Kemarin bertepatan tanggal 17 Agustus 2020 ada acara diswap yang diadakan di WAG HIMA IP MR. Narsumnya adalah bu Ani Ch, beliau adalah seorang penulis yang banyak membahas masalah parenting. Temanya adalah Merdeka Berkarya Melalui Tulisan. Kebetulan saya sebagai moderator dan notulanya, jadi sekalian aja resume di sini.

WhatsApp Image 2020-08-14 at 12.06.26 PM

Berikut ini adalah profil beliau..

WhatsApp Image 2020-08-13 at 12.21.02 PM

(Diskusi 1)

Siapakah yang ketika akan menulis, sudah ragu-ragu tentang apakah tulisan saya akan menarik?

Pembahasan 1

Setiap tulisan yang dibuat dengan ketulusan akan selalu menarik, maka sesungguhnya hal pertama yang perlu kita siapkan untuk memulai proses menulis adalah hati yang tulus untuk berbagi. Ketulusan dalam proses menulis akan menjadi sebuah energi untuk menggetarkan hati pembacanya. Bahwa pada akhirnya sebuah tulisan akan menarik bagi sebagian pembaca, dan kemudian tidak menarik bagi pembaca lainnya, itu adalah kenyataan dalam dunia karya tulis, menarik itu RELATIF.

Mari bebaskan keraguan ketika akan menulis, buatlah pikiran kita ‘merdeka’ dengan menulis apapun yang menurut kita ‘penting’ untuk dibagikan. Tinggalkan keraguan, mari kita kerjakan dengan yakin setiap kata yang kita rangkai menjadi kalimat untuk kebaikan.

(Diskusi 2)

Siapakah yang ketika menulis, merasa bisa menumpahkan unek-unek pikiran atau perasaan, bahkan bisa jadi self healing?

Pembahasan 2

Menulis memang bisa jadi media menumpahkan unek-unek pikiran atau perasaan. JADI isinya tulisan itu adalah pikiran, perasaan, atau gabungan keduanya.
Maka kita harus ‘merdeka’ dengan pikiran dan perasaan kita, agar kita bisa memulai proses menulis itu.
Merdeka dengan pikiran itu bagaimana?

Terbuka tentang ide-ide. Ketika kita menulis tentang suatu ide, dan berniat membagikannya, maka kita juga harus siap dengan perbedaan ide, karena kita hidup di negara demokrasi, yang orang beda pikiran boleh. Ketika ingin berbagi tentang cara berpikir kita tentang sesuatu, maka bersiaplah orang lain punya cara berpikir berbeda. Dan jangan takut berbeda, karena berbeda itu indah. Mari niatkan memandang perbedaan pikiran sebagai khasanah menambah ilmu. Karena ilmunya Allah itu luaaaas sekali, kita gak tahu batasnya.

Merdeka dengan perasaan?
Siap membuka diri, siap perasaan kita dibaca orang lain, siap menerima empati maupun keluhan orang lain. Butuh kesabaran untuk yang ini.

Menulis bisa jadi self healing?
Itulah keberkahan dari orang yang mau menulis. Karena sesungguhnya menulis adalag proses refleksi, muhasabah, dzikir, dan Allah mencintai orang yang bermuhasabah juga berdzikir.
Apakah tulisan itu akhirnya dibagi atau disimpan, tetap ada keberkahan dari proses menulis, yaitu ketenangan. Hanya orang yang berdzikir hatinya tenang.

(Diskusi 3)

Menulis itu butuh bakat atau butuh minat?

Pembahasan 3

Menulis itu yang pertama-tama butuh minat, yang mau aja yang akan bisa memulai penulisan, yang mau dulu, yang pengen, yang ada motivasi dan semangat.
Bakat membantu seseorang mendapatkan keterampilan menulis. Bakat apa itu?
Kemampuan di bidang bahasa, yang secara teoretis fitrah bahasa berkembang kuat saat di stimulasi di usia 7 tahun ke bawah.

Apakah yang kurang berbakat bisa menulis?

Tetap bisa, asalkan mau belajar. Fitrah bahasa tetap ada dalam diri kita, hanya perlu dibangkitkan.
Jadi menulis itu modal MAU dulu aja.

(Diskusi 4)

Apakah menulis itu sungguh butuh waktu khusus, sehingga ketika sibuk akan sulit menulis?

Pembahasan 4

Apakah menulis itu sungguh butuh khusus, sehingga ketika sibuk akan sulit menulis?
Sebenarnya bukan waktu khusus, tapi “komitmen khusus” karena semua orang waktunya sama, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sekian hari dalam sebulan.
Kita hanya butuh komitmen, kapan kita akan dengan tenang mulai berpikir apa yang ditulis, dan kapan itu dituliskan.

Saya niat, tiap jumat akan berbagi artikel… Ketika sudah niat, minimal muncul “rasa bersalah” ketika ada satu aja hari jumat kita tidak berhasil menulis artikel tersebut. Kalau seseorang merasa sudah niat, kemudian tidak terjadi, kemudian tidak merasa bersalah, ya sebenarnya komitmen khusus itu belum terbangun.

Saya beberapa waktu lalu sudah niat, masa pandemi, karena banyak di rumah akan merampungkan maskah buku yang tercecer. Alhamdulillah, karena saya niat, tiap bangun pagi… Saya selalu membuat to do list, hari ini nulis yang mana ya…bahkan jika tidak ada ide apa yang ditulis hari ini, ya saya mencari ide, dengan membaca topik berkaitan. Akhirnya, hari-hari berjalan.. 4 bulan pandemi, 4 buku selesai.

Kok bisa?

Karena saya tidak menunggu ide datang untuk menulis, saya meluangkan waktu untuk menulis ide. Bahkan jika tidak ada ide, ya saya mencari ide. Saya punya komitmen khusus dan saya bersungguh sungguh dengan komitmen saya.

(Diskusi 5)

Siapapun yang sudah pernah mencoba menulis, silahkan sharing apa saja tantangan atau hambatan yang dihadapi?

(Monggo dijawab masing-masing :))

WhatsApp Image 2020-08-17 at 4.07.42 PM

Diswap ini isinya daging semua. Mencerna harus pelan-pelan untuk menumbuhkan minat menulis, dan membangun komitmen menulis. Bu Ani sangat gamblang dalam membagikan materi. Kami pun diajak berdiskusi, tukar pikiran dan komunikasi dua arah. Jadi nggak hanya baca materi, mendengarkan narsum dan menelan mentah-mentah. Tapi beliau juga ‘mendengarkan’ dan mengajak interaksi pemirsahnya. Diswap 1 jam rasanya kurang, dan menjadi molor setengah jam. Alhamdulillah kami mendapat ilmu bergizi untuk merdeka, merdeka mulai dari pikiran dan tulisan.

Menulislah, karena tulisan kita tak akan lekang oleh waktu.

Menulislah dari hati, karena yang dari hati akan sampai ke hati.

Menulislah, Merdekakan pikiran melalui karya menulis..

Malang, 15 September 2020