Hidupkan Kartini dalam Hati dan Laku Diri

Hidupkan Kartini dalam Hati dan Laku Diri

Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini, sedari kecil kita sudah diperkenalkan dengan satu hari bersejarah ini. Sejak sekolah Taman Kanak-Kanak hingga sekolah jenjang tinggi ikut memperingati dan merayakannya, dengan berbagai kegiatan dan acara. Terbanyak adalah perlombaan fashion show berbusana ala Ibu Kartini, memakai kebaya dan konde Jawa. Ada juga lomba mengarang, pidato, karnaval baju daerah dan lain-lain. Tahun ke tahun seperti itu. Sekian lama kita memperingati dan merayakan Hari Kartini, apakah kita benar-benar mengenal sosok Beliau?

Sekilas mungkin kita telah dikenalkan saat belajar di bangku Sekolah Dasar atau Menengah Pertama, sosok Pahlawan perempuan dari Jepara, Jawa Tengah. Bahwa ibu Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan Indonesia, yang berjuang agar perempuan-perempuan Indonesia memperoleh pendidikan dan hak-hak lainnya, setara dengan kaum Adam. Kesetaraan dan emansipasi perempuan Indonesia menjadi tagline kisah perjuangannya. 

Tidak ada yang salah, namun lebih bijak lagi bila kita mengenal lebih dekat dengan sosok Ibu Kartini dan mengetahui lebih banyak kisah hidup dan perjuangannya, karena tak hanya 2 hal tersebut yang diperjuangkan. Banyak sisi pribadi dan hidup beliau yang bisa ditiru, diteladani, diteruskan dan dilestarikan. 

Di dunia perempuan, kita terdapat banyak derita yang pedih. Penderitaan yang telah aku saksikan waktu aku masih kanak-kanak itulah yang membangkitkan keinginan aku membawa arus yang tidak mau membenarkan saja keadaan-keadaan yang kolot. 

Kartini

Semenjak kecil sudah bercokol benih-benih pemikiran kritis, kepekaan dan keprihatinan kondisi sekeliling, keinginan merombak, semangat pembaharu. Kartini lahir dari seorang ayah keturunan bangsawan dan ibu dari golongan rakyat kebanyakan. Kartini tumbuh berkembang di lingkungan kabupaten, saat itu ayahanda menjabat sebagai bupati Jepara, walau begitu beliau tidak suka berfoya-foya, hidupnya sederhana dan bersahaja. Ikut merasakan pedihnya kelaparan dan kemelaratan rakyat walau beliau sendiri mampu makan 3 kali sehari. Merasakan kesengsaraan rakyat yang ditindas walau keluarganya ‘dekat’ dengan penjajah.  

Masa itu, tahun 1878 adalah masa penjajahan era baru, pemerintah kolonial Belanda sedang berkembang menjadi sebuah negara modern, teknologi modern sedang menjadi pendukung kekuasaan kolonial, di Jawa dan di luar Jawa. Begitu pula pendidikan, sekolah mulai banyak didirikan dan diperbolehkan untuk pribumi. Kakek Kartini dan turunannya merupakan salah satu keluarga pejabat pribumi yang beruntung bisa mengenyam pendidikan Barat, hingga mahir berbahasa Belanda, berpengetahuan luas dan cakap memimpin. Pun ayah Kartini, namun tidak serta merta Kartini bisa bebas bersekolah seperti halnya saudara-saudara lelakinya. Keluarganya masih sangat menegakkan adat istiadat Jawa yang kolot, yang tak membenarkan perempuan bersekolah atau banyak beraktivitas di luar rumah. Kartini sosok yang tidak mudah menyerah, beliau merajuk pada ayahanda untuk diperbolehkan bersekolah. Akhirnya, pendidikan dasar diberikan pada Kartini dan saudara-saudara perempuannya. 

Sekolah rendah Belanda saat itu menjadi jenjang pendidikan pertama dan satu-satunya bagi Kartini. Pendidikan formal dasar selama 6 tahun tersebut membawa dampak besar bagi pemikiran dan pengetahuan Kartini. Disana beliau belajar bahasa Belanda hingga mahir dan mempunyai teman-teman Belanda, yang membuatnya berpikir: mau jadi apa nanti aku? yang membuatnya bermimpi: belajar dan bersekolah hingga ke negeri Eropa. Sungguh pemikiran yang hampir mustahil terbersit oleh anak perempuan jaman dulu. Karena memang sedikit sekali anak rakyat pribumi yang diperbolehkan bersekolah, hanya golongan bangsawan, pejabat daerah, pegawai tinggi dan orang kaya tertentu. 

Keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi seperti halnya abang-abangnya, ditentang Ayahanda, karena kungkungan tradisi kolot Jawa. Selepas sekolah rendah, Kartini dipingit, dikurung dalam rumah dalam gedung Kabupaten Jepara, dipisahkan dari dunia luar hingga jodoh datang. Saat-saat ceria masa belia dan gelora belajar yang memuncak, Kartini dihadapkan pada tradisi yang menyesakkan batin, memenjarakan fisik. Saat itulah beliau merasakan perempuan ditindas hak-haknya, tidak setara dengan kaum laki-laki. Perkawinan pun dipaksa dengan orang yang tidak dikenal, yang menurut orang tuanya baik. Sudi dimadu atau dijadikan istri kesekian, dipaksa dan diseret keluar dari ‘penjara’ rumahnya masuk ke ‘penjara’ laki-laki yang menjadi suami. Sungguh fenomena yang jamak menimpa perempuan pada jamannya menyulut api amarah dalam dada, gerakan untuk berpikir mendalam, berbuat nyata untuk perubahan. 

Hari-hari dalam pingitan dibunuh dengan banyak membaca buku, majalah dan surat kabar dari dalam dan luar negeri. Beruntung ayahanda dan abang mudanya adalah orang-orang terpelajar yang mengisi batin Kartini dengan pengetahuan luas dari pustaka. Sekolah mungkin sudah tertutup baginya, namun pustaka telah mengembarakan nalar dan ilmu pengetahuannya hingga ke seluruh dunia. Pengetahuan makin luas, pemikiran makin dalam, sikap makin arif dan bijaksana. Dalam rumah, Kartini juga menulis, berkorespondensi dengan teman-teman Belanda, berlatih kerajinan tangan, bergaul akrab dengan saudara perempuan, menikmati alunan gamelan, bermain dengan anak-anak para abdi dalem. Selama itu pula Kartini merumuskan banyak hal dalam segi tradisi yang sangat kaku dan buat merugi. Disamping soal pingitan, perkawinan, hak-hak perempuan, aturan baku unggah-ungguh sesaudara dalam satu keluarga, kasta/turunan dalam lapisan masyarakat. Pemikirannya menjawab bahwa akar masalah ini adalah kurangnya ilmu pengetahuan dan feodalisme yang membelit. Rakyat hanya bisa manut  mengikuti tradisi, para perempuan pasrah jatuh kepangkuan lelaki yang tak dikenal, para ibu tak punya ilmu mendidik keturunannya, sehingga lingkaran kedzoliman ini terus mengungkung tak putus. Kartini telah berusaha mendobraknya, dengan menerapkan hubungan antar saudara yang akrab tanpa  unggah-ungguh baku yang kaku, bersekolah tidak hanya untuk anak laki-laki, menghormati dan bergaul, mengobrol bukan memerintah  dengan rakyat jelata tanpa memandang kasta

Suatu revolusi jiwa yang tidak kurang dahsyatnya daripada revolusi apapun. Ia bukan lagi menentang dan melawan perorangan, ia telah perangi dan berantas suatu sistem, suatu tata hidup 

Toer, Pramoedya Ananta. 2000

Hingga 4 tahun lamanya dalam pingitan, Ayahanda berkeputusan arif bijaksana, membebaskan semua anak perempuannya. Sekembalinya ke dunia luar, banyak giat yang dilakukannya untuk menimba ilmu lebih luas, walau tak diperbolehkan lagi bersekolah. Masuk ke berbagai lapisan rakyat, bertemu dengan banyak derita rakyat jelata, kemelaratan, kebodohan, kesewenang-wenangan, penindasan. Akarnya adalah penjajahan! Belanda  hanya mengeruk kekayaan perut pribumi, namun tidak memberikan pendidikan dan penghidupan Bumiputera. Kartini sayang pada beberapa teman Belanda-nya namun di lain sisi beliau sangat menentang kolonialisme Belanda! Maka dengan jalan pemikiran dan dobrakan-dobrakan kebijakan daerah, Kartini mencoba membangun kekuatan rakyat dengan pendidikan dan pengetahuan. Sadar bahwa angkat senjata sudah bukan jalan utama yang tepat. 

Karena aku yakin sedalam-dalamnya bahwa perempuan dapat memberi pengaruh besar kepada masyarakat, maka tidak ada yang lebih aku inginkan daripada menjadi guru supaya kelak dapat mendidik gadis-gadis dara para pejabat tinggi kita.

Kartini

Mencerdaskan anak bangsa adalah salah satu tujuannya. Caranya dengan mendidik para perempuan. Perempuan, yang nantinya menjadi ibu, merupakan pendidik pertama dan utama dalam keluarga, bagi anak-anaknya. Dari ibu yang cerdas, akan terlahir keturunan yang sehat, anak-anak terawat dan terdidik, keluarga tangguh, mampu jadi partner yang setara dengan pasangannya. Maka, berjuanglah kartini mendirikan sekolah informal bagi perempuan di sekitarnya. Mengajarkan dengan cara mereka, cara sederhana. Mengajarkan budi pekerti, ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sedikit bahasa asing. 

Mendidik  adalah tugas yang luhur dan suci. Tanpa memiliki keahlian memadai adalah dosa mencurhkan diri di bidang tersebut. Bagi saya, pendidikan berarti pembentukan watak dan akal pikiran. Tugas pendidik tidak berhenti pada pengembangan akalnya saja. Ia juga wajib memelihara pembentukan wataknya. Secara moral, dia berkewajiban, walaupun tidak ada hukum yang mengharuskannya melakukan itu. Patut diingat bahwa perkembangan intelektual saja tidak menjamin kesusilaannya. 

Kartini

Putri seorang bupati, tak lantas memberi banyak kekuasaan untuk berbuat. Maka, dengan pertimbangan mendalam, Kartini menerima pinangan seorang Bupati Rembang untuk dijadikan istri yang kesekian, dengan beberapa syarat. Walau berseberangan dengan ego dan idealisme diri yang  menentang poligami, Kartini berstrategi bahwa dengan menjadi seorang istri bupati, beliau akan mempunyai kuasa untuk bisa berbuat lebih banyak dan berdampak lebih luas. Disamping itu, suaminya adalah juga seorang yang terpelajar, yang berjanji mendukung cita-citanya mendirikan sekolah, mencerdaskan perempuan dan anak bangsa. Pendopo kabupaten Rembang menjadi sekolah formal pertama yang Kartini dirikan untuk para perempuan disana. Tak lama menyandang sebagai istri bupati Rembang, setelah melahirkan anak pertama dan satu-satunya, Kartini berpulang. Usianya masih sangat muda, 25 tahun. 

Memang, suatu pekerjaan yang seolah-olah tak mungkin dapat dikerjakan! Tetapi, siapa tidak berani, takkan menang! Itulah semboyanku. Maka, ayo, maju! Bertekad saja untuk mencoba semua! Siapa nekat, mendapat tiga perempat dunia!

Kartini

Korespondensi dengan beberapa teman Belandanya merupakan sarana Kartini mengasah kemampuan bahasanya, menulis kisah hidup, nasib dan kondisi rakyat sebangsa, pemikiran-pemikiran kritis, keinginan dan cita-citanya, berbagi sudut pandangnya akan buku dan ilmu yang didapatnya, gerakan yang akan diperbuatnya, seni yang digemari, dan lain-lain. Menggambarkan kedalaman akal, luasnya pengetahuan dan luhur budi pekertinya. Setelah Kartini wafat, oleh salah satu temannya, J.H Abendanon, surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini, dikumpulkan dan dibukukan. Buku tersebut terbit pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Di Belanda saja, buku itu dicetak ulang hingga empat kali dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. 

J.H Abendanon mempunyai kedudukan tinggi di bidang pendidikan pemerintah Belanda, ia merupakan pendukung politik etis. Ia percaya pengetahuan modern adalah jalan terbaik untuk keluar dari keterbelakangan dan kemiskinan yang dialami Hindia Belanda (Indonesia). Kartini merupakan bukti bahwa kebijakan pendidikan di tanah jajahan menghasilkan orang yang mampu mengguncang dunia. 

Armijn Pane, penulis buku, seorang pribumi, yakin bahwa bukan peradaban barat yang menerangi kegelapan Hindia Belanda. Namun, ia sesungguhnya penerang saat gelap belum ingin pergi. Kartinilah yang menyalakan obor agar kegelapan dapat segera diusir. Obor itu telah diteruskan.

Dan, biar pun aku tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan rasa berbahagia karena jalannya sudah terbuka. Dan, aku turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri. 

Kartini

Terang itu kini kita nikmati bersama, perempuan sekarang bebas merdeka. Menikmati kesetaraan hak-hak dan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Hingga merdeka bereksplorasi, mengenyam pendidikan tinggi dan berkarier. Kian hari, emansipasi kian mirip dengan liberalisasi dan feminisasi yang lebih berkiblat ke Barat. Padahal, sesungguhnya Kartini semakin meninggalkan semuanya dan kembali kepada fitrahnya. Yakni pendidikan dan kemajuan bukan hanya untuk ego diri sendiri, disitu juga ada tanggung jawab mendidik anak, mengelola keluarga dan memberi manfaat pada masyarakat. 

Perempuan itu jadi sokoguru peradaban! Bukan karena perempuan yang dipandang cakap itu, melainkan oleh karena saya sendiri yakin sungguh, yakin sungguh bahwa perempuan itu pun mungkin timbul pengaruh yang besar, yang besar akibatnya, dalam hal membaikkan dan memburukkan kehidupan. Bahkan, dialah yang paling banyak dapat membantu memajukan kesusilaan manusia. 

Kartini

 

Ayo Mendongeng!

Ayo Mendongeng!

“Empat hal yang tak akan ditolak oleh anak yakni bermain, kejutan, hadiah dan dongeng” Septi Peni Wulandani, founder komunitas Ibu Profesional. 

Empat amunisi ini bisa kita pakai untuk menyentuh hati anak dan memenangkannya. Adakah sebuah dongeng/cerita yang terus teringat dalam memori kita? bisa jadi karena sejak kecil kita sering mendengar cerita tersebut atau sangat mengena di hati, terngiang-ngiang hingga kini.

Mendongeng merupakan salah satu media komunikasi untuk menyampaikan sebuah cerita. Cerita fiktif/ imajinasi bisa juga cerita nyata atau pengalaman. Mendongeng adalah bertutur, dilakukan dengan suara berintonasi, ada ritme, dan melibatkan ekspresi wajah, gerak/bahasa tubuh serta alat bantu seperti buku, iringan musik, mainan, gambar dan benda-benda lain. 

Manfaat Mendongeng

Mendongeng sebagai media mendidik tanpa menggurui, menasehati tanpa menceramahi. Mentransfer nilai-nilai kehidupan dengan cara yang halus dan seru. Saat mendengarkan dongeng, anak menikmati sekaligus mengenal dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam cerita, tanpa perlu diberitahu secara eksplisit.

Dongeng bisa berupa cerita tentang sejarah masyarakat, asal usul keluarga atau cerita tentang salah satu anggota keluarga. Dapat berupa peristiwa, perjuangan, tradisi, kebudayaan dan warisan nilai. Dongeng semacam ini bisa membantu anak menempatkan diri sebagai individu yang menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat.

Mendongeng mampu mengembangkan kemampuan intelegensia anak. Suatu dongeng bisa menggugah daya pikirnya sebagai respon cerita yang didengarnya, kenapa begini, mengapa begitu, berbagai tanda tanya, rasa penasaran atas cerita yang didengarnya. Mungkin ada satu atau dua dongeng yang menjadi favorit anak, dan senang bila diceritakan berulang-ulang, repitisi ini melatih daya ingat anak. Mendongeng juga melatih konsentrasi anak, latih kemampuan mendengar/ menyimak. 

Kemampuan bahasa anak akan berkembang baik dengan teratur mendengarkan dongeng. Alunan/intonasi suara, kreasi bunyi yang ekspresif bisa menstimulasi bagian otak yang berperan mengatur bahasa. Anak kaya akan perbendaharaan kosa kata, tata bahasa dan pengejaan. Dongeng mampu merangsang dan membangkitkan kegemaran anak terhadap buku. Apabila dongeng dilakukan dengan media buku sebagai sarana dan sumber cerita. Mendongeng dengan menggunakan buku sebagai sumber cerita, membacakan isi cerita sesuai yang tertulis dibuku dengan menggunakan tata bahasa yang baik, sekaligus intonasi suara dan ekspresi wajah yang sesuai, dikenal dengan istilah read aloud. Bisa ditambah dengan menunjukkan bagian-bagian atau gambar ilustrasi yang sedang dibaca. Demikian terlihat bahwa membaca itu kegiatan menarik dan menyenangkan. 

Melalui dongeng anak dapat menemui dan (seolah) mengalami suatu pengalaman dan keadaan/ situasi yang sulit, yang membuat takut, marah, lelah, senang, puas dan beragam bentuk emosi lain. Mengenal bentuk-bentuk emosi, perasaan dan keadaan tersebut akan sangat berguna sampai dewasa kelak. Anak akan mampu mengidentifikasi dan mengelola emosi dan perasaannya dengan tepat. 

Dongeng identik dengan dunia imajinasi. Anak bisa berperan menjadi orang lain atau sesuatu di luar dirinya melalui proses imajinasi dan identifikasi, dari berbagai dongeng yang sering anak dengar. Hal ini merupakan sarana pemuasan akan ekspresi diri  anak.

Mendongeng yang kerap kali dilakukan bisa menciptakan kedekatan/ bonding antara pendongeng dengan anak, karena komunikasi aktif, anak mendapat waktu dan perhatian yang berkualitas, dan kadang tersentuh hatinya. Kedekatan ini membuat anak lancar berkomunikasi, nyaman membuka diri,  berbagi perasaan dan menyerap nilai-nilai kehidupan. 

Dongeng bisa juga hanya bertujuan menghibur anak-anak yang mendengarnya. Dongeng yang lucu, menghibur walau tanpa ada penekanan nilai moral yang terkandung didalamnya, tetap memberi manfaat bagi anak. Anak akan tumbuh dengan bahagia dan positif. 

Jadi, ayo mendongeng. Berikan cerita/ dongeng terbaik untuk anak, terus berlatih dan membaca agar bisa menyampaikan dengan cara terbaik dan menarik. Menurut Kak Dani, salah satu pendongeng asal Jogja, tantangan mendongeng masa pandemi antara lain adaptasi mendongeng dengan cara virtual. Tidak dapat bertatap muka langsung dengan pendengar tentu atmosfernya berbeda, tidak ada respon dan transfer emosi yang mampu menghidupkan suasana. 

Tantangan ini  bisa dilatih kok, caranya bisa dengan mengikuti kompetisi dongeng virtual. Dalam rangka memperingati Hari Dongeng Sedunia tanggal 20 Maret 2021, Institut Ibu Profesional mengadakan serangkaian acara. 

  1. Lomba Mendongeng 2021

https://www.instagram.com/p/CMaDFmtsA02/?igshid=pqay7ea6kcwh

  1. PIJAR talk “Mengembangkan Potensi Anak melalui Dongeng”

https://www.instagram.com/p/CMcc1n4sy5v/?utm_source=ig_web_copy_link

 

Jejak Perjalanan Bunda Produktif

Jejak Perjalanan Bunda Produktif

Desty putri

Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari Institut Ibu Profesional. Saya telah menjadi bagian dari IIP sejak tahun 2016, sebelum menik

ah. Selalu terpesona dan bersemangat sejak mengikuti matrikulasi sehingga saya memilih tidak pernah menunda setiap ada kenaikan kelas. Hingga sampailah saya di Bunda Produktif.

Di tahap ini saya benar-benar dituntut untuk produktif menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Sejak awal kelas kami (para mahasiswi) sudah dihadapkan pada kejutan yang sangat menarik yaitu sebuah kota bernama Hexagon City. Kota ini penuh dengan solusi dan ide-ide brilian. Kami memulai membangun kota ini dengan merancang rumah impian pada pekan pertama. Rumah impian ini sangat unik karena berbentuk segienam dan rumah itu juga harus gue banget. Lumayan challenging apalagi bagi saya yang tidak pintar membuat desain rumah. Jadilah rumah impian ini disusun sebisa saya.

Kami didekatkan dengan tetangga satu passion yang kemudian dikenal dengan istilah Co Housing. Saya berada di Co Housing Kepenulisan 7 yang terdiri dari 10 orang di passion yang sama dan dipimpin oleh seorang leader. Kumpulan Co Housing ini berkumpul menjadi sebuah cluster, cluster saya bernama Solutif. Masih di pembangunan kota, kami melanjutkannya dengan pemilu serentak. Di pekan ini kami memilih walikota Hexagon City. Meski calon kandidat saya tidak menang di pemilu ini tapi all is well, saya menyerahkan semua kebijakan pada pemimpin terpilih.

Pekan-pekan berikutnya lebih menantang. Dimulai dari zona Habit, Enjoy Easy Excellent Earn, Xtra miles, Agility, Growth, Open Space, dan News. Masing-masing zona mempunyai suka duka tersendiri dan semuanya menbekas di hati.

Zona Habit. Awal perkenalan dengan teman-teman Co Housing, kami belum saling mengenal tapi harus merancang habit yang seirama supaya bisa berjalan beriringan. Di sini kami menentukan Project Passion yang akan kami selesaikan di akhir zona. Terpilihlah Project Passion membuat cerita anak yang disajikan dalam 3 jenis cerita yaitu fiksi, non fiksi, dan aktivitas. Cukup menantang karena background kami berbeda-beda. Kami harus membangun habit supaya proses menulis cerita anak bisa berjalan dengan mulus. Bagi saya pribadi, di zona ini begitu berbinar-binar karena cerita anak menjadi salah satu genre favorit.

Di zona berikutnya, manajemen 4E. Kami harus mengkasifikasikan kegiatan yang termasuk dalam kategory Enjoy, Easy, Excellent, maupun Earn. Karena di awal sudah bahagia dengan project passion, maka di zona ini tak banyak kesulitan berarti. Hanya menjadi kurang optimal karena masalah pribadi.

Zona Xtra Miles atau saya menyebutnya sebagai zona percepatan. Di zona ini dituntut untuk menyiapkan energi ekstra demi terselesaikannya project passion. Jujur saja ini pas banget dengan masalah kami. Saya pribadi merasa pergerakan kami melambat sehingga di zona ini kami benar-benar dipaksa menyediakan energi ekstra

Zona Agility. Di zona ddini kami dituntut menjadi seseorang yang empati dsn proaktif. Harus mengambil peran dalam cluster. Bagi saya hal ini tidaklah mudah. Cluster terdiri dari kurang lebih 10 co housing artinya ada ratusan orang dan puluhan project passion. Masing-masing harus berkontribusi dalam sebuah tim sukses dan saya mengambil peean di tim sukses C sebagai reseller project passion.

Zona Growth. Zona yang baru saja kami lewati. Di sini kami distimulus untuk menyelesaikan masalah hingga tuntas. Dan yang paling berkesan bagi saya adalah metode menyelesaikan masalah dengan six thinking hats. Menarik sekali. Metode ini sangat membantu dalam menentukan solusi sampai ke akar-akarnya.

Zona Open Space. Zona ini hendak kami mulai. Ya, saat ini kami sedang berada di zona O. Di zona ini kami harus mengambil peran pribadi baik sebagai host, participant, bumblebee, maupun butterfly. Semua bebas memilih peran. Dan setidaknya saya harus mencoba sebagai host.

Zona News. Zona ini masih rahasia. Dikarenakan belum ada bocoran apa-apa maka saya tak bisa bercerita banyak terkait zona ini.

Nah, itu adalah zona-zona wajib yang harus saya ikuti. Saya senang karena mendapatkan banyak teknik baru dari pemaparan Ibu. Bahkan saya meniru dan memodifikasi beberapa teknik mengajar yang didapatkan untuk diterapkan di perkuliahan saya. Banyak sekali manfaatnya. Meski duka sih tetap ada. Kadang saya masih baper baper club ketika teman-teman Co Housing tidak menanggapi usulan saya. Kadang juga bersitegang pendapat. Kadang merasa jenuh dan terintimidasi. Ya begitulah..

Oya, selain manfaat tersebut saya juga mendapat manfaat keilmuan yang luar biasa melalui pelatihan atau event yang diselenggarakan hexalink dan program mentorship. Ada beberapa pelatihan free yang saya ikuti seperti portofolio anak, menulis cerita anak, desain ebook, neuroparenting, dan sebagainya. Sementara di program mentorship, sebagai mentee saya mengikuti pelatihan menulis fiksi. Ilmu yang saya dapat sangat luar biasa. Sedangkan sebagai mentor saya mengangkat materi stimulasi read alod bagi anak. Ya meski program ini belum berjalan karena beberapa kendala.

Sebagai pembelajar saya sangat senang berkesempatan masuk di bunda produktif. Sedih hanya bagian dari perjalanan kehidupan. Rasa jenuh, lelah, bosan juga kadang melanda, namun diri ini selalu mengusahakan untuk tetap on track. Fokus pada tujuan sehingga semangat kembali terbangun.

 

 

WARTA BAIK HIMA SAMKABAR BULAN FEBRUARI 2021

WARTA BAIK HIMA SAMKABAR BULAN FEBRUARI 2021

WARTA BAIK HIMA SAMKABAR FEBRUARI 2021

Memasuki tahun baru 2021 dengan kondisi yang masih pandemik membuat kami di HIMA IP Samkabar mencoba mengikuti tuntutan zaman yang lebih banyak online. Pada warta baik kali ini kami membagi kabar tentang agenda online kami baik yang baru maupun yang telah berlangsung sejak akhir tahun lalu. Inilah 3 kegiatan kami di Hima Samkabar :

1. Biru (Bincang Seru ) sebuah acara live streaming Hima Samkabar yang mengangkat tema seputar kesehatan dan parenting .
Episode Biru 30 Jan 2021 kemarin mengangkat tema tentang ” Pengaruh Gadget dalam Tumbuh Kembang Anak”.
Narsum dalam acara tersebut adalah psikolog dan praktisi kebidanan yang juga mahasiswa Bunsay batch 6 .
Obrolan santai sarat makna ini bisa di lihat di https://www.facebook.com/IbuProfesionalSamkabar/videos/465969237896736/.

 

2. Selain Biru Hima Samkabar membagikan berita baik dari Telegram Hima juga tentang Sharing Session dari seorang guru muda yang pernah bertugas di pedalaman Papua sekaligus mahasiswa bunsay batch 6 Tami Afriyani . Pada sesinya mba Tami mengkisahkan bagaimana perjalanan beliau mengajar di daerah terjauh, terluar dan tertinggal di belahan timur Indonesia.

3. Hima Samkabar mengadakan program terbarunya yaitu Menulis Quotes yang diberlakukan untuk seluruh para member.

Penulisan Quotes diadakan di pekan pertama dan ketiga dimulai dari hari kamis hingga ahad. Setiap penulisan Quotes sangat bervariatif yang memiliki tujuan sama yakni agar dapat memberikan semangat dan energi positif kepada sesama member.

Dan bagi member yang mengumpulkan quotes, maka quotes akan di posting di Instagram Ibu Profesional Samkabar dengan harapan dapat memberi dampak yang lebih luas lagi. Beberapa quotes hasil karya mahasiswa hima Samkabar :

Quotes lengkap dapat dilihat pada :
https://www.instagram.com/p/CKbT4zxpieS/?igshid=5tse441x5fz4

https://www.instagram.com/p/CKbUD82JpB1/?igshid=1v97l9t0poulm

 

 

Dongeng Kaka HIMA

Dongeng Kaka HIMA

Assalamualaikum.wr.wb..

Hallo IP’er apakabar semua ? Semoga dalam keadaan sehat semuanya.. aamiin yaa rabballalamin..

Di awal tahun ini kaka HIMA bekasi punya program streaming yang diadakan di hari Jum’at, tanggal 22 januari 2021  lalu live di Fanpage Regional Bekasi. Dan menjadi pembuka program HIMA regional diawal tahun ini. Keseruan live streaming yang diadakan kaka HIMA dengan tema ” Dongeng Kaka HIMA” yang kali ini bercerita tentang asiknya “Playground di IIP”.

Live streaming ini bertujuan untuk memperkenalkan apa saja Playground yang ada di IIP. Menjelaskan bagaimana serunya bermain di Playground IIP,  Dongeng Kaka HIMA ini dibawakan oleh kak Fitria Ramadiani sebagai host dan kak Rahmawati Lestari sebagai narasumber.

Live streaming berdurasi kurang lebih 40 menitan. Keseruan dongeng Kaka HIMA ini menjelaskan betapa asik nya bermain dan belajar di playground IIP. Dimana sebelum memasuki playground kita dibawa untuk menelusuri peta bermain disana.. Menjelajahi playground IIP mulai dari samudera matrikulasi, pulau bunda cahaya sayang ( bunda sayang),  hutan kupu-kupu cekatan (bunda cekatan), kota produktif pulau cahaya (bunda profesional), dan kepulauan rahayu istana bunda shale (bunda shaleh). Udah kebayangkan gimana serunya di tiap tahapan kelas nya. Kita bukan hanya belajar tapi bermain juga dengan program-program yang diberikan untuk mahasiswa IIP

Selain menjelaskan tentang playground kaka HIMA pun  membuka QnA untuk penonton yang masih penasaran dengan playground yang ada. Bagaimana seru kan live streaming Dongeng Kaka HIMA. Nantikan keseruan selanjutnya di Dongeng kaka HIMA dengan tema yang berbeda..

Terimakasih..

Sampai berjumpa lagi di program regional bekasi selanjutnya..

Salam hangat dari medkom bekasi

Ayu inggar 🤗

 

 

SELEH & SEMAI HIMA REGIONAL JEMBER RAYA

SELEH & SEMAI HIMA REGIONAL JEMBER RAYA

Di bulan Januari ada beberapa hal yang terjadi di ibu profesional Jember Raya,khususnya di HIMA regional jember raya,yaitu SELEH & SEMAI.

Sebagai imbas dinamika komunitas, agar kebermanfaatan bisa dirasakan, roda kepengurusan harus terus berputar. Sedangkan secara manusiawi, para punggawa komunitas ini pun harus terus menjalankan kehidupan dengan berbagai pilihan prioritasnya.

Maka dari itu, perombakan secara periodik perlu dilakukan. Begitu pula dengan IP Jember Raya. Dimana kebetulan periode ini banyak teman-teman pengurus yang telah bertugas selama dua tahun dan memilih untuk seleh dari kepengurusan. Sehingga diadakanlah prosesi seleh dan semai.
Diawali dengan sebuah petualangan bintang yang disetting dalam Playground seru. Kegiatan yang diadakan di bulan Desember ini diharapkan akan memunculkan tim atau inspirator
baru untuk bisa mengambil tempat di kepengurusan IPJR.

Selanjutnya, serangkaian dengan program tersebut, di bulan Januari IP Jember raya melangsungkan presentasi LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) kepengurusan sebelumnya. Setiap pengurus mempresentasikan laporannya melalui media zoom yang dihadiri oleh semua pengurus.

Di komponen institut regional kami, datanglah masa transisi ini. Dalam tim, kami harus rela melepaskan tiga garda terbaik Hima, yaitu Enggar Swan selaku ketua Hima Regional,Sabrina Lista Dewi selaku manager Humas Hima Regional dan Evy Mustikasari selaku Manager Keuangan Hima. Merekalah orang-orang terbaik Hima, yang pada akhirnya memilih seleh dipengurusan. Dan kami merasa sangat kehilangan mereka bertiga,serta kami juga sangat berterimah kasih kepada mereka karena selama ini sudah berkontribusi di Hima regional Jember. Saya pribadi belajar banyak hal dari mereka terutama kekompakan dan kepedulian terhadap kami sebagai tim di HIMA dan kepada para mahasiswa diregional. Kehilangan 3 orang tim terbaik memang sangat menyedihkan,namun jika ada SELEH pastinya ada SEMAI di Hima. Dan akhirnya kita kedatangan tim magang yaitu mbak Novi Nur Rokhmawati dari Situbondo dan mbak Rizka Indana Zulva dari Banyuwangi. Kehadiran mereka menjadi penyemangat bagi kami di tim HIMA Regional. Dan ada salah satu komentar atau aliran rasa dari mb novi “meski awalnya ingin magang di manmedkom,ternyata saya ditakdirkan di manop,dan setelah mencoba belajar bagaimana peran manop saya merasa begitu berbinar ketika berhadapan dengan excel,ditambah lagi dengan dipandu mb eva selaku leader manop jadi semakin seru proses belajar untuk menjadi bisa”. Alhamdulillah dibulan Januari kami punya tim dengan anggota baru. Kami berharap kedepannya HIMA akan menjadi semakin baik dengan berbagai kegiatan yang mencahayakan dan membahagiakan. Thanms dears🥰