membacakan nyaring

Membacakan nyaring (Read Aloud) begitu tampak sederhana. Ya, semudah itu.

“Ambil sebuah buku, duduk dengan nyaman bersama anak, dan bacakan.”

Saya sering sekali mengutip kalimat ini setiap kali membahas tentang membacakan nyaring.

Membacakan nyaring (read aloud) hanya membutuhkan sebuah buku, orangtua yang bersedia meluangkan waktunya, dan anak yang dibacakan buku. Namun, hal yang kita anggap mudah belum tentu mudah untuk orang lain.

Ada seorang teman yang bertanya, “Mbak, gimana sih caranya biar anak suka dibacain buku?”

Alih-alih menjawab, saya malah bercerita tentang pengalaman membacakan nyaring kepada anak. Berbagi kebahagian dan manfaat yang saya rasakan. Karena saya juga tidak tahu jawaban yang pasti. Pengalaman adalah guru terbaik, bukan?

Tidak hanya di rumah, saya membacakan nyaring dimana saja dan kapan saja. Setiap kali ada peluang, saya akan mengambil sebuah buku lalu membacakannya. Bahkan ketika saya bingung mau bermain apa dengan anak, yang saya lakukan adalah membacakan nyaring.

Membacakan nyaring menjadi penyelamat bagi saya.

Sebenarnya, ada satu waktu khusus yang menjadi ritual di rumah kami, yaitu malam hari menjelang tidur. Selebihnya, saya melakukannya kapan saja.

Jika akan berpergian, saya berusaha memastikan membawa satu buku cerita untuk mengusir kebosanan anak di jalan atau di tempat tujuan.

Pernah satu ketika saya lupa membawa buku, maka yang saya mengambil gawai. Lalu membuka aplikasi Let’s Read yang berisi kumpulan ebook buku cerita anak-anak.

Saya meminta anak memilih sendiri cerita yang ingin dibacakan. Kami pun terhanyut dalam cerita. Ini sangat membantu.

Selain itu, kita juga bisa menemukan kumpulan ebook yang cocok untuk dibacakan nyaring pada laman website Room to Read

Perlu saya akui bahwa saya belum konsisten untuk membacakan nyaring setiap hari. Minimal saya melakukannya 2 hari sekali.

Dari yang hanya 2 hari sekali itu, saya mendapatkan manfaat yang luar biasa. Bagaimana jika saya melakukannya setiap hari. Wow membayangkannya saja membuat mata berbinar-binar.

Ada satu cerita menarik. Beberapa waktu lalu saya mendapat laporan dari ibu saya bahwa beliau melihat anak saya, yang berusia 4 tahun, sedang memegang kertas selebaran dan membacanya dengan bersuara. Bukan membaca dalam arti sebenarnya. Dia berpura-pura membaca.

Dia menunjuk-nunjuk tulisan dan mengarang kata-katanya sendiri. Kosakata yang diucapkan adalah kosakata buku (yang baku).

“Ini adalah makanan. Abid akan melakukan bla bla bla.”

Ibu saya tertawa saat mempraktikkan apa yang dia lihat. saya dan suami juga ikut tertawa karena kami pernah melihat hal serupa secara langsung.

Menjadi lebih menarik ketika saya membaca buku Reading Magic yang ditulis oleh Mem Fox dan menemukan bagian yang relate dengan apa yang terjadi.

“Semakin anak kita mencintai buku, semakin mereka berpura-pura membacanya. Dan, semakin mereka berpura-pura membaca, semakin cepat mereka belajar membaca. Jadi, membacakan nyaring tidak cukup, kita harus membacakan nyaring dengan baik.”

MasyaAlloh, persis seperti yang terjadi pada anak saya. Dia hanya berpura-pura membaca dan semakin berpura-pura.

Sebelumnya, saya pikir dia hanya berakting menirukan gaya saya dalam membacakan nyaring yang menunjuk-nunjuk tulisan di buku. Saya terlalu meremehkan anak.

Sebuah pengalaman yang membuat saya semakin jatuh cinta pada membacakan nyaring. Semoga ini akan benar-benar menjadi jalan untuk anak saya belajar membaca.

Dengan begitu, tidak perlu lagi ada sesi khusus untuk belajar membaca. Seperti kata Mem Fox, “Kebersamaan dalam membacakan nyaring saja sudah cukup.”

Mebacakan nyaring juga dapat menstimulasi kecerdasan linguistik pada balita. Klik disini untuk lebih lengkapnya.

Hmm, kejutan apa lagi ya yang akan menanti kami?

Gimana Moms? Sudah membacakan buku apa hari ini?