Pancasila dalam Tindakan

Pancasila dalam Tindakan

Bersatu untuk Indonesia Tangguh

Demikian tema yang diangkat oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021. Hari Lahir Pancasila selayaknya selalu diperingati untuk mematri kembali makna suci dalam hati dan laku hidup sehari-hari. Pancasila ibarat mantra digdaya yang harus senantiasa kita rapalkan dan terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Tahukah Anda seperti apa cerita kelahiran Pancasila? baiknya kita refresh kembali ingatan kita tentang pelajaran PPKn saat dibangku sekolah dulu tentang Pancasila, bisa saja ada bagian yang ‘baru’ kita ketahui. 

Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) atau BPUPK, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan “Indonesia”).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 mei  (yang nantinya selesai tanggal 1 Juni 1945). 

Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota BPUPKI.

Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir.Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abieskosno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945.

Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato-pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1947, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”.

”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.” (hs://id.wikipedia.org/, 2021) 

Lahir dari buah pemikiran brilliant sang negarawan yang kemudian dirumuskan dan digodog sebagai dasar mendirikan negara. Pancasila lahir sebelum hari kemerdekaan Indonesia, merupakan pondasi atau dasar negara Indonesia. Dasar pertama dan utama dalam menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelima silanya juga dijadikan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, dan juga sebagai ideologi dan falsafah bangsa. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sangatlah luhur dan mencakup segala lini kehidupan, maka seyogyanya kita terapkan dalam keseharian.

Azaz-azaz mulia Pancasila ada 5 yakni:

(1) Ketuhanan yang Maha Esa

(2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 

(3) Persatuan Indonesia

(4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

(5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Makna dan nilai yang terkandung kelima azaz tersebut sangat dalam dan mulia, hendaknya diinternalisasi dalam jiwa seluruh rakyat Indonesia dan diimplementasikan dalam hidup keseharian.  Proses transfer ilmu pengetahuan, keterampilan dan pendidikan nilai-nilai Pancasila kepada generasi penerus bangsa adalah tugas dan tanggung jawab bersama, bukan sebatas lembaga pendidikan. Utamanya pendidikan keluarga, yang pertama dan utama didapatkan oleh anak-anak bangsa. Keluarga adalah media efektif pendidikan, panutan dan pembiasaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Demikian, sejak dini, generasi terdidik nilai-nilai luhur, menerapkan hingga melarutkan dalam keseharian. Menjadi kebiasaan mulia, menularkannya pada lingkaran sekitarnya hingga menjadi budaya bangsa. Selanjutnya, bergotong royong dengan guru dan lembaga pendidikan lainnya bekerja sama membumikan nilai-nilai Pancasila di segala lini kehidupan. Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Dr. Lia Kian mengimbau internalisasi nilai Pancasila terhadap anak didik tidak harus secara formal melainkan secara informal.

Peringatan Hari Lahir Pancasila

 

“Membumikan Pancasila dalam segala perspektif ilmu, tidak harus formal tetapi informal bagaimana mengkombinasikan Pancasila baik secara teori dan praktek”, ujarnya.

Membumikan nilai-nilai Pancasila di era modernisasi menjadi tantangan tersendiri. Masa dimana digitalisasi dan individualistik mendominasi, arus globalisasi membanjir. Budaya bangsa lain dengan mudahnya mempengaruhi generasi. Sedikit demi sedikit nilai-nilai luhur Pancasila terkikis dari jiwa dan kelakuan generasi bangsa. Tanggung jawab bersama, seluruh bangsa, untuk terus menanamkan dan memupuk jiwa Pancasia dalam sanubari anak-anak bangsa. Agar bangsa Indonesia tetap merdeka, beradab, berjaya dan tangguh!

 

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Lahirnya_Pancasila, 2021

https://www.bpip.go.id/bpip/slider/622/bpip-dan-guru-komitmen-gotong-royong-kuatkan-pancasila, 2021 

Hidupkan Kartini dalam Hati dan Laku Diri

Hidupkan Kartini dalam Hati dan Laku Diri

Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini, sedari kecil kita sudah diperkenalkan dengan satu hari bersejarah ini. Sejak sekolah Taman Kanak-Kanak hingga sekolah jenjang tinggi ikut memperingati dan merayakannya, dengan berbagai kegiatan dan acara. Terbanyak adalah perlombaan fashion show berbusana ala Ibu Kartini, memakai kebaya dan konde Jawa. Ada juga lomba mengarang, pidato, karnaval baju daerah dan lain-lain. Tahun ke tahun seperti itu. Sekian lama kita memperingati dan merayakan Hari Kartini, apakah kita benar-benar mengenal sosok Beliau?

Sekilas mungkin kita telah dikenalkan saat belajar di bangku Sekolah Dasar atau Menengah Pertama, sosok Pahlawan perempuan dari Jepara, Jawa Tengah. Bahwa ibu Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan Indonesia, yang berjuang agar perempuan-perempuan Indonesia memperoleh pendidikan dan hak-hak lainnya, setara dengan kaum Adam. Kesetaraan dan emansipasi perempuan Indonesia menjadi tagline kisah perjuangannya. 

Tidak ada yang salah, namun lebih bijak lagi bila kita mengenal lebih dekat dengan sosok Ibu Kartini dan mengetahui lebih banyak kisah hidup dan perjuangannya, karena tak hanya 2 hal tersebut yang diperjuangkan. Banyak sisi pribadi dan hidup beliau yang bisa ditiru, diteladani, diteruskan dan dilestarikan. 

Di dunia perempuan, kita terdapat banyak derita yang pedih. Penderitaan yang telah aku saksikan waktu aku masih kanak-kanak itulah yang membangkitkan keinginan aku membawa arus yang tidak mau membenarkan saja keadaan-keadaan yang kolot. 

Kartini

Semenjak kecil sudah bercokol benih-benih pemikiran kritis, kepekaan dan keprihatinan kondisi sekeliling, keinginan merombak, semangat pembaharu. Kartini lahir dari seorang ayah keturunan bangsawan dan ibu dari golongan rakyat kebanyakan. Kartini tumbuh berkembang di lingkungan kabupaten, saat itu ayahanda menjabat sebagai bupati Jepara, walau begitu beliau tidak suka berfoya-foya, hidupnya sederhana dan bersahaja. Ikut merasakan pedihnya kelaparan dan kemelaratan rakyat walau beliau sendiri mampu makan 3 kali sehari. Merasakan kesengsaraan rakyat yang ditindas walau keluarganya ‘dekat’ dengan penjajah.  

Masa itu, tahun 1878 adalah masa penjajahan era baru, pemerintah kolonial Belanda sedang berkembang menjadi sebuah negara modern, teknologi modern sedang menjadi pendukung kekuasaan kolonial, di Jawa dan di luar Jawa. Begitu pula pendidikan, sekolah mulai banyak didirikan dan diperbolehkan untuk pribumi. Kakek Kartini dan turunannya merupakan salah satu keluarga pejabat pribumi yang beruntung bisa mengenyam pendidikan Barat, hingga mahir berbahasa Belanda, berpengetahuan luas dan cakap memimpin. Pun ayah Kartini, namun tidak serta merta Kartini bisa bebas bersekolah seperti halnya saudara-saudara lelakinya. Keluarganya masih sangat menegakkan adat istiadat Jawa yang kolot, yang tak membenarkan perempuan bersekolah atau banyak beraktivitas di luar rumah. Kartini sosok yang tidak mudah menyerah, beliau merajuk pada ayahanda untuk diperbolehkan bersekolah. Akhirnya, pendidikan dasar diberikan pada Kartini dan saudara-saudara perempuannya. 

Sekolah rendah Belanda saat itu menjadi jenjang pendidikan pertama dan satu-satunya bagi Kartini. Pendidikan formal dasar selama 6 tahun tersebut membawa dampak besar bagi pemikiran dan pengetahuan Kartini. Disana beliau belajar bahasa Belanda hingga mahir dan mempunyai teman-teman Belanda, yang membuatnya berpikir: mau jadi apa nanti aku? yang membuatnya bermimpi: belajar dan bersekolah hingga ke negeri Eropa. Sungguh pemikiran yang hampir mustahil terbersit oleh anak perempuan jaman dulu. Karena memang sedikit sekali anak rakyat pribumi yang diperbolehkan bersekolah, hanya golongan bangsawan, pejabat daerah, pegawai tinggi dan orang kaya tertentu. 

Keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi seperti halnya abang-abangnya, ditentang Ayahanda, karena kungkungan tradisi kolot Jawa. Selepas sekolah rendah, Kartini dipingit, dikurung dalam rumah dalam gedung Kabupaten Jepara, dipisahkan dari dunia luar hingga jodoh datang. Saat-saat ceria masa belia dan gelora belajar yang memuncak, Kartini dihadapkan pada tradisi yang menyesakkan batin, memenjarakan fisik. Saat itulah beliau merasakan perempuan ditindas hak-haknya, tidak setara dengan kaum laki-laki. Perkawinan pun dipaksa dengan orang yang tidak dikenal, yang menurut orang tuanya baik. Sudi dimadu atau dijadikan istri kesekian, dipaksa dan diseret keluar dari ‘penjara’ rumahnya masuk ke ‘penjara’ laki-laki yang menjadi suami. Sungguh fenomena yang jamak menimpa perempuan pada jamannya menyulut api amarah dalam dada, gerakan untuk berpikir mendalam, berbuat nyata untuk perubahan. 

Hari-hari dalam pingitan dibunuh dengan banyak membaca buku, majalah dan surat kabar dari dalam dan luar negeri. Beruntung ayahanda dan abang mudanya adalah orang-orang terpelajar yang mengisi batin Kartini dengan pengetahuan luas dari pustaka. Sekolah mungkin sudah tertutup baginya, namun pustaka telah mengembarakan nalar dan ilmu pengetahuannya hingga ke seluruh dunia. Pengetahuan makin luas, pemikiran makin dalam, sikap makin arif dan bijaksana. Dalam rumah, Kartini juga menulis, berkorespondensi dengan teman-teman Belanda, berlatih kerajinan tangan, bergaul akrab dengan saudara perempuan, menikmati alunan gamelan, bermain dengan anak-anak para abdi dalem. Selama itu pula Kartini merumuskan banyak hal dalam segi tradisi yang sangat kaku dan buat merugi. Disamping soal pingitan, perkawinan, hak-hak perempuan, aturan baku unggah-ungguh sesaudara dalam satu keluarga, kasta/turunan dalam lapisan masyarakat. Pemikirannya menjawab bahwa akar masalah ini adalah kurangnya ilmu pengetahuan dan feodalisme yang membelit. Rakyat hanya bisa manut  mengikuti tradisi, para perempuan pasrah jatuh kepangkuan lelaki yang tak dikenal, para ibu tak punya ilmu mendidik keturunannya, sehingga lingkaran kedzoliman ini terus mengungkung tak putus. Kartini telah berusaha mendobraknya, dengan menerapkan hubungan antar saudara yang akrab tanpa  unggah-ungguh baku yang kaku, bersekolah tidak hanya untuk anak laki-laki, menghormati dan bergaul, mengobrol bukan memerintah  dengan rakyat jelata tanpa memandang kasta

Suatu revolusi jiwa yang tidak kurang dahsyatnya daripada revolusi apapun. Ia bukan lagi menentang dan melawan perorangan, ia telah perangi dan berantas suatu sistem, suatu tata hidup 

Toer, Pramoedya Ananta. 2000

Hingga 4 tahun lamanya dalam pingitan, Ayahanda berkeputusan arif bijaksana, membebaskan semua anak perempuannya. Sekembalinya ke dunia luar, banyak giat yang dilakukannya untuk menimba ilmu lebih luas, walau tak diperbolehkan lagi bersekolah. Masuk ke berbagai lapisan rakyat, bertemu dengan banyak derita rakyat jelata, kemelaratan, kebodohan, kesewenang-wenangan, penindasan. Akarnya adalah penjajahan! Belanda  hanya mengeruk kekayaan perut pribumi, namun tidak memberikan pendidikan dan penghidupan Bumiputera. Kartini sayang pada beberapa teman Belanda-nya namun di lain sisi beliau sangat menentang kolonialisme Belanda! Maka dengan jalan pemikiran dan dobrakan-dobrakan kebijakan daerah, Kartini mencoba membangun kekuatan rakyat dengan pendidikan dan pengetahuan. Sadar bahwa angkat senjata sudah bukan jalan utama yang tepat. 

Karena aku yakin sedalam-dalamnya bahwa perempuan dapat memberi pengaruh besar kepada masyarakat, maka tidak ada yang lebih aku inginkan daripada menjadi guru supaya kelak dapat mendidik gadis-gadis dara para pejabat tinggi kita.

Kartini

Mencerdaskan anak bangsa adalah salah satu tujuannya. Caranya dengan mendidik para perempuan. Perempuan, yang nantinya menjadi ibu, merupakan pendidik pertama dan utama dalam keluarga, bagi anak-anaknya. Dari ibu yang cerdas, akan terlahir keturunan yang sehat, anak-anak terawat dan terdidik, keluarga tangguh, mampu jadi partner yang setara dengan pasangannya. Maka, berjuanglah kartini mendirikan sekolah informal bagi perempuan di sekitarnya. Mengajarkan dengan cara mereka, cara sederhana. Mengajarkan budi pekerti, ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sedikit bahasa asing. 

Mendidik  adalah tugas yang luhur dan suci. Tanpa memiliki keahlian memadai adalah dosa mencurhkan diri di bidang tersebut. Bagi saya, pendidikan berarti pembentukan watak dan akal pikiran. Tugas pendidik tidak berhenti pada pengembangan akalnya saja. Ia juga wajib memelihara pembentukan wataknya. Secara moral, dia berkewajiban, walaupun tidak ada hukum yang mengharuskannya melakukan itu. Patut diingat bahwa perkembangan intelektual saja tidak menjamin kesusilaannya. 

Kartini

Putri seorang bupati, tak lantas memberi banyak kekuasaan untuk berbuat. Maka, dengan pertimbangan mendalam, Kartini menerima pinangan seorang Bupati Rembang untuk dijadikan istri yang kesekian, dengan beberapa syarat. Walau berseberangan dengan ego dan idealisme diri yang  menentang poligami, Kartini berstrategi bahwa dengan menjadi seorang istri bupati, beliau akan mempunyai kuasa untuk bisa berbuat lebih banyak dan berdampak lebih luas. Disamping itu, suaminya adalah juga seorang yang terpelajar, yang berjanji mendukung cita-citanya mendirikan sekolah, mencerdaskan perempuan dan anak bangsa. Pendopo kabupaten Rembang menjadi sekolah formal pertama yang Kartini dirikan untuk para perempuan disana. Tak lama menyandang sebagai istri bupati Rembang, setelah melahirkan anak pertama dan satu-satunya, Kartini berpulang. Usianya masih sangat muda, 25 tahun. 

Memang, suatu pekerjaan yang seolah-olah tak mungkin dapat dikerjakan! Tetapi, siapa tidak berani, takkan menang! Itulah semboyanku. Maka, ayo, maju! Bertekad saja untuk mencoba semua! Siapa nekat, mendapat tiga perempat dunia!

Kartini

Korespondensi dengan beberapa teman Belandanya merupakan sarana Kartini mengasah kemampuan bahasanya, menulis kisah hidup, nasib dan kondisi rakyat sebangsa, pemikiran-pemikiran kritis, keinginan dan cita-citanya, berbagi sudut pandangnya akan buku dan ilmu yang didapatnya, gerakan yang akan diperbuatnya, seni yang digemari, dan lain-lain. Menggambarkan kedalaman akal, luasnya pengetahuan dan luhur budi pekertinya. Setelah Kartini wafat, oleh salah satu temannya, J.H Abendanon, surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini, dikumpulkan dan dibukukan. Buku tersebut terbit pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Di Belanda saja, buku itu dicetak ulang hingga empat kali dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. 

J.H Abendanon mempunyai kedudukan tinggi di bidang pendidikan pemerintah Belanda, ia merupakan pendukung politik etis. Ia percaya pengetahuan modern adalah jalan terbaik untuk keluar dari keterbelakangan dan kemiskinan yang dialami Hindia Belanda (Indonesia). Kartini merupakan bukti bahwa kebijakan pendidikan di tanah jajahan menghasilkan orang yang mampu mengguncang dunia. 

Armijn Pane, penulis buku, seorang pribumi, yakin bahwa bukan peradaban barat yang menerangi kegelapan Hindia Belanda. Namun, ia sesungguhnya penerang saat gelap belum ingin pergi. Kartinilah yang menyalakan obor agar kegelapan dapat segera diusir. Obor itu telah diteruskan.

Dan, biar pun aku tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan rasa berbahagia karena jalannya sudah terbuka. Dan, aku turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri. 

Kartini

Terang itu kini kita nikmati bersama, perempuan sekarang bebas merdeka. Menikmati kesetaraan hak-hak dan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Hingga merdeka bereksplorasi, mengenyam pendidikan tinggi dan berkarier. Kian hari, emansipasi kian mirip dengan liberalisasi dan feminisasi yang lebih berkiblat ke Barat. Padahal, sesungguhnya Kartini semakin meninggalkan semuanya dan kembali kepada fitrahnya. Yakni pendidikan dan kemajuan bukan hanya untuk ego diri sendiri, disitu juga ada tanggung jawab mendidik anak, mengelola keluarga dan memberi manfaat pada masyarakat. 

Perempuan itu jadi sokoguru peradaban! Bukan karena perempuan yang dipandang cakap itu, melainkan oleh karena saya sendiri yakin sungguh, yakin sungguh bahwa perempuan itu pun mungkin timbul pengaruh yang besar, yang besar akibatnya, dalam hal membaikkan dan memburukkan kehidupan. Bahkan, dialah yang paling banyak dapat membantu memajukan kesusilaan manusia. 

Kartini

 

Ayo Mendongeng!

Ayo Mendongeng!

“Empat hal yang tak akan ditolak oleh anak yakni bermain, kejutan, hadiah dan dongeng” Septi Peni Wulandani, founder komunitas Ibu Profesional. 

Empat amunisi ini bisa kita pakai untuk menyentuh hati anak dan memenangkannya. Adakah sebuah dongeng/cerita yang terus teringat dalam memori kita? bisa jadi karena sejak kecil kita sering mendengar cerita tersebut atau sangat mengena di hati, terngiang-ngiang hingga kini.

Mendongeng merupakan salah satu media komunikasi untuk menyampaikan sebuah cerita. Cerita fiktif/ imajinasi bisa juga cerita nyata atau pengalaman. Mendongeng adalah bertutur, dilakukan dengan suara berintonasi, ada ritme, dan melibatkan ekspresi wajah, gerak/bahasa tubuh serta alat bantu seperti buku, iringan musik, mainan, gambar dan benda-benda lain. 

Manfaat Mendongeng

Mendongeng sebagai media mendidik tanpa menggurui, menasehati tanpa menceramahi. Mentransfer nilai-nilai kehidupan dengan cara yang halus dan seru. Saat mendengarkan dongeng, anak menikmati sekaligus mengenal dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam cerita, tanpa perlu diberitahu secara eksplisit.

Dongeng bisa berupa cerita tentang sejarah masyarakat, asal usul keluarga atau cerita tentang salah satu anggota keluarga. Dapat berupa peristiwa, perjuangan, tradisi, kebudayaan dan warisan nilai. Dongeng semacam ini bisa membantu anak menempatkan diri sebagai individu yang menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat.

Mendongeng mampu mengembangkan kemampuan intelegensia anak. Suatu dongeng bisa menggugah daya pikirnya sebagai respon cerita yang didengarnya, kenapa begini, mengapa begitu, berbagai tanda tanya, rasa penasaran atas cerita yang didengarnya. Mungkin ada satu atau dua dongeng yang menjadi favorit anak, dan senang bila diceritakan berulang-ulang, repitisi ini melatih daya ingat anak. Mendongeng juga melatih konsentrasi anak, latih kemampuan mendengar/ menyimak. 

Kemampuan bahasa anak akan berkembang baik dengan teratur mendengarkan dongeng. Alunan/intonasi suara, kreasi bunyi yang ekspresif bisa menstimulasi bagian otak yang berperan mengatur bahasa. Anak kaya akan perbendaharaan kosa kata, tata bahasa dan pengejaan. Dongeng mampu merangsang dan membangkitkan kegemaran anak terhadap buku. Apabila dongeng dilakukan dengan media buku sebagai sarana dan sumber cerita. Mendongeng dengan menggunakan buku sebagai sumber cerita, membacakan isi cerita sesuai yang tertulis dibuku dengan menggunakan tata bahasa yang baik, sekaligus intonasi suara dan ekspresi wajah yang sesuai, dikenal dengan istilah read aloud. Bisa ditambah dengan menunjukkan bagian-bagian atau gambar ilustrasi yang sedang dibaca. Demikian terlihat bahwa membaca itu kegiatan menarik dan menyenangkan. 

Melalui dongeng anak dapat menemui dan (seolah) mengalami suatu pengalaman dan keadaan/ situasi yang sulit, yang membuat takut, marah, lelah, senang, puas dan beragam bentuk emosi lain. Mengenal bentuk-bentuk emosi, perasaan dan keadaan tersebut akan sangat berguna sampai dewasa kelak. Anak akan mampu mengidentifikasi dan mengelola emosi dan perasaannya dengan tepat. 

Dongeng identik dengan dunia imajinasi. Anak bisa berperan menjadi orang lain atau sesuatu di luar dirinya melalui proses imajinasi dan identifikasi, dari berbagai dongeng yang sering anak dengar. Hal ini merupakan sarana pemuasan akan ekspresi diri  anak.

Mendongeng yang kerap kali dilakukan bisa menciptakan kedekatan/ bonding antara pendongeng dengan anak, karena komunikasi aktif, anak mendapat waktu dan perhatian yang berkualitas, dan kadang tersentuh hatinya. Kedekatan ini membuat anak lancar berkomunikasi, nyaman membuka diri,  berbagi perasaan dan menyerap nilai-nilai kehidupan. 

Dongeng bisa juga hanya bertujuan menghibur anak-anak yang mendengarnya. Dongeng yang lucu, menghibur walau tanpa ada penekanan nilai moral yang terkandung didalamnya, tetap memberi manfaat bagi anak. Anak akan tumbuh dengan bahagia dan positif. 

Jadi, ayo mendongeng. Berikan cerita/ dongeng terbaik untuk anak, terus berlatih dan membaca agar bisa menyampaikan dengan cara terbaik dan menarik. Menurut Kak Dani, salah satu pendongeng asal Jogja, tantangan mendongeng masa pandemi antara lain adaptasi mendongeng dengan cara virtual. Tidak dapat bertatap muka langsung dengan pendengar tentu atmosfernya berbeda, tidak ada respon dan transfer emosi yang mampu menghidupkan suasana. 

Tantangan ini  bisa dilatih kok, caranya bisa dengan mengikuti kompetisi dongeng virtual. Dalam rangka memperingati Hari Dongeng Sedunia tanggal 20 Maret 2021, Institut Ibu Profesional mengadakan serangkaian acara. 

  1. Lomba Mendongeng 2021

https://www.instagram.com/p/CMaDFmtsA02/?igshid=pqay7ea6kcwh

  1. PIJAR talk “Mengembangkan Potensi Anak melalui Dongeng”

https://www.instagram.com/p/CMcc1n4sy5v/?utm_source=ig_web_copy_link

 

Menyambut Cloud 9, Apakah Itu?

Menyambut Cloud 9, Apakah Itu?

Assalamualaikum IIPers, tidak terasa kita sudah di penghujung tahun 2020.

Tak terasa pula, 9 tahun perjalanan ibu profesional membersamai perempuan-perempuan tangguh dari berbagai pelosok nusantara dan dunia demi menguatkan perannya baik dalam keluarga maupun masyarakat. 9 tahun Ibu profesional bertumbuh dengan segala tantangan dan dinamikanya.

PIJAR ke 6 kali ini akan ada obrolan seru Bersama dengan tim Medkom dan RCIP, seputar perhelatan CLOUD 9.

Saksikan talk show seru
Menyambut Cloud 9 : Selebrasi 9 Tahun Ibu Profesional

Hari : Jumat, 11 Desember 2020
Pukul : 15.30 – 16.30 WIB
Live Instagram @institut.ibuprofesional

Pijar-Desember

Narasumber : Alienda (Manmedkom) dan Ummi Hajiroh ( kepala divisi training RCIP)
Host : Tria (Mahasiswa Matrikulasi Batch 8)

Pastikan untuk hadir dan lihat keseruannya yaa, ada banyak ilmu yang bisa menginspirasi anda..

PIJAR: Bingkai Semesta E-Magz

PIJAR: Bingkai Semesta E-Magz

Tahun 2020 menjadi tahun produktif bagi mahasiswa Institut Ibu Profesional. Banyak mahasiswa yang menghasilkan karya baik berupa buku, kegiatan daring dan luring, jurnal ilmiah dan ide-ide menarik lainnya yang terinspirasi dari perkuliahan yang diikutinya.

Institut Ibu Profesional mengapresiasi capaian tersebut dan merangkumnya dalam E-Magazine Bingkai Semesta Gugus Bintang Penjelajah.

PIJAR 20 November

Saksikan Diskusi Seru Kupas Tuntas E-Magazine Bingkai Semesta Gugus Bintang Penjelajah #SemestaKaryaIIP2020 #MelangitkanKaryaCloud9 pada

Hari: Jum’at, tanggal 20 November 2020
Pukul : 15.30-16.30 WIB
Live Instagram @institut.ibuprofesional

Narasumber : Evi Marlina ( Pimpinan Project E-Magazine Bingkai Semesta Gugus Bintang Penjelajah)
Host : S. Dian Wulandari (Mahasiswa Bunda Sayang batch #6, IIP Efrimenia)

Set alarm dan jangan sampai ketinggalan ya! Ada banyak cerita seru yang akan dibagikan yang mungkin menginspirasimu 😉

Mau tahu isi dari E-Magazine Bingkai Semesta Gugus Bintang Penjelajah?

💫🪐💫🪐💫🪐💫🪐💫

E Magazine IIP 2020

101 Astro Gugus Bintang Penjelajah sudah melakukan ekspedisi di tahun 2020. Mereka bersungguh-sungguh dengan passionnya sehingga mampu menghasilkan karya yang terinspirasi dari perkuliahan di Institut Ibu Profesional.

Yuk simak keseruan kisah mereka di E-Magz Bingkai Semesta Gugus Bintang Penjelajah #semestakaryaIIP2020

📲 https://bit.ly/emagazinesemestakaryaIIP2020

Ada banyak cerita inspiratif yang akan kamu temukan, dan yakinlah kamu pun bisa menjadi bagian dari Bintang yang bersinar itu.

#gugusbintangpenjelajah
#semestakaryaiip2020
#melangitkankaryacloud9
#IIPberdampak
#E-MagazineIIP2020

💫🪐💫🪐💫🪐💫🪐💫

PIJAR Talk: Melek Literasi Digital

PIJAR Talk: Melek Literasi Digital

Hai hai hai, sudah tanggal 3 September nih. Sudahkah teman-teman mengumpulkan video mendongeng untuk diikutsertakan pada kompetisi mendongeng IIP? Kalau belum, hayuk segera upload video terbaiknya, mumpung masih ada waktu.

Sembari menanti video-video kece dari perempuan pembelajar dan keluarga, Mbak Mimin mau membagikan sebuah kabar gembira. Bahwasanya pada hari Selasa, 8 September 2020, pukul 19.30 – 20.30 akan diselenggarakan PIJAR Talk bersama Ernawati M, Psi.

Beliau adalah seorang Psikolog Klinik Anak dan Remaja, penulis beberapa buku best seller dan juga founder Kelas Parenting Asyik. Ditemani oleh mbak S Dian Wulandari, kita akan berbincang seru mengenai literasi digital mendampingi anak dalam berselancar dengan gadget.

Pijar Talk

Pas sekali kan temanya dengan masa New Normal di mana pembelajaran masih dilakukan secara jarak jauh. Pastinya perempuan pembelajar dan seluruh keluarga Indonesia wajib membekali dirinya dengan ilmu yang tepat, agar proses pembelajaran jarak jauh bisa dilaksanakan secara optimal.

Apalagi melihat fakta bahwa Indonesia mendapat peringkat ke-6 dunia dalam penggunaan internet sehari-hari. Sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan pemahaman literasi digital yang baik. Indonesia berada di posisi ke-7 dari bawah dalam urusan literasi digital. Miris kan?

Percaya sih perempuan pembelajar dan keluarga pastinya tidak termasuk dalam bagian ini. Tapi tentunya kita tetap membutukan pengetahuan yang disampaikan oleh ahlinya, sehingga keluarga kita bisa melek literasi digital.

Apa saja sih yang dibutuhkan agar melek literasi digital?
Apa saja yang harus diajarkan ke anak-anak?

Apa saja batasan-batasan yang harus disampaikan ke anak?

Kita akan membahasnya lebih lanjut tanggal 8 September ya! Jangan lupa tentu saja hanya LIVE di  akun Instagram @institut.ibuprofesional.

Buat yang mengikuti kompetisi mendongeng IIP, wajib banget untuk stay karena pemenang #PIJARMENDONGENG2020 akan diumumkan pada hari itu. Kejutan lainnya, akan ada LIVE Mendongeng bersama PIJAR.

Sudah nggak sabar ya menunggu tanggal 8?
Sambil menanti, jangan lupa untuk bagikan informasi ini ke seluruh penjuru dunia ya!

Untuk informasi lebih lanjut terkait PIJAR Talk, bisa menghubungi Mbak Yuli di https://wa.me/628987016738.

Sampai jumpa tanggal 8 ya!