Ringkasan kuliah zoom dengan Rita Nurlita, program Zumba 4 Ibu Profesional Depok, 26 Mei 2021

 

Internet pada masa pandemi

Internet mulai digunakan secara meluas sejak tahun 1990-an. Arus informasi dan jejaring mulai masuk dan menyebar dengan mudahnya ke seluruh penjuru dunia tanpa ada sekat dan batas. Berawal dari kalangan tertentu, seperti pemerintahan dan badan pertahanan negara. Sekarang, internet bisa diakses dan dinikmati oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Meski banyak aturan tentang batasan usia terkait penggunaan internet, yang tidak mengijinkan anak-anak mengakses internet sendiri tanpa pengawasan orang tua. Terlebih di masa pandemi, anak-anak makin intensif menggunakan internet untuk kegiatan belajar secara dalam jaringan (daring). Kita ketahui bersama sejak virus Covid-19 masuk ke Indonesia, pemerintah menginstruksikan sekolah tatap muka dialihkan menjadi sekolah daring atau sekolah dari rumah, untuk menekan laju penyebaran penyakit yang disebabkan virus tersebut.

Internet bisa dimanfaatkan untuk sekolah daring, atau belajar dari rumah. Siswa/anak bisa berinteraksi dengan guru sekolah dan teman sekelasnya melaksanakan kegiatan belajar mengajar bersama dari rumah dengan menggunakan internet. Memanfaatkan aplikasi pendukung seperti Google Classroom, Google Meet, Whatsapp dan lain-lain untuk kegiatan belajar mengajar. Lantas, apa manfaat lain dari internet? tentu banyak! membantu dan mendukung berbagai aspek kehidupan manusia, antara lain:

  • Sumber informasi
  • Komunikasi
  • Hiburan
  • Memperluas jejaring pertemanan
  • Promosi kegiatan sekolah
  • Kompetisi

 

Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

 

Tapi, internet bisa diibaratkan pedang bermata dua, yang mempunyai sisi negatif bila digunakan dengan berlebihan, tanpa filter/saringan. Terlebih, dampaknya pada anak-anak yang kini makin intensif menggunakan internet. Penting sekali mengedukasi anak-anak dan juga orang tua tentang perlunya kesadaran, kecerdasan dan kebijakan dalam penggunaan internet. Salah satunya dengan memberikan pemahaman beberapa dampak buruk dari penggunaan internet yang berlebihan, tidak bijak dan tidak cerdas. Berikut beberapa dampak negatif internet:

  • Gangguan kesehatan fisik, seperti pada penglihatan, struktur tulang belakang akibat duduk yang terlalu lama menatap layar
  • Menciptakan jarak antara anak dan keluarga, bila masing-masing selalu sibuk dengan perangkat selulernya. Di rumah jarang tercipta komunikasi dan interaksi yang intensif dan harmonis, jarang mengobrol dan bermain bareng.
  • Kecanduan media sosial dan game online. Tidak tertarik lagi bermain fisik, menarik diri dari pergaulan di kehidupan nyata, cenderung lebih suka bersosialisasi di dunia maya.
  • Masalah mental. Menjadi FOMO (Fear of Missing Out) yakni cenderung ingin tahu semua hal lebih dulu, takut ketinggalan informasi, mudah membagikan/share informasi tanpa menyaring dulu. Gelisah, minder, kurang percaya diri akibat sering stalking hidup orang lain yang (seolah-olah) selalu indah, nyaman dan mudah.
  • Menjadi korban kejahatan. Beragam kejahatan online yang muncul dewasa ini, seperti: pornografi, predator online, kekerasan, cyberbullying, pencurian identitas, penipuan, eksploitasi seksual dan lain-lain.

 

Nah, begitu meresahkan dan menakutkan dampak negatif internet, utamanya untuk anak-anak. Tantangan kita, sebagai orang dewasa, orang tua yang punya anak, berkewajiban mendidik diri sendiri dan anak-anak untuk sadar, cerdas dan bijak berinternet. Begitu banyak informasi hingga bisa dibilang tsunami informasi yang membanjiri internet dan meluber ke user atau penggunanya. Hendaknya paham cara menyaring informasi, mana yang valid dan mana yang hoax. Berikut cara mengenali hoax dirangkum dari www.liputan6.com dan Mafindo:

  • Jangan langsung percaya dengan judul
  • Cermati tautannya
  • Selidiki sumbernya
  • Amati jika ada format beritanya tidak wajar
  • Cek fotonya
  • Periksa tanggalnya
  • Periksa buktinya
  • Bandingkan dengan laporan lain
  • Apakah berita tersebut hanya lelucon?
  • Beberapa berita memang sengaja dipalsukan

 

Baca juga:

 

Etika di Dunia Maya

Prinsip etika di dunia maya sama dengan dunia nyata. Etika saat berkomunikasi, adab dalam bersosialisasi harus selalu diterapkan dalam berinteraksi dan bermedia sosial. Saling menghargai dan menghormati antar manusia juga harus dijunjung tinggi. Pada dasarnya kita bebas memposting apa saja di media sosial asalkan tidak bertentangan dengan hukum, etika dan adab. Seperti posting kegiatan, hobi, karya, petikan buku, dan lain-lain, pastikan itu hal yang baik, benar dan bermanfaat. Nah, beberapa hal seperti di bawah ini sebaiknya jangan diposting ya! (www.kalbaronline.com)

  • Alamat rumah atau sekolah
  • Nomor telepon
  • Geolokasi Anda saat ini
  • Foto dan video pribadi
  • Mengompromikan foto orang lain
  • Foto bayi dari anak remaja
  • Foto barang-barang mewah
  • Informasi tentang kehidupan pribadi
  • Pernyataan kritis tentang topik sensitif

 

Bila rambu-rambu berinternet sudah dipahami, kita bisa memanfaatkannya untuk hal dan kegiatan yang positif dan bermanfaat untuk kita dan atau orang lain. Beberapa akun media sosial influencer sangat keren, menginspirasi dengan karya dan prestasinya. Kita bisa mengikuti jejak mereka, berkarya dengan kemampuan, menginspirasi hal positif dan kebaikan. Bahwa berinternet dengan sadar, cerdas dan bijak bisa meraup banyak ilmu pengetahuan, inspirasi dan kemajuan.