Hai bunda pembelajar, warta Lampung kali ini adalah tentang mengenal dan merawat kuliner khas Lampung yang keberadaannya terbilang langka. Kenapa langka? Karena tidak semua daerah di Lampung mengenal masakan tersebut.

Kok bisa? Penasaran dong ?

Yuk simak pemaparan Kahima Lampung, Linda Dwi hapsari dalam kulwapnya “Merawat Kuliner Khas Lampung, Pisro”

Check it out !

Selasa, 27 Oktober2020 ,IIP Lampung mengadakan kulwapdi WAG HIMA IIP Lampung dengan tema Merawat Kuliner Khas Lampung “Pisro”. Kulwap kali ini diisi langsung oleh Ketua HIMA IIP Lampung, Linda Dwihapsari, yang salah satu hobi produktifnya adalah memasak. Sebelum memulai kulwap, Ketua Hima IIP Lampung memperkenalkan provinsi Lampung sebagai Sai Bumi RuwaJurai (satu daerah ditempati dua adat, yaitu saibatin dan pepadun), serta beragam makanan khas Lampung  seperti, seruit, tempoyak, geguduh, kuesekubal, gulai taboh dan salah satunya adalah Pisro.

Dilansir dari jejamo.com, Pisro merupakan masakan khas lampung dari olahan ikan yang kerap menemani jamuan makan masyarakat Lampung Pepadun.Pisro memang tidak setenar pindang dan seruit. Walaupun berasal dari Lampung, tidak semua bagian Provinsi Lampung mengenalnya.

Kuliner langka ini berasal dari Menggala. Dahulu, masyarakat menggunakan ikan betok dan tembakang sebagai bahan utama. Ikan jenis tersebut memiliki rasa gurih yang khas, berdaging tebal dan bertekstur padat. Jika kesulitan untuk mendapatkan ikan betok dan ikan tembakang, bisa digantikan dengan ikan nila atau gurame.

Sayur pisro memiliki paduan rasa asam, pedas, manis dan gurih. Rasa gurih sayur ini berasal dari terasi. Selain terasi, ikan bakar dalam kuah berbumbu kental menjadi pemain utama di balik rasa gurih sayur pisro. Rasa  manis sekaligus pembentuk warna coklat kuah berasal dari gula aren yang digiling bersama bumbu. Irisan bawang merah menambah kedalaman rasa saat kuah kental dihirup.

Tidak sekedar mengenal dan memopulerkan makanan khas Lampung, Kelezatan sayur pisro juga menjadi alasan utama untuk mengulasnya. Sangat patut dicoba, untuk menambah khazanah masakan nusantara. Berikut cara membuatnya.

 

“Resep Pisro  Makanan Khas Lampung Adat Pepadun”

Bahan: 

Ikan tembakang atau betok. ( Saya 2 ikan nila )

1 gelas belimbing air putih

1 sdm gula aren, sisir halus

1 sdm terasi, sangrai dan haluskan

3 mata air asam  jawa, buangbijinya

Air jeruk kunci( saya 2 sdm air jeruk)

garam secukupnya

 

Bumbu Perendam Ikan: 

Garam, air jeruk, bawangputihhalus

 

Bumbu Halus: 

5 buah cabai merah besar

5 buah cabai rawit merah

5 butir bawang merah

 

Bumbu Iris: 

4 butir bawang merah, potong dadu

1 buah tomat, potong dadu

5 buah cabai rawit hijau, potong bulat

3 buah cabai merah besar, potong bulat

 

Cara Membuat: 

  1. Cuci bersihikan, kera tdan diamkan dalam bumbu perendam 30 menit
  2. Sisihkan
  3. Rebus air, beri bumbu halus, terasi, garam, dan gula aren. Aduk dan masak sampai mendidih
  4. Setelah mendidih dan agak kental, masukkan bumbu iris ( tomat, cabai, bawang  merah).
  5. Koreksi rasa danmatikan api

 

Saran Penyajian: 

  1. Ambil piring, letakkan.ikan
  2. Siram dengan bumbu dan berikucuran air jeruk
  3. Santap saat hangat

 

Catatan:

Tingkat pedas bisa disesuaikan seleraya.

 

“COOKING CHALENGE”

Setelah mengikut ikulwap Merawat Kuliner Khas Lampung “Pisro” , Linda Dwihapsari selaku pemateri memberikan challenge kepada member IP Lampung untuk me-Recook resep dan memostingnya di media sosial pribadi member IP Lampung. Dengan ketentuan sebaga iberikut.

  1. Posting hasil recook Pisro di media sosial pribadi dan mention instagram ibuprofesiona llampung @ibuprofesionallampung
  2. Menggunakan hastag sebagai berikut:

#kulwapwaghima

#kelasonline

#himaiiplampung

#merawatkulinerkhaslampung

#ibuprofesionallampung

  1. Durasi cooking challenge 28 Oktober-10 November 2020
  2. Dua peserta terbaik akan mendapatkan hadiah menarik dari pemateri.
  3. Pemenang diumumkan pada tanggal 15 November 2020

 

Selamat mencoba dan berkarya ^_^

( Semoga pisro tetap bisa lestari sebagai warisan kuliner yang selalu dirindukan. Selamat mencoba, yuk lestarikan kuliner khas Lampung, Bandar Lampung, 27 Oktober 2020 by. Linda Dwihapsari )