*Ditulis oleh mbak Gina Hendro, Tim Media Komunikasi IIP

“Ketika bermain, sesungguhnya anak sedang belajar. Belajar bagaimana caranya belajar” (Fred Donaldson)

Bagi anak, kegiatan bermain merupakan proses pembelajaran tentang dirinya, orang lain dan lingkungannya. Melalui bermain, anak anak bebas berimajinasi, mengeksplorasi kemampuan diri, melepaskan emosi dan berkreasi sesuka hati. Dengan kata lain, bermain adalah keseluruhan aktifitas yang menyenangkan untuk membantu anak mencapai perkembangan yang utuh baik fisik motorik, intelektual (kognitif), moral, sosial dan emosional (afektif)

Menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak-anak memainkan peran aktif didalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi. Proses berfikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasikan oleh pengalamannya dengan dunia sekitar, serta kemampuan menginterprestasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman.

manfaat bermain

Menurut Catron dan Allen, bermain mendukung perkembangan sosial, interaksi sosial dengan teman sebaya atau yang lebih tua dan muda, kerja sama, menghemat sumber daya dengan menggunakan benda benda yang ada secara tepat dan peduli terhadap orang lain dengan cara memahami perbedaan.

Meskipun bermain dapat dilakukan seorang diri, namun bermain bersama memiliki lebih banyak keuntungan bagi perkembangan anak. Bermain dengan teman lebih tua, anak akan belajar melalui mengobservasi dan mencontoh. Bermain dengan teman lebih muda, membuat anak akan belajar mengayomi, menjaga dan memimpin. Sedangkan bermain dengan teman sebaya menjadikan anak belajar menjalin interaksi dan bersahabat.

Pada akhirnya, perkembangan sosial anak paling mudah dibentuk melalui kegiatan bermain bersama, hal ini tidak bisa didapatkan dari bermain sendiri di dalam rumah atau bermain melalui gawai.

Menurut Psikolog Hurlock, bermain adalah kegiatan yang dilakukan dengan sukarela untuk kesenangan dan tanpa memikirkan hasil akhir. Hal ini tentu saja menjadi pembeda dengan kegiatan bekerja yang mengutamakan hasil akhir.

*

pentingnya bermain

Untuk diketahui bersama, berdasarkan Konvensi Hak Anak-Anak PBB, anak-anak mempunyai 10 (sepuluh) hak yang harus diberikan, salah satunya hak bermain. Sangat diharapkan agar keluarga dapat berupaya sedemikian rupa untuk memenuhi hak anak secara wajar.

Bermain adalah hak anak. Hak ini kerap terlupakan karena dianggap tidak penting. Padahal, dari bermain orang tua akan melihat perkembangan anak. Bermain merupakan suatu kegiatan yang bersifat intrinsik, sudah melekat pada anak dengan sendirinya. Sejak bayi, perilaku ini sudah muncul dalam bentuk memainkan tangan atau benda-benda di sekitarnya.

Sayangnya, bagi kebanyakan orang, kegiatan bermain sering dianggap tidak bermanfaat. Banyak orangtua melarang anak-anaknya bermain dengan alasan bermacam-macam. Takut bajunya kotor, takut terkena kuman, takut hitam, hingga takut anaknya tidak menjadi pintar karena kebanyakan bermain. Anggapan keliru dan pengabaian semacam ini tentu berdampak negatif bagi anak. Larangan bermain semacam ini bahkan bisa dikategorikan sebagai pelanggaran hak anak karena bermain itu penting dan termasuk hak anak.

Bermain menjadi modal tepat untuk kecerdasan intelektual maupun emosional. Mengutip Piaget dan Vygotsky, kegiatan bermain akan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dan mempraktikkan keterampilan hidup (life skill)

Bermain sebagai kegiatan yang menyenangkan menjadi cara paling utama bagi anak mempelajari berbagai hal. “Selain menyenangkan, bermain memiliki berbagai manfaat untuk perkembangan anak, baik dalam aspek fisik-motorik, kognitif, maupun sosial-emosional (afektif).

tujuan bermain

Saat anak sedang mau bermain, biarkan mereka bermain dan jangan cemas berlebihan. Beri kesempatan kepada anak untuk bermain, sehingga orangtua tahu perkembangan anak.

Dengan bermain, anak belajar estimasi, mengembangkan pola kognitif, konsep dalam hal pola hidup, toleransi, mengenal aturan, serta bertenggang rasa. Bermain akan membuat nilai-nilai tersebut lebih masuk dan meresap dalam diri anak.

Anak dengan motorik halus yang baik akan menulis dengan baik menggunakan tangannya. Lain halnya jika anak bermain kejar-kejaran, ia sedang memperkuat motorik kasar.

Saat anak menjatuhkan bola dan telur misalnya, mereka akan menemukan hal-hal baru. Bola akan melenting saat dilemparkan ke lantai, sedangkan telur malah akan pecah. Dari hal ini, anak menjadi tahu sesuatu yang baru dengan mencoba.

Prinsipnya, bermain itu harus spontan dan menyenangkan, tidak membuat anak jemu dan sebal dengan permainan yang dilakukan. Bila anak lebih senang mencari ikan kecil di sungai daripada di kolam, perbolehkan mereka untuk terap bermain. Tentu dengan selalu memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan.

Patut diingat, bahwa kegiatan bermain sebaiknya dimulai tanpa paksaan, tidak ada aturan yang mengikat selain kesepakatan yang telah disepakati bersama dan anak anak terlibat secara aktif.

Bermain bersama merupakan salah satu cara agar anak berkembang menjadi pribadi yang dapat diterima di masyarakat melalui belajar memahami perbedaan, belajar berkompromi, belajar mematuhi aturan dan bekerja sama.

Mengingat begitu banyaknya manfaat bermain, mari Ayah dan Bunda temani dan berikan kebebasan kepada anak-anak untuk bermain serta bereksplorasi.

Selamat Hari Anak.