
Menciptakan Generasi Avid Reader
Generasi Avid Reader
Sepintas, membaca judul berbunyi Avid Reader, hati langsung tertarik. Terlebih disertai istilah asing avid, jadi makin penisirin, hihihi… Melihat sang narasumber yang concern di bidang literasi, tak ada keraguan diri untuk mendaftar sebagai peserta zoominar beliau pada Hexagon City Virtual Conference 2023. Adalah seorang Dian Mariesta yang berbagi pengalamannya membersamai seorang putri yang sukses menjadi an Avid Reader.
Berangkat dari keresahan beliau dan (mungkin) keresahan beberapa orang tua, yang mana data dari tahun ke tahun peringkat literasi bangsa kita, Indonesia, tetap saja di urutan bawah, belum ada peningkatan signifikan. Alih-alih meningkat, tantangan peningkatan literasi di Indonesia terasa makin sulit di era digital yang menyedot fokus dan atensi publik, dengan membanjirnya konten visual yang lebih menarik dan dinamis. Menurut World’s Most Literate Nation Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (2016), Indonesia dinyatakan menduduki perikat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Demikian, tantangan peningkatan minat baca rakyat Indonesia adalah tantangan seluruh bangasa Indonesia, dari tingkat negara, provinsi, kota/kabupaten, sekolah hingga keluarga.
Avid Reader
Jadi, siapa itu Avid Reader? Adalah sosok yang sangat antusias dalam membaca. Bisa disebut, diatas level gemar membaca. Begitu banyaknya bacaan yang dilahap oleh seorang Avid Reader, bisa mengakibatkan orang tersebut mahir bicara, mampu menjadi penulis yang handal, memiliki kemampuan berpikir secara kritis dan melihat segala sesuatunya dari segala perspektif. Wah, dampak positifnya begitu banyak yaa, bisa jadi motivasi kuat untuk mencetak generasi Avid Reader ya:)
Strategi Membaca Karena Mencinta
Cinta adalah bahan bakar yang digdaya. Agar kegiatan membaca bisa menjadi suatu kebiasaan atau kegemaran, maka sejak dini dipupuk rasa cinta dalam hati sang anak. Cinta membaca, cinta buku dan segala hal yang terkait dengan literasi/baca tulis. Berikut strategi membaca karena mencintai ala Dian Mariesta:
1. Children see, Children do
Anak akan mengitimasi kebiasaan orang dewasa di sekitarnya. Anak melihat dan akan menirukan gerak gerik orang di sekitarnya. Orang tua/keluarga yang gemar membaca tentu akan menularkan kecintaan membaca pula pada anak.
2. Setiap orang memiliki gerbangnya sendiri untuk masuk ke dunia literasi
Temukan jodoh anak kita, buku genre apa yang paling disuka anak. Kenalkan dengan berbagai macam genre buku. Namun, pastikan sesuai usia anak. Bila anak lebih suka komik atau buku humor, maka ijinkanlah. Tugas orang tua adalah sebagai fasilitator. Apabila sudah tumbuh kecintaan membaca dalam diri anak, selanjutnya menyodorkan anak untuk membaca buku-buku genre lain, tentunya akan lebih mudah.
3. Karakter menarik membuat anak tertarik
Tokoh-tokoh karakter seperti Harry Potter, Doraemon, TinTin dan lain-lain, sangat menarik dan banyak disukai. Karakter-karakter ini bisa menjadi poin awal kecintaan anak untuk membaca. Karakter/ tokoh juga menghadirkan beberapa karakter baik yang bisa ditiru oleh anak. Jadi, buku-buku pilihan dengan karakter/tokoh favorit anak sangat boleh dipilih anak.
4. Lingkungan yang literate
Lingkungan bagai atmosfer dalam yang menaungi rasa cinta baca itu tumbuh subur. Buku/bacaan bisa diatur sedemikian rupa, hingga mudah terjangkau, mudah terlihat oleh anak, jadi merangsang anak untuk terus mengingat buku serta membacanya. Bukan berarti buku berjajar rapi di rak yang aestetik, namun bisa dimana saja, bisa di spot-spot strategis di dalam rumah.
5. Bacakan, bacakan. bacakan!
Tak ada sangkalan akan pentingnya membaca nyaring (read a loud) bagi anak. Sepuluh menit membacakan buku ke anak adalah proses yang luar biasa yang mampu meningkatkan rentang konsentrasi dan rentang perhatian anak. Mampu duduk dan fokus konsentrasi pada buku/bahan yang sedang dibaca, meningkatkan kegemaran dan kecintaan akan kegiatan membaca.
Baca juga:
Fakta-Fakta Perkembangan Seorang Avid Reader
Decline by Nine
Umumnya antusiasme anak terhadap minat baca akan menurun mulai usia 9 tahun, bahkan itu pada seorang Avid Reader. Hal ini disebabkan pada kurun usia 9 tahun ke atas anak lebih banyak berkegiatan fisik, di lingkungan sekolah dan lainnya.
Fenomena ini semakin diperuncing dengan ekosistem yang tidak mendukung. Banyak kegiatan sekolah yang menyita waktu anak, sehingga energi anak terkuras, sedikit menyisakan waktu yang bisa digunakan anak untuk membaca.
Berdasar riset scolastik : Hanya 35% dari anak-anak berumur 9 tahun yang membaca 5-7 hari dalam seminggu. Berbeda dengan anak-anak berumur 8 tahun, dimana 57% dari mereka masih melakukan kegiatan membaca secara rutin.
Belum lagi pengaruh era digital, yang sarat akan konten visual. Baik itu infografis, konten, games dan lain sebagainya, yang sangat dinamis dan menarik anak untuk lebih in touch. Tapi, bukan berarti hal ini dianggap penghalang. Kemajuan teknologi bisa menjadi fasiltas pendukung bila orang tua mampu memanfaatkan ‘kelebihannya’, dengan cara Rational Used of Media (RUM)! Media dan teknologi harus kita rangkul. Penggunaan media secara tepat oleh orang tua bisa membawa anak untuk berkenalan dengan sebuah platform literasi yang asyik. Orang tua bisa mencarikan berbagai bahan bacaan menarik di platform digital, bisa berupa e-book atau audio book.
Tidak susah menciptakan generasi Avid Reader, kan?! Mari kita kerjakan bersama, mulai sekarang! Demi peningkatan literasi bangsa serta kemajuan negara tercinta.

Celoteh Mahasiswi