Kunjungan Tim IIP Pusat ke Hima IP Gresik

Pada tanggal 22 Juni 2021 lalu, dapurnya Hima IP Gresik kedatangan tamu istimewa lho. Senang sekali akhirnya ada yang berkunjung ke dapur kami dari non regional Gresik untuk pertama kalinya sejak Hima berdiri awal tahun 2020 lalu. Tamu special itu adalah teh Chika selaku Rektor IIP dan teh Reni selaku ManHumas IIP pusat. Beliau berdua sebagai perwakilan pusat untuk meninjau dan mengobrol langsung lebih dekat dengan kami para pengurus Hima IP Gresik.

Diawali dengan perkenalan karena memang kami belum pernah ngobrol langsung secara personal dengan beliau-beliau. Biasanya kami bertemu hanya di dalam forum besar atau media social umum seperti WAG ataupun di Live2 Instagram maupun facebook. Dilanjutkan dengan Tanya jawab / sharing pengalaman dari tim pusat kepada kami. Rangkuman pembahasannya antara lain:

  1. Bagaimana cara mengaktifkan member baik di Hima maupun non Hima, karena banyak member yg diam setiap ada pengumuman, kabar, dan sebagainya?
    Teh Chika : Poin awal adalah jangan berharap pada member untuk aktif.  Sebab kita tidak bisa berharap semua untuk aktif semua dan partisipasi diharapkan memang muncul dari keinginan diri setiap orang. Poin kedua, dengan menggandeng/mendekati teman-teman lain yang dekat secara personal, minimal sesama pengurus Hima bisa saling meramaikan di grup besar saat ada sesi diskusi dan kegiatan apapun. Berharap dengan adanya energy positif yang ramai asik ceria di grup dapat memancing teman-teman lain untuk ikut berkomentar / berpartisipasi.
    Teh Reni: bahwa sebagai leader/pengurus kita harus happy saat ada woro-woro di grup. Memancing teman-teman untuk sekedar mengeluarkan emoticon atau komen singkat. Contohnya saat sharing info teman-teman diminta untuk mengeluarkan emoticon jempol atau komen singkat bagi yang sudah membaca. Dan pengurus juga terus mensupport dalam meramaikan dan menampakkan kebahagiaan setiap moment di grup.
  1. Untuk tipe orang yang silent reader (memilih untuk menjadi penikmat informasi / tidak berniat untuk sharing/berbagi), apakah dicolek secara personal tidak mengganggu privasinya (takutnya jadi sungkan/tidak enak hati)?
    Ingat kembali ke poin Komunikasi Produktif (KomProd): “I’m Responsible for my Communication Result” jadi apapun hasil pembicaraan yang kita sampaikan adalah tanggung jawab kita sebagai penyampai pesan.
    Menerapkan KomProd ke-2 “Do not assume” : Jangan mengambil kesimpulan bahwa orang yang akan kita colek pasti akan merasa tidak nyaman. Tetap dicoba dulu disapa secara personal, cari tau dulu tentang seseorang itu. Agar saat berkomunikasi dia merasa nyaman untuk mengobrol dengan kita, sehingga nantinya akan mau ikut berpartisipasi/mendukung tiap program yang kita lakukan.
    Kita tidak bisa mengendalikan sesuatu diluar diri kita, yang bisa kita kendalikan adalah diri kita, cara berkomunikasi kita, respon kita terhadap sesuatu. Jadi lebih baik fokus pada koreksi diri & pengembangan diri kita apa yang dilakukan kedepannya, agar lebih enjoy menjalani peran. Belajar menganalisa kesalahan kita dari respon si penerima pesan / feedback dari pendengar. Jangan terbutakan oleh ego, emosi yang tinggi dan nalar yg rendah sehingga sulit menemukan kesalahan kita atau sulit melakukan false celebration.
  1. Kenapa saat ini yang mengikuti kelas perkuliahan semakin sedikit?
    Karena memang IP New Chapter ini member dapat memilih untuk berkiprah dimana (komunitas, hima ataupun Sejuta Cinta) sesuai minat/passion masing-masing.
  1. Cara “nodong” untuk meminta member mau ikut sharing/tampil etis atau tidak?
    Triknya diawali dengan buat program sharing terbuka untuk all member Hima, namun jangkauan sharingnya secara internal dahulu. Program di share di grup dengan membuat slot jadwal dan member bebas mengisi waktunya. Jika sampai batas waktu tertentu ada yang belum respon bisa dicolek japri untuk minta tlong diisi jdwal di grup.
    Respon secara antusias topik yang mau dia bagikan, gali potensinya dan terus motivasi untuk mau berbagi, dimulai dari internal sampai jika berkenan ditawarkan sharing ke eksternal Hima.

Diakhir waktu teh Chika dan teh Reni membagikan oleh-oleh ebook “Demi Masa” yang masya Allah isinya berhubungan sekali dengan peran seorang ibu yang sering merasa kehabisan waktu. Terima kasih atas kunjungan dan pencerahannya tim IIP pusat. Bismillah semoga Hima IP Gresik bisa lebih berkembang lagi dan memberi wadah terbaik untuk para membernya untuk terus belajar, tumbuh dan berkembang. Amiin.

 

Salam,

Tim HIMA IP Gresik

Keseruan Kunjungan HUMAS IIP Pusat ke Pengurus HIMA IIP Lampung

Keseruan Kunjungan HUMAS IIP Pusat ke Pengurus HIMA IIP Lampung

Hai IPER’s tercinta apa kabar? Semoga semangat menghadapi pandemi tidak surut dan semoga kita semua selalu diberi kesehatan . Aamiin

Meski pandemi dan tak bisa saling bertemu, semua itu tidak menyurutkan semangat member HIMA IIP Lampung untuk terus belajar, berbagi dan berdampak. Kali ini kegiatan HIMA IIP Lampung di kunjungi oleh HUMAS Pusat yang diwakili oleh Rektor IIP Teh Dzikra I. Ulya ( Chika) dan Manhumas IIP Mba Reni Kusuma.

Bagaimana keseruannya? Yuk simak ceritanya disini.. Kedatangan Teh Chika dan Mba Reni pada tanggal 8 Juni 2021 di jembatani oleh tim  humas IIP lampung yaitu Mba Pebrita Uliza Putri.

Kunjungan ini bertujuan agar semua pengurus HIMA lebih dekat satu sama lain baik sesama pengurus regional dan pengurus pusat.

Simak Pesan dan kesan pengurus HIMA IIP lampung selanma menjalani peranya masing-masing dan kebahagiaannya atas kunjungan dari IIP Pusat, bagimana rasanya? Tentu surprise donk,,,

Yuk kita kenalan dengan pengurus HIMA IIP Lampung, ini dia profilnya..

KAHIMA IIP LAMPUNG

MANOP HIMA IIP LAMPUNG

TIM MANOP HIMA IIP LAMPUNG

MENKEU HIMA IIP LAMPUNG

MANHUMAS HIMA IIP LAMPUNG

TIM HUMAS HIMA IIP LAMPUNG

MANMEDKOM HIMA IIP LAMPUNG

TIM MANMEDKOM HIMA IIP LAMPUNG

Kegiatan berlangsung selama 1 jam dan ini tentu saja sangat kurang waktu untuk berkenalan dan berbagi keseruan tentunya.

Selain pesan dan kesan banyak masukan dan ada beberapa kegiatan HUMAS dan MEDKOM yang dilakukan di HIMA IIP Lampung, walaupun memang masih banyak kegiatan yang dilakukan secara online, seperti saat Milad IIP Lampung yang ke 5  yang sangan membuat kita happy adalah kita kolaborasi dari semua komponen sejak New Chapter 2020. walaupun  untuk kegiatan HIMA masih lingkup internal regional, tetapi semangat untuk belajar di gtiap jenjang patut diapresiasi, begitu kutipan dari KAHIMA IIP LAmpung Mba Linda.

Mba Linda menambahkan bahwa memang 9 tim dari HIMA IIP Lampung masih terus menggodok kegiatan agar terus menjadi booster tersendiri saat semangat tim yang naik turun.  Saling support, saling bantu, saling mengingatkan dan kegiatan tidak akan berjalan tanpa tim yang solid di HIMA IIP Lampung.

” MasyaAllah, kekeluargaan yang sangat keren di HIMA IIP Lampung, ayo taklukkan tantangan pandemi ini’,  semangat yang diberikan mba Reni dan Teh Chika untuk tim HIMA Lampung.

Masih banyak lagi kegiatan yang di lakukan di HIMA IIP Lampung, diantaranya yang masih berjalan sampai saat ini yaitu :

  • Selasa Inspirasi, dimana kelompok yang dibagikan akan mencari inspirasi apasaja yang bisa dijadikan kegiatan selama pandemi di rumah saja, misalnay resep baru olahan rumah yang sederhana atau cara bercocok tanam.
  • Jum’at Hikmah, dimana setiap kelompok mencari kutipan hikmah bisa mengutip dari ayat Al Qu’an, Hadist atau kata motivasi lainnya, lalu dibahas sharing bersama di WAG..

adapun rencana yang masih dalam proses penggodokan adalah :

  • Bulan Agustus 2021 HIMA IIP Lampung akan mengadakan zoom meeting mempersiapkan kegiatan apa yang akan di lakukan saat 17 Agustus 2021.
  • Challange yang berkaitan dengan 17 Agustus 2021
  • Bulan September 2021 rencana kerja berkaitan dengan Challange Family Project yang masih dalam penggodokan.

walaupun asih sebuah rencana HIMA IIP Lampung terus berusaha semaksimal mungkin agar kegiatan di regional tetap berjalan dan terus memberikan positif energi untuk semua anggotanya, dan hal ini Teh Chika dan Mba Rani memberikan semangat yang menambah mood boster kami pengurus HIMA IIP Lampung kedepannya.

Waaaah kebayang dong serunya kegiatan ini, dan ini bukan kegiatan yang stop di HIMA IIP lampung saja lo.. akan terus bergiliran di HIMA regional lainnya juga. Dan kami ucapkan terima kasih atas kunjungan Teh Chika dan Mba Reni yang sudah berbagi ilmu dan keseruan di pengurrus HIMA IIP Lampung.

Demikianlah Warta Apik Kegiatan HIMA IIP Lampung kali ini. Jangan lupa untuk terus belajar agar dapat tumbuh menjadi perempuan produktif yang bisa  memberikan dampak positif  bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

SALAM SEHAT DAN JANGAN LUPA PROKES JANGAN KENDOR. SEMOGA KITA SELALU DALAM LINDUNGAN ALLAH TA’ALA. AAMIIN

Pengasuhan Positif untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Pengasuhan Positif untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

HIMA Jakarta kembali mengadakan acara COBEK#5 (Curhat Orang Berbakat, Enerjik, dan Keren) pada hari Sabtu, 13 Maret 2021. Tema yang diangkat pada COBEK#5 adalah mengenai pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dalam rangka Hari Down Syndrome yang diperingati pada 21 Maret.

HIMA Jakarta mengundang dua orang narasumber: Dewi Andriyani, S.Psi., guru ABK dan Finalita Sufianti, orang tua dengan anak disleksia. Mereka berdua merupakan mahasiswi bunda produktif#1. Acara ini diadakan melalui platform Zoom dan dipandu oleh Talitha Rahma, mahasiswi bunda sayang#6. Mau tahu bagaimana keseruan acara ini? Yuk langsung saja kita intip isinya.

Sebelum acara berlangsung, panitia membagikan ringkasan materi ke grup WhatsApp COBEK#5. Para peserta sangat antusias memberikan pertanyaan untuk narasumber di ruang obrolan WhatsApp. Ruang Zoom dibuka oleh host pada pukul 09.45 WIB dan acara dimulai tepat pada pukul 10.00 WIB.

Di awal acara, Dewi Andriyani menjelaskan bahwa pada umumnya setiap individu memiliki 6 kemampuan: 1). sikap dan perilaku; 2). keterampilan bergerak; 3). bahasa dan bicara; 4). sosial dan emosional; 5). kemandirian; dan 6). kecerdasan. Semua kemampuan tersebut harus diamati bersamaan dengan tumbuh kembang anak (deteksi sejak dini). Apakah ini akan berkembang sesuai tahapan atau terdapat penyimpangan. Jika mengalami penyimpangan atau hambatan, maka bisa terjadi dua kemungkinan:

  1. Anak lambat berkembang (ALB), ketika terhambat 1 atau 2 aspek perkembangan dari tingkat umur dan perkembangan anak pada umumnya.
  2. Anak berkebutuhan khusus (ABK), ketika terhambat >2 aspek perkembangan dan lebih dari 1 tingkat umur.

Anak berkebutuhan khusus (ABK) biasanya mengalami beberapa hambatan perkembangan, salah satunya gangguan belajar yang terbagi menjadi 2 jenis:

  1. Bersifat developmental, berhubungan dengan perkembangan (gangguan motorik, persepsi, komunikasi, dan penyesuaian perilaku sosial).
  2. Bersifat akademik (khusus), menunjuk pada adanya kegagalan pencapaian prestasi akademik sesuai dengan kapasitas yang diharapkan (penguasaan keterampilan bahasa, membaca, mengeja, menulis, dan matematika). Selanjutnya, gangguan belajar bersifat akademis memiliki beberapa klasifikasi:
  1. Disphasia, adalah anak yang mengalami kesulitan berbahasa verbal, berbicara, dan berbagai kekurangan bahasa
  2. Disleksia, adalah anak yang mengalami kesulitan membaca termasuk tidak mampu mengeja
  3. Disgraphia, adalah anak yang mengalami kesulitan menulis (penyimpangan kelancaran verbal dan menyatakan pikiran dalam bentuk tulisan)
  4. Diskalkulia, adalah anak yang mengalami ketakmampuan untuk berfikir kuantitatif/berhitung

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah seseorang termasuk berkebutuhan khusus atau tidak? Berikut ini terdapat beberapa gejala yang bisa diamati pada anak balita, anak yang lebih dewasa, ataupun remaja dan dewasa.

A. Gejala pada balita.

  1. Lambat bicara dan perkembangan kosakata yang sedikit dibandingkan dengan anak seumurannya;
  2. Bermasalah dalam pengucapan;
  3. Kesulitan belajar alfabet, angka, bentuk, dan warna;
  4. Kesulitan mengikuti petunjuk atau instruksi;
  5. Kesulitan kemampuan motorik;
  6. Mudah terganggu;
  7. Masalah dengan interaksi sosial.

B. Gejala pada anak yang lebih dewasa.

  1. Lambat untuk mempelajari suara-suara asosiasi;
  2. Konstan melakukan kesalahan ketika membaca, menulis, atau mengeja;
  3. Kesulitan dan kebingungan dalam tanda aritmatika matematika (seperti tanda x dan +);
  4. Lambat untuk belajar keterampilan baru;
  5. Tidak menyadari akan bahaya (resiko);
  6. Miskin konsentrasi;
  7. Membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan teman sebaya nya untuk pelajaran sekolah atau pekerjaan rumah;
  8. Terbalik atau susah untuk memahami huruf seperti p dengan q, b dengan d, s dengan z;
  9. Menghindari membaca dengan suara keras;
  10. Tulisan tangan yang jelek;
  11. Kesulitan untuk berteman;
  12. Nilai akademik jelek.

C. Gejala yang ditampilkan remaja dan dewasa.

  1. Menghindari membaca dan menulis tugas;
  2. Salah membaca sesuatu, salah mengeja;
  3. Bekerja secara perlahan;
  4. Bermasalah dengan konsep-konsep abstrak;
  5. Bermasalah pada ingatan, misalnya mudah lupa.

Pemaparan yang disampaikan dua orang narasumber ini tidak hanya berhenti di ruang Zoom. Karena keterbatasan waktu, maka diskusi ini masih berlanjut di dalam grup Whatsapp. Berikut ini ada beberapa tanya jawab di dalam grup COBEK#5.

Selanjutnya, apakah ABK bisa disembuhkan?

Finalita Sufianti mengatakan bahwa disleksia bukanlah suatu penyakit. ABK bukan penyakit, melainkan kelainan fungsi neurologis yang akan disandang oleh seseorang seumur hidup. Mungkin beberapa dokter memberikan terapi farmakologis seperti obat dari golongan metilfenidat untuk anak attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) supaya mudah konsentrasi.

Lalu, apa pertolongan yang bisa diberikan pada ABK?

Finalita Sufianti menjelaskan beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menolong ABK berdasarkan pengalaman pribadinya. Pertama, ABK harus segera dibantu tenaga ahli untuk menjalankan terapi. Kedua, Orang tua perlu bertemu dengan ahlinya untuk membantu mengintervensi kondisi anak. Ketiga, ABK membutuhkan metode pengajaran yang berbeda dibandingkan anak lainnya, misalkan dengan mengatur jenis font atau memodifikasi kegiatan. Keempat, Orang tua perlu melakukan koping strategi untuk mengelola stres yang dialaminya, yaitu dengan melakukan self management, menemui ahli, dan mencari support system yang baik. Kelima, Jangan selalu membantu ABK, biarkan anak belajar mandiri. Insya Allah dengan begitu, ABK akan bisa mandiri dan bersosialisasi dalam kehidupan biasa.

Apabila anak sering tidak mendengar instruksi yang diberikan dan terkadang seperti tidak mendengar jika dipanggil, apa yang harus dilakukan?

Menurut Dewi Andriyani, hal yang dapat dilakukan adalah cek masalah pendengaran anak dengan tes Brain Evoked Response Auditory (BERA). Selanjutnya, konsultasi ke terapis tumbuh kembang untuk terapi wicara. Jika sudah mengalami kesulitan bicara, maka bisa dilakukan terapi speech delay.

Bagaimana cara menstimulasi anak 4 SD (10 tahun) yang sangat kesulitan belajar matematika, terutama soal cerita dan perhitungan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari?

Coba amati permainan yang disukai anak, misalnya lego atau mobil-mobilan. Lalu, amati seperti apa gaya belajar anak. Untuk anak visual kinestetik dapat menggunakan media. Kemudian menentukan kata kunci pada soal, misalnya “dibagi rata” untuk pembagian, “total jumlah “untuk penjumlahan, dan “selisih” untuk pengurangan. Dari kata kunci tersebut anak bisa menentukan koping strategi untuk sebuah soal. Intinya, kita sebagai pendamping harus menggali dulu metode belajarnya seperti apa, mencari kata kunci pada soal cerita, dan mendampingi terus ketika belajar. Jangan sampai membuat anak stress. Setiap mau belajar, anak ditanya dan dibuat target mau menyelesaikan berapa lembar soal. Jika anak sudah tidak mau mengerjakan, maka disudahi saja. Jangan sampai anak merasa jenuh karena setiap anak ada kapasitasnya. Utamakan kewarasan dan kebahagiaan anak. Begitulah tips yang dibagikan oleh Finalita Sufianti.

Apa yang bisa dilakukan ketika anak 7 tahun masih sering terbalik menulis angka 2,3,5,6,7,9 dan huruf b & d sesekali? Kondisinya anak membaca cukup lancar, tulisannya sesuai mood bagus tidaknya, sedikit kurang fokus, hafalannya lumayan kuat.

Bisa dilatih menggunakan pendekatan multisensori seperti mengenalkan angka-angka dengan lilin plastisin, pasir, sand paper, atau media lainnya. Bisa juga menggunakan metode Montessori.

Di Montessori, huruf yang memiliki bentuk dan suara yang mirip diajarkan secara terpisah. Jika kondisinya sudah lancar membaca, bisa diajarkan berulang untuk fokus ke kata yang memiliki huruf “b” tanpa adanya huruf “d”. Jika sudah lancar tanpa salah, bisa dilanjutkan ke kata yang memiliki huruf “d”. Selanjutnya, bisa juga diulang-ulang untuk bunyi fonetik dari hurufnya.

Pendamping juga bisa melakukan observasi, dimanakah posisi pendamping setiap mencontohkan angka kepada anak? Di samping atau di depan? Sebaiknya pendamping berada di sebelah tangan dominan anak ketika mengajarkan angka. Apabila berada di depan anak, mereka akan melihat gerakan tangan ketika menuliskan angka secara terbalik.

Jika anak tidak melalui fase merangkak ketika bayi, apakah bisa menjadi penyebab disleksia?

Finalita Sufianti mengatakan bahwa hal tersebut merupakan salah satu rumor yang beredar di masyarakat Indonesia. Berikut ini merupakan beberapa rumor mengenai disleksia menurut Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI):

  1. Disleksia disebabkan karena tidak merangkak;
  2. Diagnosis disleksia itu hanya ‘mengada-ngada’;
  3. Disleksia itu hanya perkara sulit membaca, menulis, dan berhitung (calistung) saja;
  4. Disleksia itu karena anaknya bodoh, malas, dan tidak ada motivasi;
  5. Disleksia menular;
  6. Disleksia bisa minum obat tertentu supaya sembuh.

“Setiap anak itu unik. Allah tidak menciptakan produk gagal. Fitrahnya manusia yaitu saling menyayangi dan melengkapi, tidak membedakan normal atau tidak normal. Kurva itu seimbang jika ada plus dan minus.” Dewi Andriyani.

Disusun oleh Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta
Penulis: Faizah Khoirunnisaa
Editor: Maria Fatimah
Desain: Winda

Pancasila dalam Tindakan

Pancasila dalam Tindakan

Bersatu untuk Indonesia Tangguh

Demikian tema yang diangkat oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021. Hari Lahir Pancasila selayaknya selalu diperingati untuk mematri kembali makna suci dalam hati dan laku hidup sehari-hari. Pancasila ibarat mantra digdaya yang harus senantiasa kita rapalkan dan terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Tahukah Anda seperti apa cerita kelahiran Pancasila? baiknya kita refresh kembali ingatan kita tentang pelajaran PPKn saat dibangku sekolah dulu tentang Pancasila, bisa saja ada bagian yang ‘baru’ kita ketahui. 

Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) atau BPUPK, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan “Indonesia”).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 mei  (yang nantinya selesai tanggal 1 Juni 1945). 

Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota BPUPKI.

Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir.Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abieskosno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945.

Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato-pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1947, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”.

”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.” (hs://id.wikipedia.org/, 2021) 

Lahir dari buah pemikiran brilliant sang negarawan yang kemudian dirumuskan dan digodog sebagai dasar mendirikan negara. Pancasila lahir sebelum hari kemerdekaan Indonesia, merupakan pondasi atau dasar negara Indonesia. Dasar pertama dan utama dalam menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelima silanya juga dijadikan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, dan juga sebagai ideologi dan falsafah bangsa. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sangatlah luhur dan mencakup segala lini kehidupan, maka seyogyanya kita terapkan dalam keseharian.

Azaz-azaz mulia Pancasila ada 5 yakni:

(1) Ketuhanan yang Maha Esa

(2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 

(3) Persatuan Indonesia

(4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

(5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Makna dan nilai yang terkandung kelima azaz tersebut sangat dalam dan mulia, hendaknya diinternalisasi dalam jiwa seluruh rakyat Indonesia dan diimplementasikan dalam hidup keseharian.  Proses transfer ilmu pengetahuan, keterampilan dan pendidikan nilai-nilai Pancasila kepada generasi penerus bangsa adalah tugas dan tanggung jawab bersama, bukan sebatas lembaga pendidikan. Utamanya pendidikan keluarga, yang pertama dan utama didapatkan oleh anak-anak bangsa. Keluarga adalah media efektif pendidikan, panutan dan pembiasaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Demikian, sejak dini, generasi terdidik nilai-nilai luhur, menerapkan hingga melarutkan dalam keseharian. Menjadi kebiasaan mulia, menularkannya pada lingkaran sekitarnya hingga menjadi budaya bangsa. Selanjutnya, bergotong royong dengan guru dan lembaga pendidikan lainnya bekerja sama membumikan nilai-nilai Pancasila di segala lini kehidupan. Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Dr. Lia Kian mengimbau internalisasi nilai Pancasila terhadap anak didik tidak harus secara formal melainkan secara informal.

Peringatan Hari Lahir Pancasila

 

“Membumikan Pancasila dalam segala perspektif ilmu, tidak harus formal tetapi informal bagaimana mengkombinasikan Pancasila baik secara teori dan praktek”, ujarnya.

Membumikan nilai-nilai Pancasila di era modernisasi menjadi tantangan tersendiri. Masa dimana digitalisasi dan individualistik mendominasi, arus globalisasi membanjir. Budaya bangsa lain dengan mudahnya mempengaruhi generasi. Sedikit demi sedikit nilai-nilai luhur Pancasila terkikis dari jiwa dan kelakuan generasi bangsa. Tanggung jawab bersama, seluruh bangsa, untuk terus menanamkan dan memupuk jiwa Pancasia dalam sanubari anak-anak bangsa. Agar bangsa Indonesia tetap merdeka, beradab, berjaya dan tangguh!

 

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Lahirnya_Pancasila, 2021

https://www.bpip.go.id/bpip/slider/622/bpip-dan-guru-komitmen-gotong-royong-kuatkan-pancasila, 2021 

Pendidikan Pelita Pertiwi

Pendidikan Pelita Pertiwi

Bumi Hindia (Indonesia) pada awalnya serupa rimba belantara, yang pekat, gelap gulita. Diperlukan obor untuk menjelajahinya, obor pembawa terang. Kartini mengakui, bahwa obor-obor itu tak lain adalah intelektualitas Eropa, yang belum lagi dikuasai oleh Pribumi. Pada masa itu Eropa adalah benua yang pertama menguasai ilmu pengetahuan, mengendalikan seluruh dunia dan tidak ada kekuatan di luarnya yang tidak dapat dipatahkan olehnya. 

Dalam rimba belantara yang gelap gulita ini, di sana sini muncul lelatu-lelatu kecil yang berasal dari terang yang dibawa Eropa. Lelatu-lelatu kecil ini tidak lain daripada Pribumi yang telah maju. Sesuai dengan kelelatuannya, dia atau mereka ini baru dapat memberi terang pada kelilingnya yang kecil. Suatu kehormatan mengenal lelatu-lelatu permulaan dalam masyarakat Pribumi. Dan ditangan Kartini lelatu ini berubah menjadi obor besar yang berkobar-kobar yang menyinari kelilingnya dengan terang-benderang atau baru taram-temaram ke seluruh jagat Hindia  (Toer, Pramoedya Ananta. 2000)

Satu etape perjuangan rakyat Pribumi yang mencoba mengusir gelap (penjajahan) belantara Hindia/ Indonesia, dengan menyalakan obor, menyulut pendidikan, memperbesar dan memperluas. Agar seyogyanya setiap orang sedapat mungkin menjadi nyala itu sendiri. Perlawanan dengan angkat senjata terbukti tak ampuh mendobrak benteng musuh, maka masuk melalui celah kecil tempat terang mencuat, berusaha memperbesar lobang. Sedikit demi sedikit lobang dicungkil dan terang itu makin menerangi pribumi. Tak terhindarkan, makin banyak lelatu muncul, mampu membakar tabir pembatas intelektualitas, banjir ilmu pengetahuan sampai juga ke bumi Hindia. Menghempas gelap penjajahan, bahu membahu dengan angkat senjata.

Pendidikan laksana obor yang membawa api terang, yakni ilmu pengetahuan. Hangat dan sangat bermanfaat laksana matari. Sumber kehidupan, penghapus keterpurukan. Betapa penting arti pendidikan bagi nasib bangsa Indonesia, hingga rakyat mampu berpikir, bangkit, bersatu, berdiplomasi mengusir gelap penjajahan. Tak pelak dipungkiri, pendidikan ini harus tetap tegak dan mengakar di bumi pertiwi, demikian bangsa ini bisa kokoh berdiri dan mengusai separuh bumi. 

Terbukti bahwa pendidikan, ilmu pengetahuan, mampu mengubah kondisi negeri ini, dari hamba menjadi merdeka. Perubahan akbar dan digdaya. Betapa dahsyat dampaknya, hingga terus digaungkan, terus diperjuangkan, seluruh rakyat untuk mengecap dan melahap pendidikan. Fakta bahwa bangsa kini dibanjiri informasi dan ilmu pengetahuan, makna pendidikan jadi tergerus. Tak sedikit rakyat, banyak pengetahuan, berlimpah ilmu tapi kurang terdidik. Seyogyanya pendidikan inilah yang membuatnya lebih berbudi luhur. 

Pendidikan adalah wahana pembentukan budi pekerti agar peradaban tidak hancur. Karena kecerdasan otak saja tidak berarti segala-galanya. Harus ada kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang erat hubungannya dengan yang lain untuk mengantarkan ke arah yang ditujunya. Di samping otak, juga hati harus dibimbing, kalau tidak dimikian peradaban hanya tinggal permukaan. 

Kartini

Disini pentingnya menegakkan pendidikan sedari dini, karena sejatinya bukan hanya untuk mencerdaskan otak namun juga membentuk watak. Keluarga adalah tempat peletak pondasi pendidikan, khususnya ibu. Sebagai perempuan, apalagi setelah menyandang peran sebagai ibu haruslah terdidik, mempunyai ilmu untuk mengembangkan potensi diri menjadi mandiri, cekatan mengelola keluarga menjadi tangguh dan sehat, mendidik anak dan keturunannya menjadi generasi bangsa unggulan. 

Tak ada lagi penjajahan, rimba belantara Indonesia kini terang benderang. Pendidikan sudah tersebar luas, walau belum merata. Media belajar yang makin beragam, keterhubungan yang makin meluas dan simultan, pendidikan bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Pendidikan seyogyanya bisa dikecap oleh seluruh putra putri bangsa. Demikian, kebodohan, kemiskinan dan keterpurukan bisa ditepis dari bumi pertiwi. 

Seorang perempuan, seorang ibu, bagai lelatu yang memancarkan pelita bagi lingkaran terdekatnya, keluarga. Terang-terang kecil disana disini akan memancarkan banyak cahaya yang mampu menerangi lingkaran lain disekitarnya, hingga membesar, memukau kilaunya menerangi seluruh bangsa. 

 

Sumber pustaka:

Toer, Pramoedya Ananta. 2003. Panggil Aku Kartini Saja. Lentera Dipantara

 

Hidupkan Kartini dalam Hati dan Laku Diri

Hidupkan Kartini dalam Hati dan Laku Diri

Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini, sedari kecil kita sudah diperkenalkan dengan satu hari bersejarah ini. Sejak sekolah Taman Kanak-Kanak hingga sekolah jenjang tinggi ikut memperingati dan merayakannya, dengan berbagai kegiatan dan acara. Terbanyak adalah perlombaan fashion show berbusana ala Ibu Kartini, memakai kebaya dan konde Jawa. Ada juga lomba mengarang, pidato, karnaval baju daerah dan lain-lain. Tahun ke tahun seperti itu. Sekian lama kita memperingati dan merayakan Hari Kartini, apakah kita benar-benar mengenal sosok Beliau?

Sekilas mungkin kita telah dikenalkan saat belajar di bangku Sekolah Dasar atau Menengah Pertama, sosok Pahlawan perempuan dari Jepara, Jawa Tengah. Bahwa ibu Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan Indonesia, yang berjuang agar perempuan-perempuan Indonesia memperoleh pendidikan dan hak-hak lainnya, setara dengan kaum Adam. Kesetaraan dan emansipasi perempuan Indonesia menjadi tagline kisah perjuangannya. 

Tidak ada yang salah, namun lebih bijak lagi bila kita mengenal lebih dekat dengan sosok Ibu Kartini dan mengetahui lebih banyak kisah hidup dan perjuangannya, karena tak hanya 2 hal tersebut yang diperjuangkan. Banyak sisi pribadi dan hidup beliau yang bisa ditiru, diteladani, diteruskan dan dilestarikan. 

Di dunia perempuan, kita terdapat banyak derita yang pedih. Penderitaan yang telah aku saksikan waktu aku masih kanak-kanak itulah yang membangkitkan keinginan aku membawa arus yang tidak mau membenarkan saja keadaan-keadaan yang kolot. 

Kartini

Semenjak kecil sudah bercokol benih-benih pemikiran kritis, kepekaan dan keprihatinan kondisi sekeliling, keinginan merombak, semangat pembaharu. Kartini lahir dari seorang ayah keturunan bangsawan dan ibu dari golongan rakyat kebanyakan. Kartini tumbuh berkembang di lingkungan kabupaten, saat itu ayahanda menjabat sebagai bupati Jepara, walau begitu beliau tidak suka berfoya-foya, hidupnya sederhana dan bersahaja. Ikut merasakan pedihnya kelaparan dan kemelaratan rakyat walau beliau sendiri mampu makan 3 kali sehari. Merasakan kesengsaraan rakyat yang ditindas walau keluarganya ‘dekat’ dengan penjajah.  

Masa itu, tahun 1878 adalah masa penjajahan era baru, pemerintah kolonial Belanda sedang berkembang menjadi sebuah negara modern, teknologi modern sedang menjadi pendukung kekuasaan kolonial, di Jawa dan di luar Jawa. Begitu pula pendidikan, sekolah mulai banyak didirikan dan diperbolehkan untuk pribumi. Kakek Kartini dan turunannya merupakan salah satu keluarga pejabat pribumi yang beruntung bisa mengenyam pendidikan Barat, hingga mahir berbahasa Belanda, berpengetahuan luas dan cakap memimpin. Pun ayah Kartini, namun tidak serta merta Kartini bisa bebas bersekolah seperti halnya saudara-saudara lelakinya. Keluarganya masih sangat menegakkan adat istiadat Jawa yang kolot, yang tak membenarkan perempuan bersekolah atau banyak beraktivitas di luar rumah. Kartini sosok yang tidak mudah menyerah, beliau merajuk pada ayahanda untuk diperbolehkan bersekolah. Akhirnya, pendidikan dasar diberikan pada Kartini dan saudara-saudara perempuannya. 

Sekolah rendah Belanda saat itu menjadi jenjang pendidikan pertama dan satu-satunya bagi Kartini. Pendidikan formal dasar selama 6 tahun tersebut membawa dampak besar bagi pemikiran dan pengetahuan Kartini. Disana beliau belajar bahasa Belanda hingga mahir dan mempunyai teman-teman Belanda, yang membuatnya berpikir: mau jadi apa nanti aku? yang membuatnya bermimpi: belajar dan bersekolah hingga ke negeri Eropa. Sungguh pemikiran yang hampir mustahil terbersit oleh anak perempuan jaman dulu. Karena memang sedikit sekali anak rakyat pribumi yang diperbolehkan bersekolah, hanya golongan bangsawan, pejabat daerah, pegawai tinggi dan orang kaya tertentu. 

Keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi seperti halnya abang-abangnya, ditentang Ayahanda, karena kungkungan tradisi kolot Jawa. Selepas sekolah rendah, Kartini dipingit, dikurung dalam rumah dalam gedung Kabupaten Jepara, dipisahkan dari dunia luar hingga jodoh datang. Saat-saat ceria masa belia dan gelora belajar yang memuncak, Kartini dihadapkan pada tradisi yang menyesakkan batin, memenjarakan fisik. Saat itulah beliau merasakan perempuan ditindas hak-haknya, tidak setara dengan kaum laki-laki. Perkawinan pun dipaksa dengan orang yang tidak dikenal, yang menurut orang tuanya baik. Sudi dimadu atau dijadikan istri kesekian, dipaksa dan diseret keluar dari ‘penjara’ rumahnya masuk ke ‘penjara’ laki-laki yang menjadi suami. Sungguh fenomena yang jamak menimpa perempuan pada jamannya menyulut api amarah dalam dada, gerakan untuk berpikir mendalam, berbuat nyata untuk perubahan. 

Hari-hari dalam pingitan dibunuh dengan banyak membaca buku, majalah dan surat kabar dari dalam dan luar negeri. Beruntung ayahanda dan abang mudanya adalah orang-orang terpelajar yang mengisi batin Kartini dengan pengetahuan luas dari pustaka. Sekolah mungkin sudah tertutup baginya, namun pustaka telah mengembarakan nalar dan ilmu pengetahuannya hingga ke seluruh dunia. Pengetahuan makin luas, pemikiran makin dalam, sikap makin arif dan bijaksana. Dalam rumah, Kartini juga menulis, berkorespondensi dengan teman-teman Belanda, berlatih kerajinan tangan, bergaul akrab dengan saudara perempuan, menikmati alunan gamelan, bermain dengan anak-anak para abdi dalem. Selama itu pula Kartini merumuskan banyak hal dalam segi tradisi yang sangat kaku dan buat merugi. Disamping soal pingitan, perkawinan, hak-hak perempuan, aturan baku unggah-ungguh sesaudara dalam satu keluarga, kasta/turunan dalam lapisan masyarakat. Pemikirannya menjawab bahwa akar masalah ini adalah kurangnya ilmu pengetahuan dan feodalisme yang membelit. Rakyat hanya bisa manut  mengikuti tradisi, para perempuan pasrah jatuh kepangkuan lelaki yang tak dikenal, para ibu tak punya ilmu mendidik keturunannya, sehingga lingkaran kedzoliman ini terus mengungkung tak putus. Kartini telah berusaha mendobraknya, dengan menerapkan hubungan antar saudara yang akrab tanpa  unggah-ungguh baku yang kaku, bersekolah tidak hanya untuk anak laki-laki, menghormati dan bergaul, mengobrol bukan memerintah  dengan rakyat jelata tanpa memandang kasta

Suatu revolusi jiwa yang tidak kurang dahsyatnya daripada revolusi apapun. Ia bukan lagi menentang dan melawan perorangan, ia telah perangi dan berantas suatu sistem, suatu tata hidup 

Toer, Pramoedya Ananta. 2000

Hingga 4 tahun lamanya dalam pingitan, Ayahanda berkeputusan arif bijaksana, membebaskan semua anak perempuannya. Sekembalinya ke dunia luar, banyak giat yang dilakukannya untuk menimba ilmu lebih luas, walau tak diperbolehkan lagi bersekolah. Masuk ke berbagai lapisan rakyat, bertemu dengan banyak derita rakyat jelata, kemelaratan, kebodohan, kesewenang-wenangan, penindasan. Akarnya adalah penjajahan! Belanda  hanya mengeruk kekayaan perut pribumi, namun tidak memberikan pendidikan dan penghidupan Bumiputera. Kartini sayang pada beberapa teman Belanda-nya namun di lain sisi beliau sangat menentang kolonialisme Belanda! Maka dengan jalan pemikiran dan dobrakan-dobrakan kebijakan daerah, Kartini mencoba membangun kekuatan rakyat dengan pendidikan dan pengetahuan. Sadar bahwa angkat senjata sudah bukan jalan utama yang tepat. 

Karena aku yakin sedalam-dalamnya bahwa perempuan dapat memberi pengaruh besar kepada masyarakat, maka tidak ada yang lebih aku inginkan daripada menjadi guru supaya kelak dapat mendidik gadis-gadis dara para pejabat tinggi kita.

Kartini

Mencerdaskan anak bangsa adalah salah satu tujuannya. Caranya dengan mendidik para perempuan. Perempuan, yang nantinya menjadi ibu, merupakan pendidik pertama dan utama dalam keluarga, bagi anak-anaknya. Dari ibu yang cerdas, akan terlahir keturunan yang sehat, anak-anak terawat dan terdidik, keluarga tangguh, mampu jadi partner yang setara dengan pasangannya. Maka, berjuanglah kartini mendirikan sekolah informal bagi perempuan di sekitarnya. Mengajarkan dengan cara mereka, cara sederhana. Mengajarkan budi pekerti, ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sedikit bahasa asing. 

Mendidik  adalah tugas yang luhur dan suci. Tanpa memiliki keahlian memadai adalah dosa mencurhkan diri di bidang tersebut. Bagi saya, pendidikan berarti pembentukan watak dan akal pikiran. Tugas pendidik tidak berhenti pada pengembangan akalnya saja. Ia juga wajib memelihara pembentukan wataknya. Secara moral, dia berkewajiban, walaupun tidak ada hukum yang mengharuskannya melakukan itu. Patut diingat bahwa perkembangan intelektual saja tidak menjamin kesusilaannya. 

Kartini

Putri seorang bupati, tak lantas memberi banyak kekuasaan untuk berbuat. Maka, dengan pertimbangan mendalam, Kartini menerima pinangan seorang Bupati Rembang untuk dijadikan istri yang kesekian, dengan beberapa syarat. Walau berseberangan dengan ego dan idealisme diri yang  menentang poligami, Kartini berstrategi bahwa dengan menjadi seorang istri bupati, beliau akan mempunyai kuasa untuk bisa berbuat lebih banyak dan berdampak lebih luas. Disamping itu, suaminya adalah juga seorang yang terpelajar, yang berjanji mendukung cita-citanya mendirikan sekolah, mencerdaskan perempuan dan anak bangsa. Pendopo kabupaten Rembang menjadi sekolah formal pertama yang Kartini dirikan untuk para perempuan disana. Tak lama menyandang sebagai istri bupati Rembang, setelah melahirkan anak pertama dan satu-satunya, Kartini berpulang. Usianya masih sangat muda, 25 tahun. 

Memang, suatu pekerjaan yang seolah-olah tak mungkin dapat dikerjakan! Tetapi, siapa tidak berani, takkan menang! Itulah semboyanku. Maka, ayo, maju! Bertekad saja untuk mencoba semua! Siapa nekat, mendapat tiga perempat dunia!

Kartini

Korespondensi dengan beberapa teman Belandanya merupakan sarana Kartini mengasah kemampuan bahasanya, menulis kisah hidup, nasib dan kondisi rakyat sebangsa, pemikiran-pemikiran kritis, keinginan dan cita-citanya, berbagi sudut pandangnya akan buku dan ilmu yang didapatnya, gerakan yang akan diperbuatnya, seni yang digemari, dan lain-lain. Menggambarkan kedalaman akal, luasnya pengetahuan dan luhur budi pekertinya. Setelah Kartini wafat, oleh salah satu temannya, J.H Abendanon, surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini, dikumpulkan dan dibukukan. Buku tersebut terbit pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Di Belanda saja, buku itu dicetak ulang hingga empat kali dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. 

J.H Abendanon mempunyai kedudukan tinggi di bidang pendidikan pemerintah Belanda, ia merupakan pendukung politik etis. Ia percaya pengetahuan modern adalah jalan terbaik untuk keluar dari keterbelakangan dan kemiskinan yang dialami Hindia Belanda (Indonesia). Kartini merupakan bukti bahwa kebijakan pendidikan di tanah jajahan menghasilkan orang yang mampu mengguncang dunia. 

Armijn Pane, penulis buku, seorang pribumi, yakin bahwa bukan peradaban barat yang menerangi kegelapan Hindia Belanda. Namun, ia sesungguhnya penerang saat gelap belum ingin pergi. Kartinilah yang menyalakan obor agar kegelapan dapat segera diusir. Obor itu telah diteruskan.

Dan, biar pun aku tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan rasa berbahagia karena jalannya sudah terbuka. Dan, aku turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri. 

Kartini

Terang itu kini kita nikmati bersama, perempuan sekarang bebas merdeka. Menikmati kesetaraan hak-hak dan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Hingga merdeka bereksplorasi, mengenyam pendidikan tinggi dan berkarier. Kian hari, emansipasi kian mirip dengan liberalisasi dan feminisasi yang lebih berkiblat ke Barat. Padahal, sesungguhnya Kartini semakin meninggalkan semuanya dan kembali kepada fitrahnya. Yakni pendidikan dan kemajuan bukan hanya untuk ego diri sendiri, disitu juga ada tanggung jawab mendidik anak, mengelola keluarga dan memberi manfaat pada masyarakat. 

Perempuan itu jadi sokoguru peradaban! Bukan karena perempuan yang dipandang cakap itu, melainkan oleh karena saya sendiri yakin sungguh, yakin sungguh bahwa perempuan itu pun mungkin timbul pengaruh yang besar, yang besar akibatnya, dalam hal membaikkan dan memburukkan kehidupan. Bahkan, dialah yang paling banyak dapat membantu memajukan kesusilaan manusia. 

Kartini