Kejutan penuh kejutan, hadir lagi di kelas Bunda Cekatan. Bukan Ibu Septi yang menjadi narasumber di minggu ke-2, melainkan seorang milenial, yaitu Mas Pandu Kartika. Kok bisa? Bukannya Bunda Cekatan itu kelas agar cekatan dalam mengelola rumah tangga? πŸ€”

Eits, apakah cekatan itu hanya perihal mengelola rumah tangga? Mengelola rumah tangga itu, aktivitasnya apa saja? Setiap orang beda-beda kan? Fiuuh… Untungnya di kelas bunda cekatan ini kita belajar merdeka belajar. Jadi setiap orang bisa belajar, apa yang benar-benar penting dan mendesak baginya.

Bagaimana caranya? Nah, mas Pandu Kartika lah yang kemarin berbagi mengenai Meta Kognisi. Meta kognisi adalah ilmu agar kita bisa lebih sadar dalam menjalani proses belajar. Setiap orang memiliki cara, gaya, dan kebutuhan belajarnya masing-masing, maka dari itu, seorang pembelajar harus mengetahui cara terbaik baginya untuk belajar, agar ia dapat melakukan akselerasi.

Turunan dan cakupan meta kognisi sangat luas. Adab belajar, termasuk bagian dari meta kognisi. Yang menjadi fokus bahasan bersama mas Pandu, adalah tentang Pembelajar Mandiri.

Seorang pembelajar mandiri di era digital ini, menghadapi tantangan memilah informasi yang begitu banyak, mudah dan bebas didapat. Beragam kursus online, informasi di medsos, youtube dan kanal berita, bisa mendatangkan badai informasi, dan mengacaukan fokus belajar, jika tidak cermat memilah dan memilih.

Menjadi Pembelajar Mandiri

1. Inisiatif

Pembelajaran harus dilakukan atas inisiatif sendiri, karena ini berkaitan dengan motivasi internal yang bisa menjadi amunisi selama proses belajar yang mungkin saja tidak sebentar.

2. Dengan atau tanpa orang lain

Proses pembelajaran berlangsung dengan atau tanpa orang lain. Seorang pembelajar mandiri, akan terus berupaya untuk belajar, dengan atau tanpa orang lain. Karena saat ini, sumber dan tempat belajar tak berbatas.

3. Diagnosa kebutuhan Belajar

Karena setiap orang memiliki kebutuhan ilmu yang berbeda-beda, maka seorang pembelajar mandiri harus mampu mendiagnosa kebutuhan belajarnya.

4. Formulasi Tujuan Belajar

Setelah mengetahui kebutuhan belajarnya, agar cakupannya tepat sasaran dan memperkuat motivasi internalnya, ia harus menemukan tujuan belajarnya.

5. Identifikasi sumber daya belajar

Seperti yang sudah diutarakan di awal, sumber informasi yang bebas diakses akan menjadi tantangan. Pembelajar manditi, harus mengidentifikasi sumber dan tempat ia belajar, supaya tidak terbawa arus informasi dan mencapai tujuan belajarnya.

6. Memilih dan mengimplementasikan strategi belajar

Karena cara belajar setiap orang berbeda, maka pembelajar mandiri harus mampu memilih cara yang paling cocok untuknya. Dan tau bagaimana mengimplementasikannya.

7. Evaluasi Pembelajaran

Seorang pembelajar mandiri, harus mampu mengevalusi proses pembelajaran dan hasil belajar yang diperolehnya. Supaya ia bisa mengatahui apakah tujuan belajarnya telah tercapai dengan baik, ataukah perlu strategi belajar yang baru untuk mencapainya.

Nah, setelah mengetahui cara agar bisa menjadi pembelajar mandiri, mulai terbayang, mengapa di minggu kemarin kita harus mencari telur hijau.

Pencarian Telur Hijau

Itu adalah bagian dari proses untuk mendiagnosa kebutuhan belajar. Telur hijau adalah aktivitas yang kita suka dan bisa, sehingga membuat kita bahagia. Agar kebahagiaan kita bisa meningkat, maka apa yang diperlukan untuk menopang kegiatan tersebut? Nah, di sinilah kita perlu mencari telur merah, yang berisi keterampilan apa yang penting dan mendesak, agar bisa menopang telur hijau kita.

Keterampilan Penting dan Mendesak

Di sini saya kembali menghadapi fase kaget. Setelah saya tuliskan daftar keterampilan dari masing-masing telur hijau, saya merasa ciut, karena begitu banyak yang tidak saya kuasai dan perlu saya pelajari.

Saking banyaknya, tak mungkin jika kita pelajari semua sekaligus. Maka, di sini saya harus belajar menentukan prioritas. Saya filter kembali daftar aktivitas tersebut, dan mencari keterampilan yang benar-benar penting dan mendesak, demi menopang telur hijau. Bahkan, mungkin juga telur hijau kita perlu diganti.

Saya berhasil menemukan keterampilan yang penting dan mendesak untuk dipelajarii, namun masih terlalu banyak. Cukuplah 1-5 keterampilan saja..

5. Coaching

Telur merah 5 bunda cekatan

Setelah belajar bersama coachnesia, saya sadar bahwa coaching skill dapat membantu saya menemukan tantangan dalam setiap peran-project yang diambil. Misalnya saat beraktivitas di IIP sebagai Rektor, maupun mendampingi anak-anak saya yang homeschooling.

Saya tempatkan di urutan ke-5, karena proses belajar ini memerlukan sumber daya yang tepat, dan perlu lebih banyak strategi untuk mempelajarinya dibanding telur merah lainnya.

Saya mendapat sedikit ilmu natural coaching dari coach Tubagus Hanafi (Coachnesia), maka saya akan coba melatihnya, sebagai proses memantaskan diri untuk belajar bersama guru yang tepat.

4. Public Speaking

Telur Merah 4 Bunda Cekatan

Jam terbang saya dalam berbicara di depan audience, belum mencapai 10.000 jam. Dan kemampuan public speaking saya saat ini, masih minim, karena saya belum belajar secara khusus juga.

Keterampilan public speaking ini, mampu menopang telur hijau berbagi pengalaman. Saya akan berada di beragam event, audiens dan juga media (Pede banget ya.. πŸ˜†πŸ˜Ž). Maka saya harus meningkatkan kemampuan saya (biar gak malu-maluin dan kecewa sendiri kan… πŸ˜‰).

3. Fun Trip Planning

Telur Merah 3 Bunda Cekatan

Telur hijau saya adalah jalan-jalan. Biasanya, kegiatan jalan-jalan hanya diadakan secara mendadak. Atau perencanaannya hanya sebatas waktu, tujuan dan biaya. Yang lainnya tidak direncanakan secara matang. Tetap fun, tapi ada banyak tantangan yang jadi tidak mudah dihadapi. Misalnya, mood anak yang terganggu. Aktivitas kurang beragam, sehingga mati gaya. Aahhhhh… Itu bisa membuat telur hijau saya redup. 😣

Maka dari itu, saya perlu belajar Fun Trip planning.

2. Baby, Kids and Travel Friendly Cooking

Telur Merah 2 Bunda Cekatan

Ini adalah keputusan yang berat. Karena sebetulnya memasak masuk dalam kategori tidak suka. Entah bisa atau tidak, karena eksplorasi saya masih kurang. Saya sempat menjadi pembuat kue dan pastry saat SMA, dan hasilnya excellent. Tapi kemudian berhenti hingga saat ini.

Saya juga pernah konsisten membuat masakan rumah dengan bumbu ala koki terkenal, dan cekatan melakukan food preparation. Namun kemudian berhenti (alasannya rahasia.. πŸ˜…πŸ˜šβ˜ΊοΈ).

Saya putuskan perlu memberanikan diri, untuk serius mempelajarinya, karena anak-anak saya mudah terganggu mood nya jika makanannya kurang terjamin. Anak-anak juga bisa rentan sakit selama bepergian, jika makanannya tidak cocok.

Saya akan khusus mempelajari masakan yang mudah dibawa bepergian, atau mudah dimasak saat bepergian (termasuk camping), sehat, cocok untuk bayi dan anak-anak. πŸ˜‰

1. Bullet Journaling

Telur Merah 1 Bunda Cekatan

Tahun 2017, saya mulai belajar Bullet Journaling, dan merasakan manfaatnya:

  • Meningkatkan fokus dan kesadaran dalam beraktivitas dan berpikir
  • Mengurangi cluttered mind (konmari pikiran)
  • Manajemen waktu, prioritas dan catatan yang lebih baik
  • Seimbang dalam menggunakan gawai
  • Melatih kreativitas

Saya merasa, bullet journaling dapat membantu saya mencapai 4 telur merah sebelumnya dan juga menunjang kegiatan di telur hijau.

Bullet Journaling adalah sistem yang perlu dilatih. Ada beberapa kesalahan yang saya lakukan selama 2017-2019 ini. Maka saya perlu melatihnya kembali dengan benar. Mengacu pada founder Bullet Journal.

Bismillah.