatu orang lain di kaki kita sendiri. Karena belum tentu sama ya. Maka buatlah strong why untuk memanage waktu dan kenali diri kita. Sehingga manajemen waktu yang dibuat benar-benar ala gue banget nih. 

Mantaaaapp!!

#2 Tentukan Prioritas

Pada saat sharing, teh Euis menyampaikan sebuah pepatah yang kurang lebih mengatakan,”Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu kita”. Sehingga kita perlu untuk mengetahui mana yang prioritas, mana yang bisa didelegasikan, mana yang bisa diskip saja.

Rasanya tips nomor 2 ini adalah hal yang umum diketahui oleh kita yaitu menentukan prioritas dengan memanfaatkan kuadran waktu. Tentu kita hafal banget ya soal kuadran waktu ini yaitu (I) Penting dan mendesak; (II) Penting namun tidak mendesak; (III) Tidak penting tapi mendesak; (IV) Tidak penting dan tidak mendesak.

Untuk kuadran I dan II adalah aktivitas yang dikerjakan oleh diri kita sendiri. Tentu yang menjadi prioritas adalah kuadran I. Sedangkan untuk kuadran II perlu dijadwalkan dan disesuaikan dengan kuadran I. 

Sedangkan untuk kuadran III adalah pekerjaan yang boleh didelegasikan. Cara pendelegasian pun bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, baik secara finansial ataupun tenaga. Entah dengan berbagi tugas dengan pasangan atau bisa juga dengan membayar ART atau menggunakan jasa yang lainnya.

Pendelegasian tugas ini menjadi amat penting, apalagi untuk ibu rumah tangga dengan segudang aktivitasnya. Karena jika tidak, kita bisa jadi mudah emosi karena pekerjaan yang rasanya nggak selesai-selesai. Tentu kita sudah tahu kan siapa yang paling terdampak atas emosi kita tersebut? 🙃

Sedangkan untuk kuadran IV tentu boleh diskip ya.

#3 Tools Reminder

Tools reminder juga menjadi bagian penting dalam membuat manajemen waktu yang gue banget. Tools reminder yang digunakan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter diri. 

Misalkan teman adalah seorang yang rigid banget dengan urusan waktu, apalagi jika karakter bakat disiplinnya ada diurutan pertama.  Nah, mungkin temans bisa menggunakan aplikasi yang ada di HP atau bisa dengan memasang alarm. 

Bisa juga menggunakan kalender yang ada di HP. Biasanya smartphone jaman now udah punya fitur reminder pada kalendernya.

Misalkan teman lebih suka dengan cara yang manual, bisa dengan memanfaatkan sticky note atau to do list note yang ditempel atau digantung pada tempat tertentu. 

Karena setiap orang tidak sama ya, teman. Maka caranya mengingatkan dirinya soal aktivitas yang akan dilakukannya pun berbeda-beda. Sesuaikan saja dengan kondisi diri masing-masing. Nah disini nih letak korelasi antara manajemen waktu dengan talent mapping. 

Tapi misalkan temans belum tahu karakter batas sesuai talents mapping juga nggak masalah kok. Asalkan temans sudah paham mengenai diri temans sendiri. Begindang.

Catatan penting yang perlu diketahui bahwa manajemen waktu bukan soal kemampuan kita menuntaskan banyak pekerjaan. Melainkan soal peningkatan produktivitas pada bidang apapun yang sedang kita kerjakan.

Wah, menarik ya ❤️

#4 Me Time

Nah, tips terakhir ini nggak kalah menarik yaitu me time. Mungkin pada bingung ya apa hubungannya me time dengan manajemen waktu?

Jadi begini teman-teman. Namanya seorang perempuan, apalagi jika sudah berstatus sebagai istri dan ibu. Ketambahan jika memiliki peran lainnya seperti bekerja di ranah publik, tentu nggak lepas dari namanya pekerjaan bejibun yang berakhir penat, stres dan esmoni. Oleh karenanya teman butuh yang namanya me time.

Me time ini sangat mempengaruhi proses implementasi dari manajemen waktu yang sudah dibuat. Bayangkan saja jika kita menjadi penat dengan pekerjaan kita sehari-hari. Lalu mengalami kebosanan yang berujung mager dan stres. Bisa-bisa kita jadi mudah emosi kan? 

Menariknya Teh Euis mengkorelasikan antara manajemen waktu dengan neurosains. 

Jadi salah satu bagian dari otak kita adalah amygdala yang berfungsi sebagai kontrol emosi kita. Selain itu amygdala juga berfungsi sebagai pusat pengontrol rasa ingin tahu. Ketika kita jadi mudah marah, itu artinya amygdala kita sedang panas. 

Oleh karenanya amygdala ini perlu dikontrol biar nggak panas. Soalnya nih kalau misalnya pagi-pagi udah esmoni, terus marah-marah ke anak hanya karena dia nggak segera menghabiskan sarapannya. Alhasil amygdala si anak ikutan panas juga. Lalu si anak jadi kurang semangat deh belajarnya. 

Salah satu solusi agar amygdala kita tidak panas lagi adalah dengan cara bergerak. Disarankan sih dengan pergerakan teratur, tapi bisa juga bergerak yang pokoknya bergerak.

Kenapa begitu?

Karena ternyata amygdala kita saling terkoneksi dengan cerebellum yang fungsinya sebagai pengatur gerak motorik. Makanya kali ya Rasulullah menyarankan ketika kita marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Begitu seterusnya. Tujuannya untuk mengademkan amygdala yang lagi hot hot pop. Maa syaa Allah.

Selain berhubungan dengan cerebellum, amygdala juga berhubungan dengan otak lainnya yang disebut prefrontal cortex atau PFC. Biasanya nih kalau kita sudah penat dan bosan dengan rutinitas sehari-hari, PFC kita akan mengalami stagnan. Kalau sudah stagnan, amygdala kita yang naik.

Ibarat mainan jungkat jungkit, PFC bagian yang turun, amygdala bagian yang naik. Kalau sudah begini kondisinya, wah bisa kacau dunia persilatan.

Oleh karenanya nih Teh Euis sangat menyarankan bagi teman agar memiliki waktu untuk me time. Agar manajemen waktu yang sudah dibuat tidak ambyar ya teman. Lalu tak gintak gintak ho eee tak gintak gintak ho eee. Wkwkwk #ApaSih #Intermezzo

Selain itu juga tentu agar emosi kita tetap stabil dan no marah-marah club deh.

Me time ini nggak harus dengan lari ke hutan kemudian menyanyiku. Kulari ke pantai kemudian teriakku. Nggak gitu, nggak gitu. Me time ini bisa banget dilakukan di rumah dengan melakukan apapun yang disukai. Bersih-bersih rumah misalkan.

Kalaupun ingin banget me time diluar, bisa dikomunikasikan dengan suami ya. Karena bagaimanapun mamak juga punya tanggung jawab besar yaitu anak di rumah. Heuheu. Maka komunikasikanlah soal me time ini dengan pasangan.

Pesan teh Euis, niatkan me time sebagai ibadah agar performa diri semakin meningkat dalam menjalankan peran kehidupan. Sehingga kalau performa meningkat dan on track, tentu diri sendiri jadi bahagia, suami dan anak pun ikutan bahagia.

Sekian reportase sesi sharing di Tasyakuran Naik Jenjang MaBunBun HIMASiMo. Semoga bermanfaat ya, teman. Jika ada kekurangannya, boleh diberikan koreksi.

Oh ya, acara tasyakuran ini tidak akan berlangsung tanpa adanya Tim Sukses yang bekerja dengan amat gerceup dan cekatan. Maa syaa Allah. Terima kasih kepada timses tasyakuran yang sudah menjadi bagian dari suksesnya acara ini. Semoga berkah bagi kita semua ya ❤️.

Salam sayang,

HIMASiMo yang bikin hati berdegup kencang.

Budaya Literasi dalam Keluarga

Budaya Literasi dalam Keluarga

 

Jika mendengar kata literasi, apa yang terbayang di benak Bunda? Tumpukan buku tebal? Perpustakaan? Belajar membaca? Pembiasaan membaca? Kumpulan orang-orang serius yang senang berdiskusi? Pokoknya, literasi itu adalah berbagai hal yang berhubungan dengan tulisan, buku serta perangkatnya.

Ya, pendapat Bunda itu benar adanya. Namun ternyata yang dimaksud dengan literasi tidak hanya sebatas itu. “Literasi merupakan kemampuan dalam membaca dan menulis serta menambah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seseorang untuk berfikir kritis. Termasuk kemampuan memecahkan masalah dalam berbagai konteks, kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat” (Alberta)

Sementara itu, literasi bertujuan untuk memberikan penilaian kritis pada karya tulis seseorang, memperkuat nilai kepribadian dan pengetahuan / pemahaman yang dimiliki melalui kegiatan membaca dan menulis, serta  untuk menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti yang baik.

Ternyata begitu banyak tujuan kegiatan literasi, lantas apa sajakah manfaatnya? Ternyata jauh lebih banyak, antara lain:

  1. Menambah kosa kata
  2. Mengoptimalkan kerja otak
  3. Menambah wawasan dan informasi baru
  4. Meningkatkan kemampuan interpersonal
  5. Mengembangkan kemampuan verbal
  6. Melatih kemampuan berfikir dan menganalisa
  7. Meningkatkan fokus serta konsentrasi
  8. Meningkatkan kemampuan dalam menangkap makna dari sebuah informasi
  9. Melatih kemampuan menulis serta merangkai kata

Melihat perkembangan teknologi saat ini, maka kegiatan literasi pun mengalami perubahan, sehingga tidak hanya berkenaan dengan literasi media / literasi dasar, berupa kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan berhitung saja, namun telah merambah ke beberapa definisi literasi lanjutan, yaitu:

– Literasi Visual, merupakan suatu pemahaman yang lebih antara literasi media dan literasi teknologi, yang dikembangkan melalui pemanfaatan materi visual.

– Literasi Media, adalah sebuah kemampuan untuk dapat mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik, serta dapat menggunakan masing-masing media tersebut secara bijak.

– Literasi Teknologi, merupakan kemampuan untuk dapat memahami kelengkapan suatu teknologi, meliputi hardware dan software, serta memahami cara mengakses internet dan mengerti etika dalam berteknologi.

Membudayakan Literasi dalam Keluarga

Sebagaimana telah disebutkan, bahwa literasi bukan hanya persoalan membaca saja, namun lebih menitikberatkan pada budaya belajar yang pembentukannya harus dilakukan secara berkesinambungan, dimulai dari dalam keluarga. Dengan demikian, kelak diharapkan akan terbentuk sosok manusia yang berwawasan luas, memiliki rasa ingin tahu yang besar serta tentunya mencintai kegiatan membaca.

Tak dapat dipungkiri bahwa keluarga sangat berperan dalam pembentukan budaya literasi ini. Membangun budaya literasi di lingkungan keluarga, bukan berarti harus menyediakan ruangan khusus yang dipenuhi buku mahal layaknya perpustakaan, namun yang terpenting adalah membangun mindset.

Bagaimana orangtua menerapkan kebiasaan membaca dan menulis melalui berbagai kegiatan literasi, seperti mendongeng sebelum tidur, membacakan buku dengan suara keras (read aloud), membuat kliping, scrabbook, ataupun majalah dinding.

Orangtua dapat juga menanamkan budaya literasi sejak dini melalui berbagai permainan edukasi, seperti buku kain untuk bayi, hard book untuk batita, big book untuk balita, ataupun memanfaatkan gambar-gambar di majalah bekas yang kemudian diubah menjadi sebuah cerita baru melalui teknik montage.

Jika sejak bayi anak sudah terbiasa disuguhi aneka mainan literasi, maka budaya literasi dalam keluarga akan terbangun dengan sendirinya. Minat baca mereka akan tinggi, otaknya akan selalu dipenuhi rasa ingin tahu, serta memiliki kemampuan berfikir kritis dan berusaha unruk menemukan jawabannya sendiri, antara lain melalui buku.

Di samping itu, sebagai orangtua kita harus sering melakukan kegiatan diskusi dalam keluarga, agar terjalin kedekatan emosional. Dengan demikian, anak akan merasa selalu diperhatikan oleh orangtuanya. Hal ini sejalan dengan motto di Ibu Profesional, yaitu “Perbanyak Main Bareng, Ngobrol Bareng dan Berkegiatan Bareng”.

Jika semua keluarga di Indonesia mampu menerapkan budaya literasi sejak dini, tidak mustahil Indonesia Emas pada tahun 2045 akan benar-benar terwujud, sebab implikasi dari literasi adalah melahirkan anak-anak yang cerdas dan produktif.

Membicarakan tentang literasi, nanti malam live di akun Instagram @institut.ibuprofesional akan digelar PIJAR TALK bertema Melek Literasi Digital. Jangan sampai ketinggalan ya, mulai dari jam 19.30!

Selamat Hari Literasi Internasional, 8 September 2020

Gina Hendro _ Tim Medkom IIP