Acara COBEK#3 (Cerita Orang Berbakat, Enerjik, dan Keren) hadir kembali pada hari Jumat, 15 Januari 2021. Ada yang berbeda dari sharing session persembahan HIMA Jakarta ini. Kalau biasanya aktivitas ini dilakukan di Telegram HIMA Jakarta, kali ini dilakukan melalui tatap maya zoom. Dihadiri oleh 41 partisipan aktif dari 56 partisipan yang tergabung di wag COBEK#3, sebagai wadah informasi sebelum dilaksanakannya zoom.

Mbak Helena-selaku MC-membuka acara dengan mengajak berdoa untuk kelancaran dan menyampaikan aturan main di zoom ini. Dilanjutkan foto bersama lalu sambutan dari ketua HIMA IIP Jakarta dan sekretaris regional Jakarta. Selanjutnya, pemaparan materi secara singkat oleh mbak Dela sebagai narasumber. Rasa penasaran akan materi read aloud dan kecerdasan linguistik terjawab saat narasumber merespon pertanyaan dari WAG dan kotak obrolan di zoom.

Pembicara menyampaikan bahwa read aloud bukan berarti membaca dengan keras dan heboh. Namun membaca teks dengan nada suara yang biasa tetapi ditambahkan dengan usaha mimik yang menarik. Ada tahapan yang perlu dilakukan saat read aloud, yaitu:

  1. Persiapan, Memilih tema buku yang dibacakan. Sebagai tahap pra-membaca, ibu perlu mencari tahu isi bukunya tentang apa dan kata-kata sulit yang kira-kira akan ditanyakan anak.
  2. Sebelum membacakan buku. Ada background knowledge (pengetahuan latar) yaitu mengajukan pertanyaan kepada anak seperti gambar apa saja dan isi cerita yang ada di halaman sampul.
  3. Saat read aloud. Lebih banyak diskusi karena kita membutuhkan interaksi dengan anak yang bisa memancing rasa penasaran dan ingin tahu mereka. Ketika read aloud, jadikan anak yang memimpin untuk membaca. Apabila anak sudah bosan dan ingin menyudahi, ya tidak apa-apa.
  4. Setelah read aloud. Diskusi untuk mengulas lima elemen dari buku (tokoh, setting latar dan tema, alur awal cerita, alur tengah cerita/konflik, alur akhir/ending).

Apa yang diperoleh seorang anak dari hasil pemberian literasi sejak dini yang hubungannya dengan kecerdasan linguistik? Pembeciraan menjelaskan bahwa saat anak umur 0-2 tahun, ia dapat mengenali suara ibunya dan dapat mempererat bonding anak dan bayi. Selain itu, anak jadi tahu bagaimana cara memperlakukan buku dan memperoleh banyak skill yang bisa diasah baik dari segi sensori atau motorik.

Apabila orang tua memiliki dua anak yang berbeda usianya, untuk membantu membiasakan read aloud, orang tua bisa mengajak untuk memilih kategori buku yang cocok untuk anak yang berusia lebih besar. Karena biasanya anak yang lebih kecil biasanya secara otomatis akan menyimak buku dengan melihat gambarnya. Kemudian acara semakin seru dan interaktif ketika narasumber mempraktikkan read aloud.

Para member juga tak mau ketinggalan. Ketika ilmu read aloud sudah didapatkan, kini saatnya untuk menunjukkan aksi panggung membacakan nyaring kepada sang buah hati. Ada dua orang member yang bersedia read aloud lalu diberikan masukan oleh narasumber.

“Bacakan buku minimal 10 menit sehari dan rasakan manfaatnya.”, Dela Criesmayanti

Jadi, kegiatan read aloud ini tidak hanya meningkatkan kecerdasan linguistik untuk anak, melainkan juga orang tua. Ada pengetahuan baru yang diperoleh orang tua ketika membaca nyaring buku ke anak.

 

Ima_Maria Fatimah, Medkom HIMA Jakarta