Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini, sedari kecil kita sudah diperkenalkan dengan satu hari bersejarah ini. Sejak sekolah Taman Kanak-Kanak hingga sekolah jenjang tinggi ikut memperingati dan merayakannya, dengan berbagai kegiatan dan acara. Terbanyak adalah perlombaan fashion show berbusana ala Ibu Kartini, memakai kebaya dan konde Jawa. Ada juga lomba mengarang, pidato, karnaval baju daerah dan lain-lain. Tahun ke tahun seperti itu. Sekian lama kita memperingati dan merayakan Hari Kartini, apakah kita benar-benar mengenal sosok Beliau?

Sekilas mungkin kita telah dikenalkan saat belajar di bangku Sekolah Dasar atau Menengah Pertama, sosok Pahlawan perempuan dari Jepara, Jawa Tengah. Bahwa ibu Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan Indonesia, yang berjuang agar perempuan-perempuan Indonesia memperoleh pendidikan dan hak-hak lainnya, setara dengan kaum Adam. Kesetaraan dan emansipasi perempuan Indonesia menjadi tagline kisah perjuangannya. 

Tidak ada yang salah, namun lebih bijak lagi bila kita mengenal lebih dekat dengan sosok Ibu Kartini dan mengetahui lebih banyak kisah hidup dan perjuangannya, karena tak hanya 2 hal tersebut yang diperjuangkan. Banyak sisi pribadi dan hidup beliau yang bisa ditiru, diteladani, diteruskan dan dilestarikan. 

Di dunia perempuan, kita terdapat banyak derita yang pedih. Penderitaan yang telah aku saksikan waktu aku masih kanak-kanak itulah yang membangkitkan keinginan aku membawa arus yang tidak mau membenarkan saja keadaan-keadaan yang kolot. 

Kartini

Semenjak kecil sudah bercokol benih-benih pemikiran kritis, kepekaan dan keprihatinan kondisi sekeliling, keinginan merombak, semangat pembaharu. Kartini lahir dari seorang ayah keturunan bangsawan dan ibu dari golongan rakyat kebanyakan. Kartini tumbuh berkembang di lingkungan kabupaten, saat itu ayahanda menjabat sebagai bupati Jepara, walau begitu beliau tidak suka berfoya-foya, hidupnya sederhana dan bersahaja. Ikut merasakan pedihnya kelaparan dan kemelaratan rakyat walau beliau sendiri mampu makan 3 kali sehari. Merasakan kesengsaraan rakyat yang ditindas walau keluarganya ‘dekat’ dengan penjajah.  

Masa itu, tahun 1878 adalah masa penjajahan era baru, pemerintah kolonial Belanda sedang berkembang menjadi sebuah negara modern, teknologi modern sedang menjadi pendukung kekuasaan kolonial, di Jawa dan di luar Jawa. Begitu pula pendidikan, sekolah mulai banyak didirikan dan diperbolehkan untuk pribumi. Kakek Kartini dan turunannya merupakan salah satu keluarga pejabat pribumi yang beruntung bisa mengenyam pendidikan Barat, hingga mahir berbahasa Belanda, berpengetahuan luas dan cakap memimpin. Pun ayah Kartini, namun tidak serta merta Kartini bisa bebas bersekolah seperti halnya saudara-saudara lelakinya. Keluarganya masih sangat menegakkan adat istiadat Jawa yang kolot, yang tak membenarkan perempuan bersekolah atau banyak beraktivitas di luar rumah. Kartini sosok yang tidak mudah menyerah, beliau merajuk pada ayahanda untuk diperbolehkan bersekolah. Akhirnya, pendidikan dasar diberikan pada Kartini dan saudara-saudara perempuannya. 

Sekolah rendah Belanda saat itu menjadi jenjang pendidikan pertama dan satu-satunya bagi Kartini. Pendidikan formal dasar selama 6 tahun tersebut membawa dampak besar bagi pemikiran dan pengetahuan Kartini. Disana beliau belajar bahasa Belanda hingga mahir dan mempunyai teman-teman Belanda, yang membuatnya berpikir: mau jadi apa nanti aku? yang membuatnya bermimpi: belajar dan bersekolah hingga ke negeri Eropa. Sungguh pemikiran yang hampir mustahil terbersit oleh anak perempuan jaman dulu. Karena memang sedikit sekali anak rakyat pribumi yang diperbolehkan bersekolah, hanya golongan bangsawan, pejabat daerah, pegawai tinggi dan orang kaya tertentu. 

Keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi seperti halnya abang-abangnya, ditentang Ayahanda, karena kungkungan tradisi kolot Jawa. Selepas sekolah rendah, Kartini dipingit, dikurung dalam rumah dalam gedung Kabupaten Jepara, dipisahkan dari dunia luar hingga jodoh datang. Saat-saat ceria masa belia dan gelora belajar yang memuncak, Kartini dihadapkan pada tradisi yang menyesakkan batin, memenjarakan fisik. Saat itulah beliau merasakan perempuan ditindas hak-haknya, tidak setara dengan kaum laki-laki. Perkawinan pun dipaksa dengan orang yang tidak dikenal, yang menurut orang tuanya baik. Sudi dimadu atau dijadikan istri kesekian, dipaksa dan diseret keluar dari ‘penjara’ rumahnya masuk ke ‘penjara’ laki-laki yang menjadi suami. Sungguh fenomena yang jamak menimpa perempuan pada jamannya menyulut api amarah dalam dada, gerakan untuk berpikir mendalam, berbuat nyata untuk perubahan. 

Hari-hari dalam pingitan dibunuh dengan banyak membaca buku, majalah dan surat kabar dari dalam dan luar negeri. Beruntung ayahanda dan abang mudanya adalah orang-orang terpelajar yang mengisi batin Kartini dengan pengetahuan luas dari pustaka. Sekolah mungkin sudah tertutup baginya, namun pustaka telah mengembarakan nalar dan ilmu pengetahuannya hingga ke seluruh dunia. Pengetahuan makin luas, pemikiran makin dalam, sikap makin arif dan bijaksana. Dalam rumah, Kartini juga menulis, berkorespondensi dengan teman-teman Belanda, berlatih kerajinan tangan, bergaul akrab dengan saudara perempuan, menikmati alunan gamelan, bermain dengan anak-anak para abdi dalem. Selama itu pula Kartini merumuskan banyak hal dalam segi tradisi yang sangat kaku dan buat merugi. Disamping soal pingitan, perkawinan, hak-hak perempuan, aturan baku unggah-ungguh sesaudara dalam satu keluarga, kasta/turunan dalam lapisan masyarakat. Pemikirannya menjawab bahwa akar masalah ini adalah kurangnya ilmu pengetahuan dan feodalisme yang membelit. Rakyat hanya bisa manut  mengikuti tradisi, para perempuan pasrah jatuh kepangkuan lelaki yang tak dikenal, para ibu tak punya ilmu mendidik keturunannya, sehingga lingkaran kedzoliman ini terus mengungkung tak putus. Kartini telah berusaha mendobraknya, dengan menerapkan hubungan antar saudara yang akrab tanpa  unggah-ungguh baku yang kaku, bersekolah tidak hanya untuk anak laki-laki, menghormati dan bergaul, mengobrol bukan memerintah  dengan rakyat jelata tanpa memandang kasta

Suatu revolusi jiwa yang tidak kurang dahsyatnya daripada revolusi apapun. Ia bukan lagi menentang dan melawan perorangan, ia telah perangi dan berantas suatu sistem, suatu tata hidup 

Toer, Pramoedya Ananta. 2000

Hingga 4 tahun lamanya dalam pingitan, Ayahanda berkeputusan arif bijaksana, membebaskan semua anak perempuannya. Sekembalinya ke dunia luar, banyak giat yang dilakukannya untuk menimba ilmu lebih luas, walau tak diperbolehkan lagi bersekolah. Masuk ke berbagai lapisan rakyat, bertemu dengan banyak derita rakyat jelata, kemelaratan, kebodohan, kesewenang-wenangan, penindasan. Akarnya adalah penjajahan! Belanda  hanya mengeruk kekayaan perut pribumi, namun tidak memberikan pendidikan dan penghidupan Bumiputera. Kartini sayang pada beberapa teman Belanda-nya namun di lain sisi beliau sangat menentang kolonialisme Belanda! Maka dengan jalan pemikiran dan dobrakan-dobrakan kebijakan daerah, Kartini mencoba membangun kekuatan rakyat dengan pendidikan dan pengetahuan. Sadar bahwa angkat senjata sudah bukan jalan utama yang tepat. 

Karena aku yakin sedalam-dalamnya bahwa perempuan dapat memberi pengaruh besar kepada masyarakat, maka tidak ada yang lebih aku inginkan daripada menjadi guru supaya kelak dapat mendidik gadis-gadis dara para pejabat tinggi kita.

Kartini

Mencerdaskan anak bangsa adalah salah satu tujuannya. Caranya dengan mendidik para perempuan. Perempuan, yang nantinya menjadi ibu, merupakan pendidik pertama dan utama dalam keluarga, bagi anak-anaknya. Dari ibu yang cerdas, akan terlahir keturunan yang sehat, anak-anak terawat dan terdidik, keluarga tangguh, mampu jadi partner yang setara dengan pasangannya. Maka, berjuanglah kartini mendirikan sekolah informal bagi perempuan di sekitarnya. Mengajarkan dengan cara mereka, cara sederhana. Mengajarkan budi pekerti, ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sedikit bahasa asing. 

Mendidik  adalah tugas yang luhur dan suci. Tanpa memiliki keahlian memadai adalah dosa mencurhkan diri di bidang tersebut. Bagi saya, pendidikan berarti pembentukan watak dan akal pikiran. Tugas pendidik tidak berhenti pada pengembangan akalnya saja. Ia juga wajib memelihara pembentukan wataknya. Secara moral, dia berkewajiban, walaupun tidak ada hukum yang mengharuskannya melakukan itu. Patut diingat bahwa perkembangan intelektual saja tidak menjamin kesusilaannya. 

Kartini

Putri seorang bupati, tak lantas memberi banyak kekuasaan untuk berbuat. Maka, dengan pertimbangan mendalam, Kartini menerima pinangan seorang Bupati Rembang untuk dijadikan istri yang kesekian, dengan beberapa syarat. Walau berseberangan dengan ego dan idealisme diri yang  menentang poligami, Kartini berstrategi bahwa dengan menjadi seorang istri bupati, beliau akan mempunyai kuasa untuk bisa berbuat lebih banyak dan berdampak lebih luas. Disamping itu, suaminya adalah juga seorang yang terpelajar, yang berjanji mendukung cita-citanya mendirikan sekolah, mencerdaskan perempuan dan anak bangsa. Pendopo kabupaten Rembang menjadi sekolah formal pertama yang Kartini dirikan untuk para perempuan disana. Tak lama menyandang sebagai istri bupati Rembang, setelah melahirkan anak pertama dan satu-satunya, Kartini berpulang. Usianya masih sangat muda, 25 tahun. 

Memang, suatu pekerjaan yang seolah-olah tak mungkin dapat dikerjakan! Tetapi, siapa tidak berani, takkan menang! Itulah semboyanku. Maka, ayo, maju! Bertekad saja untuk mencoba semua! Siapa nekat, mendapat tiga perempat dunia!

Kartini

Korespondensi dengan beberapa teman Belandanya merupakan sarana Kartini mengasah kemampuan bahasanya, menulis kisah hidup, nasib dan kondisi rakyat sebangsa, pemikiran-pemikiran kritis, keinginan dan cita-citanya, berbagi sudut pandangnya akan buku dan ilmu yang didapatnya, gerakan yang akan diperbuatnya, seni yang digemari, dan lain-lain. Menggambarkan kedalaman akal, luasnya pengetahuan dan luhur budi pekertinya. Setelah Kartini wafat, oleh salah satu temannya, J.H Abendanon, surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini, dikumpulkan dan dibukukan. Buku tersebut terbit pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Di Belanda saja, buku itu dicetak ulang hingga empat kali dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. 

J.H Abendanon mempunyai kedudukan tinggi di bidang pendidikan pemerintah Belanda, ia merupakan pendukung politik etis. Ia percaya pengetahuan modern adalah jalan terbaik untuk keluar dari keterbelakangan dan kemiskinan yang dialami Hindia Belanda (Indonesia). Kartini merupakan bukti bahwa kebijakan pendidikan di tanah jajahan menghasilkan orang yang mampu mengguncang dunia. 

Armijn Pane, penulis buku, seorang pribumi, yakin bahwa bukan peradaban barat yang menerangi kegelapan Hindia Belanda. Namun, ia sesungguhnya penerang saat gelap belum ingin pergi. Kartinilah yang menyalakan obor agar kegelapan dapat segera diusir. Obor itu telah diteruskan.

Dan, biar pun aku tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan rasa berbahagia karena jalannya sudah terbuka. Dan, aku turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri. 

Kartini

Terang itu kini kita nikmati bersama, perempuan sekarang bebas merdeka. Menikmati kesetaraan hak-hak dan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Hingga merdeka bereksplorasi, mengenyam pendidikan tinggi dan berkarier. Kian hari, emansipasi kian mirip dengan liberalisasi dan feminisasi yang lebih berkiblat ke Barat. Padahal, sesungguhnya Kartini semakin meninggalkan semuanya dan kembali kepada fitrahnya. Yakni pendidikan dan kemajuan bukan hanya untuk ego diri sendiri, disitu juga ada tanggung jawab mendidik anak, mengelola keluarga dan memberi manfaat pada masyarakat. 

Perempuan itu jadi sokoguru peradaban! Bukan karena perempuan yang dipandang cakap itu, melainkan oleh karena saya sendiri yakin sungguh, yakin sungguh bahwa perempuan itu pun mungkin timbul pengaruh yang besar, yang besar akibatnya, dalam hal membaikkan dan memburukkan kehidupan. Bahkan, dialah yang paling banyak dapat membantu memajukan kesusilaan manusia. 

Kartini