Bagi para penggemar musik lawasan saya yakin paham betul dengan lagu “Tomorrow is Today” yang dipopulerkan oleh Billy Joel. Saya copaskan sedikit lirik lagunya ya,

I’ve been livin’ for the moment
But I just can’t have my way
And I’m afraid to go to sleep
‘Cause tomorrow is today

People tell me life is sweeter
But I don’t hear what they say
Nothing comes to change my life
So tomorrow is today
I don’t care to know the hour
‘Cause it’s passing anyway
I don’t have to see tomorrow
‘Cause I saw it yesterday
So I listen for an answer
But the feeling seems to stay
And what’s the use of always dreaming
If tomorrow is today
Still I’m waiting for the morning
But it feels so far away
And you don’t need the love I’m giving
So tomorrow is today
Lagu yang cukup lawas sebetulnya, jadi jika kamu emak-emak yang ngakunya generasi milenial, mungkin dengan kekuatan browsing Anda baru bisa tahu lagu ini. Cukup bernada balad, dengan sedikit nada sendu dari suara yang dihasilkan sang penyanyi pertama. Bagaimana tidak sendu, jika lagu ini konon kabarnya lahir dari rasa frustasi hingga timbul keinginan untuk bunuh diri dari sang penyanyi? Sungguh dibalik cahaya gemerlap dunia keartisan zaman itu, Billy hanyalah seorang biasa yang juga bisa merasakan depresi , cemas, dan kekhawatiran yang berlebih. Rupanya harta serta nama tenar tak cukup membuatnya bahagia.
Kawanku? Billy hanyalah segelintir orang yang merasa tidak baik-baik saja dengan keadaan mereka. Jangankan public figure, orang biasa saja kadang terserang “penyakit” ini. Betapa tak sedikit kita jumpai orang-orang bermental inferior dan fatalistik atau bahkan mungkin di satu waktu saya secara tak sadar terserang mental ini. Saat masalah dan tantangan hadir, kaum ini tak segera move on dan berjuang membalikkan keadaan. Terjebak dengan “masa lalu”, “masa jaya”, “masa emas” atau apapun label yang mereka sematkan.
Back to Akang Billy ini, dalam lagunya ia menyatakan penyesalan atas tindakannya. Cairan pembersih lantai yang terlanjur ditenggak bukan mengantar pada kematian, melainkan pada kesakitan tak berkesudahan. Sudahlah upaya bunuh dirinya gagal, masih menanggung sakit perut yang luar biasa karena kurasan cairan pembersih yang terlanjur masuk ke lambungnya. Seperti sebuah pembenaran bahwa sebelum rasa sakit seseorang melebih rasa takutnya, biasanya sih manusia belum mau untuk berubah.”
Dalam sebuah pengakuan pada media, Billy mengatakan bahwa hari esoknya telah usai dan ia ingin membawa harinya yang naas itu agar semua segera usai.
Satu hal kita bisa pelajari bahwa berjuang itu mutlak adanya, mengupayakan terwujudnya mimpi menjadi sebuah warisan pada keturunan kita. Kelak kita tak khawatir untuk menjadi resisten pada setiap perubahan dan tantangan.
Sebagai sebuah pembuka, kisah Bang Billy terasa cukup getir ‘ya?
Duh ngapain juga sih si Emak nyeritain yang syerem-syerem kek gindang? Hihihihi ….
Sebetulnya saya hanya ingin memberikan gambaran mengenai pembagian waktu yang terasa sepanjang saya lalui proses metamorfosis menjadi kupu-kupu di dalam proses perkuliahan bunda cekatan yang saat ini tengah saya perjuangkan.

Tiga Zona Waktu Manusia

Lazimnya kita para penduduk Indonesia sudah familiar sekali kita terbagi menjadi tiga zona waktu. Waktu Indonesia Barat, Waktu Indonesia Tengah, dan Waktu Indonesia Timur. Tiga zona waktu yang telah saya rasakan semuanya selama masa perantauan kami. Tapiiiiiii saya menemukan sebuah konsep baru mengenai pembagian zona waktu ini. Yaitu, masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Di masa lalu mungkin kita bukanlah siapa-siapa, belum menjadi apa-apa. Lalu di masa kini, kita tengah berjuang mengupayakan sesuatu, untuk sebuah mimpi yang ingin kita segerakan di masa depan. Proses inovatif dan mengubah mentalitas menjadi “driver mentality“, melahirkan berbagai inovasi dan perbaikan diri,
Dalam sebuah guyonan antara saya dan suami, lahirlah idiom ngawur yang kami perbincangkan.
“Bunda itu sekarang lagi kayak Oppo. Pada saat lahir gak diperhitungkan keberadaannya, tapi dengan usaha dan proses belajar terus menerus, Bunda bisa meraih pangsa pasar dan akhirnya menjadi kompetitor yang diperhitungkan.”
“Iya untung aja nyeletuknya OPPO ya, Yah, masih cukup kuat bertahan dan bertarung? Bukan lenyap dana senyap layaknya Nokia atau Kodak?” Timpal saya pada pernyataannya.
Sontak membuat tawa membahana seantero ruang kamar kami.
Proses belajar saya di Bunda Cekatan sedikit banyak terpengaruh pada pola pikir sang imam keluarga kami. Di awal saya mengikuti proses perkuliahan ini pesan beliau hanyalah satu, jadilah kamu mahasiswa yang visioner. Beugh! Berat sekali jenderal!!!
Wakakakakkkk….
Lompat kembali pada zona waktu yang saya yakini seperti gambar di atas. Sebagai manusia yang masih hidup, Alhamdulillah masih diberi akal dan pikiran yang waras, pembentuk diri kita karena kita memiliki masa lalu. Bedanya masa lalu masing-masing orang adalah mimpi yang mereka canangkan hasil dari pengayaan pengetahuan dan pengalaman yang menambah khasanah wawasan mereka.
Hari ini kita memasuki era baru dan lingkungan yang bergerak serba cepat, serbuan teknologi  dan informasi menjadi pisau bermata dua untuk para kaum pembelajar mandiri. Serangan tsunami informasi tak terelakkan lagi, satu hal yang saya pelajari dengan sungguh-sungguh dari proses belajar saya di jenjang perkuliahan ini adalah bagaimana kami diminta untuk senantiasa memperhatikan dan mendahulukan adab ketimbang output yang ingin kita raih dalam setiap jenjangnya.
Kembali lagi teringat pesan seorang dosen senior saat saya mengejar gelar sarjana di sebuah kampus biru.
“Kuliah bukanlah tentang kerjaan yang akan kamu dapat atau gaji yang akan kamu terima. Kuliah lebih dari sekadar itu semua!”
Jika hari ini saya kembali duduk di bangku kuliah non formal di kampusnya Ibu Profesional, dengan berani saya katakan,
“Belajar di Ibu Profesional bukan perkara seberapa tenar kamu di sana, bukan sebanyak apa yang kamu dapat dari sana, atau seberapa luas kamu bisa menginspirasi dan berdampak lewat proses yang kamu lalui. Kuliah di Ibu Profesional lebih dari sekadar itu!
Saya dan kamu pastinya punya prioritas dan kebutuhan yang berbeda. Saya dan kamu pun punya cara yang beda untuk menuju ke sana.
Mari kita ramaikan jalan raya dengan kendaraan kita masing-masing, mengisi petualangan dengan bahan bakar masing-masing, jika kamu tiba lebih dulu di tujuan akhirmu, tak mengapa, aku percaya ada waktu, jalan, dan teman yang tepat untuk mengiringi perjalananku.
Kesakitan dan segala ujian di masa lalu dan masa kini menjadi sebuah etape yang semakin mematangkan konsep diri. Memiliki kawan sepenanggungan dalam perjalanan menuju tujuan adalah previllage yang luar biasa, perkara hasil maksimal adalah bonus dari Yang Maha Kuasa.
Seperti sebuah lagu dari Irwan Skuter berjudul Perjalanan
Perjalanan hari ini begitu panjang,
melelahkan
Begitu banyak luka hidup ku saksikan
Perjalanan hari ini begitu panjang,
melelahkan
Begitu banyak duka getir ku rasakan
Jalan panjang hidup terjal, mendaki
Tak bisa diam tak kan bisa, berhentiJalan panjang hidup terus, menunggu
Semoga banyak cinta keindahan, di depankuPerjalanan hari ini begitu panjang, mengingatkan
Telah jauh lama sudah berjalanJalan panjang hidup terjal, mendaki
Tak bisa diam tak kan bisa, berhenti

Jalan panjang hidup terus, menunggu
Semoga banyak cinta keindahan, di depanku

Perjalanan hari ini begitu panjang, melelahkan

www.puspafajar.com

Perjalanannya masih jauh, masih panjang

Terima kasih diriku, sudah berjuang sejauh ini!
Aku bangga sama kamu!