Bumi Hindia (Indonesia) pada awalnya serupa rimba belantara, yang pekat, gelap gulita. Diperlukan obor untuk menjelajahinya, obor pembawa terang. Kartini mengakui, bahwa obor-obor itu tak lain adalah intelektualitas Eropa, yang belum lagi dikuasai oleh Pribumi. Pada masa itu Eropa adalah benua yang pertama menguasai ilmu pengetahuan, mengendalikan seluruh dunia dan tidak ada kekuatan di luarnya yang tidak dapat dipatahkan olehnya. 

Dalam rimba belantara yang gelap gulita ini, di sana sini muncul lelatu-lelatu kecil yang berasal dari terang yang dibawa Eropa. Lelatu-lelatu kecil ini tidak lain daripada Pribumi yang telah maju. Sesuai dengan kelelatuannya, dia atau mereka ini baru dapat memberi terang pada kelilingnya yang kecil. Suatu kehormatan mengenal lelatu-lelatu permulaan dalam masyarakat Pribumi. Dan ditangan Kartini lelatu ini berubah menjadi obor besar yang berkobar-kobar yang menyinari kelilingnya dengan terang-benderang atau baru taram-temaram ke seluruh jagat Hindia  (Toer, Pramoedya Ananta. 2000)

Satu etape perjuangan rakyat Pribumi yang mencoba mengusir gelap (penjajahan) belantara Hindia/ Indonesia, dengan menyalakan obor, menyulut pendidikan, memperbesar dan memperluas. Agar seyogyanya setiap orang sedapat mungkin menjadi nyala itu sendiri. Perlawanan dengan angkat senjata terbukti tak ampuh mendobrak benteng musuh, maka masuk melalui celah kecil tempat terang mencuat, berusaha memperbesar lobang. Sedikit demi sedikit lobang dicungkil dan terang itu makin menerangi pribumi. Tak terhindarkan, makin banyak lelatu muncul, mampu membakar tabir pembatas intelektualitas, banjir ilmu pengetahuan sampai juga ke bumi Hindia. Menghempas gelap penjajahan, bahu membahu dengan angkat senjata.

Pendidikan laksana obor yang membawa api terang, yakni ilmu pengetahuan. Hangat dan sangat bermanfaat laksana matari. Sumber kehidupan, penghapus keterpurukan. Betapa penting arti pendidikan bagi nasib bangsa Indonesia, hingga rakyat mampu berpikir, bangkit, bersatu, berdiplomasi mengusir gelap penjajahan. Tak pelak dipungkiri, pendidikan ini harus tetap tegak dan mengakar di bumi pertiwi, demikian bangsa ini bisa kokoh berdiri dan mengusai separuh bumi. 

Terbukti bahwa pendidikan, ilmu pengetahuan, mampu mengubah kondisi negeri ini, dari hamba menjadi merdeka. Perubahan akbar dan digdaya. Betapa dahsyat dampaknya, hingga terus digaungkan, terus diperjuangkan, seluruh rakyat untuk mengecap dan melahap pendidikan. Fakta bahwa bangsa kini dibanjiri informasi dan ilmu pengetahuan, makna pendidikan jadi tergerus. Tak sedikit rakyat, banyak pengetahuan, berlimpah ilmu tapi kurang terdidik. Seyogyanya pendidikan inilah yang membuatnya lebih berbudi luhur. 

Pendidikan adalah wahana pembentukan budi pekerti agar peradaban tidak hancur. Karena kecerdasan otak saja tidak berarti segala-galanya. Harus ada kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang erat hubungannya dengan yang lain untuk mengantarkan ke arah yang ditujunya. Di samping otak, juga hati harus dibimbing, kalau tidak dimikian peradaban hanya tinggal permukaan. 

Kartini

Disini pentingnya menegakkan pendidikan sedari dini, karena sejatinya bukan hanya untuk mencerdaskan otak namun juga membentuk watak. Keluarga adalah tempat peletak pondasi pendidikan, khususnya ibu. Sebagai perempuan, apalagi setelah menyandang peran sebagai ibu haruslah terdidik, mempunyai ilmu untuk mengembangkan potensi diri menjadi mandiri, cekatan mengelola keluarga menjadi tangguh dan sehat, mendidik anak dan keturunannya menjadi generasi bangsa unggulan. 

Tak ada lagi penjajahan, rimba belantara Indonesia kini terang benderang. Pendidikan sudah tersebar luas, walau belum merata. Media belajar yang makin beragam, keterhubungan yang makin meluas dan simultan, pendidikan bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Pendidikan seyogyanya bisa dikecap oleh seluruh putra putri bangsa. Demikian, kebodohan, kemiskinan dan keterpurukan bisa ditepis dari bumi pertiwi. 

Seorang perempuan, seorang ibu, bagai lelatu yang memancarkan pelita bagi lingkaran terdekatnya, keluarga. Terang-terang kecil disana disini akan memancarkan banyak cahaya yang mampu menerangi lingkaran lain disekitarnya, hingga membesar, memukau kilaunya menerangi seluruh bangsa. 

 

Sumber pustaka:

Toer, Pramoedya Ananta. 2003. Panggil Aku Kartini Saja. Lentera Dipantara