Narasumber: Nugraheni Ariati M.Psi
Psikolog, Mahasiswi IIP

PIJAR Talk 23 Juli 2021

Memperingati Hari Anak Nasional

 

 

Pandemi menuntut kita untuk selalu menjaga protokol kesehatan demi terhindar dari tertularnya virus Covid-19. Mobilitas terbatas, dianjurkan untuk di rumah saja, membuat hidup banyak orang terasa ‘berbeda’. Semua aspek kehidupan terdampak, antara lain ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial budaya. Perubahan yang sangat besar, ibarat dunia ini sedang bertubulensi. Kita terombang-ambing di dalamnya. Nah, disinilah resiliensi diri sangat diuji.

Kemampuan daya pantul (bounch back) atau daya lenting ini sangat penting untuk dilatih dalam diri dan anak-anak. Resiliensi merupakan bentuk ketahanan mental, yakni keterampilan mengolah pikiran, perasaan, perilaku sedemikian rupa untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah atau krisis. Memperkuat ketahanan mental ini bukan perkara sering atau tidaknya kita menghadapi masalah. Memperkuatnya dengan belajar dari pengalaman dan modal positif. Bila diibaratkan seperti jungkat jungkit, satu sisi adalah masalah/krisis, hidup akan seimbang bila kita memperkuat mental di sisi lainnya. Yakni, dengan belajar dari pengalaman dan memperbanyak modal positif.

Apa itu modal positif? yakni, sumber daya atau resource yang mampu menambah input-input positif dalam diri seseorang. Menambah modal positif bisa dengan beberapa cara:

1.Penuhi kebutuhan fisik

Kebutuhan makan, kebutuhan gerak perlu dipenuhi agar hormon-hormon bahagia seperti endorfin dan oksitosin aktif. Tubuh jadi sehat, bugar dan bahagia.

2. Penuhi kebutuhan psikologis

Mengenal apa yang kita rasakan, tau apa yang kita butuhkan untuk bisa bahagia. Mengalokasikan waktu untuk me time, spiritual time, menjalani hobi

3.Kelola ekspektasi

Tidak berlebihan dalam membayangkan keadaan yang diharapkan. Sadar bahwa banyak campur tangan Tuhan atas apapun yang telah kita usahakan. Ikhlas menerima atas segala ketetapan-Nya.

4. Latihan untuk anak-anak struggling akan krisis

Ciptakan memori indah dalam ingatan anak-anak, eratkan intimacy dan trust antar anggota keluarga. Hubungan yang harmonis dan responsif dalam keluarga mengisi tangki emosi dan cinta dalam hati mereka. Mengingat nilai-nilai yang dianut keluarga, dan mereka akan merekam bagaimana orang tuanya menyikapi atau merespon masalah/tantangan yang datang pada keluarga.

Baca juga:

Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh

Keren dengan Internet: Anak Cerdas dan Bijak Bersosial Media

Temu Online Pengurus HIMA IIP Payakumbuh-LK dengan Tim IIP Pusat : Ada Pengawet Cinta!

Ada kalanya manusia merasa down atas masalah yang berat atau datang bertubi-tubi. Limbung dan drop mental. Perhatikan alarm tubuh, Jangan menyangkal bila kita memang sedang butuh pertolongan. Berikut tanda-tanda kita tidak kuat mental dan butuh bantuan profesional:

    1. Tanda fisik: cemas, pusing, jantung sering berdebar-debar, keringat dingin, tegang
    2. Tanda psikologis : sulit tidur, sulit berkonsentrasi sering terbangun malam, menahan marah
    3. Emosi : gampang marah, sering menangis, sensitif
    4. Perilaku : jadi lebih pendiam, murung, tidak mau lagi bersosialisasi

Ketahanan mental seyogyanya kita tempa dan latih terus agar kuat. Hidup ini penuh tantangan yang harus kita taklukkan. Kenali dan penuhi segala hal yang membuat kita mawas dan waras diri. Perbarui terus modal-modal positif agar kita mampu selalu merespon yang terjadi dihidup ini dengan baik.