Kebersamaan dalam Membacakan Nyaring (Read Aloud)

Kebersamaan dalam Membacakan Nyaring (Read Aloud)

membacakan nyaring

Membacakan nyaring (Read Aloud) begitu tampak sederhana. Ya, semudah itu.

“Ambil sebuah buku, duduk dengan nyaman bersama anak, dan bacakan.”

Saya sering sekali mengutip kalimat ini setiap kali membahas tentang membacakan nyaring.

Membacakan nyaring (read aloud) hanya membutuhkan sebuah buku, orangtua yang bersedia meluangkan waktunya, dan anak yang dibacakan buku. Namun, hal yang kita anggap mudah belum tentu mudah untuk orang lain.

Ada seorang teman yang bertanya, “Mbak, gimana sih caranya biar anak suka dibacain buku?”

Alih-alih menjawab, saya malah bercerita tentang pengalaman membacakan nyaring kepada anak. Berbagi kebahagian dan manfaat yang saya rasakan. Karena saya juga tidak tahu jawaban yang pasti. Pengalaman adalah guru terbaik, bukan?

Tidak hanya di rumah, saya membacakan nyaring dimana saja dan kapan saja. Setiap kali ada peluang, saya akan mengambil sebuah buku lalu membacakannya. Bahkan ketika saya bingung mau bermain apa dengan anak, yang saya lakukan adalah membacakan nyaring.

Membacakan nyaring menjadi penyelamat bagi saya.

Sebenarnya, ada satu waktu khusus yang menjadi ritual di rumah kami, yaitu malam hari menjelang tidur. Selebihnya, saya melakukannya kapan saja.

Jika akan berpergian, saya berusaha memastikan membawa satu buku cerita untuk mengusir kebosanan anak di jalan atau di tempat tujuan.

Pernah satu ketika saya lupa membawa buku, maka yang saya mengambil gawai. Lalu membuka aplikasi Let’s Read yang berisi kumpulan ebook buku cerita anak-anak.

Saya meminta anak memilih sendiri cerita yang ingin dibacakan. Kami pun terhanyut dalam cerita. Ini sangat membantu.

Selain itu, kita juga bisa menemukan kumpulan ebook yang cocok untuk dibacakan nyaring pada laman website Room to Read

Perlu saya akui bahwa saya belum konsisten untuk membacakan nyaring setiap hari. Minimal saya melakukannya 2 hari sekali.

Dari yang hanya 2 hari sekali itu, saya mendapatkan manfaat yang luar biasa. Bagaimana jika saya melakukannya setiap hari. Wow membayangkannya saja membuat mata berbinar-binar.

Ada satu cerita menarik. Beberapa waktu lalu saya mendapat laporan dari ibu saya bahwa beliau melihat anak saya, yang berusia 4 tahun, sedang memegang kertas selebaran dan membacanya dengan bersuara. Bukan membaca dalam arti sebenarnya. Dia berpura-pura membaca.

Dia menunjuk-nunjuk tulisan dan mengarang kata-katanya sendiri. Kosakata yang diucapkan adalah kosakata buku (yang baku).

“Ini adalah makanan. Abid akan melakukan bla bla bla.”

Ibu saya tertawa saat mempraktikkan apa yang dia lihat. saya dan suami juga ikut tertawa karena kami pernah melihat hal serupa secara langsung.

Menjadi lebih menarik ketika saya membaca buku Reading Magic yang ditulis oleh Mem Fox dan menemukan bagian yang relate dengan apa yang terjadi.

“Semakin anak kita mencintai buku, semakin mereka berpura-pura membacanya. Dan, semakin mereka berpura-pura membaca, semakin cepat mereka belajar membaca. Jadi, membacakan nyaring tidak cukup, kita harus membacakan nyaring dengan baik.”

MasyaAlloh, persis seperti yang terjadi pada anak saya. Dia hanya berpura-pura membaca dan semakin berpura-pura.

Sebelumnya, saya pikir dia hanya berakting menirukan gaya saya dalam membacakan nyaring yang menunjuk-nunjuk tulisan di buku. Saya terlalu meremehkan anak.

Sebuah pengalaman yang membuat saya semakin jatuh cinta pada membacakan nyaring. Semoga ini akan benar-benar menjadi jalan untuk anak saya belajar membaca.

Dengan begitu, tidak perlu lagi ada sesi khusus untuk belajar membaca. Seperti kata Mem Fox, “Kebersamaan dalam membacakan nyaring saja sudah cukup.”

Mebacakan nyaring juga dapat menstimulasi kecerdasan linguistik pada balita. Klik disini untuk lebih lengkapnya.

Hmm, kejutan apa lagi ya yang akan menanti kami?

Gimana Moms? Sudah membacakan buku apa hari ini?

Ibu Harus Journaling

Ibu Harus Journaling

Ibu harus journaling, journaling iku opoo?, Kalau kata “Dear diary” tahu dong?. Beuh jaman kapan ya nulis di “Dear Diary”. Tapi jangan salah ternyata menulis kegiatan sehari-hari di buku diary itu bagus lho. Percaya atau tidak menulis itu salah satu cara yang mampu mengurai emosi negatif seseorang. Istilah kerennya journaling atau kegiatan menulis jurnal. 

Pengertian Journaling

Menurut dictionary.cambridge.org, journal adalah a written record of what you have done each day, sometimes including your private thoughts and feelings. Jika kita artikan kedalam bahasa Indonesia, Jurnal adalah sebuah catatan yang merekam kegiatan yang telah kamu lakukan setiap hari, kadang-kadang ditambahkan cerita mengenai pemikiran dan perasaan pribadi. Menurut KBBI online, jurnal juga disebut buku harian. Pengertian journaling adalah kegiatan menuliskan seluruh hal yang terjadi pada diri kita setiap hari termasuk apa yang sedang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan.

Riset tentang Journaling

Riset tentang kegiatan journaling untuk kesehatan mental sudah banyak dilakukan. Banyak jurnal penelitian menunjukkan hasil positif dalam menjaga kesehatan mental seseorang. Contohnya seperti dalam jurnal penelitian berjudul, “Writing therapy: a new tool for general practice?”. Hasil riset dalam penelitian tersebut menjelaskan bahwa jika seseorang menyimpan emosi negatif atau trauma dapat berakibat pada terganggunya kesehatan. 

Salah satu solusinya, dengan dilakukan terapi menulis. Caranya dengan meminta partisipan menuliskan seluruh trauma serta perasaan stressnya selama lebih dari 20 menit, dengan 3-4 sesi terapi menulis dalam seminggu. 

Hasil riset menunjukan bahwa kegiatan menulis yang berdampak pada kesehatan tubuh tidak terlihat secara langsung, karena berhubungan dengan mekanisme otak yang lebih kompleks dan mampu berasal dari berbagai faktor. Namun secara kognitif, kegiatan menulis dapat membantu kemampuan berpikir seseorang dalam memproses ingatan dari trauma yang telah terjadi. Kemudian menghasilkan gambaran jelas yang berhubungan dengan penulis itu sendiri. 

Ketika penulis mulai berani mengungkapkan setiap peristiwa yang terjadi dari waktu ke waktu secara bertahap melalui tulisan, itu menjadi momen bermulanya proses penyembuhan. Karena momen tersebut mampu menunjukkan makna dari pengalaman dan perasaan traumatik yang terjadi di masa lampau.

Oleh karena itu terapi menulis berpotensi menjadi pilihan murah dan mudah diakses, dengan minimum konseling dari profesional kesehatan. Terapi menulis dapat menjadi alternatif penyembuhan awal atas suatu trauma.

Hubungan hasil riset dengan Keseharian ibu

Apa hubungan hasil riset tersebut dengan ibu?, Seperti yang kita ketahui, ibu dengan segudang aktivitasnya memiliki berbagai macam problema yang harus dihadapi setiap hari. Kegiatan yang berulang, membersamai si kecil dengan tingkah lucunya yang menggemaskan dan kadang melelahkan. 

Oleh karena itu ibu membutuhkan sarana penyaluran emosi yang tepat agar ibu tetap memiliki mental yang prima. Menulis jurnal setiap hari mampu menjadi pilihan alternatif ibu dalam mengelola serta mengurai emosi baik positif maupun negatif yang dialami.

Berdasarkan penelitian dengan judul “Journaling for self-care and coping in mothers of troubled children in the community”, ibu dengan anak yang memiliki masalah sikap dan emosi sebagai partisipan diharuskan untuk menulis jurnal syukur atau jurnal berisi cara terbaik merawat diri dan cara menyelesaikan masalah setiap hari dengan metode coping stress. DItambah dengan pertemuan bersama ahli minimal 3 kali seminggu, selama 6 pekan.  

Hasil penelitian menunjukkan, ibu yang mendampingi buah hati dengan behavioral issue merasakan peningkatan optimisme terhadap hidup dan rasa syukur yang bertambah. Dari jurnal syukur dan perawatan diri yang diteliti, tema yang paling banyak muncul adalah tentang berpikir positif, emotional well-being, mental health self-care. Sama halnya dengan ibu-ibu pada umumnya, maka semua ibu juga harus journaling.

Pengalaman Setelah Menulis Jurnal Setiap Hari

Menulis setiap hari itu sebenarnya membutuhkan effort. Mengambil kertas dan pulpen, kertas kosong tanpa garis lebih baik dipilih sebagai media karena lebih terlihat peluapan emosinya saat menulis. Namun setelah menulis seluruh kegiatan sehari-hari dengan segala cerita, masalah dan perasaannya, maka yang didapat tentu lega. Pengalaman pertama kali journaling lengkapnya bisa di baca di sini : Memaknai Bahagia Untuk Diri Sendiri

Lega karena isi kepala yang dipikirkan sudah dikeluarkan semua. Lega karena seluruh perasaan yang terpendam selama mengalami kejadian tertentu akhirnya mampu dilepaskan, tanpa harus melampiaskan pada apapun dan siapapun.

Ritme emosi yang terkadang naik turun dan membutuhkan jeda untuk beristirahat. Maka menuliskan setiap rangkaian peristiwa yang dialami setiap hari dapat menjadi awal manajemen emosi yang lebih baik. 

Journaling itu menulis tanpa batas. Apapun dapat kita tuliskan, bisa target, doa, momen bahagia, serta luka dan amarah atas kejadian masa lampau yang masih diingat sampai hari ini. Semua hal yang selama ini tidak dapat diungkapkan pada siapapun. Hanya ibu dan Tuhan saja yang tahu. Baca juga : Penuhi Tangki Cinta, Sebarkan Bahagiamu

Ibu harus journaling, Kita tidak perlu sakit mental dulu untuk melakukan journaling sebagai terapi. Karena bisa jadi kita sedang merasakan sakit hari ini namun tanpa disadari atau terkadang tak mau kita akui. Kita dapat diam-diam menulis untuk diri sendiri. Menyadari bahwa seluruh luka bisa disembuhkan dimulai dari kemauan diri sendiri, dan salah satu dimulai dengan journaling. Selamat Menjurnal ibu.

Baca juga : Dengan Menulis Jurnal, Aku Mampu Mengingat Momen Bahagia

Sumber :

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32248934/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3505408/

Kerja Sampingan Ibu Rumah Tangga Tanpa Modal, Ada Ya?

Kerja Sampingan Ibu Rumah Tangga Tanpa Modal, Ada Ya?

Nggak sedikit perempuan yang berusaha menemukan kerja sampingan ibu rumah tangga tanpa modal. Sedikit menggelitik sih.

Pertama, kok kesannya ibu rumah tangga nggak ada kerjaan ya? Sampai harus cari kerja sampingan. Namun faktanya memang masih ada yang merasa kalau ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan.

Ya, bisa dikatakan seperti itu, karena banyak orang yang merasa pekerjaan itu sesuatu penghasil cuan. Kalau nggak ada cuannya, ya bukan pekerjaan namanya.

That’s why Institut Ibu Profesional hadir di tengah-tengah kita kan? Untuk memberi pencerahan terhadap hakikat pekerjaan sesungguhnya.

Oke deh, kita anggap saja bahwa pekerjaan memang haruslah sesuatu yang menghasilkan cuan. Memang beneran ada pekerjaan yang untuk memulainya bisa tanpa modal?

Let’s discuss about it then!

Memangnya Ibu Rumah Tangga Nggak Bekerja?

Ngobrolin soal ibu rumah tangga bekerja atau nggak, sepertinya tak akan pernah habis ya. Bersyukur nyemplung di komunitas keren ini yang menyadarkan bahwa semua ibu itu bekerja.

Tentunya dengan pilihannya masing-masing. Ada yang memilih bekerja di ranah domestik, ada pula yang memilih menjalani karir di ranah publik. Tak sedikit pula yang memilih menjadi hybrid women.

Yes, hybrid. Baik ranah domestik dan publik semuanya dijalani. Tentunya dengan konsekuensinya masing-masing kan?

bisnis ibu rumah tangga yang menjanjikan

Balik lagi ke soal pilihan, setiap ibu pasti punya kondisinya masing-masing. Ada yang tetap menjalani perannya di ranah publik, dan mendelegasikan beberapa hal domestik pada ahlinya.

Sementara itu, ada pula yang memilih fokus untuk mengambil peran di ranah domestik. Sayangnya masih banyak yang memandang sebelah mata pilihan ini.

Sarjana kok di rumah saja?

Ngapain di rumah, eman-eman lo ijazahnya.

Kalimat-kalimat sejenis mungkin pernah IPers dengar juga? Di awal-awal mendengarnya terasa panas ya di telinga?

Namun juga gagap harus melakukan apa. Pengen rasanya bilang, “Woy, justru karena aku sarjana makanya di rumah aja. Biar nggak perlu cari guru les di luar buat anak-anak, karena ibunya bisa handle sendiri urusan pendidikannya.”

Atau sesekali pengen juga menjawab, “Di rumah ngapain?  Membuat menu makanan sehat, memastikan baju anggota keluarga bersih dan wangi, mengatur keuangan, sampai menyiapkan kegiatan edukasi buat anak.”

Hmm, tapi buat apalah ya berdebat dengan orang yang nggak sefrekuensi. Cukup dijawab dengan senyum.

Bahkan diiringi dengan senyum, tak sedikit para ibu yang justru menemukan passion dan cita-cita baru setelah fokus pada perannya. Saat itulah, bisa jadi ada keinginan di hati para ibu rumah tangga untuk melebarkan sayapnya ke sisi ekonomis.

Mulai mencari-cari, apa ya yang bisa dilakukan di dalam rumah tapi bisa menghasilkan uang jajan sendiri? Atau kalaupun tak menghasilkan materi, at least bisa menebar jejaring manfaat lebih luas lagi.

Meski sudah dicukupi suami, nggak munafik kan kalau punya keinginan untuk bisa memiliki penghasilan sendiri? Terutama buat para ibu yang sebelumnya bekerja di ranah publik, tentu ada masa adaptasi yang tak mudah kan?

Saya sendiri pernah ada di masa-masa galau saat memutuskan resign beberapa tahun lalu. Walaupun suami menafkahi dengan cukup baik, rasanya ada sayap yang tak sempurna mengepak.

Ada keinginan untuk menjejak dengan tegas. Tanpa ragu dan takut menunjukkan potensi diri. Hingga suatu hari sebuah tawaran pekerjaan dari seorang kawan.

Sebuah kesempatan yang nggak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bahkan saya baru dengar nama pekerjaan itu; content writer.

Dari titik itulah kemudian saya sadar bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah. Tentunya dengan tetap patuh pada kandang waktu, sehingga peran utama tak perlu tergadai.

Rekomendasi Kerja Sampingan Ibu Rumah Tangga Tanpa Modal

Nggak ada salahnya kok punya keinginan mencari kegiatan sampingan. Syukur-syukur jika bisa membantu ekonomi keluarga kan?

Ada kalanya tangan perempuan perlu turun meski sang kekasih hati tak pernah meminta. Turun lewat doa ataupun usaha sama-sama berartinya.

Setiap keluarga punya tantangannya masing-masing. Jadi jika di sini ada IPers yang memang membutuhkan ide kerja sampingan ibu rumah tangga tanpa modal, tujuh jenis profesi ini siapa tahu bisa membantu.

Beneran tanpa modal ini? Pasti itu yang akan diutarakan. Iya atau nggak? Sudah saya tebak!

Bukankah Allah sejatinya sudah menginstall modal pada setiap hambaNya? Panca indera dan otak, masih perlu modal lainnya?

Jika ya, maka yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai dan kemauan untuk terus belajar. Sementara jika yang dimaksud adalah modal berupa alat-alat tertentu, cukup gunakan yang kita miliki saat ini.

lowongan kerja sampingan ibu rumah tangga

Tak perlu muluk-muluk, mulai saja dengan yang ada. Handphone dan koneksi internet punya dong ya? Kalau nggak punya, artikel ini belum tentu bisa sampai di hadapan IPers kan?

So, inilah 7 bisnis ibu rumah tangga yang menjanjikan:

1. Blogger dan Content Writer

Apakah memulainya harus jago menulis? Nggak juga sih. Sebagaimana pernah disampaikan berulang saat matrikulasi ataupun jenjang kelas lainnya, butuh 20ribu jam untuk menjadi ahli.

Maka, jangan merasa tulisannya B aja. Kalau mau menjalani prosesnya, insya Allah yang tadinya B bisa jadi A+ kok. Ingat dong, yang penting berani dan mau dulu.

Berani memulai dan mau belajar printilan-printilan yang dibutuhkan menjadi blogger ataupun content writer. Jadi mau coba pekerjaan yang ini? Boleh sini merapat, saya bisikin beberapa tips, hehe.

usaha sampingan ibu rumah tangga di desa

2. Affiliator

Ini adalah salah satu cara berkarya dan produktif yang sedang hype. Biasanya sih bermodalkan media sosial yang punya follower tertentu.

Dengan media sosial yang kita miliki, kita bisa mendaftar affiliate program di TikTok, Shopee dan media lainnya.  Kalau persyaratan dipenuhi, kita bisa mempromosikan produk-produk dari brand yang bekerjasama. Jika konsisten, kita bisa dapat uang jajan yang lebih dari cukup dari sini.

3. Content Creator

Sebenarnya nggak jauh-jauh dari poin satu dan dua ya. Bisa dibilang blogger dan affiliator adalah bagian dari content creator. Meski nggak semua content creator adalah keduanya.

Content creator pun nggak melulu cari cuan kok. Ada yang menjalaninya karena suka dan berlandaskan niat berbagi, misal membuat akun media sosial khusus dakwah atau sharing tentang empowering women.

4. Dropshipper

Buat yang pengen jualan  tapi nggak ada modal untuk stok barang, dropshipper adalah pilihan tepat. Kita bisa cari supplier yang terpercaya, lalu kenali produknya dan cuzz deh mulai jualan.

Beberapa supplier juga biasanya meminta kita untuk melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Setelah pendaftaran, ada beberapa suplier dan brand yang memberikan training sebelum dropshipper turun ke lapangan.

peluang usaha ibu rumah tangga

5. Jual Makanan

Ini cocok buat yang piawai mengolah makanan. Nggak sedikit lo ibu rumah tangga yang awalnya menyiapkan menu untuk keluarga, lama-lama jadi menerima pesanan.

Jika IPers merasa punya passion di sini, kenapa harus tunggu nanti untuk memulai bisnis ini? Bahkan waktunya pun bisa dijalani dengan fleksibel.

Caranya dengan menggunakan metode pre order alias PO. Bisa kan buka PO hanya saat anak libur sekolah, misalnya.

6. Desainer Grafis

Sekarang ini mulai banyak jagoan-jagoan desain bermunculan. Apalagi sejak ada Canva ya? Nggak sedikit yang bisa mendapat cipratan materi dari aplikasi ini.

Dari yang menjadi contributor hingga menerima pesanan desain dari sekitarnya. Nah, buat IPers yang suka utak-atik Canva atau aplikasi desain grafis lainnya, bisa banget memulai usaha kecil-kecilan dari sini.

Bikin logo buat  brand temen, buatin desain header blognya temen, atau bikin desain undangan online yang saat ini sedang hits. Gimana, mau coba?

7. Coaching

Jenis usaha yang terakhir ini, saya lihat mulai banyak dijalani oleh para ibu. Dari yang awalnya suka memasak, kemudian buka pelatihan memasak. Dari hobi fotografi, akhirnya buka pelatihan fotografi.

Yang hobinya cuap-cuap? Bisa banget buka pelatihan public speaking. Kalau sukanya berkegiatan sama anak? Wah, banyak ibu-ibu muda yang siap menanti kelas semacam ini.

Dan tentu masih banyak lagi jenis coaching lainnya. Intinya, kita hanya perlu mengenali potensi diri. Lalu mengembangkannya dengan maksimal.

Dengan melihat fakta bahwa ada banyak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah, saya berharap IPers makin bersyukur menjadi ibu rumah tangga ya. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti nggak bisa produktif dan berhenti berkembang.

Hanya saja ingat dengan petuah Ibu Septi dan Pak Dodik;

“Bersungguh-sungguhlah di dalam, maka engkau akan keluar dengan kesungguhan itu.”

Masih ingat dong dengan petuah fenomenal ini? So, jangan insecure dan saatnya gali potensi diri. Ada banyak kok kerja sampingan ibu rumah tangga tanpa modal yang siap dijalani. Syaratnya, berani dan mau!***

Memahami Sustainable Development Goals (SDG)

Memahami Sustainable Development Goals (SDG)

Memahami Sustainable Development Goals (SDG)
Memahami Sustainable Development Goals (SDG)

Apa itu SDG?

Apakah anda termasuk warga negara yang rutin menyoroti program pembangunan pemerintah?

Bila iya, tentu sudah tak asing dengan singkatan SDG

Secara garis besar, SDG merupakan satu panduan progam bersama yang dihasilkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Panduan ini ditujukan bagi negara-negara anggotanya dalam satu kesatuan langkah untuk mencapai pembangunan yang mensejahterakan, berkeadilan dalam konsep kesetaraan bedasarkan hak asasi manusia.

25 September 2015 bertempat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), para pemimpin dunia secara resmi mengesahkan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) sebagai kesepakatan pembangunan global. Kurang lebih 193 kepala negara hadir, termasuk Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla turut mengesahkan Agenda SDG.

Dengan mengusung tema “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”, SDG yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDG berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDG.

Prinsip SDG

Tidak Meninggalkan Satu Orangpun (Leave No One Behind)

Tidak Meninggalkan Satu Orangpun merupakan Prinsip utama SDG. Melibatkan semua warga negara, semua pihak dalam program pembangunan berkelanjutan. Harapannya semua warga bangsa memiliki kewajiban moral berperan aktif mensukseskan pembangunan dengan peran dan potensi masing-masing.

Keadilan Prosedural yaitu sejauh mana seluruh pihak terutama yang selama ini tertinggal dapat terlibat dalam keseluruhan proses pembangunan. Keadilan Subtansial yaitu sejauh mana kebijakan dan program pembangunan dapat atau mampu menjawab persoalan-persoalan warga terutama kelompok tertinggal.

Memahami Sustainable Development Goals (SDG)
Tujuan Sustainable Development Goals (SDG)

Tujuan SDG

Terdapat 17 tujuan Pembangunan Berkelanjutan

  1. Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dimanapun
  2. Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian berkelanjutan
  3. Memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia
  4. Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua
  5. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan
  6. Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua
  7. Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua
  8. Mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, tenaga kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua
  9. Membangun infrastruktur yang tangguh, mendukung industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan dan membantu perkembangan inovasi
  10. Mengurangi ketimpangan didalam dan antar negara
  11. Membangun kota dan pemukiman yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan
  12. Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan
  13. Mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya*
  14. Mengkonservasi dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya laut, samudra dan maritim untuk pembangunan yang berkelanjutan
  15. Melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi desertifikasi (penggurunan), dan menghambat dan membalikkan degradasi tanah dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati
  16. Mendukung masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun institusi-institusi yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua level
  17. Menguatkan ukuran implementasi dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan

Baca juga:

Mengenal Sustainable

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Konferensi Ibu Pembaharu mendukung SDG

Konferensi Ibu Pembaharu
Konferensi Ibu Pembaharu

 

Komunitas Ibu Profesional memasuki 1 Dekade di tahun ini. Memperingati momen tersebut maka diselenggarakan Konferensi Ibu Pembaharu. Konferensi yang menyoroti topik pemberdayaan perempuan #darirumahuntukdunia dalam mendukung tercapainya Sustainable Development Goal (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan no. 5.

Sustainable Development Goal (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan no. 5 yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan. Bentuk dukungan dan kontribusi kita, sebagai perempuan, terhadap tujuan SDGs no. 5 ini tentunya beragam sesuai kapasitas masing-masing. Mengarah pada capaian target yang telah ditetapkan seperti yang dituliskan oleh https://www.sdg2030indonesia.org/.

Bentuk-bentuk dukungan di bawah ini bisa kita jalani sesuai peran kita sebagai perempuan, istri dan atau ibu, antara lain:

  1. Mengenal diri sendiri, agar paham cara mengembangkan kapasitas diri sehingga menjadi individu yang berdaya dan bahagia
  2. Mendukung gerakan ibu inklusif. Bersama-sama menciptakan ruang yang aman dan nyaman untuk semua perempuan dengan berbagai latar belakang untuk berdaya dan berkarya.
  3. Menghormati dan menghargai semua perempuan, apapun perannya. Baik itu yang bekerja di ranah domestik (ibu rumah tangga)  maupun yang bekerja di ranah publik. Karena semua ibu itu bekerja. Tidak memandang satu peran lebih tinggi dibanding lainnya
  4. Menguasai teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana meningkatkan pemberdayaan perempuan.
  5. Peduli dan dukung pemberdayaan disabilitas
  6. Menguasai ilmu-imu dasar mendidik anak dan mengelola keluarga sehingga mampu membangun keluarga yang unggul dan luhur
  7. Berpartisipasi aktif dalam penegakan norma-norma hukum dan sosial yang berlaku dalam bermasyarakat dan berbangsa.
  8. Berkontribusi aktif sesuai potensi diri dalam lini pemerintahan dan penegakan hukum.

Atau anda mempunyai bentuk dukungan lain yang lebih sesuai dengan kapasitas diri?

Mari berbagi dan bersinergi dengan para perempuan, para ibu pembaharu yang memiliki cara unik berkontribusi bagi negeri. Bersama-sama membangun ekosistem para pembaharu yang beraksi memberi solusi dan kontribusi terbaik bagi negeri. Tertarik mengikutinya? Daftarkan diri anda dan dapatkan informasi lengkapnya di https://www.ibuprofesional.com/ dan media sosial Ibu Profesional. Konferensi Ibu Pembaharu diselenggarakan pada tanggal 18-22 Desember 2021 dan terbuka untuk umum, untuk semua perempuan. Konferensi meliputi webinar, talkshow, workshop dan ekshibisi serta diskusi di sela-sela sesi. Konferensi.

Yuk, jangan ragu mendaftar dan mengikutinya guna memahami makna SDG dan menentukan kontribusi yang tepat untuk berkolaborasi di dalamnya!

 

#1dekadeIbuProfesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu

#ibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia

#challengeILUSTRA

 

 

Mengenal Sustainable

Mengenal Sustainable

Mengenal Sustainable

Mengenal Sustainable

Makna Sustainable

Sustainable adalah satu kata yang kerap ditulis, dibicarakan khalayak, dewasa ini. Lebih terkenal dan kerap dipakai daripada kata terjemahannya, yakni: berkelanjutan. Kesannya, terdengar lebih keren dan atau lebih familiar saja  ditelinga.

Saya pribadi benar-benar menangkap kata tersebut saat menyaksikan Obrolan Dapur Ibu di IPedia TV, salah satu kanal favorit di You Tube. Saat itu awal pandemi, awal-awal episode program yang dipandu oleh Ibu Septi Peni Wulandani. Menarik sekali, selain judul yang belum familiar saya dengar, bintang tamu saat itu dihadirkan dari negeri Sakura. Seorang perempuan Indonesia yang sedang studi di negeri Jepang.

Bahasannya seputar environment dan sustainable yang diterapkan di Jepang dan di Indonesia. Dari sana saya menangkap bahwa sustainable erat kaitannya dengan lingkungan. Tak lama berselang, kenal juga dengan istilah sustainable living, dalam kelas berbenah berbayar yang saya ikuti. Menguatkan stigma sepihak bahwa sustainable seputar lingkungan dan keselarasan dengan alam.

Akhir-akhir ini, ditemukan lagi frase yang mengikuti kata sustainable, yakni development. Saya menemukannya dalam banyak notice dan show road to Konferensi Ibu Pembaharu. Makin bikin kepo, apa itu sustainable.

Menurut Kamus Bahasa Inggris Terjemahan Indonesia, arti kata sustainable adalah berkelanjutan. Sustainable Development artinya Pembangunan Berkelanjutan

Menurut Wikipedia, Sustainable Development atau Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan hidup masa sekarang dengan mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan hidup generasi mendatang. Prinsip utama dalam pembangunan berkelanjutan ialah pertahanan kualitas hidup bagi seluruh manusia di masa sekarang dan di masa depan secara berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan dilaksanakan dengan prinsip kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, dan pelestarian lingkungan

Makna Sustainable Development Goals (SDG)?

Sustainable Development Goals (SDG) atau tujuan pembangunan berkelanjutan merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan.

Rencana aksi ini kini gencar digaungkan dan diterapkan dalam setiap lini pembangunan bangsa. Tidak hanya bangsa Indonesia namun juga kurang lebih 193 bangsa lain di dunia.

SDG yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), . SDG berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDG.

Baca juga:

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Tomorrow is Today

Komunitas Ibu Profesional mendukung tercapainya SDG

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

 

Komunitas Ibu Profesional memasuki 1 Dekade di tahun ini. Memperingati momen tersebut maka diselenggarakan Konferensi Ibu Pembaharu. Konferensi yang menyoroti topik pemberdayaan perempuan #darirumahuntukdunia dalam mendukung tercapainya Sustainable Development Goal (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan no. 5. Yakni, mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan.

Topik tersebut akan terus dibahas dan dibicarakan bersama 6 isu utama yang related, dalam Konferensi Ibu Pembaharu. Meliputi webinar, talkshow, workshop dan ekshibisi serta diskusi di sela-sela sesi. Konferensi diselenggarakan pada tanggal 18-22 Desember 2021 dan terbuka untuk umum, untuk semua perempuan. Tertarik mengikutinya? Daftarkan diri anda dan dapatkan informasi lengkapnya di http://www.ibuprofesional.com dan media sosial Ibu Profesional.

 

 

#1dekadeIbuProfesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu

#ibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia

#challengeILUSTRA

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Cerita Emosional

Suatu ketika saya dibuat bingung oleh si bungsu yang tetiba raut wajahnya terlihat sedih dan berusaha menahan air mata saat menonton suatu tayangan. Langsung saja kuraih dan kugendong dia, sambil dielus-elus punggungnya. Air mata tak terbendung lagi, hingga menangis sesenggukan. Ku tunggu hingga isak tangisnya mereda, kemudian kuberi separuh gelas air putih untuk melonggarkan kerongkongannya yang mungkin merasa tercekat karena tangisan. Saat terlihat sudah tenang, barulah kucoba selidiki:

“Dedek… kenapa kok menangis, nak?” tanya Bunda

“Dedek sedih…Dedek ingat Boy yang hilang, Bun” ungkapnya. 

Boy adalah seekor kucing. Sebenarnya bukan kucing peliharaan kami, dia kucing liar yang datang dan pergi sesuka hati. namun karena tiap hari kami beri makanan dari sisa konsumsi kami berupa tulang dan kepala ikan/ ayam. Akhirnya Boy sering datang ke rumah kami, untuk makan, tidur atau sekadar bermain di teras rumah. 

Sepintas kulihat TV terpampang tayangan tentang seekor anjing

“Dedek merindukannya?” tebak Bunda

Dedek hanya mengangguk-angguk di gendonganku

“Kenapa dedek tiba-tiba ingat sama Boy?” selidik Bunda karena sudah sebulan lebih Boy tidak datang, dan tak lagi dicari oleh anak-anak.

“Dedek kasihan liat anjing itu di TV, mencari tuannya” jelas balitaku yang berusia 3 tahunan. 

“Ohh…dedek jadi kasihan sama Boy juga ya?” 

“Iyaa bun….pasti Boy juga bingung cari rumah kita” Dedek menduga kucing tersebut tidak pernah datang lagi ke rumah karena tersesat atau mainnnya terlalu jauh.

“Mungkin yaa dek… Boy itu kucing yang udah besar kok, jadi dia tau caranya cari makan sendiri, pulang ke rumahnya sendiri” Jelas Bunda

“Tapi kenapa dia tidak pulang lagi ke rumah dedek?” tak hentinya dedek penasaran.

“Mungkin Boy mainnya jauh-jauh dan punya rumah baru, dek…kucing senang kok main dan jalan-jalan jauh” jawab Bunda coba menenangkannya lagi.

Dedek masih terlihat sedih, menopang dagu di pundak Bunda.

“Kalo ada kucing lain yang datang kita kasih makan yaa, biar dia senang main ke rumah dedek dan main bareng dedek, oke?!”

Dedek hanya mengangguk-angguk dengan raut wajah yang masih sedih. Tak putus ku elus-elus punggung dan memeluknya.

 

Ekspresi Emosi

Emosi merupakan bentuk komunikasi anak dengan orang lain. Ekspresi emosi yang ditampilkan anak, memperlihatkan kebutuhannya, keinginannya, harapannya dan perasaannya kepada orang lain, khususnya kepada orang tua. 

Perilaku emosi anak dipengaruhi oleh penilaian lingkungan sosial mengenai dirinya dan penilaian diri anak terhadapa dirinya sendiri. Masih banyak orang tua yang mengaitkan perasaan tidak menyenangkan (marah, sedih, sensitif, iri, kesal) dengan watak anak yang buruk. Si adik yang mudah trenyuh dan menangis saat situasi haru, dilabeli cengeng. Atau si kakak yang suka isengin dan godain si adik, hingga adiknya jengkel disebut anak nakal. Hal ini tentu mempengaruhi konsep diri anak. Anak akan cenderung bertindak sesuai label yang disematkan pada dirinya. 

Emosi biasanya dikaitkan dengan perasaan marah. Padahal bukan hanya itu, emosi merupakan perasaan seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau sesuatu. Emosi bisa perasaan yang menyenangkan, bisa juga yang tidak menyenangkan. Seyogyanya orang tua menerima emosi tidak menyenangkan anak seperti halnya menerima emosi yang menyenangkan (bangga, bahagia, riang). Anak akan merasa diterima saat orang tua mau menerima emosinya, menghargai kondisinya dan memberikan respon yang tepat. Pada saat kita berusaha untuk menerima emosinya, mungkin tak lama anak belajar menenangkan perasaannya. Kemudian dia akan mampu berpikir untuk mengenali perasaannya, mengaturnya dan berusaha menyelesaikannya. 

Kenali dan Terima Emosi

Bantu anak mengenali dan memahami apa yang sedang dia rasakan. Latih dia untuk mengatur/mengelola perasaannya, mengekspresikannya dengan tepat dan menyelesaikan sendiri masalahnya. Kunci sukses untuk bisa melatih anak supaya mampu mengekspresikan. mengkomunikasikan perasaan/emosinya dengan tepat adalah mendengarkan anak. Belajar berempati mendengarkan anak. Terlihat mudah, mendengarkan. Namun pada kenyataanya banyak orang tua yang justru over reaktif merespon emosi anak, terutama saat anak mengekspresikan emosi tidak menyenangkan (marah, menangis, kesal). Alih-alih mendengarkan, orang tua justru ikutan emosi. 

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua agar mampu menjadi pendengar yang berempati terhadap anak-anak, yakni:

  1. Menggunakan panca indera kita untuk mengenali dan mengamati petunjuk serta isyarat fisik dari emosi anak (lihat raut muka, suaranya, desahan nafasnya, gerak tubuhnya)
  2. Menggunakan imajinasi kita melihat situasi dari sudut pandang anak (bayangkan kita berada di posisi anak)
  3. Menggunakan kata/ungkapan yang tepat untuk melabeli perasaan anak/memberi nama emosi  (contoh: Kakak kesal yaa harus remedi ulangan lagi?)
  4. Menggunakan hati untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak.

 

Baca juga:

Mengasah Kecerdasan Spiritual Anak

Selebrasi Gabungan HIMA Jakarta

 

Melejitkan Kecerdasan Emosional Anak

Modal Kesuksesan

Modal Kesuksesan

Pengulangan respon emosi anak yang terus berproses ini akan menjadi kebiasaan dan bisa menetap menjadi karakternya. Kemampuan mengelola emosi setiap anak tentu berbeda-beda. Tergantung dengan usia, pola asuh, bakat dan kondisi/situasi lingkungan. Karena itu pengelolaan emosi anak harus terus dilatih. Untuk melejitkan kecerdasan emosional  anak.

Bersama dengan kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional anak berperan besar menentukan kesuksesan anak kelak. Kecerdasan emosional membuat  anak mampu memahami kondisi dan perasaan dirinya sehingga bisa mengambil tindakan positif sebagai respon tersebut. Serta mampu merasakan perasaan orang lain (berempati) dan bisa meresponnya dengan tepat. Anak yang sulit diatur kebanyakan karena pengendalian dirinya lemah sebab kecerdasan emosionalnya tidak diasah.

Anak yang cerdas secara emosional anak mampu mengendalikan diri. mengatur diri, mengarahkan diri pada tujuan hidupnya. Sebuah modal besar menuju kesuksesannya. Kesuksesan seseorang ditentukan oleh 80% kecerdasan emosional, sosial dan spiritual,  sedang kecerdasan intelektual porsinya 20% saja (Golemen, 1995).

Berbagai aktivitas keseharian dan interaksi dengan orang tua dan lingkungan sekitar pastinya akan memunculkan beragam emosi pada anak. Pada masa inilah, kita asah kecerdasan emosionalnya dengan cara-cara yang tepat, seperti uraian diatas. Bukan hanya mengutamakan pembelajaran akademis, dengan menyuruh anak les ini itu, berharap anak dapat nilai akademis yang bagus, juara kelas dan berprestasi. Hendaknya orang tua juga banyak menstimulasi kecerdasan emosionalnya dengan sering bermain bersama anak, mengobrol, membersamai anak saat bermain bersama temannya, bersama anak mengeksplorasi lingkungan dan lain sebagainya. 

 

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

Konferensi Ibu Pembaharu

Banyak kisah emosional dan inspiratif yang dibagi oleh para ibu pembaharu dalam  Konferensi Ibu Pembaharu dalam mendidik dan mengasuh anak, bahkan mengelola perasaan dirinya sendiri, hingga menjadi sukses berdasar parameternya. Ini adalah isu keempat yang diangkat dalam Konferensi Ibu Pembaharu, tentang perempuan dan perannya dalam pendidikan/pengasuhan anak. 

Ibu Pembaharu adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidup, sehingga bisa menciptakan solusi untuk masalah tersebut. Solusi yang terbaik untuk dirinya dan lingkungannya. Setiap ibu punya cerita/tantangan yang unik, yang mungkin bisa kita jadikan contoh, referensi dan menambah sudut pandang. 

Tertarik menyimak tantangan-tantangan para ibu pembaharu? Mari temui, simak tantangan para ibu pembaharu beserta solusi terbaiknya dalam Konferensi Ibu Pembaharu pada tanggal 18-24 Desember 2021. Bukan hanya tantangan tentang pendidikan/pengasuhan anak, lho! Nantinya juga akan ada cerita tantangan isu-isu lain (5 isu) yang related dengan kehidupan perempuan dan ibu. Infomasi dan pendaftaran selengkapnya bisa kunjungi website www.ibuprofesional.com dan media sosial Ibu Profesional. 

 

Referensi: 

Komunitas Institut Ibu Profesional, 2013, Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak, Gazza Media

 

#1dekadeIbuProfesional

#darirumahuntukdunia

#konferensiibupembaharu

#ibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

#ibuprofesionaluntukindonesia