Ibu harus journaling, journaling iku opoo?, Kalau kata “Dear diary” tahu dong?. Beuh jaman kapan ya nulis di “Dear Diary”. Tapi jangan salah ternyata menulis kegiatan sehari-hari di buku diary itu bagus lho. Percaya atau tidak menulis itu salah satu cara yang mampu mengurai emosi negatif seseorang. Istilah kerennya journaling atau kegiatan menulis jurnal. 

Pengertian Journaling

Menurut dictionary.cambridge.org, journal adalah a written record of what you have done each day, sometimes including your private thoughts and feelings. Jika kita artikan kedalam bahasa Indonesia, Jurnal adalah sebuah catatan yang merekam kegiatan yang telah kamu lakukan setiap hari, kadang-kadang ditambahkan cerita mengenai pemikiran dan perasaan pribadi. Menurut KBBI online, jurnal juga disebut buku harian. Pengertian journaling adalah kegiatan menuliskan seluruh hal yang terjadi pada diri kita setiap hari termasuk apa yang sedang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan.

Riset tentang Journaling

Riset tentang kegiatan journaling untuk kesehatan mental sudah banyak dilakukan. Banyak jurnal penelitian menunjukkan hasil positif dalam menjaga kesehatan mental seseorang. Contohnya seperti dalam jurnal penelitian berjudul, “Writing therapy: a new tool for general practice?”. Hasil riset dalam penelitian tersebut menjelaskan bahwa jika seseorang menyimpan emosi negatif atau trauma dapat berakibat pada terganggunya kesehatan. 

Salah satu solusinya, dengan dilakukan terapi menulis. Caranya dengan meminta partisipan menuliskan seluruh trauma serta perasaan stressnya selama lebih dari 20 menit, dengan 3-4 sesi terapi menulis dalam seminggu. 

Hasil riset menunjukan bahwa kegiatan menulis yang berdampak pada kesehatan tubuh tidak terlihat secara langsung, karena berhubungan dengan mekanisme otak yang lebih kompleks dan mampu berasal dari berbagai faktor. Namun secara kognitif, kegiatan menulis dapat membantu kemampuan berpikir seseorang dalam memproses ingatan dari trauma yang telah terjadi. Kemudian menghasilkan gambaran jelas yang berhubungan dengan penulis itu sendiri. 

Ketika penulis mulai berani mengungkapkan setiap peristiwa yang terjadi dari waktu ke waktu secara bertahap melalui tulisan, itu menjadi momen bermulanya proses penyembuhan. Karena momen tersebut mampu menunjukkan makna dari pengalaman dan perasaan traumatik yang terjadi di masa lampau.

Oleh karena itu terapi menulis berpotensi menjadi pilihan murah dan mudah diakses, dengan minimum konseling dari profesional kesehatan. Terapi menulis dapat menjadi alternatif penyembuhan awal atas suatu trauma.

Hubungan hasil riset dengan Keseharian ibu

Apa hubungan hasil riset tersebut dengan ibu?, Seperti yang kita ketahui, ibu dengan segudang aktivitasnya memiliki berbagai macam problema yang harus dihadapi setiap hari. Kegiatan yang berulang, membersamai si kecil dengan tingkah lucunya yang menggemaskan dan kadang melelahkan. 

Oleh karena itu ibu membutuhkan sarana penyaluran emosi yang tepat agar ibu tetap memiliki mental yang prima. Menulis jurnal setiap hari mampu menjadi pilihan alternatif ibu dalam mengelola serta mengurai emosi baik positif maupun negatif yang dialami.

Berdasarkan penelitian dengan judul “Journaling for self-care and coping in mothers of troubled children in the community”, ibu dengan anak yang memiliki masalah sikap dan emosi sebagai partisipan diharuskan untuk menulis jurnal syukur atau jurnal berisi cara terbaik merawat diri dan cara menyelesaikan masalah setiap hari dengan metode coping stress. DItambah dengan pertemuan bersama ahli minimal 3 kali seminggu, selama 6 pekan.  

Hasil penelitian menunjukkan, ibu yang mendampingi buah hati dengan behavioral issue merasakan peningkatan optimisme terhadap hidup dan rasa syukur yang bertambah. Dari jurnal syukur dan perawatan diri yang diteliti, tema yang paling banyak muncul adalah tentang berpikir positif, emotional well-being, mental health self-care. Sama halnya dengan ibu-ibu pada umumnya, maka semua ibu juga harus journaling.

Pengalaman Setelah Menulis Jurnal Setiap Hari

Menulis setiap hari itu sebenarnya membutuhkan effort. Mengambil kertas dan pulpen, kertas kosong tanpa garis lebih baik dipilih sebagai media karena lebih terlihat peluapan emosinya saat menulis. Namun setelah menulis seluruh kegiatan sehari-hari dengan segala cerita, masalah dan perasaannya, maka yang didapat tentu lega. Pengalaman pertama kali journaling lengkapnya bisa di baca di sini : Memaknai Bahagia Untuk Diri Sendiri

Lega karena isi kepala yang dipikirkan sudah dikeluarkan semua. Lega karena seluruh perasaan yang terpendam selama mengalami kejadian tertentu akhirnya mampu dilepaskan, tanpa harus melampiaskan pada apapun dan siapapun.

Ritme emosi yang terkadang naik turun dan membutuhkan jeda untuk beristirahat. Maka menuliskan setiap rangkaian peristiwa yang dialami setiap hari dapat menjadi awal manajemen emosi yang lebih baik. 

Journaling itu menulis tanpa batas. Apapun dapat kita tuliskan, bisa target, doa, momen bahagia, serta luka dan amarah atas kejadian masa lampau yang masih diingat sampai hari ini. Semua hal yang selama ini tidak dapat diungkapkan pada siapapun. Hanya ibu dan Tuhan saja yang tahu. Baca juga : Penuhi Tangki Cinta, Sebarkan Bahagiamu

Ibu harus journaling, Kita tidak perlu sakit mental dulu untuk melakukan journaling sebagai terapi. Karena bisa jadi kita sedang merasakan sakit hari ini namun tanpa disadari atau terkadang tak mau kita akui. Kita dapat diam-diam menulis untuk diri sendiri. Menyadari bahwa seluruh luka bisa disembuhkan dimulai dari kemauan diri sendiri, dan salah satu dimulai dengan journaling. Selamat Menjurnal ibu.

Baca juga : Dengan Menulis Jurnal, Aku Mampu Mengingat Momen Bahagia

Sumber :

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32248934/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3505408/