Bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-76 pada tahun 2021 ini. Masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Kondisi yang masih belum nampak ujungnya, bahkan dihantam oleh gelombang kedua, oleh adanya varian baru Covid-19 yang masuk ke Indonesia. Lonjakan korban meningkat tajam. Pertumbuhan bangsa yang mulai menggeliat di masa normal baru (new normal) kembali menurun oleh karena kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) darurat, guna menekan laju penularan Covid-19.

Lantas sampai kapan pandemi ini melanda Indonesia? Tak ada yang bisa memprediksi pasti. Tak hanya dari kebijakan pemerintah, tapi tergantung juga dari kedisiplinan masyarakat Indonesia. Khususnya dalam menerapkan protokol kesehatan pada kehidupan sehari-hari. Kedisplinan dan kepedulian masyarakat di masa pandemi diwujudkan dengan menerapkan 5M.

  1. Memakai masker
  2. Mencuci tangan dengan sabun di air mengalir
  3. Menjaga jarak
  4. Menjauhi kerumunan
  5. Mengurangi mobilitas

Kedisiplinan memastikan protokol kesehatan senantiasa ditegakkan dalam kegiatan sehari-hari sehingga laju penularan bisa ditekan maksimal. Kepedulian masyarakat membuahkan kesadaran menjalankan protokol kesehatan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain, meringankan beban derita orang lain, membantu sesama sesuai kemampuan, membuat aksi bersama yang menunjukkan kepedulian sosial. Sehingga tercipta suasana bermasyarakat yang setia kawan dan saling mengasihi, ketimpangan status ekonomi tidak menganga lebar. Saling mengingatkan dan menguatkan antar masyarakat mampu menjadikan Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh.

Baca juga:

Impact Report Film Ibu Bumi

di IP Kalsel “Ada Cinta Step by Step”

Ada pengawet cinta di Hima IP Payakumbuh-LK

Apakah semudah itu? Tentu tidak, tidak semudah membalikkan telapak tangan atau memimpikannya. Masyarakat Indonesia yang majemuk adalah tantangan besar mewujudkan Indonesia tangguh. Majemuk dari segi horisontal, seperti perbedaan etnis, bahasa daerah, agama dan geografis. Maupun majemuk dari segi vertikal, seperti perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi dan sosial budaya (Usman Pelly & Asih Menanti, 1994:13 dalam Muchtarom, 2015). Membangun Indonesia tangguh, artinya juga membangun manusia Indonesia jadi tangguh. Sejatinya kemajemukan ini adalah kekayaan bangsa yang sangat bernilai. Namun disisi lain, keragaman ini seringkali dijadikan alat untuk memicu munculnya konflik suku bangsa agama, ras dan antar golongan (SARA). Padahal sebenarnya lebih banyak dipicu oleh persoalan politik dan kekuasaan, ketidakadilan sosial dan ketimpangan ekonomi.

Tangguh bisa diartikan sukar dikalahkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sukar dikalahkan oleh kondisi yang menantang dan penuh masalah. Karena mempunyai watak yang tidak mudah menyerah, kuat, tabah dan handal.

Apakah manusia-manusia Indonesia sudah memiliki watak tangguh itu? Beberapa ilmuwan dan budayawan Indonesia mengenali sisi-sisi negatif manusia Indonesia. Diantaranya disampaikan oleh Mochtar Lubis pada tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yakni ada 6 ciri dominan dari manusia Indonesia:

  1. Hipokrit atau munafik
  2. Enggan bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya
  3. Berjiwa feodal
  4. Percaya takhayul
  5. Artistik
  6. Berwatak lemah

Ketika tahun 1982, Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali “Manusia Indonesia”, dengan tegas beliau mengatakan: tidak ada perubahan, semakin parah. Pun saat tahun 1992, beliau menegaskan manusia Indonesia semakin parah salah satunya disebabkan oleh struktur yang mencekam, yaitu karena adanya pemerintahan orde baru yang represif dan otoriter.

Lantas, di jaman orde reformasi ini apakah ciri-ciri manusia Indonesia tersebut telah memudar? sayangnya tidak, justru makin banyak degradasi mental (anarkis, antisosial, korupsi,dll), melemahnya nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme, merosotnya nilai-nilai luhur agama dan budaya dan lain sebagainya di segala aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Ini menjadi PR bersama, pemerintah bersama rakyat, untuk mengubah, dan harus berubah, demi terwujudnya Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh. Beberapa kajian sosial budaya tentu telah menelaah bagaimana cara agar manusia-manusia Indonesia mampu berubah. Salah satu kunci keberhasilannya adalah pada pembangunan karakter mulia pada setiap keluarga. Bahwa membangun karakter itu dikerjakan sejak dini dan tidak bisa instan, harus dipupuk terus menerus. Melalui teladan, latihan dan tempaan dalam kesehariaan. Contohnya: membiasakan berkata dan berlaku jujur, bertanggung jawab atas perkataan dan perbuatannya, meningkatkan iman dan takwa, menerapkan nilai-nilai agama dalam keseharian, disiplin, bangga akan budaya bangsa, tidak mudah terpengaruh budaya bangsa lain, cinta tanah air dengan memberikan kontribusi terbaik, saling menghormati, peduli esama dan semesta, menggunakan kekuasaan dan amanah untuk kemaslahatan dan lain sebagainya. Beragam cara bisa diterapkan di setiap keluarga dalam berbagai aktivitas keseharian. Bernilai luhur dan mulia sesuai dengan keyakinan dan budayanya, yang esensinya mampu membangun setiap anggotanya memiliki jati diri, berdaulat dan bermartabat.

Pandemi ini bisa digunakan sebagai moment yang mampu melecut untuk memunculkan dan menguatkan kembali nilai-nilai luhur bangsa. Yang makin lama makin tergerus budaya bangsa lain, tuntutan ekonomi dan carut marut politik. Dimana kita dihimbau untuk kembaliĀ  “di rumah saja”. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah. Maka kita “aktifkan dan hidupkan” esensi rumah, sebagai tempat yang nyaman, aman dan terbaik untuk seluruh anggota keluarga saling Asah, Asih dan Asuh. Keluarga unggul mampu membangun pondasi rumah yang tangguh untuk sumbangsih besar terwujudnya Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh.

 

Referensi:

Obrolan Dapur Ibu. Eps 140. Ciri Sikap dan Perilaku Orang Merdeka. tahun 2021

Muchtarom. 2015. Manusia Indonesia dalam Dimensi Sosiologi Budaya. https://www.researchgate.net/publication/315781845_MANUSIA_INDONESIA_DALAM_DIMENSI_SOSIOLOGI_BUDAYA_1_Oleh