Yeaay tidak terasa ya kita sudah melewati tahun 2020 yang super challenging ini dengan luar biasa. Tahun dimana kita dipaksa untuk keluar dari zona nyaman dan kembali mencari ritme hidup yang lebih sesuai. Ah manusia bukannya memang makhluk yang paling bisa beradaptasi, bukan?

Sedikit menengok kebelakang di tahun 2020, ternyata ada oleh – oleh berharga yang belum saya bagikan. Pada akhir tahun 2020, HIMA Bandung kembali mengadakan “Ngabotram Online Volume 2” dengan tema Quarter Life Crisis di Whatsapp Group Kelas Bunda Produktif Batch 1.

Ngabotram online ini berlangsung kurang lebih satu setengah jam dengan sesi diskusi santai namun berbobot yang didampingi oleh Ibu Peri dari IP Bandung yaitu Teh Kirani Anjasmara.

Quarter life Crisis sendiri merupakan istilah psikologi yang merujuk pada,
keadaan emosional yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun seperti kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup. Krisis ini dipicu oleh tekanan yang dihadapi baik dari diri sendiri maupun lingkungan, belum memiliki tujuan hidup yang jelas sesuai dengan nilai yang diyakini, serta banyak pilihan dan kemungkinan sehingga bingung untuk memilih.
Dibandingkan dengan krisis kehidupan yang sering ditandai dengan perasaan gagal untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang diinginkan, quarter life crisis lebih condong pada kenyataan bahwa seseorang belum memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya atau memiliki tujuan yang tidak realistis.

-Dikutip dari Wikipedia

Perasaan hidup hampa tanpa tujuan, mengalir bagaikan air atau merasa gagal menjalankan peran yang diemban saat ini, merasa diri jauh tertinggal dibanding orang lain, bahkan bingung mendefinisikan makna bahagia versi diri kita sendiri. Hal ini bisa jadi salah satu gejala yang dialami ketika kita mengalami Quarter Life Crisis.

Bagaimana kita keluar dari Quarter Life Crisis? Kita bisa mulai mengecek kembali diri sendiri apa yg membuat kita merasa “gagal”.
Setelah menemukan hal tersebut, ceritakan ke orang terdekat dan di percaya. Kemudian, cari apa yang bisa kita lakukan, senangi dan bisa di perjuangkan. (Orang biasa menyebutnya “passion”). Jangan lupa untuk menikmati peran kita saat ini, dan menerima fase kegagalan tersebut.

Salah satunya seperti seorang mahasiswi bunpro, memutuskan resign dari pekerjaannya lalu sempat mengalami fase “gagal” karena tidak bisa produktif secara finansial. Namun akhirnya bisa kembali menata hidupnya setelah menemukan life purpose tanpa meninggalkan keluarga.
Ibu 4 anak ini malah sampai mengambil pendidikan jalur formal untuk mengejar impiannya memiliki sebuah usaha yang bergerak dibidang pangan, meski jauh berbeda dengan backgroundnya terdahulu (teknik mesin) .

Ada pula yang malah menemukan titik balik kehidupannya dari komunitas Ibu Profesional. Bahwa sebenarnya hidup bukan hanya materi yang dicari, tapi kebutuhan didengar, saling berbagi dan melayani jauh lebih menentramkan jiwa, sehingga bisa lebih termotivasi dan bersyukur atas kehidupan yang telah Tuhan beri.

Kalimat magical dari Ibu Septi, “Bersungguh – sungguhlah didalam maka kita akan keluar dengan kesungguhan itu” benar adanya. Kita terlalu fokus dengan apa yang belum dicapai tapi lupa membenahi diri sendiri dan keluarga kita.

Quotes penutup dari perjumpaan online kemarin,

“Bahagia itu bukan karena segala sesuatunya berjalan baik dalam kehidupan kita, tapi bagaimana kita merespon segala sesuatunya dengan cara yang baik”. – Ibu Septi