Pada bulan November 2020 yang lalu, HIMA Jakarta kedatangan tamu spesial, yaitu Mbak Idanayu untuk mengisi sharing session COBEK#2 (Cerita Orang Berbakat, Enerjik, dan Keren). Tema diskusi COBEK#2 yang diadakan di Telegram HIMA Jakarta kali ini adalah mengenali bakat anak. Acara ini dipandu oleh Mbak Ailyxandria dan dihadiri oleh 23 partisipan. Teman-teman disini penasaran kan dengan diskusi nya? Yuk, langsung aja diintip isinya.

Sebelum memulai diskusi, narasumber mengajak satu orang member untuk dibacakan hasil ST30. Kegiatan ini semakin seru ketika pemateri menganalisis kekuatan dan kelemahan yang bisa menjadi turunan bakat. Para member yang hadir pun ikut bersemangat untuk menganalisis hasil ST 30 masing-masing.

Nah, sebenarnya apa itu bakat? Mbak Ida menjelaskan bahwa bakat merupakan sifat atau personaliti manusia yang bermanfaat atau produktif. Setiap manusia diberikan bakat atau fitur unik yang berbeda-beda oleh Allah SWT supaya bisa menjalankan tugas spesifik di muka bumi ini. Perlu diingat juga, bakat adalah sifat yang akan mempengaruhi pola pikir, perilaku, dan tindakan kita. Bakat-bakat kuat yang dominan dalam diri kita disebut sebagai kekuatan yang selanjutnya membentuk passion. Nah, teman-teman bisa tes menggunakan ST30 dan talents mapping untuk mengetahui bakat masing-masing. Selain kekuatan, tentu saja kita sebagai manusia yang tidak sempurna juga memiliki keterbatasan. Hal yang perlu dilakukan adalah fokus pada kekuatan dan siasati keterbatasan.

Lalu, apakah kita bisa melihat bakat untuk anak yang masih kecil? Sebutan bakat untuk anak-anak yang belum aqil baligh (kurang dari 15 tahun) adalah ekspresi bakat, biasanya akan tampak pada aktivitas sehari-hari. Jadi, yang diamati adalah ekspresi bakat.

Selanjutnya, bagaimana cara mengenali ekspresi bakat dalam diri anak? Pembicara mengajak orang tua untuk melakukan aktivitas 3B (Beragam, Berulang, dan Bertemu banyak orang), sehingga dapat mengenali minat anak lalu akan muncul apa yang menjadi bakatnya. Bakat akan membuat suatu aktivitas terasa lebih mudah, menyenangkan, berkualitas, dan menghasilkan yang selanjutnya kita kenal sebagai 4E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn). Singkatnya, orang tua bisa mencatat dan mengamati aktivitas 3B anak

Pemateri menjelaskan ada dua cara untuk mengetahui bakat, yaitu ST30 dan TMA. ST30 adalah tes berupa pernyataan untuk menggambarkan peran apa yang kita bisa. Hasilnya pun bisa berubah sesuai perkembangan diri kita. Berbeda dengan urutan bakat dalam hasil tes TMA yang hasilnya cenderung tetap untuk orang dewasa. Karena urutan bakat ini menggambarkan sifat seseorang. Membaca hasil tes talents mapping itu akan membawa kita semakin mengenali diri kita. Insya Allah setelah kita makin mengenali diri kita, maka kita akan makin percaya diri.

Hal lain yang menjadi catatan penting yang disampaikan narasumber untuk orang tua adalah hadirlah seutuhnya ketika membersamai anak. Seperti pesan Ibu Septi, “Semua anak adalah bintang, kitalah yang harus lebih memantaskan diri kita.”

“Tidak perlu terburu-buru dalam melabeli bakat anak karena malah akan mempersempit pandangan kita terhadap bakat anak. Teruslah fokus mengamati ekspresi anak dan catatlah dengan baik. Ekspresi bakat anak akan muncul saat ia merasa aman, dicintai, dan mampu menuntaskan fase egosentrisnya dengan baik.” Idanayu.

Tim Media Komunikasi HIMA Jakarta