Keren dengan Internet: Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

Keren dengan Internet: Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

Ringkasan kuliah zoom dengan Rita Nurlita, program Zumba 4 Ibu Profesional Depok, 26 Mei 2021

 

Internet pada masa pandemi

Internet mulai digunakan secara meluas sejak tahun 1990-an. Arus informasi dan jejaring mulai masuk dan menyebar dengan mudahnya ke seluruh penjuru dunia tanpa ada sekat dan batas. Berawal dari kalangan tertentu, seperti pemerintahan dan badan pertahanan negara. Sekarang, internet bisa diakses dan dinikmati oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Meski banyak aturan tentang batasan usia terkait penggunaan internet, yang tidak mengijinkan anak-anak mengakses internet sendiri tanpa pengawasan orang tua. Terlebih di masa pandemi, anak-anak makin intensif menggunakan internet untuk kegiatan belajar secara dalam jaringan (daring). Kita ketahui bersama sejak virus Covid-19 masuk ke Indonesia, pemerintah menginstruksikan sekolah tatap muka dialihkan menjadi sekolah daring atau sekolah dari rumah, untuk menekan laju penyebaran penyakit yang disebabkan virus tersebut.

Internet bisa dimanfaatkan untuk sekolah daring, atau belajar dari rumah. Siswa/anak bisa berinteraksi dengan guru sekolah dan teman sekelasnya melaksanakan kegiatan belajar mengajar bersama dari rumah dengan menggunakan internet. Memanfaatkan aplikasi pendukung seperti Google Classroom, Google Meet, Whatsapp dan lain-lain untuk kegiatan belajar mengajar. Lantas, apa manfaat lain dari internet? tentu banyak! membantu dan mendukung berbagai aspek kehidupan manusia, antara lain:

  • Sumber informasi
  • Komunikasi
  • Hiburan
  • Memperluas jejaring pertemanan
  • Promosi kegiatan sekolah
  • Kompetisi

 

Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

 

Tapi, internet bisa diibaratkan pedang bermata dua, yang mempunyai sisi negatif bila digunakan dengan berlebihan, tanpa filter/saringan. Terlebih, dampaknya pada anak-anak yang kini makin intensif menggunakan internet. Penting sekali mengedukasi anak-anak dan juga orang tua tentang perlunya kesadaran, kecerdasan dan kebijakan dalam penggunaan internet. Salah satunya dengan memberikan pemahaman beberapa dampak buruk dari penggunaan internet yang berlebihan, tidak bijak dan tidak cerdas. Berikut beberapa dampak negatif internet:

  • Gangguan kesehatan fisik, seperti pada penglihatan, struktur tulang belakang akibat duduk yang terlalu lama menatap layar
  • Menciptakan jarak antara anak dan keluarga, bila masing-masing selalu sibuk dengan perangkat selulernya. Di rumah jarang tercipta komunikasi dan interaksi yang intensif dan harmonis, jarang mengobrol dan bermain bareng.
  • Kecanduan media sosial dan game online. Tidak tertarik lagi bermain fisik, menarik diri dari pergaulan di kehidupan nyata, cenderung lebih suka bersosialisasi di dunia maya.
  • Masalah mental. Menjadi FOMO (Fear of Missing Out) yakni cenderung ingin tahu semua hal lebih dulu, takut ketinggalan informasi, mudah membagikan/share informasi tanpa menyaring dulu. Gelisah, minder, kurang percaya diri akibat sering stalking hidup orang lain yang (seolah-olah) selalu indah, nyaman dan mudah.
  • Menjadi korban kejahatan. Beragam kejahatan online yang muncul dewasa ini, seperti: pornografi, predator online, kekerasan, cyberbullying, pencurian identitas, penipuan, eksploitasi seksual dan lain-lain.

 

Nah, begitu meresahkan dan menakutkan dampak negatif internet, utamanya untuk anak-anak. Tantangan kita, sebagai orang dewasa, orang tua yang punya anak, berkewajiban mendidik diri sendiri dan anak-anak untuk sadar, cerdas dan bijak berinternet. Begitu banyak informasi hingga bisa dibilang tsunami informasi yang membanjiri internet dan meluber ke user atau penggunanya. Hendaknya paham cara menyaring informasi, mana yang valid dan mana yang hoax. Berikut cara mengenali hoax dirangkum dari www.liputan6.com dan Mafindo:

  • Jangan langsung percaya dengan judul
  • Cermati tautannya
  • Selidiki sumbernya
  • Amati jika ada format beritanya tidak wajar
  • Cek fotonya
  • Periksa tanggalnya
  • Periksa buktinya
  • Bandingkan dengan laporan lain
  • Apakah berita tersebut hanya lelucon?
  • Beberapa berita memang sengaja dipalsukan

 

Baca juga:

 

Etika di Dunia Maya

Prinsip etika di dunia maya sama dengan dunia nyata. Etika saat berkomunikasi, adab dalam bersosialisasi harus selalu diterapkan dalam berinteraksi dan bermedia sosial. Saling menghargai dan menghormati antar manusia juga harus dijunjung tinggi. Pada dasarnya kita bebas memposting apa saja di media sosial asalkan tidak bertentangan dengan hukum, etika dan adab. Seperti posting kegiatan, hobi, karya, petikan buku, dan lain-lain, pastikan itu hal yang baik, benar dan bermanfaat. Nah, beberapa hal seperti di bawah ini sebaiknya jangan diposting ya! (www.kalbaronline.com)

  • Alamat rumah atau sekolah
  • Nomor telepon
  • Geolokasi Anda saat ini
  • Foto dan video pribadi
  • Mengompromikan foto orang lain
  • Foto bayi dari anak remaja
  • Foto barang-barang mewah
  • Informasi tentang kehidupan pribadi
  • Pernyataan kritis tentang topik sensitif

 

Bila rambu-rambu berinternet sudah dipahami, kita bisa memanfaatkannya untuk hal dan kegiatan yang positif dan bermanfaat untuk kita dan atau orang lain. Beberapa akun media sosial influencer sangat keren, menginspirasi dengan karya dan prestasinya. Kita bisa mengikuti jejak mereka, berkarya dengan kemampuan, menginspirasi hal positif dan kebaikan. Bahwa berinternet dengan sadar, cerdas dan bijak bisa meraup banyak ilmu pengetahuan, inspirasi dan kemajuan.

 

Budget Plan, Penting!

Budget Plan, Penting!

Oleh: Irma Linda

Mahasiswi Bunda Produktif batch 1

Dalam e-book Gado Gado Finansial, Tim Rumah Ramah Finansial, 2021

 

Rejeki Sudah Ada Yang Atur Namun Persiapan Tetap Diperlukan

 

Berangkat dari kondisi yang banyak terjadi saat ini pada keluarga Indonesia, yang ternyata masih banyak keluarga Indonesia belum mengenal istilah Dana Darurat. Disamping itu, fakta ‘cicilan’ yang ada di keluarga Indonesia, ternyata banyak yang dilakukan tanpa perhitungan, seperti: cicilan rumah, cicilan mobil, cicilan motor, cicilan HP dan lain-lain.

Bagaimana cara mengawali Budget Plan?

Catat pengeluaran keluarga! Poin penting agar kita bisa mengetahui kondisi keuangan kita saat ini. Buat catatan, bisa menggunakan aplikasi HP, Excel di laptop ataupun catat manual di buku. Cari cara yang praktis dan memudahkan Anda.

Pos-pos pengeluaran bisa dikelompokkan menjadi empat :

  1. Kewajiban : cicilan hutang, tagihan listrik & air, SPP sekolah, gaji ART, iuran kompleks.
  2. Kebutuhan : biaya makan, belanja bulanan (groceries), transport, pulsa
  3. Keinginan & Sosial : ngopi/nongkrong, shopping, jajan, sedekah dan zakat
  4. Tabungan dan Investasi

Kewajiban itu pos yang harus dibayarkan, jumlahnya tetap dan bisa diketahui jumlahnya, maka langsung sisihkan!

Daftar kebutuhan dari pengeluaran bulan lalu, hitung totalnya! Kemudian, hitung kebutuhan per bulannya.

Keinginan dapat dialokasikan ke budget di awal bulan, misal budget shopping dan jajan per bulan. Begitupun sedekah dan zakat juga dapat dialokasikan di awal bulan, misal 2,5% sedekah dan 2.5% zakat

Selanjutnya totalkan seluruh jumlah pengeluaran!

Hitung: Pemasukan – Total Pengeluaran

Bagaimana hasilnya?

  • Ada sisa. Bagus, alokasikan ke porsi Tabungan dan Investasi
  • Tidak ada sisa. Coba evaluasi lagi masing-masing pos di atas, belanja bulanan bisa dikurangi lagi, misalnya dengan membeli merk yang lebih murah. Pos shopping dan jajannya dikurangi.
  • Ada sisa tapi kecil sekali atau bahkan tak bersisa. Tapi sudah tidak ada yang bisa dikurangi lagi pos-pos pengeluarannya. Maka, carilah tambahan penghasilan dan tetap semangat!

 

Langkah terakhir 

Angka yang didapat setelah melakukan perhitungan (antara pemasukan dan pengeluaran) selanjutnya dijadikan BUDGET (untuk dicatat). Praktekkan kembali untuk bulan depan. Apakah sesuai? Jika belum sesuai, maka evaluasi kebocoran keuangan kita dimana, di pos apa. Sesuaikan lagi untuk bulan berikutnya, evaluasi. Begitu terus hingga Anda menemukan pola yang pas.

Untuk bisa menabung dan berinvestasi, kita wajib mengetahui berapa biaya hidup kita. Mencatat pengeluaran memang ‘malesin’ tapi harus dilakukan sebagai langkah awal perjalanan keuangan keluarga Anda!

 

Hidroponik Asyik dengan Sistem Wick

Hidroponik Asyik dengan Sistem Wick

Oleh: Steffi Dwithasari

Praktisi Hidroponik, Urban Farming

Ibu 2 anak yang berdomisili di Bogor, makin intensif berkebun hidroponik sejak resign dari karirnya sebagai Engineer di perusahaan migas. Pernah menjadi supplier kale dan pokcoy dari hidroponik, juga memproduksi susu almond.

Mahasiswi Bunda Produktif batch#1

CH Sustainable Living

Bayangkan jika kita bisa memetik sayuran sendiri tiap kali mau masak, mudah mencucinya, bersih dan bebas pestisida, masih segar teksturnya, dan minim bahan kimia. Kita bisa lho memanen sendiri sayuran dari rumah, dengan mulai menanam benihnya. Mau tau cara asik berkebun hidroponik dengan sistem Wick?

Apa itu Hidroponik?

Metode budidaya tanaman tanpa media tanah , tetapi memanfaatkan air/larutan mineral yang diperlukan oleh tanaman. Terbukti lebih hemat air daripada menanam secara konvensional. Baik/cocok untuk perkotaan atau yang berlahan sempit.

Jenis Hidroponik
  1. Air menggenang/statis : sistem Wick, air statis dalam wadah, tidak mengalir, tidak membutuhkan alat khusus
  2. Air mengalir : aeeoponic, drip, sistem pasang surut, deep water culture

Sistem Wick

Berasal dari kata sumbu, nutrisi yang diterima akar dialirkan melalui sumbu. Sistem wick menggunakan wadah untuk menampung air nutrisi dan tanaman. Ukuran wadah tergantung dari kebutuhan. Bisa juga memanfaatkan bahan bekas sebagai wadah

Kelebihan Sistem Wick
  • Mudah dan murah dalam mendapatkan bahan
  • Instalasi paling sederhana
  • Tanpa pasokan listrik
  • Bisa ditanam indoor maupun outdoor
Kekurangan Sistem Wick
  • Keterbatasa jumlah tanaman yang dibudidayakan
  • Sulit mengontrol keasaman media jika terlalu banyak tanaman
  • Keterbatasan penyaluran nutrisi oleh sumbu, sehingga hanya cocok untuk tanaman yang tidak doyan air
Bahan dan Alat
  1. Wadah : untuk menampung air nutrisi dan tanaman. Bisa berupa ember, baki, syrofoam, botol dll
  2. Media tanam : untuk menopang tanaman mulai dari pembenihan hingga tumbuh. Bisa berupa rockwool, kapas, dll
  3. Sumbu: untuk mengalirkan nutrisi ke tanaman. Bisa berupa kain flanel, sumbu kompor, kain bekas, dll
  4. Nutrisi : air yang telah diberikan pupuk tanaman khusus untuk tanaman hidroponik. Bisa menggunakan nutrisi yang dijual bebas atau membuat sendiri dari MOL
  5. Perkakas lain: seperti benih, cutter, spidol, gelas, netpot, dll
Cara membuat modul hidroponik sistem wick DIY (do it yourself)
  1. Ukur diamenter gelas plastik atau netpot yang akan digunakan
  2. Lubangi bagian permukaan bahan seukuran dengan gelas plastik / netpot
  3. Lubangi bagian bawah gelas plastik agar sumbu bisa masuk ke dalamnya
  4. Masukkan sumbu ke dalam gelas plastik/ netpot
  5. Letakkan bagian yang berlubang di atas wadah
  6. Masukkan netpot ke dalam bagian yang berlubang
  7. Modul siap digunakan

Air Nutrisi

Nutrisi hidroponik adalah pupuk hidroponik lengkap yang mengandung semua unsur hara makro dan mikro yang diperlukan tanaman hidroponik. Pupuk tersebut dikenal dengan nama ABmix. ABmix terdiri dari pupuk A dan pupuk B yang kemudian dicampurkan sebagai nutrisi tanaman. Nutrisi ABmix bermacam-macam, tergantung jenis tanaman yang ditanam. Pupuk tersebut dijual dalam bentuk bubuk maupun cair di toko maupun online shop.

Cara penanaman dan perawatan
  1. Benih disemai
  2. Siapkan larutan nutrisi dan isi di wadah hidroponik
  3. Setelah keluar daun sejati, pindahkan ke dalam netpot/gelas plastik
  4. Masukkan netpot/gelas plastik ke dalam modul hidroponik yang sudah dibuat sebelumnya
  5. Aduk nutrisi minimal 1x sehari
  6. Ganti air nutrisi bila berbusa, berlumut atau tanaman menguning

Tutorial lengkap bisa simak ke https://fb.watch/69jleC6VUf

 

Pengasuhan Positif untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Pengasuhan Positif untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

HIMA Jakarta kembali mengadakan acara COBEK#5 (Curhat Orang Berbakat, Enerjik, dan Keren) pada hari Sabtu, 13 Maret 2021. Tema yang diangkat pada COBEK#5 adalah mengenai pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dalam rangka Hari Down Syndrome yang diperingati pada 21 Maret.

HIMA Jakarta mengundang dua orang narasumber: Dewi Andriyani, S.Psi., guru ABK dan Finalita Sufianti, orang tua dengan anak disleksia. Mereka berdua merupakan mahasiswi bunda produktif#1. Acara ini diadakan melalui platform Zoom dan dipandu oleh Talitha Rahma, mahasiswi bunda sayang#6. Mau tahu bagaimana keseruan acara ini? Yuk langsung saja kita intip isinya.

Sebelum acara berlangsung, panitia membagikan ringkasan materi ke grup WhatsApp COBEK#5. Para peserta sangat antusias memberikan pertanyaan untuk narasumber di ruang obrolan WhatsApp. Ruang Zoom dibuka oleh host pada pukul 09.45 WIB dan acara dimulai tepat pada pukul 10.00 WIB.

Di awal acara, Dewi Andriyani menjelaskan bahwa pada umumnya setiap individu memiliki 6 kemampuan: 1). sikap dan perilaku; 2). keterampilan bergerak; 3). bahasa dan bicara; 4). sosial dan emosional; 5). kemandirian; dan 6). kecerdasan. Semua kemampuan tersebut harus diamati bersamaan dengan tumbuh kembang anak (deteksi sejak dini). Apakah ini akan berkembang sesuai tahapan atau terdapat penyimpangan. Jika mengalami penyimpangan atau hambatan, maka bisa terjadi dua kemungkinan:

  1. Anak lambat berkembang (ALB), ketika terhambat 1 atau 2 aspek perkembangan dari tingkat umur dan perkembangan anak pada umumnya.
  2. Anak berkebutuhan khusus (ABK), ketika terhambat >2 aspek perkembangan dan lebih dari 1 tingkat umur.

Anak berkebutuhan khusus (ABK) biasanya mengalami beberapa hambatan perkembangan, salah satunya gangguan belajar yang terbagi menjadi 2 jenis:

  1. Bersifat developmental, berhubungan dengan perkembangan (gangguan motorik, persepsi, komunikasi, dan penyesuaian perilaku sosial).
  2. Bersifat akademik (khusus), menunjuk pada adanya kegagalan pencapaian prestasi akademik sesuai dengan kapasitas yang diharapkan (penguasaan keterampilan bahasa, membaca, mengeja, menulis, dan matematika). Selanjutnya, gangguan belajar bersifat akademis memiliki beberapa klasifikasi:
  1. Disphasia, adalah anak yang mengalami kesulitan berbahasa verbal, berbicara, dan berbagai kekurangan bahasa
  2. Disleksia, adalah anak yang mengalami kesulitan membaca termasuk tidak mampu mengeja
  3. Disgraphia, adalah anak yang mengalami kesulitan menulis (penyimpangan kelancaran verbal dan menyatakan pikiran dalam bentuk tulisan)
  4. Diskalkulia, adalah anak yang mengalami ketakmampuan untuk berfikir kuantitatif/berhitung

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah seseorang termasuk berkebutuhan khusus atau tidak? Berikut ini terdapat beberapa gejala yang bisa diamati pada anak balita, anak yang lebih dewasa, ataupun remaja dan dewasa.

A. Gejala pada balita.

  1. Lambat bicara dan perkembangan kosakata yang sedikit dibandingkan dengan anak seumurannya;
  2. Bermasalah dalam pengucapan;
  3. Kesulitan belajar alfabet, angka, bentuk, dan warna;
  4. Kesulitan mengikuti petunjuk atau instruksi;
  5. Kesulitan kemampuan motorik;
  6. Mudah terganggu;
  7. Masalah dengan interaksi sosial.

B. Gejala pada anak yang lebih dewasa.

  1. Lambat untuk mempelajari suara-suara asosiasi;
  2. Konstan melakukan kesalahan ketika membaca, menulis, atau mengeja;
  3. Kesulitan dan kebingungan dalam tanda aritmatika matematika (seperti tanda x dan +);
  4. Lambat untuk belajar keterampilan baru;
  5. Tidak menyadari akan bahaya (resiko);
  6. Miskin konsentrasi;
  7. Membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan teman sebaya nya untuk pelajaran sekolah atau pekerjaan rumah;
  8. Terbalik atau susah untuk memahami huruf seperti p dengan q, b dengan d, s dengan z;
  9. Menghindari membaca dengan suara keras;
  10. Tulisan tangan yang jelek;
  11. Kesulitan untuk berteman;
  12. Nilai akademik jelek.

C. Gejala yang ditampilkan remaja dan dewasa.

  1. Menghindari membaca dan menulis tugas;
  2. Salah membaca sesuatu, salah mengeja;
  3. Bekerja secara perlahan;
  4. Bermasalah dengan konsep-konsep abstrak;
  5. Bermasalah pada ingatan, misalnya mudah lupa.

Pemaparan yang disampaikan dua orang narasumber ini tidak hanya berhenti di ruang Zoom. Karena keterbatasan waktu, maka diskusi ini masih berlanjut di dalam grup Whatsapp. Berikut ini ada beberapa tanya jawab di dalam grup COBEK#5.

Selanjutnya, apakah ABK bisa disembuhkan?

Finalita Sufianti mengatakan bahwa disleksia bukanlah suatu penyakit. ABK bukan penyakit, melainkan kelainan fungsi neurologis yang akan disandang oleh seseorang seumur hidup. Mungkin beberapa dokter memberikan terapi farmakologis seperti obat dari golongan metilfenidat untuk anak attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) supaya mudah konsentrasi.

Lalu, apa pertolongan yang bisa diberikan pada ABK?

Finalita Sufianti menjelaskan beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menolong ABK berdasarkan pengalaman pribadinya. Pertama, ABK harus segera dibantu tenaga ahli untuk menjalankan terapi. Kedua, Orang tua perlu bertemu dengan ahlinya untuk membantu mengintervensi kondisi anak. Ketiga, ABK membutuhkan metode pengajaran yang berbeda dibandingkan anak lainnya, misalkan dengan mengatur jenis font atau memodifikasi kegiatan. Keempat, Orang tua perlu melakukan koping strategi untuk mengelola stres yang dialaminya, yaitu dengan melakukan self management, menemui ahli, dan mencari support system yang baik. Kelima, Jangan selalu membantu ABK, biarkan anak belajar mandiri. Insya Allah dengan begitu, ABK akan bisa mandiri dan bersosialisasi dalam kehidupan biasa.

Apabila anak sering tidak mendengar instruksi yang diberikan dan terkadang seperti tidak mendengar jika dipanggil, apa yang harus dilakukan?

Menurut Dewi Andriyani, hal yang dapat dilakukan adalah cek masalah pendengaran anak dengan tes Brain Evoked Response Auditory (BERA). Selanjutnya, konsultasi ke terapis tumbuh kembang untuk terapi wicara. Jika sudah mengalami kesulitan bicara, maka bisa dilakukan terapi speech delay.

Bagaimana cara menstimulasi anak 4 SD (10 tahun) yang sangat kesulitan belajar matematika, terutama soal cerita dan perhitungan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari?

Coba amati permainan yang disukai anak, misalnya lego atau mobil-mobilan. Lalu, amati seperti apa gaya belajar anak. Untuk anak visual kinestetik dapat menggunakan media. Kemudian menentukan kata kunci pada soal, misalnya “dibagi rata” untuk pembagian, “total jumlah “untuk penjumlahan, dan “selisih” untuk pengurangan. Dari kata kunci tersebut anak bisa menentukan koping strategi untuk sebuah soal. Intinya, kita sebagai pendamping harus menggali dulu metode belajarnya seperti apa, mencari kata kunci pada soal cerita, dan mendampingi terus ketika belajar. Jangan sampai membuat anak stress. Setiap mau belajar, anak ditanya dan dibuat target mau menyelesaikan berapa lembar soal. Jika anak sudah tidak mau mengerjakan, maka disudahi saja. Jangan sampai anak merasa jenuh karena setiap anak ada kapasitasnya. Utamakan kewarasan dan kebahagiaan anak. Begitulah tips yang dibagikan oleh Finalita Sufianti.

Apa yang bisa dilakukan ketika anak 7 tahun masih sering terbalik menulis angka 2,3,5,6,7,9 dan huruf b & d sesekali? Kondisinya anak membaca cukup lancar, tulisannya sesuai mood bagus tidaknya, sedikit kurang fokus, hafalannya lumayan kuat.

Bisa dilatih menggunakan pendekatan multisensori seperti mengenalkan angka-angka dengan lilin plastisin, pasir, sand paper, atau media lainnya. Bisa juga menggunakan metode Montessori.

Di Montessori, huruf yang memiliki bentuk dan suara yang mirip diajarkan secara terpisah. Jika kondisinya sudah lancar membaca, bisa diajarkan berulang untuk fokus ke kata yang memiliki huruf “b” tanpa adanya huruf “d”. Jika sudah lancar tanpa salah, bisa dilanjutkan ke kata yang memiliki huruf “d”. Selanjutnya, bisa juga diulang-ulang untuk bunyi fonetik dari hurufnya.

Pendamping juga bisa melakukan observasi, dimanakah posisi pendamping setiap mencontohkan angka kepada anak? Di samping atau di depan? Sebaiknya pendamping berada di sebelah tangan dominan anak ketika mengajarkan angka. Apabila berada di depan anak, mereka akan melihat gerakan tangan ketika menuliskan angka secara terbalik.

Jika anak tidak melalui fase merangkak ketika bayi, apakah bisa menjadi penyebab disleksia?

Finalita Sufianti mengatakan bahwa hal tersebut merupakan salah satu rumor yang beredar di masyarakat Indonesia. Berikut ini merupakan beberapa rumor mengenai disleksia menurut Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI):

  1. Disleksia disebabkan karena tidak merangkak;
  2. Diagnosis disleksia itu hanya ‘mengada-ngada’;
  3. Disleksia itu hanya perkara sulit membaca, menulis, dan berhitung (calistung) saja;
  4. Disleksia itu karena anaknya bodoh, malas, dan tidak ada motivasi;
  5. Disleksia menular;
  6. Disleksia bisa minum obat tertentu supaya sembuh.

“Setiap anak itu unik. Allah tidak menciptakan produk gagal. Fitrahnya manusia yaitu saling menyayangi dan melengkapi, tidak membedakan normal atau tidak normal. Kurva itu seimbang jika ada plus dan minus.” Dewi Andriyani.

Disusun oleh Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta
Penulis: Faizah Khoirunnisaa
Editor: Maria Fatimah
Desain: Winda

5 Langkah Minim Sampah Mulai Dari Rumah

5 Langkah Minim Sampah Mulai Dari Rumah

Oleh: Annisa Ramadhani

IP Kalimantan Selatan

Haskar Mahasiswi Bunda Cekatan#2

5 Langkah Minim Sampah Mulai Dari Rumah

Mengapa kita harus mulai care dan mengurangi  sampah yang dikeluarkan dari rumah? Karena banyak sekali dampak lingkungan yang sudah terjadi dan makin lama makin buruk. Maka segera saja kita mulai :

  1. Mengurangi sampah di TPA yang sudah menggunung
  2. Menjaga kelestarian lingkungan
  3. Mengurangi resiko bencana alam
  4. Mendapat pupuk alami dari pengolahan sampah dapur

Sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan sebagai bentuk peduli lingkungan dan mengurangi sampah. Berikut 5 Langkah Minim Sampah dari Rumah yang bisa diterapkan:

  1. Mengganti sedotan plastik sekali pakai dengan bahan stainless steel yang bisa dipakai ulang
  2. Memanfaatkan kemasan plastik untuk polibag berkebun
  3. Mendaur ulang minyak jelantah jadi sabun
  4. Memanfaatkan sisa kemasan plastik untuk mainan anak
  5. Memanfaatkan sisa sampah dapur untuk dibuat kompos

 

Merubah Kebiasaan Lama ke Baru

Merubah Kebiasaan Lama ke Baru

oleh: Ikka Rizqie

Ibu Profesional Jember Raya

Hasil Karya Mahasiswi Bunda Cekatan#2

Merubah kebiasaan lama ke baru ini sebagai usaha menjadi ahli gizi keluarga secara holistik. Namun ahli gizi keluarga secara holistik versi saya ini mengarah ke “preventif maintenance”. Maksudnya adalah mencari solusi untuk keluhan ketidaknyamanan terkait pencernaan maupun mengobati penyakit yang dialami anggota keluarga kami. Sehingga keluhan yang dialami menjadi berkurang bahkan sampai sehat, lalu merawat terus kondisi sehat tersebut. Fokusnya melalui makanan dan juga melalui fikiran (holistic). Sebab kita tau, jika seseorang mengalami stress maka asam lambung akan naik. Hal itu akan berpengaruh ke sistem pencernaannya juga.

Untuk bisa menjadi ahli, menurut artikel Jamil Azzani manusia dalam membentuk dirinya menjadi seorang ahli/expert maka ia harus sering mengulang apa yang ia inginkan menjadi ahli. Pengulangan terbaik adalah pengulangan yang disertai pemaknaan dalam setiap gerakan anda.

Silahkan simak 5 tips bagaimana saya merubah habit kebiasaan lama ke kebiasaan baru :

  1. Selesaikan emosi : chunkdown limiting belief, misal: ubah mindset ‘saya harus masak tiap hari’ dengan ‘saya bisa kok masak tiap hari, dengan memulai hari sebelum subuh, food preparation dan meal plan’
  2. Fokus pada tujuan : definisikan dengan jelas dan lengkap, serta hasil yang diinginkan. Contoh: dengan masak sehat tiap hari, tubuhku jadi sehat, hormonal jadi stabil sehingga siklus menstruasiku jadi teratur
  3. Bangun kedekatan : bangun komunikasi produktif dengan banyak ngobrol bersama keluarga untuk menggali menu favorit masing-masing anggota keluarga
  4. Ketajaman indera : diharuskan peka dengan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar dan apa yang kita rasa. Contoh: kita pernah lihat ibu doyan makan suatu menu, maka kita bisa ulang di lain waktu masak menu tersebut
  5. Fleksibel dalam bertindak : contohnya ibu tingkat kolesterolnya tinggi, maka usahakan memasak yang digoreng-goreng, berkreasi makanan kukus tapi tak kalah enak

 

Simak tips Merubah Kebiasaan Lama ke Baru ala Ikka Rizqie melalui video (link) dibawah ini :

https://www.facebook.com/qieikka/posts/10219608941677567?__tn__=-UK*F